
"Hei, Noah ... Bagaimana kabarmu?"
Noah sedikit mengernyit heran melihat kedatangan Jade dengan Leyton ini. Meski baru mengenal beberapa hari saja, menurutnya Jade bukan gadis yang mau dekat dengan pemuda seperti Leyton. Namun, saat ini menunjukkan dugaannya, salah.
"Hei, aku baik."
"Ya, tentu saja kau baik. Dan sangat baik lagi saat berbohong."
"Leyton ... Apa maksudmu?"
Layton tidak mengindahkan Henry, saat ini dia masih menatap Noah. "Kalian benar-benar percaya saat, dia mengatakan bisa membawa kalian ke DevilHill?"
"Benarkah? ... Ini sangat mengejutkan sekali."
Hari ini rasanya lengkap sekali. Tidak hanya Leyton saja. Sekarang ada satu lagi pemuda yang membuat suasana semakin memburuk.
Greg dan Lucy datang. Seperti sudah berjanji, kedua pemuda itu tampak akrab sekali.
"Greg, apa lagi maumu?"
"Yo, Noah. Apa kampus ini punyamu? Kenapa kau bertanya seolah aku tidak boleh ada di sini?"
Suasana hati Noah benar-benar dibuat tidak baik saat ini. Namun, untuk pergi, dia merasa akan menjadi pecundang jika melakukannya.
"Yah, terserah kau saja."
"Kalian lihat, bahkan dia tidak berani menjawab. Hahahhaha ... "
Tiga teman Noah yang lain, juga merasa tidak nyaman dengan suasana itu.
Pertama, Lucy adalah mantan Noah. Satu kampus tau apa yang terjadi antara mereka dan itu, bukanlah kejadian yang baik untuk di ingat.
Kedua, Jade. Sempat viral menggandeng Noah di hari pertamanya di kampus ini. Akan tetapi, semua mata tertuju pada dia dan Leyton sekarang.
"Noah, kau bisa saja menipu teman-temanmu, tapi ingat berbohong sekalipun ada batasnya. Sekarang, kau benar-benar tidak tau malu."
Niah menarik nafas dalam dan melepasnya. "Jadi, katakan dimana aku berbohong. Aku tak merasa menipu teman-temanku."
"Hahahahha ... Baiklah, kau tidak mau mengakuinya, bukan? ... Begini saja. Kebetulan kami berempat akan ke sana malam ini. Jadi, jika benar kau bisa membawa mereka ke sana, maka buktikan. Jika tidak, ya ... Aku rasa ... Seperti biasanya. Pecundang tetap pecundang."
Ingin rasanya Noah membenturkan wajah Greg itu ke meja saat dia mengatakan hal itu. Namun, tentu saja itu sebuah kebodohan.
Siapapun yang melihat akan menertawakannya karena cemburu. Noah tidak akan melakukan kebodohan seperti itu. Jadi, dia menerima tantangan tersebut.
"Baiklah, kita bertemu di sana saja kalau begitu."
"Hahahahahha ... "
"Hahahahahaha ... "
Leyton tertawa keras, bahkan Greg lebih lagi. Hal itu tentu saja mengganggu para pengunjung perpustakaan itu. Namun, saat penjaga pustaka berniat menegur mereka, segera orang itu mundur.
__ADS_1
Semua orang tau siapa keluarga Leyton dan Greg dan apa yang bisa keluarga itu lakukan pada orang yang mengusik anggota keluarga mereka.
"Pecundang ... Bahkan, sampai saat ini saja, kau masih mempertahankan harga dirimu itu."
"Greg, aku mengingatkanmu untuk terakhir kali. Aku tidak ingin berurusan denganmu lagi, setelah ini."
Greg hanya menanggapi peringatan Niah itu, dengan senyuman miring dan terlihat sangat meremehkan. "Hei, kau mencoba mengancamku? ... Aku ragu, kau mengetahui siapa aku sebenarnya."
"Aku tidak peduli ... Lagipula, apa pentingnya siapa sebenarnya dirimu."
Senyuman Greg langsung menghilang. Namun, saat ini mata Noah sedikit melirik pada Jade. Saat itu, dia melihat gadis itu sedikit tidak nyaman.
Setau Noah, Jade adalah gadis yang menyenangkan. Namun, saat ini wajah gadis itu menunjukkan hal sebaliknya.
Saat itu, Greg mendekat dan berbicara pelan di dekatnya. "Kau mengancam orang yang salah. Jika bukan Leyton, maka aku akan meniduri gadis itu juga. Dan ... Aku akan mengambil setiap gadis yang coba kau dekati. Kau tau kenapa? ... Itu karena aku membenci pecundang miskin sepertimu."
Saat Greg hendak mundur, Noah langsung menariknya kembali mendekat. Karena Greg sedikit pendek, Noah membungkuk dan balas berbisik tepat di sebelah telinganya.
"Aku sudah mengingatkanmu. Sekarang, nikmatilah harimu selagi kau bisa ... Karena setelah ini, kau akan ku buat kehilangan segalanya."
Greg terdiam. Leyton yang berada di belakangnya juga mengernyit heran. Namun, saat itu Noah dan teman-temannya sudah beranjak pergi.
