
Noah Langsung bergegas keluar dari sana begitu Thomas menyebut nama keluarga tersebut.
"Briley sialan itu ... "
Namun, saat dia sudah berada di depan pintu, Thomas menghadangnya.
"Noah, mau kemana kau?"
Noah merapatkan giginya, sebelum berkata geram. "Thomas, kau masih menanyakan itu?"
Mengerti dengan apa yang sedang di pikirkan Noah, Thomas merentangkan tangannya, terlihat ingin menghalanginya.
"Noah, aku tidak bisa membiarkanmu pergi menemui keluarga itu. Tidak, tidak ... Kita tidak perlu tambahan satu korban lagi."
"Thomas, apa yang kau bicarakan? Apa kau ingin aku membiarkan saudara-saudara ku di bawa oleh keluarga sialan itu begitu saja? Hah? ... sekarang menyingkir dari sana!"
Dengan cepat Thomas, merangkulnya. Dia tau bagaimana Noah. Di antara semua saudara-saudara nya di panti asuhan ini, keduanya sangat dekat.
Thomas juga sangat mengetahui bahwa Noah sangat nekat. hanya saja, berbeda dengan Issac yang memang memiliki tubuh besar dengan fisik yang kuat, Noah sangat lemah.
Tentu saja Thomas tidak akan membiarkan sesuatu yang sangat buruk menimpa Noah.
"Noah, kita tidak akan mampu melawan mereka. Sudah aku katakan bukan, Issac telah mencoba, dan ... "
Saat itu juga, Noah langsung berfikir tentang bagaimana dengan keadaan Issac.
"Issac? ... Dimana dia?"
Begitu banyak hal yang saat ini ada di kepala Thomas, hingga dia kesulitan untuk mengatakan mana yang lebih penting. Keadaan sudah menjadi sangat buruk, tentu saja Noah akan melakukan hal-hal nekat setelah dia memberi tahu semuanya.
"Saat ini, Issac sedang di rawat di rumah sakit."
Sekali lagi Noah ingin bergerak, Thomas memeluknya semakin erat. Saat itu juga, Noah berteriak sangat kesal.
"F**kin ... Sial ... Thomas, Apa yang kau lakukan?"
Jelas sekali sikap Thomas membuat Noah sedikit muak. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh pemuda yang sedang mencoba menahannya dengan sekuat tenaga itu.
Akan tetapi, saat Noah ingin memaksa melepaskan rangkulan tangan Thomas, sebuah suara memanggil namanya.
"Hei, lihat ... Itu Noah!"
Keduanya segera menoleh pada asal Suara. Noah bisa melihat seorang gadis kecil berumur sekitar sepuluh tahun, sedang menunjuk padanya.
"Merry ... Kau selalu menipu kami, Noah tidak akan kembali lagi."
Sekarang, Noah menoleh pada Satu lagi gadis kecil yang baru saja keluar sambil menggerutu dari salah satu kamar yang ada di dalam Panti asuhan tersebut.
"Rachel? ... "
__ADS_1
Gadis yang tampak ketus itu, langsung menoleh begitu mendengar Suara Noah. Saat itu juga matanya melebar.
"Noah ... Noah ... Noaaaahhh! ... "
Melihat Rachel langsung berlari sambil menangis pada Noah, Thomas langsung melepaskan pemuda itu.
"Noah, kau ... benar-benar ... Benar-benar ... kembali ... Noah, aku ... Noah ... Noah ... "
Tubuh Rachel langsung bergetar terisak saat memeluk Noah. Gadis kecil itu, terlihat sangat merindukannya.
"Ya, Rachel ... Aku kembali, kau merindukanku?"
Rachel tetap memeluk Noah erat. Seolah Takut jika dia melepasnya sebentar saja, maka Noah akan segera menghilang begitu saja.
"Merry ... Kemarilah."
"Noaaaahhh ... !"
Merry yang juga awalnya seperti tidak percaya apa yang dia lihat dan dikatakannya itu, akhirnya ikut menangis saat memeluk Noah.
"Kalian berdua, sudah sangat tinggi ... "
"Noah, kami merindukanmu ... "
"Ya, Kenapa kau pergi lama sekali? ... "
Noah menelan ludahnya mencoba menahan air matanya. Dua gadis ini, di rawatnya sejak masih sangat kecil.
Butuh setidaknya setengah jam bagi Noah untuk menenangkan keduanya. Dan satu jam yang lainnya dia habiskan untuk setiap anak-anak yang keluar setelah mendengar pekikan Rachel.
"Noah, benarkah kau akan mengajak kami semua ke mall?"
"Noah, jangan membohongi kami, aku sudah sepuluh tahun. Di sana semuanya mahal. "
"Merry, Noah bilang, dia memiliki uang ... "
Dengan bersusah payah Noah memasang senyum agar bisa meyakinkan semua anak-anak yang kini menatapnya penuh harap tersebut.
