
Keduanya bersalaman, dan Noah duduk di sisi lain tempat tidur, di mana Aiden terbaring.
Meski di awali dengan senyuman, nyata nya pertemuan itu berakhir dengan hening, hingga beberapa detik.
"Kenapa ini menjadi sangat canggung?"
Noah kembali tersenyum saat mendengar Aiden mengatakan hal itu. Namun, detik berikutnya senyumnya kembali hilang dari wajahnya.
"William sepertinya kau tidak datang, hanya untuk melihat kondisi Aiden, bukan?"
Wajah Aiden langsung berubah, ketika tiba-tiba Noah bertanya seperti itu. Dia langsung melirik pada William untuk melihat tanggapan pemuda tersebut.
William menggelengkan kepala, menyayangkan situasi yang mereka hadapi saat ini. Namun, kemudian dia mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kau benar, tentu saja begitu ... Tapi, bukan berarti aku tidak mencemaskan kondisi Aiden ... "
"Aku mengerti ... "
Setelah mengatakan itu, Noah mengangkat dagunya sekali, saat Aiden menatapnya.
Aiden hanya bisa mengangguk pasrah, saat keduanya berdiri dan mulai beranjak pergi dari sana.
"Aku akan kembali ... "
Setelah mengatakan itu pada Aiden, Noah mengikuti langkah William, di belakang pemuda itu.
Saat ini keduanya sedang berada di atap rumah sakit tersebut. Berdiri saling berhadapan, setelah berbalik, William langsung bicara.
"Noah, Jujur saja, meski kau masih sangat muda aku menghormatimu. Dan tentu saja aku tidak bisa memusuhi mu ... Tapi, bisakah untuk kali ini saja, kau tidak ikut campur dalam masalah Jaringan yang melibatkan, Zargosky?"
Noah menarik nafas panjang, dan melepasnya kasar. "Aiden, Stella, Mia, Sally, dan ... Ivy Clark."
Hanya itu saja jawaban yang di sampaikan Noah, untuk menanggapi permintaan William tersebut.
"Noah, aku tidak tau sekuat apa sebenarnya dirimu ... Tapi, semua pasti ada batasnya. Sekarang, Zargosky tidak bergerak atas nama keluarganya sendiri. Kau mungkin menganggap ini masalah pribadi. Tapi, banyak pihak yang dilibatkan di sini ... Seluruh negara bagian ini, akan bergerak. Dan ... "
William menghentikan penjelasannya, dan keningnya langsung berkerut melihat Noah tersenyum, saat dia mencoba menjelaskan siatuasinya.
__ADS_1
"Noah, kau ... "
Noah langsung menganggukkan kepalanya. "Ya, tentu saja aku ... meski Tobias brengsek itu tidak memulainya, aku tetap akan bergerak. Apa menurutmu, aku akan diam saja saat kalian sedang mempersiapkan diri untuk datang dan menghancurkan kami?"
William tidak tau bahwa Noah sudah mengetahui hal tersebut, hingga sejauh ini. Namun, saat itu juga dia langsung mengerti.
"Baiklah, kita lewatkan saja bagian penjelasannya karena mendengar kau berkata seperti itu. Aku berasumsi kau sudah mengetahui tiga keluarga lainnya. Bukan?"
Noah langsung menggelengkan kepalanya sekali. "Bahkan, jika aku sama sekali tidak mengetahuinya, aku tetap akan bergerak. Jadi, William Fane ... Katakan saja langsung apa maksud kedatangan mu saat ini?"
William menelan ludahnya sendiri. Dia mencoba merangkai kalimat yang tepat, untuk di sampaikan pada pemuda yang kini menatapnya dengan sangat tajam itu.
"Noah, jika kau diam ... Aku menjamin bahwa Siapapun orang-orang yang berada di bawah Jaringan mu tidak akan dalam masalah ... "
Mendengar itu, Noah langsung tersenyum miring. Dia menggelengkan kepalanya lalu menjawabnya.
"Apa kau baru saja mengatakan bahwa kau ingin menjamin keselamatan aku dan orang-orang ku, William?"
William mengangguk, namun anggukkan itu tidak begitu meyakinkan. "Dengar, tentu saja aku tidak memiliki kemampuan untuk itu. Tapi, aku mengenal beberapa orang yang—"
Kata-kata William langsung terpotong,.karena saat itu juga Noah langsung menyelanya.
