
Saat Noah mengatakan hal tersebut, ketua-ketua Jaringan yang tersisa bersama Lil Briley, reflek memundurkan langkah mereka.
Saat ini, mereka melirik ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari jalan untuk segera kabur dari sana.
Hanya saja, belum ada yang berani memulainya. Itu karena saat ini Noah sedang memegang senjata. Tentu saja saat mereka melakukannya, pemuda itu tidak akan segan-segan melepaskan tembakan.
Melihat bagaimana akhir dari hidup Barbara yang dipaksa Noah untuk menembak dirinya sendiri secara kejam, mereka tau, dalam waktu dekat, besar kemungkinan mereka akan kehilangan nyawa.
Salam situasi yang sudah seperti itu, Salah satu dari mereka, mencoba memberanikan diri untuk bicara.
"Tuan Evans, kami ... Kami ... "
Saat Noah menatapnya, dia langsung kehilangan suara dan mengurungkan niatnya untuk bicara.
"Katakan, kalian kenapa ... ?"
Saat Noah bertanya, kepala mereka semua langsung mendongak. Mereka langsung merasa Noah sedang memberi kesempatan mereka untuk sedikit bernegosiasi.
"Jangan bunuh kami, tolong ... "
"Ya, aku akan mengikutimu ... "
"Aku akan menjadi anak buahmu. Tolong biarkan aku hidup ... "
Mereka langsung menyambut pertanyaan Noah tanpa ragu. Mereka terlihat akan melakukan apapun yang Noah minta, agar mereka tetap bisa hidup, setelah kejadian ini.
Akan tetapi, dalam kondisi seperti itu, Lil Briley tetap diam. Itu bukan hanya karena dia takut. Hanya saja saat ini dia sedang memperhatikan sesuatu.
Hal itu seperti memberi angin segar padanya, juga orang-orang di sana untuk tetap hidup. Pasalnya, tepat dibawah kaki tempat Noah berdiri, pria tua itu melihat ada banyak darah terus mengalir.
Saat itu juga dia sadar kenapa Noah masih tetap berdiri di sana, alih-alih mendekat atau menyerang mereka. Lil Briley langsung tersenyum di hatinya.
Menurutnya, jika mereka bisa mengulur waktu sedikit lebih lama, maka tekanan akan berubah dan keberuntungan akan segera berpihak pada mereka.
Dalam situasi ini, Lil Briley mencoba memanfaatkan situasinya. Karena Barbara sudah tidak ada, besar kemungkinan jika rencana yang baru saja terlintas di kepalanya itu berhasil, maka setelah itu dia akan memimpin seluruh jaringan kota ini.
Tidak banyak cara untuk mengulur waktu yang bisa dia pikirkan. Namun, Lil Briley yakin apa yang akan dia katakan, setidaknya akan menarik perhatian pemuda itu.
"Tuan Evans ... Sepertinya kau sudah memenangkan semuanya. Kami menyerah ... "
Kata-kata Lil Briley itu sungguh mengejutkan semua orang. Karena menurut mereka, kata menyerah-lah yang memang harus mereka katakan saat ini.
"Ya, seperti kata Lil Tua, kami menyerah ... "
"Benar, kami sudah tidak menginginkan apapun lagi ... "
__ADS_1
Kata-kata yang berarti sama, juga di lontarkan seluruh Ketua Jaringan di sana, sambil mengangkat tangan mereka mengikuti apa yang sejak beberapa saat lalu dilakukan pria tua itu.
Sebenarnya, apa yang di lihat Lil Briley tidaklah salah. Saat ini, tubuh Noah memang terasa melemah.
Tembakan yang dilepas oleh Barbara sebelumnya, mengenai pahanya dalam jarak yang sangat dekat.
Karenanya, peluru yang memecah kulit luarnya itu, kini bersarang dengan sedikit menyentuh tulangnya.
Sedikit saja dia bergerak, hal itu langsung menyebabkan rasa ngilu hebat, yang membuat Noah sedikit kesusahan untuk berdiri, apalagi bergerak.
Ditambah dengan darah yang terus mengalir, Noah sadar jika dia melakukan sesuatunya salah, maka semuanya akan diluar kendalinya.
Jika hanya dirinya saja, maka dia tetap yakin akan bisa selamat setelah menghabisi mereka semua. Akan tetapi, saat ini yang dipikirkan Noah adalah kondisi Acton.
Saudaranya itu, sudah terlalu lama tidak sadarkan diri dalam keadaan terikat dengan kepala menghadap kebawah. Noah sadar bahwa kondisi Acton mungkin saja sudah dalam keadaan yang berbahaya.