Tentu saja dia punya uang. Bahkan, dia bisa saja membuatkan satu mall untuk setiap anak-anak yang ada di sana.
Sekarang, Noah merasa menyesal karena telah menunda cukup lama untuk pulang ke BronzeLand. Seharusnya, sejak awal dia sudah memastikan kebahagiaan adik-adiknya itu.
"Rachel, Merry, dengar ... Apa kalian mengingat bahwa aku pernah berbohong pada kalian, sekali saja?"
Saat itu juga, keduanya menggelengkan kepala mereka cepat.
"Tidak, kau selalu menepati janjimu ... "
"Ya, kau satu-satunya kakak kami, yang selalu menepati janji."
__ADS_1
Meski keadaannya sangat sulit, Noah yang sejak masih sekolah sudah bekerja paruh waktu, selalu berusaha menyisihkan sedikit uang untuk membelikan sesuatu untuk adik-adiknya di panti.
Itu kenapa tidak hanya Merry dan Rachel saja yang berhamburan keluar kamar mereka masing-masing, saat mendengar nama Noah di sebut.
"Baiklah jika begitu ... sekarang kalian semua harus tidur. Karena besok, aku akan membawa kalian semua kemanapun kalian ingin pergi."
Anak-anak itu mengangguk dan masuk ke kamar, setelah masing-masing dari mereka sekali lagi memeluk Noah.
"Kau tak tergantikan di sini, dan selalu menjadi kakak terbaik bagi mereka."
Noah hanya menghela nafas panjang saat Thomas mengatakan hal tersebut. Akan tetapi, saat semua anak-anak itu telah pergi, Noah kembali ingin melakukan hal yang terlintas di kepalanya tadi.
Tau bahwa Noah akan kembali pergi, dan usahanya akan sia-sia hanya untuk menghentikannya, Thomas berkata.
"Noah, aku tidak akan menahanmu lagi. Tapi, setidaknya kau harus mendengar dulu semuanya."
"Thomas, sial ... Kau terlalu berbelit-belit. Katakan saja ... Atau tidak sama sekali!"
Entah kenapa Noah berubah terlihat begitu frustasinya saat itu. Apalagi setelah mendengar penjelasan-penjelasan dari Thomas yang seolah tidak ingin memberitahunya apapun itu.
"Noah, keluarga Briley sangat—"
"F**k ... Thomas, ada apa denganmu? Aku ingin tau apa yang terjadi, aku tidak peduli siapa keluarga brengsek Briley itu ... "
"Baiklah, baiklah ... Kau tau, aku hanya mencemaskanmu."
Thomas baru berumur lima belas tahun. Tapi, sama seperti Noah dan yang lainnya, karena keadaan, mereka dipaksa berfikir dewasa sebelum saatnya.
Melihat kondisi saat ini, Thomas merasa semua sudah tidak ada bedanya lagi. Noah sudah di sini, dan jelas pemuda itu berhak mengetahui semuanya.
"Noah, dengar ... Aku mengatakan tiga saudari-saudari kita di bawa keluarga Briley, kenapa kau tidak menanyakan yang lainnya? Apa kau fikir masalah ini hanya tentang, Lily, Hanna dan Julie saja? Atau Issac?"
Noah langsung tertegun. Padahal sejak tiba, itulah yang ditanyakannya pada Thomas. Sekarang, dia hampir saja melupakannya.
"Thomas, aku tau apa yang kau pikirkan dan terimakasih untuk itu. Akan tetapi, kita semua bersaudara. Aku berhak tau semua yang terjadi di panti ini, mengerti?"
Thomas mengangguk mengerti, dan mulai bersuara lagi.
"Noah, kami tidak seberuntung dirimu karena kau memiliki otak yang lebih cerdas dari yang lainnya. Beberapa dari saudara-saudara kita harus mencari kerja untuk membantu Nyonya Victori di sini. Akan tetapi, semua tidak berjalan lancar dan ... "
Mulailah Thomas menceritakan keadaan saudara-saudara mereka yang lainnya saat ini. Meski tumbuh bersama, saat ini mereka semua telah dewasa.
Noah sama sekali tidak pernah membayangkan suramnya dunia saudara-saudara nya di kota ini.
Selama mendengar penjelasan Thomas, Noah beberapa kali merasakan sesal yang dalam dan amarah yang seolah membakar dadanya.
Begitu Thomas menyelesaikan penjelasannya, Noah langsung berdiri dan melangkah pergi dari sana begitu saja.
"Noah, aku tau kau sangat marah. Tentu aku juga sama, tapi lihatlah mereka. Siapa yang akan menjaga adik-adik kita setelah ini."
__ADS_1
Noah menghentikan langkahnya dan menatap pada Thomas.
"Mulai saat ini, Aku yang akan menjaga kalian semua ... "