World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Kembali ke Silverstone


__ADS_3

Noel melihat semua kejadian itu dengan mata terbuka lebar dan mulut ternganga.


Terakhir, dia melihatĀ  orang-orang yang ada di sana langsung membuka Jas mereka berebut membersihkan noda darah bahkan jejak sepatu sebelum akhirnya pergi menghilang setelah berhasil keluar dari gedung itu.


"Tuan Noel? ... Tuan Noel?... "


Pemuda itu tersentak dari lamunannya, begitu Alis menyentuh bahunya.


"Oh, Ya ... Maaf. Aku ... Aku ... "


Alice tersenyum melihat Noel yang tergagap. Namun, beberapa detik kemudian, pemuda itu berkata.


"Nona Alice ... Kau berbahaya ... "


Alice hanya menggelengkan kepalanya, lalu mulai berjalan. "Apa kau akan tetap berada di sana, atau kita akan melanjutkan pekerjaan kita?"


Noah yang melihat Alice sudah menjauh, langsung berlari menyusul wanita itu, dan kembali bersuara.


"Oh, ya ... Kita akan bekerja."


Saat itu mereka kembali berjalan dan berhenti tepat di depan pintu Lift.


Alice menoleh sedikit melihat pemuda itu kini sedikit gemetar. Alice bisa mengerti, jika Noel terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.


Sebenarnya, Alice juga terkejut dengan hal tersebut. Namun, dia sudah menyadari bahwa dunianya tak akan lagi sama, setelah Noah memberikan nya kesempatan untuk membalaskan dendamnya pada Arlen yang telah membunuh ayahnya.


Sejak saat itu, Alice sudah berjanji bahwa hidupnya akan dia habis kan untuk mendukung Noah.


"Nona Alice, kau adalah wanita yang paling keren, yang ada di dunia ... "


Meski tidak terlalu jelas, tapi Alice mendengarnya Gumaman Noel, yang ada di sampingnya.


"Benarkah? ... "


Saat itu, Noel yang tertunduk, langsung menatapnya menganggukkan kepalanya cepat. "Ya, tentu saja ... Eh, tidak ... Saat ini, aku rasa kau adalah manusia terkeren yang pernah aku ketahui."


Sebuah senyuman terkembang di wajah Alice. Saat itu pintu Lift telah terbuka, dan dia langsung melangkah masuk ke dalam.


Alice berbalik, dan berkata pada Noel yang masih di luar sana. "Tuan Noel ... Kau mengenal seseorang yang jauh lebih hebat daripada diriku ... Hanya, saja kau belum menyadarinya. Sekarang, masuklah ... "


Mendengar itu, Noel langsung melompat masuk. Sebelum pintu itu tertutup, Noel kembali bertanya. "Aku tidak yakin ada yang sehebat dirimu. Jika, ada aku akan memujanya ... "


Alice ingin memberi tahu Noel, bahwa dia tidak berbohong. Dan tentu saja Noel sangat mengenalnya. Keberadaan mereka di sini, dan seluruh yang mereka rasakan saat ini, tentu saja karena mereka berdua mengenal orang itu dengan sangat baik.


Namun, tentu saja Alice tidak bisa memberitahunya. Wanita itu mengerti, kenapa Noah masih memilih untuk merahasiakan siapa dirinya, dari sahabat-sahabatnya. Termasuk, pemuda yang ada di sampingnya itu.


Sementara itu, di waktu yang sama, Noah duduk di bangku penumpang, sementara Laura Fanes memacu LVR hitam miliknya dengan kecepatan tinggi menelusuri jalan tol menuju Silverstone.

__ADS_1


"Tuan Evans ... Kau terlihat berbeda. Maksudku ... Saat ini, kau lebih ... Hmmm ... Aku tidak tau, tapi kau terlihat sudah berubah."


Seperti biasanya, Laura adalah wanita yang bersemangat, dan berterus terang. Noah hanya tersenyum dan menoleh padanya.


"Apa ini baik atau buruk?"


Laura menatapnya sebentar, lalu kembali fokus ke jalanan. "Aku tidak tau. Tapi sebagai wanita, bagiku kau selalu terlihat luar biasa ... "


Noah selalu menyukai gadis yang berterus terang. Laura adalah salah satu contohnya. Tidak ada kesombongan pada gadis ini, bahkan saat beberapa orang masih memandang dirinya rendah, Laura tetap bisa menghargainya.


"Nona Fanes ... Apa kau ingin mengatakan bahwa kau menyukaiku?"


Mendengar itu, Laura langsung tertawa. Hal itu membuat Noah, seolah telah mengatakan sesuatu yang konyol. Dia hendak menjelaskannya, namun gadis itu menyelanya dan berkata.


