
Di saat bersamaan, dua pemimpin Jaringan keluarga keluarga Mafia yang dipercaya memiliki pengaruh paling besar di negara bagian GoldWest, akhirnya bertemu.
"Nicholas Zargosky ... Hahahahahaha ... !"
Di kediamannya, Timothy Flare menyambut kedatangan Nicholas.
"Tuan Flare ... "
Nicholas menyambut rentangan kedua tangan Timothy Flare dengan cara yang sama. Meski saat ini keduanya saling berpelukkan, namun mata para pengikut mereka masih tampak saling mengawasi.
"Silahkan duduk ... Hahahaha ... "
Nicholas langsung duduk begitu Tim menawarkannya.
"Sepertinya kau sangat sehat, dan ... Cukup sibuk ... "
Nicholas jujur saat memuji Tim yang memang terlihat sangat sehat, namun saat mengatakan orang tua itu Sibu, jelas itu hanyalah sebuah sindiran.
Namun begitu, Timothy Flare hanya mengangguk dan kembali tertawa.
"Hahahaha ... Jangan memujiku, karena itu sama saja kau mengatakan bahwa aku sudah terlalu tua untuk tetap bisa menikmati hidup bukan? Hahahahahaha ... "
Nicholas sudah lama menunggu momen ini, jadi dia datang kesini tidak untuk berbasa-basi.
"Tuan Flare ... Sepertinya waktu telah berjalan terlalu lama, dan tidak ada kemajuan sama sekali di the Elevens ... Apa kau tidak tertarik dengan sebuah perubahan?"
Masih dengan tawanya, namun kini sambil menggelengkan kepalanya Timothy Flare menjawab.
"Aku rasa kau memang anak ayahmu, tidak diragukan lagi ... Hanya saja, kau lebih ... Hmm ... Tidak, aku rasa kalian tidak jauh berbeda. Kau lebih terbuka, itu saja ... Hahahaha !"
Nicholas menganggukkan kepalanya. Namun sebenarnya dia sama sekali tidak peduli dengan tanggapan itu. Baginya, yang terpenting adalah bagaimana Tim bereaksi dengan pernyataannya itu.
Dan baru saja, Nicholas menyadari bahwa apapun yang telah dilakukannya, belum cukup untuk membuat orang tua yang duduk dengan segelas wisky di tangannya itu, menganggap hal tersebut sebagai ancaman.
"Harus aku akui ... Keluarga Flare memang sangat mengerikan."
Sebuah senyuman miring tersungging di wajah Tim. Namun, matanya melirik pada wanita yang kini berdiri tepat di sebelah Nicholas.
"Tamara ... Apa kau tidak lelah bekerja pada orang yang kaku seperti pemuda ini?"
Saat mendengar pertanyaan itu, Tamara menjadi sedikit panik, dan tidak mampu untuk langsung meresponnya.
Namun tidak hanya sampai di sana saja, Tim tidak bisa membiarkan Nicholas berbicara dengannya, seolah sekarang mereka setara.
Untuk itu, orang tua tersebut berniat menunjukkan sekali lagi, dengan siapa dirinya saat ini berhadapan.
Sambil menepuk pahanya, Tim memanggil Tamara. "Kemarilah ... Kau akan kesemutan jika terus berdiri di sana ... "
Memang, ini adalah bagian dari rencana Tamara. Namun, dia tidak menyangka orang tua itu akan menggunakannya sebagai alat untuk mempermalukan keluarga Zargosky.
__ADS_1
Tamara sempat melihat Nicholas Zargosky mengeraskan kepalan tangannya, namun di saat bersamaan menganggukkan kepala sekali tanda memberikan wanita itu izin, untuk mengikuti keinginan Timothy Flare.
"Hahahaha ... Bagus, bagus ... "
Saat Tamara akhirnya duduk di pangkuannya, dan di depan semua orang, Tim menarik kepala wanita itu dan langsung ******* bibirnya.
Nicholas menggerakkan giginya, menahan emosi dan rasa malu karena adegan itu.
Puas dengan apa yang dilakukannya, akhirnya Timothy kembali menatap Nicholas. Namun, satu tangannya yang bebas, kini berada berada di salah satu bukit kembar milik Tamara.
Sambil terus memainkan benda itu, Tim berkata.
"Aku pikir kau cukup berambisi daripada ayahmu ... Namun, itu saja tidak cukup. Aku pernah sedikit menaruh perhatian dengan apa yang telah kau lakukan, tapi sekarang tidak lagi ... "
Mendengar kata-kata Timothy Flare, wajah Nicholas Zargosky terangkat, namun keningnya mengernyit, heran.
"Tuan Flare ... Apa maksudmu?"
Berpindah dan memasukkan tangannya kedalam.oakaian Tamara, Timothy Flare kembali menjawab.
"Kau bilang akan membawa perubahan, bukan? ....tentu saja aku yakin akan ada perubahan. Tapi ... Saat semuanya selesai, aku yakin nama keluarga Zargosky tidak akan ada lagi."
"Praaaanggggg ... !!"
Meja yang ada di depan mereka baru saja pecah. Nicholas mentoleransi apa yang kini pria tua itu lakukan pada tubuh Tamara, namun dia tidak bisa menahan amarah jika ada seseorang mengatakan bahwa nama keluarga yang sangat dia banggakan ini, akan menghilang.