Noah melihat William terdiam. Dia kemudian berjalan selangkah lebih dekat pada pemuda itu.
"Katakan, William ... Apa menurutmu, Zargosky dan tujuh Jaringan lain itu cukup untuk membuatku takut? ... "
Satu langkah lagi Noah berjalan. "Apa menurutmu, aku belum pantas untuk terlibat dalam permainan kalian?"
"Apa menurutmu, dengan menghancurkan dominasi Timothy Flare, kalian sudah bisa menguasai seluruh Negara bagian GoldWest ini?"
Saat ini, jarak keduanya hanya tinggal dua langkah saja. William kini terlihat sangat gugup. Namun, Noah sudah kembali diam dan menatapnya, sebelum akhirnya dia berkata.
"Hight Table ... Atau apapun itu. Cepat atau lambat aku akan menghadapinya ... Tapi, saat ini aku hanya ingin kau menyampaikan ini pada siapapun orang yang kau maksud itu ... "
William tertegun karena ternyata Noah mengetahui tentang High Table, yang seharusnya hanya segelintir orang saja yang meyakini keberadaan organisasi itu.
"Apapun yang terjadi di masa depan ... Hanya akan ada satu nama yang akan berada di puncak tertinggi negara bagian ini ... Aku akan memastikan tidak ada satupun dari mereka yang akan berada di sana ... "
__ADS_1
Mendengar itu, William menarik nafas panjang. Kemudian dia menggelengkan kepalanya, sebelum akhirnya berkata.
"Noah, aku pikir kau cukup pintar ... Tapi ternyata kau juga sangat naif ... "
Noah hanya diam, dan tak menjawab apapun. Dia lebih memilih William untuk menyelesaikan kata-katanya.
"Sepertinya, kau tidak jauh berbeda dengan Tobias dalam beberapa hal ... Kalian berdua, sama-sama tidak mau tau tentang batas-batas, di mana jika kalian menemuinya, maka kalian harus tau bahwa itu adalah waktu yang tepat untuk berhenti."
Apa yang dikatakan William tentu saja membuat Noah sedikit kesal. Namun, dia sudah sedikit lebih dahulu mengenal pemuda ini.
Apapun yang dikatakan pemuda di depannya ini, sebenarnya sama sekali tidak untuk menjatuhkannya.
Namun, itu tidak mengubah fakta bahwa William sudah menyamakan dirinya dengan Tobias. Tentu saja ide tersebut tidak bisa diterimanya.
"William ... Seperti katamu tadi, aku juga tidak ingin menjadikanmu musuhku ... Tapi, kau tentu juga menyadari bahwa tidak ada jalan yang benar-benar datar dan lurus di dunia ini bukan?"
William menunduk, seolah memikirkan sesuatu. "Ya, kau benar ... Itulah kenapa aku berada di sini saat ini. Jadi Noah ... "
William menggantung kata-katanya, sambil terus berpikir. Noah yang melihatnya, merasakan bahwa pemuda di depannya ini, kini terlihat begitu gugup.
Namun begitu, Noah tidak mempedulikan hal tersebut. Sebaliknya, dia berkata.
"Bukankah ini sudah cukup membuatmu mengerti. Jadi, lakukan apapun yang ada di di kepalamu itu! Jangan menjadi pengecut di depanku, William!!"
Kalimat yang awalnya bernada datar itu, berakhir dengan sebuah seruan yang membuat William semakin gugup.
Namun, beberapa saat kemudian, Noah mendengar pemuda itu bergumam.
"Noah, aku melakukan ini, bukan karena dendam ... Maafkan aku ... !"
Dengan sangat cepat, William mengambil sesuatu dari sebalik jaketnya. Melihat pergerakan William yang tiba-tiba itu, mata Noah melebar.
Namun, sedetik kemudian, Moncong sebuah senjata api yang berada di tangan William, sudah terarah langsung kepadanya, dengan jarak yang sangat dekat.
"Noah, apa yang aku lakukan ini, akan menyelamatkan banyak nyawa ... "
"Dor ... !!"
__ADS_1
Saat mengatakan hal itu, Noah sempat melihat dengan sangat jelas, kesungguhan dan air yang sudah menggenangi mata pemuda itu, sebelum William menarik pemicu senjata tersebut dan menembakkan benda itu, langsung tepat kearahnya.
"Maafkan aku, kawan!"