World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Matipun, Aku Tetap Akan menghajarmu


__ADS_3

Siapa yang tak pernah mendengat nama itu di Bronzeland? Tentu saja semua orang telah mendengarnya.


Sejak kemunculannya beberapa waktu yang lalu, nama tersebut mengguncang Silverstone, serta beberapa kota di negara bagian Goldwest.


The Ghost bukan nama yang bisa di akui seseorang begitu saja. Pasalnya, seseorang yang memiliki gelar tersebut, baru saja berhasil mengambil alih seluruh Silverstone, hanya dalam hitungan bulan saja.


Sesuai dengan namanya, orang tersebut bergerak bagaikan hantu yang membawa mimpi buruk pada semua saingannya.


Beberapa keluarga besar di kota itu dihancurkan, dan sebuah Jaringan besar di Blacksteel yang membuka cabang di sana, di runtuhkan secara paksa. Bahkan mereka mendengar sang hantu membunuh salah satu putra pemimpin Jaringan tersebut.


Mereka bisa saja memilih untuk tidak percaya dengan apa yang dikatakan Noah. Tapi, entah kenapa naluri mereka mengatakan bahwa apa yang di katakan pemuda itu, bukanlah gertakan belaka.


Jika mereka mengingat kembali dengan bagaimana cara munculnya Noah yang entah dari mana, ini tudak jauh berbeda dengan dampak yang di sebabkan oleh the Ghost di kota Silverstone sana.


Hanya saja, jika di Silveratone sang hantu bergerak di belakang layar dan mengambil alih kota itu dengan cara yang sedikit lebih tenang, sementara di Bronzeland, Noah muncul dengan cara yang sangat brutal.


Mengambil alih the Ravens dan menghancurkan seluruh gangster lainnya, lalu Menyebar terror, yang membuat tidur semua ketua Jaringan Mafia tidak tenang.


Bahkan, jika dugaan mereka benar, keluarga Faust yang selama ini memimpin mereka di belakang layar mungkin memang benar-benar telah hancur di tangan pemuda itu.


Sekarang, di sini, mereka menyaksikan sendiri bahwa pemuda yang mereka hadapi itu, mengakui bahwa dia adalah orang yang sama dengan yang kini di gadang-gadang sebagai penguasa mutlak Silverstone.


Tak pelak, hal itu semakin membuat mereka putus asa. Karena sejak awal mereka benar-benar sudah salah perhitungannya. Mereka langsung menyadari bahwa Noah, sejak awal bukanlah musuh yang bisa mereka hadapi.


Mimpi buruk, itulah yang mereka harapkan yang terjadi saat ini. Sebab, Melihat Noah sekarang, benar-benar membuat nyali mereka menghilang.


Bagi semua ketua Jaringan itu, waktu terasa berhenti saat melihat Noah dengan pipa besi ditangannya, mulai bergerak.


Kejadian yang berlangsung setelah Noah mendaratkan pukulan pertamanya pada salah satu anggota keluarga Cadman yang tersisa itu, terasa sangat hening bagi yang lainnya.


Mereka sudah berusaha untuk mencoba mengantisipasi semua pergerakkan pemuda itu, namun sesuai dengan gelar yang mereka sematkan, The Madness benar-benar sedang menggila.


Satu persatu, Noah menghantamkan pipa besi di tangannya pada titik-titik vital dengan sekuat tenaga pada musuh-musuh yang seolah membiarkan dia melakukannya.


Bahkan Sampai ketua Jaringan terakhir pun, tidak melakukan apapun saat Noah melompat dan melepaskan hantaman pipa besi ke kepala yang membuat hancur tengkoraknya.


Selesai melumpuhkan seluruh orang di sana, Noah berdiri bertopang pipa besi yang sudah bengkok itu, dengan nafas terengah-engah.


"Pergilah ... Ke ... Neraka ... kalian ... semua ... Brengsek ... "


Barulah saat itu Noah merasa telah kehilangan hampir seluruh tenaganya.


Rasa sakit yang menyelimuti sekujur tubuh yang kini dia derita, mulai menjalar ke otaknya. Untuk mengerang saja, sepertinya akan membuat rasa sakit itu bertambah parah.


Acton yang melihat Noah yang tadi berdiri, berusaha berdiri namun dia masih tidak memiliki tenaga. Dia benar-benar sudah tak kuasa menahan tangis saat melihat Noah yang berusaha berjalan mendekat padanya.


"Noah ... Aku ... Aku ... "


Acton benar-benar menangis saat melihat tetasan darah masih mengalir di kepala, melewati wajah saudaranya itu.


"Jangan ... menangis ... kau, brengsek ... "

__ADS_1


Noah tetap berjalan tertatih berusaha mendekat pada kakaknya, yang terlihat menyedihkan itu.


"Tunggu ... Di sana ... Aku, kan menghajarmu ... Sialan ... "


Semakin lama, langkah Noah terlihat semakin berat. Namun, dia tetap berjalan mendekati saudaranya tersebut.


"Oh sial ... Ini, benar-benar ... Sakit ... "


Noah merasa tubuhnya seperti sedang demam yang sangat hebat. Lubang di paha tempat di mana peluru kini bersarang, terasa ngilu saat setiap dia menggerakkan kakinya itu.


Peluru tersebut seperti menggelitik tulangnya. Hanya saja, rasanya seperti sengatan listrik yang terus menerus mengirim rasa sakit ke kepalanya.


