
Blacksteel, bisa di katakan kot terbesar di negara bagian GoldWest. Maka dari itu, tidak mengherankan jika hampir semua pergerakan ekonomi negara bagian tersebut, di mulai dari sana.
Keluarga Zargosky, yang sedang dibicarakan banyak orang, juga memusatkan pergerakan Jaringan mereka di kota tersebut.
Namun, beberapa waktu belakangan, keluarga itu seperti sedang melakukan proyek besar di kota ZincSeed. Hal itu membuat satu keluarga yang seharusnya setara dengan mereka mendapat kesulitan.
Ancaman Nicholas Zargosky saat terakhir kali mereka bertemu, ternyata bukan hanya isapan jempol belaka.
Dengan mengandalkan sumber keuangan yang sangat besar, apalagi di dukung oleh dua Jaringan besar lainnya, Nicholas memonopoli hampir semua proyek serta lahan bisnis di kota tersebut.
Akibatnya, Alexander Reamus berserta Jaringan-jaringan yang ada di bawahnya berada di ambang kebangkrutan.
"Aaron, apa mereka semua memutuskan untuk berpindah pihak pada bajingan itu?"
Alexander tidak bisa lagi dikatakan muda. Meski sebelumnya masih terlihat sehat dan gagah. Beban pikiran yang tengah di embannya, membuat pria itu tidak bisa tidur nyenyak setiap harinya.
"Tidak semua ... Tapi, bisa dikatakan sebagian besar sudah mengalihkan perhatian mereka pada keluarga Zargosky ... "
Alexander Reamus menundukkan kepalanya sambil memijat keningnya. Sementara itu, Aaron yang selalu mendampinginya itu, berdiri di depannya.
Alexander mengangkat kepala menghela nafas panjang, lalu melepasnya kasar ke udara. Apapun yang coba dilakukannya seolah mengalami kebuntuan.
Saham perusahaannya turun sangat tajam. Sementara proyek tahunan yang biasa mereka jalankan, kemungkinan besar tidak mampu lagi mereka pertahankan. Semua itu karena Nicholas Zargosky yang memberi penawaran jauh lebih rendah, sehingga pengembang lebih tertarik untuk bekerja sama dengan jaringan itu.
"Aku tidak bisa terlalu menyalahkan mereka. Bagaimanapun, ini adalah soal bisnis. Aku dan Jaringan ini, sudah tidak mampu memberi rasa aman dan menjanjikan keuntungan jangka panjang seperti biasanya ... "
Dunia bisnis memang sangat kejam. Orang-orang hanya tertarik dengan keuntungan dan prospek jangka panjang.
Kesetiaan bukanlah sebuah filosofi yang cocok bagi siapa saja yang ingin bergerak di bidang ini. Apalagi, mereka semua menyadari bahwa dunia yang mereka geluti adalah dunia paling gelap di antara dunia lainnya.
Sebagai mafia, apalagi sudah malang melintang hampir sepanjang hidupnya dalam segala bentuk persaingan, Alexander Reamus merasa saat ini adalah batas terakhirnya.
__ADS_1
Sebuah kalimat, yang paling tak ingin diucapkannya di dunia ini, akhirnya melintas dengan sangat jelas di kepalanya. Dan kata-kata itu, akhirnya berubah menjadi suara rendah.
"Sepertinya ini memanglah akhirnya ... Jaringan ini, sudah tidak memiliki harapan la—"
Tepat sebelum Alexander Reamus menyelesaikan kalimatnya itu, Aaron langsung menyela.
"Tuan Reamus ... Ini belum ... Aku memiliki sebuah ide."
Bagaimanapun, dia telah mengikuti pria yang kini duduk di depannya ini, sudah sangat lama.
Jaringan ini sudah seperti rumah bagi dirinya. Jika memang harus berakhir maka dia ingin mencoba semua cara, agar tidak berakhir dengan cara menyedihkan seperti ini.
Sedikit tertegun karena ini adalah untuk pertama kalinya pria yang selalu mengikutinya itu, menyela kata-katanya. Namun, Alexander Reamus hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, sebelum akhirnya kembali bersuara.
"Aaron ... Jika kau masih berpikir kelurga Flare mau membantu, maka lupakanlah ... kau tentu sudah sangat mengetahui bahwa, Aku dan brengsek itu, tidak pernah saling menyukai bukan?"
Tanpa sepengetahuan Aaron, sebenarnya Alexander Reamus sudah menghubungi Timothy Flare. Namun, jawaban yang dia dapat sungguh sangat mengejutkan.