Noah terdiam sebentar, sebelumnya akhirnya menanggapi Lil Briley dan semua ketua Jaringan tersebut.
"Sepertinya kalian sudah mendapatkan sedikit pencerahan. Jika begitu, maju dan lepaskan saudaraku dari sana."
Semua ketua Jaringan itu, langsung mengangguk dan segera bergerak maju. Saat mereka semua melangkah, salah satu dari mereka berseru pada beberapa anggota Barbara yamg berdiri tidak jauh dari sana.
"Kenaoa kalian diam saja, bodoh ... cepat bantu kami melepaskanya ... "
Dengan sedikit anggukan dari Noah, mereka pun mengerti dan langsung berlari untuk melepaskan Acton.
Akan tetapi, meski ikut berjalan, Lil briley melangkah secara perlahan. Dia seperti sedang memperhitungkan sesuatu dan menunggu momen yang tepat.
Saat dia merasa semua orang tak menyadari pergerakannya, serta Noah yang sudah teralihkan dengan apa yang sedang dilakukan mereka, Lil Briley merasa ini lah saat nya.
"Buk ... "
"Argggh ... "
Lil Briley langsung menendang Paha Noah yang tertembak itu sekuat tenaga, yang membuat pemuda itu jatuh berlutut seketika.
Meski sudah tua, tapi gerakan Lil Briley masih cukup cepat. Setidaknya, dengan segala yang telah di perhitungkannya, pria tua itu langsung menendang senjata yang ada di tangan Noah, hingga benda itu terlepas.
"Tuan Briley ... Apa yang kau—"
Teriakan salah satu ketua Jaringan yang terkejut dengan apa yang dilakukan Lil Briley, terhenti saat melihat Noah sudah berlutut, dengan tangan tak lagi memegang senjata.
Saat itu juga, dia langsung mengerti situasinya. Karena dengan melihat wajah Noah saja, sudah bisa dipastikan bahwa pemuda itu sedang sangat kesakitan.
"Bajingan, kau ... "
__ADS_1
Noah berujar kesal, pada Lil Briley yang sekarang menatapnya meremehkan.
"Hehehehe ... " Pria tua itu terkekeh, sebelum akhirnya berkata. "Kau lengah, bocah ... "
Noah menyadari bahwa dia terlalu cepat memutuskan dan seperti kata Lil Briley padanya, dia memang sedikit lengah, dan berakhir dalam kondisi seperti ini.
Namun, saat dia sedikit melirik kebelakang pria tua yang sedang menatapnya itu, Noah melihat bahwa tubuh Acton sudah terlanjur ditarik oleh anggota Barbara ke atas atap bangunan tersebut.
"Ya, sepertinya aku memang lengah, Tapi ... "
Noah sengaja menggantung kata-katanya mencoba membaca situasinya. Namun, semua tidak terlihat mudah baginya.
Karena saat ini semua anggota Barbara juga sudah menyadari bahwa dia memang sudah melemah.
"Tapi apa, bocah ... Apa kau masih berfikir bisa menghadapi kami dengan kondisimu yang seperti itu? ... Hahahahahaha ... "
Lil Briley terlihat begitu senang. Namun, tawanya menghilang saat tiba-tiba saja Noah berdiri dan langsung bergerak mendekat padanya dengan cepat
"F**k ... "
Hanya itu yang bisa terucap dari mulut pria tua itu, saat sebuah kepalan tangan sedang terarah padanya.
"Buk ... "
"Buk ... "
"Buk ... "
Tiga pukulan beruntun yang di lepas Noah, berhasil mengenai bahu, wajah dan terakhir perut pria tua itu. Yang membuat Lil Briley jatuh tersungkur ke bawah.
Namun, ternyata serangan Noah hanya sampai di sana saja. Semua itu di saksikan seluruh ketua Jaringan.
Sekarang, mereka melihat Noah tampak begitu kesusahan hanya untuk tetap berdiri saja.
Salah satu ketua Jaringan yang menyadari bahwa apa yang dilakukan Lil Briley tidak sepenuhnya gagal, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Apa yang kalian lakukan, bajingan! ... Hadapi dia ... "
Sama seperti semua ketua itu, seluruh anggota keluarga Barbara juga merasa sekarang Noah terlihat sangat lemah.
Tanpa pikir panjang lagi, mereka langsung maju untuk menyerang pemuda tersebut.
Noah mendengus sekali, saat melihat mereka semua datang. Namun, begitu saat mereka semakin datang mendekat, sebuah senyum terukir di wajahnya.
"Bagus ... Kesini kalian semua, brengsek ... "
__ADS_1