Belum lengan yang juga terluka parah tumbah lagi telapak tangan yang melepuh saat menahan tali yang mengikat Acton tadi.


Semua itu menjadi lengkap ditambah luka serta memar yang kini yang seolah membuat Noah sedang berenang dalam rasa sakit.


"Noah ... Aku ... Minta ... Maaf ... "


Itulah kata-kata yang terus di ujarkan Acton saat ini. Dia tau bahwa adiknya itu benar-benar sudah terluka parah.


"Diam, kau brengsek ... Meski kau menangis, aku tetap akan menghajarmu ... "


Saat mengatakan itu, pandangan Noah sudah mulai sedikit mengabur. Namun, entah kenapa dia tetap memaksakan diri, agar tetap bisa mendekat pada saudaranya itu.


Saat Noah hanya tinggal beberapa langkah lagi dari Acton. Tiba-tiba Noah melihat mata Acton melebar, sebelum kakaknya tersebut, berseru


"Noah ... Awas ... !"


Tubuh Noah terdorong sedikit ke depan saat sebuah peluru berhasil menembus pinggangnya.


"Oh, Sial ... Siapa lagi, ini ... "


Akan tetapi, karena langkahnya ditopang tongkat besi, saat terjatuh, tubuh Noah sempat berbalik.


Dia melihat Lil Briley sedang berdiri dengan senjata di tangannya.


"Bruuuuk ... "


Noah terlentang di bawah, dengan mulut mulai mengeluarkan darah segar.


"Hehe ... Hehe ... Mati kau, bocah ... Hehe ... Hehe ... "


Lil Briley berjalan mendekat pada Noah, dengan wajah liciknya.


Sebenarnya, pria tua itu masih tetap hidup dan sudah sadar sejak beberapa saat yang lalu. Namun, saat itu dia sengaja tetap tidak bergerak sedikitpun.


Lil Tua sengaja tetap seperti itu, untuk kembali menunggu kesempatan, sambil melirik senjata yang tadi dia tendang, dari tangan Noah.


Dan benar saja, saat dia melihat Noah sudah sangat lemah, dia langsung bergerak menyambar senjata tersebut, lalu langsung menembakkannya pada pemuda tersebut.


"Oh, orang tua ... Sial ... Ini ... "

__ADS_1


Tidak mengindahkan perkataan Noah, kali ini Lil Briley ingin benar-benar memastikan bahwa Noah mati.


Pria tua itu merasa senang karena dengan jaraknya sekarang, dan senjata di tangan yang diarahkannya tepat pada kepala Noah, tidak mungkin pemuda itu akan tetap berhasil hidup.


"Sekarang, aku akan benar-benar membu—"


"Sruuup ... "


"Dor ... !!"


Kata-katanya terputus, dan Lil Briley menembakkan senjata itu jauh dari targetnya.


"Bodoh, aku ... yang harus ... memastikan ... kau ... Mati ... Tua ... Brengsek ... "


Dengan tenaga terakhirnya, Noah langsung menusukkan pipa besi yang tadi masih di genggamnya pada leher pria tua itu.


Darah pun langsung mengalir deras dan membuat Lil Briley mengelepar-gelepar menunggu ajal yang tidak dia duga akan segera menjemputnya saat kemenangannya sudah di depan mata.


Tak lama, tubuh ketua Jaringan Mafia terakhir di Bronzeland itupun tak lagi bergerak, tanda bahwa dia benar-benar sudah tak lagi bernyawa.


"Noah ... Noah ... "


Acton melihat Noah juga tak lagi bergerak, menjadi sangat panik. Tiba-tiba saja di memiliki tenaga untuk membalik badannya, dan berguling mendekat pada tubuh saudaranya itu.


"Noah ... Noah ... "


Panggil Acton saat dia sudah berhasil sedikit mendekat. Namun, untuk beberapa saat dia tak melihat noah bergerak ataupun menjawabnya.


"Sial ... Kali ini, Kau selamat ... Pria tua brengsek itu, baru saja membuat sisa tenagaku untuk menghajarmu, habis ... "


Meski merasa lega, bahwa Noah belum mati. Tapi, itu tak lama. Acton melihat mata Noah sudah menatap kelangit dengan nanar.


"Noah ... Noah ... Tolong, jangan mati ... "


Acton melihat Noah membuka mulutnya yang kembali mengeluarkan darah. Namun, tak ada suara di sana.


"Noah ... Tolong ... Jangan ... Tolong ... Jangan mati ... Aku ... Aku ... "


Acton semakin panik saat melihat Noah sudah tak lagi bergerak. Namun, saat dia kembali ingin bicara, Noah pun bersuara.


"Matipun, aku tetap akan menghajarmu di neraka ... "


Setelah mengatakan itu, Noah tak lagi bisa mendengar Acton yang masih memanggilnya.


Noah tau bahwa langit sudah mulai terang. Akan tetapi, dia juga bisa merasakan bahwa pandangannya semakin menggelap.


"Acton ... Aku ... "


"Apa ... Katakan ... Noah ... Kenapa ... Tolong, katakan ... "


Acton berharap Noah menyelesaikan kata-katanya. Namun, itu tak terjadi. Dan kata-kata terakhir yang dia dengar dari Noah, hanyalah namanya.

__ADS_1


"Noah ... Maafkan aku ... " Teriak Acton meraung, tak berdaya.


__ADS_2