Bahkan, saat itu Alexander sedikit keberatan karena itu adalah gagasan dari Timothy Flare. Namun, karena bujukan sahabatnya dan demi terciptanya keseimbangan, Alexander harus menekan egonya dan ikut bergabung dengan yang lainnya.
Tentu saja saat menghubungi Tim, sekali lagi Alexander harus menekan ego dan membuang harga dirinya. Namun, sang penggagas the Elevens yang seharusnya menjadi orang yang paling mengerti apa akibatnya jika keseimbangan itu rusak, langsung menolak dan mengatakan bahwa Zaman akan segera berubah.
Satu angka akan hilang dan hanya akan menyisakan angka satu lainnya.
Saat itu, Alexander merasa Tim, juga akan mulai bergerak. Tidak butuh waktu lama lagi, keluarga itu akan menunjukkan siapa mereka yang sebenarnya.
Zargosky, Shelby, Zille, atau Jaringan miliknya bukanlah lawan sepadan untuk mengantisipasi pergerakan Jaringan Flare. Kecuali, merek semua bersatu, namun itu hanya akan memberi perlawanan dan tidak ada jaminan akan keluar sebagai pemenang.
"Tidak, tidak ... aku tidak sedang berpikir untuk meminta bantuan pada badut tua mengerikan itu. Tapi, ada seseorang yang sekarang melintas di kepalaku ... "
Lebih dari apapun, Aaron lebih memilih Jaringan ini hancur daripada harus menundukkan kepala pada keluarga Flare. Dia benar-benar tidak menyukai pria tua yang menjadi kepala keluarga Jaringan yang di anggap sebagai yang terkuat di Negara bagian GoldWest itu.
__ADS_1
Alexander mengenal semua orang terkuat dan paling berkuasa di negara bagian GoldWest ini, karena dia adalah atau pernah menjadi salah satu dari mereka.
Hanya ada lima Jaringan lainnya yang tersisa. Namun jelas mereka tidak akan bis membantu banyak, karena Zargosky memiliki dukungan lebih kuat. Alexander lebih yakin lima lainnya lebih memilih untuk ikut menghancurkan Jaringannya dan mengambil kesempatan untuk menguasai wilayah-wilayah bisnis yang dulu mereka kuasai.
Dia yakin Aaron tidak membutuhkan penjelasan darinya, untuk memahami hal tersebut. Itu kenapa kata-kata Aaron, membuat jumlah kerutan di keningnya bertambah saat itu juga.
"Orang lain? ... Aaron, apa menurutmu ada Jaringan lain di negara bagian ini, yang memiliki kekuatan finansial setara dengan Jaringan yang tergabung dengan Elevens? ... Kau tidak sedang bercanda, bukan?"
Aaron tiba-tiba saja duduk di depan Alexander. Hal yang baru pertama kali pula di lakukan pria itu, sejak mengikutinya. Namun, untuk saat ini dia tidak memiliki waktu untuk menanyakan ketidak-sopanan yang secara tiba-tiba dari pria yang telah lama mengikutinya itu.
"Tuan Reamus ... Seperti yang anda ketahui, sebelum mengikutimu, aku pernah menjadi anggota marinir, bukan?"
Alexander Reamus menganggukkan kepalanya. Lalu berkata.
"Tentu aku tau, dan Karen itu pula aku tertarik merekrut mu ... Lalu, apa hubungan ini dengan masalah yang Jaringan ini alami?"
"Bukan, maksudku bukan itu ... Tapi, saat aku bertugas, aku memiliki satu orang rekan yang sangat keras kepala, dan komandan yang tidak jauh berbeda ... "
Alexander benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan pria di depannya ini. Bahkan, saat ini dia tidak tau harus menanyakan apa, selain hanya bisa menunjukkan kebingungannya dengan raut wajahnya saja.
Aaron tau bahwa dia belum mengatakan apapun yang bisa menjelaskan maksudnya. Jadi saat itu juga dia langsung menegaskan sesuatu.
"Tuan Reamus, aku berani bertaruh ... Bahkan jika mereka berdua harus mati, mereka tidak akan pernah menundukkan kepalanya pada siapapun ... "
"Braaaakkk ... "
Alexander yang tengah bingung, semakin di buat frustasi, menggebrak meja di depannya. Itu karena ulah Aaron yang saat ini terdengar berbicara berbelit-belit olehnya.
"Aaron brengsek ... Jangan berbelit-belit, katakan saja apa maksudmu ... "
Aaron tidak bergeming dan sekali, bahkan tatapannya semakin tajam menusuk.
__ADS_1
"Dua orang yang aku kenal itu, sekarang memutuskan untuk mengikuti seseorang ... Dan aku yakin, orang itu bukanlah orang biasa ... Itu maksudku "