"Bro, ada apa? Apa yang dikatakannya?"
Greg mengelutukkan giginya menahan geram. Menatap kepergian Noah itu.
"Mot**r f**ker ... Ingatkan aku untuk menghabisinya, setelah malam ini."
Jade sedikit ketakutan saat sebelum Noah pergi. Pemuda itu beberapa kali melihat padanya, dengan tatapan yang sedikit, tajam.
"Kalian, tunggu saja di Asrama. Seseorang akan menjemput kalian. Aku ada sedikit urusan. Kita akan bertemu di DevilHill entertaintment, nanti malam."
Tidak menunggu tanggapan teman-temannya, Noah langsung berderap pergi. Dia benar-benar tidak tau kenapa hatinya tiba-tiba menjadi sangat kesal sekali.
****
"Noah, kau sudah pulang?" Sapa Alice saat Noah baru saja masuk. "Bagaimana kuliahmu?"
"Hei, kau juga sudah kembali" Noah menggelengkan kepala. "Kuliahku baik. Tapi ... "
Alice mengernyit heran. "Tapi apa?"
Noah berfikir sebentar, lalu kembali berkata. "Alice kau seorang wanita, tentu kau mengerti hal ini. Aku memiliki teman ... "
Mulailah Noah menceritakan tentang Jade pada Alice. Mulai dari mereka bertemu, hingga terakhir, hari ini.
"Noah, katakan padaku, kau menyukai gadis ini?"
Noah menggeleng cepat. "Tidak, aku rasa bukan itu masalahnya."
"Kalau begitu, kau membenci pemuda yang bersamanya?"
__ADS_1
"Ya, itu dia. Aku tidak tau sebabnya. tapi, aku melihat Jade tidak nyaman bersamanya."
"Noah, aku katakan padamu ... Wanita, tidak seperti pria. Kami bisa saja bersama seseorang, meski kami merasa tidak nyaman. Ada keadaan dimana kami harus melakukannya."
"Maksudmu?"
Alice menghela nafas panjang dan melepasnya. "Kau ingat saat kita bertemu di depan gedung apartemen itu?"
"Ya, aku ingat. Tapi, apa hubungannya?"
"Saat itu, sebenarnya aku hampir saja menjual diriku pada Darold untuk melunasi hutang-hutangku."
Mata Noah langsung melebar. Dia sama sekali tidak menyangka Alice hampir saja berakhir seperti itu. Wanita ini, sudah menceritakan siapa Darold sebelumnya.
"Benarkah?"
Alice mengangguk. "Ya, berengsek itu tidak hanya memintaku melayaninya. Tapi, beberapa rekannya juga."
"Jadi, waktu itu ... Kau ... "
"Ya ... Saat itu, aku sedang benar-benar dilanda keraguan. Pikiranku sangat kacau. Beruntung, saat itu aku melihatmu, dan ... Kau tau apa yang terjadi selanjutnya."
Inilah alasan kenapa Alice sangat menghormati Noah. Saat itu, bukan hanya karena sudah menyelamatkan Clubnya saja.
Noah benar-benar muncul di depannya, di saat yang tepat. Entah bagaimana, saat itu Alice langsung mengurungkan niatnya, dan mengajak Noah untuk menemaninya minum.
Alice benar-benar tidak menyangka bahwa setelah membuat dirinya mengurungkan niatnya, Noah yang dia bawa ternyata bisa melepaskannya dari lubang neraka tersebut.
"Hmm ... Aku tidak mengerti. Kenapa uang bisa jadi mengerikan seperti itu."
Alice menggelengkan kepala. "Noah, dunia ini sangat kejam. Kau tau, seorang ayah bisa menjual anak gadisnya, hanya kerena kalah dimeja judi."
"Alice, aku senang kau tidak melakukannya ... Aku rasa, kau wanita yang sangat hebat".
Tentu saja menurut Noah Alice wanita yang hebat. Apalagi jika dibandingkan dengan Lucy mantannya. Saat itu, Noah masih ingat Greg hanya menjanjikannya makan di sebuah restoran mewah, saat menarik gadis itu kembali ke kamarnya.
Alice tersenyum saat mendengar Noah memujinya namun, senyum itu berubah jadi sedikit nakal.
"Noah, kau sudah pernah melakukannya, bukan?" tanya wanita itu penuh selidik. Matanya, sekali-sekali melirik kebawah.
"Melakukan, apa? ... " Wajah Noah memerah.
"Hahaha ... Ternyata, Kau memang pernah. Hahaha."
Noah menggeleng dan langsung berdiri. "Alice, aku rasa aku harus menarik kata-kataku, ternyata kau wanita yang berbahaya."
Saat itu, Noah langsung berdiri dan beranjak meninggalkannya. Namun, Alice kembali menggodanya.
"Noah, kapan kau akan menagih janjiku? Aku selalu tersedia untukmu ... Hei, kau dengar aku?"
Saat itu, Noah sudah menutup pintu kamarnya. Namun, Alice tak berhenti tersenyum
__ADS_1
"Pemuda ini, benar-benar ... Membuatku bergairah."