"Timothy Flare ... Jaga ucapanmu ... "
Namun, Timothy tampak tidak peduli dan hanya tersenyum miring. Sebelum akhirnya berkata.
"Jika kau berpikir permainan anak-anak mu ini bisa membuatmu, setara atau bahkan melampaui ku, sebaiknya kau duduk diam saja di rumah ... Dan bermain dengan banyak wanita, selama kau masih bisa melakukannya ... Tapi, aku ingatkan padamu ... "
Saat itu, tidak ada lagi senyuman di wajah Timothy Flare. Orang tua itu melepas tubuh Tamara, dan membiarkan wanita itu berdiri, karena dia juga langsung berdiri.
"Aku beri kau waktu satu Minggu ... Jika kau bisa menaklukkan HighCopper, maka aku sendiri yang akan datang, dan bergabung denganmu. Tapi jika tidak ... Maka sebaiknya kau lakukan apa yang tadi aku sarankan padamu ... "
Kening Nicholas Zargosky langsung mengernyit heran. Dia bisa terima jika Timothy Flare menantangnya untuk menaklukkan Blacksteel atau kota-kota besar lainnya. Namun, HighCopper sama sekali tidak termasuk di dalam daftar itu.
"HighCopper? ..."
"Ah, sepertinya aku terlalu memandang tinggi dirimu ... Jadi, sebaiknya lupakan dan langsung saja lakukan apa yang aku sarankan."
Tidak menunggu tanggapan Nicholas, Timothy Flare langsung mengajar Tamara dan meletakan wanita itu di bahunya.
Setelah berbalik dan terlihat ingin pergi dari sana, pria tua itu kembali berkata.
"Sebaiknya kau bertanya pada adikmu yang bodoh itu ... Dan untuk sementara, biarkan aku bermain dengan wanita ini."
Nicholas terdiam saat melihat Timothy membawa Tamara naik ke lantai atas rumahnya. Saat ini, dia sama sekali tidak perduli dengan hal tersebut. Dia juga langsung berbalik kemudian berjalan.
__ADS_1
Saat sudah berada di luar kediaman keluarga Flare, Nicholas langsung menghubungi Tobias, adiknya.
Sementara itu, di kota yang dimaksud oleh Timothy Flare, setelah akhirnya berbicara dengan orang yang terasa mengancamnya.
Tobias menjadi sangat murka. Apalagi setelah itu dia mendapati laporan bahwa, tidak ada lagi tanda-tanda Perusahaan Satelite melakukan upaya transaksi dengan semua perusahaan ekspedisi yang ada di dana.
"Sial, apa dia mencoba bermain-main denganku? ... "
Sebelumnya, dia sudah menghubungi seseorang dan saat ini orang itu mengatakan bahwa sedang dalam perjalanan ketempatnya.
"Toby ... "
Tobias berbalik, dan mendapati William sudah berdiri di pintu kantornya. Tidak berbasa-basi pemuda itu langsung bertanya.
"William Fane, sekarang keluargamu sudah berada dibawah jaringan keluargaku ... Jadi, aku ingin kau memberikan informasi padaku, tentang sebuah perusahaan di mana kau, pernah bekerja sama dengan mereka."
Meski pupil matanya sempat melebar, namun saat mendengar itu, William tersenyum dan balik bertanya.
"Apa maksudmu, Satelite?"
Tobias mengangguk sekali, "Ya, katakan padaku apa yang kau ketahui tentang perusahaan yang dipimpin oleh Julius Clark itu ... "
William menggelengkan kepalanya, lalu berkata.
"Tuan Julius hanya salah satu dari bidaknya, akan tetapi ada alasan lain, kenapa aku berada di kota ini saat ini ... "
"Apa maksudmu?"
"Jika kau bisa membuat orang ini bergabung dengan Jaringan mu, maka bisa dipastikan keluarga Zargosky akan mendapatkan sekutu yang sangat berbahaya ... "
Melihat bagaimana William mengatakannya, hal itu membuat Tobias sedikit penasaran.
"Apa orang yang kau maksud, si brengsek yang yang berada di belakang Julius f**kin Clark itu? ... "
Sekarang, mata William yang melebar. Karena ucapan Toby terdengar bahwa keduanya sudah saling bertemu, atau setidaknya saling mengetahui.
"Toby ... Jangan katakan padaku bahwa kau, baru saja memprovokasinya ... Orang itu, tidak seperti yang kau pikirkan ... "
Mendengar apa yang dikatakan William, amarah Tobias semakin membuncah. Dia tidak menyangka informasi yang dia terima dari pemuda ini, sama sekali tidak berguna.
Merasa diremehkan saat dibandingkan dengan orang yang mereka maksud itu, Tobias langsung membalasnya.
"F**k! ... William F**kin Fane, apa kau coba menakut-nakuti ku, brengsek?!"
Saat William hendak menanggapi, keduanya mendapati ponsel Toby yang berada di atas meja, bergetar.
Tobias yang bisa langsung membaca nama si pemanggil langsung menjawabnya.
"Kakak, ada—"
__ADS_1
Tidak memberinya kesempatan bertanya, Nicholas di seberang sana langsung berkata dengan nada yang bisa membuat bulu kuduk Tobias, merinding.
"Hal bodoh apa, yang telah kau lakukan di Kota busuk HighCopper itu, brengsek ... !?"