"Aku pasti gila, jika aku mengatakan bahwa aku tidak menyukaimu ... Bahkan, aku sangat menyukaimu. Tapi, tentu saja aku tau posisiku."


Noah mengernyitkan keningnya, lalu bertanya. "Apa yang salah dengan posisimu?"


Tawa Laura langsung mereda. Namun, senyuman tidak lepas dari wajahnya. Dia melihat pada Noah sebentar, lalu kembali melihat pada Jalanan, yang seolah tak berujung.


"Seperti jalanan ini ... Meski tidak melihat ujungnya, tapi kita sudah tau ini akan berakhir di mana. Begitu juga dengan perasaanku padamu ... Aku menyukaimu dan sudah tau apa hasilnya. Jadi, aku hanya menikmati perasaan ini, untuk diriku sendiri saja ... "


Noah kembali memperhatikan gadis ini dengan seksama. Bagi Noah, Laura sangat cantik dan sudah pasti baik. Tidak ada alasan untuk menyukainya.


Jika saja dia tidak memiliki misi pada sistemnya, atau hal lain yang berhubungan dengan tanggung jawab terhadap banyak orang, tentu saj Adia senang ada seorang gadis yang cantik, mengatakan bahwa gadis itu menyukai dirinya.


Laura tau bahwa sebenarnya Noah mengerti apa yang di maksudnya. Hanya saja, pemuda ini begitu baik, hingga bisa menjaga perasaannya dan menanggapinya dengan sangat baik.


Hal yang membuat gadis ini, semakin menyukainya.


"Tuan Evans, aku tidak tau siapa dirimu sebenarnya. Tapi, setelah beberapa hari mengikuti mu, sepertinya kau berurusan dengan sesuatu yang sangat besar. Karena aku sangat-sangat menyukaimu, aku hanya berharap, apapun yang kau lakukan, kau di beri kemudahan."


Saat itu, muncul sebuah keinginan yang tidak pernah dia ingin sampaikan pada orang lain, yang tidak mengetahui dirinya.


"Laura Fanes ... Jika aku mengatakan bahwa aku ingin menguasai dunia ini, apakah kau masih tetap berharap aku bisa menjalani semua ini dengan mudah?"


Saat mendengar itu, Laura langsung menoleh pada Noah, lama. Meski mobil masih dalam kecepatan tinggi, gadis itu tetap mencari tau apakah pemuda ini sedang bercanda.


"Oh, tidak ... Sepertinya kau benar-benar ingin melakukannya."


Noah menganggukkan kepalanya, lalu mengakar dagunya memberi tanda agar gadis itu kembali fokus pada jalanan.


Setelah mengatakan itu, Noah memperhatikan gadis itu tidak lagi berniat untuk mengatakan apa-apa dan fokus pada jalanan.


Namun, setelah sedikit lebih lama, gadis itu mengeluarkan suaranya. Meski tidak keras, tapi Noah bisa mendengarnya dengan jelas.


"Tuan Evans ... Aku rasa yang akan kau lakukan tidak mungkin mudah ... "

__ADS_1


Mendengar itu, Noah menganggukkan kepalanya. Lalu, dia mendengar kembali gadis itu berkata.


"Kau mungkin saja bisa mati, sebelum berhasil melakukannya ... "


Noah kembali menganggukkan kepalanya. "Ya, mungkin aku sudah mati sebelum berhasil ... "


Terjadi jeda beberapa lama, sebelum akhirnya Laura kembali melihat padanya dan berkata.


"Sebelum kau mati ... Bercintalah denganku ... "


Hampir saja Noah menganggukkan kepalanya, namun saat itu juga dia batu menyadari apa yang di katakan Laura.


"Kau bilang apa?"


Laura menganggukkan kepalanya, dan kembali mengaskan. "Ya, sebelum kau mati, bercintalah denganku ... Bukankah tidak ada bedanya. Kau menyukaiku, bukan?"


Noah kehilangan kata-kata, dan berbalik menatap jalanan. Tak lama. Terdengar gadis itu kembali tertawa.


"Hahahahahaha ... "


Noah menatap gadis itu, dan merasa bahwa dia sudah dipermainkan. "Nona Fanes, apa aku baru saja mempermainkanku?"


Meski sambil tertawa, Laura menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak ... Aku tidak berani."


"Lalu, kenapa kau tertawa?"


Baru kali ini, Noah dibuat sedikit kesal dengan seorang gadis. Namun, entah kenapa dia merasa Laura memiliki energi positif sehingga pemuda itu terpaksa ikut tersenyum saat melihatnya tertawa.


"Aku senang, karena kau mempertimbangkannya ... Jadi, sepertinya aku hanya harus menunggu, sedikit lebih lama. Dan aku rasa itu bukan masalah ... "


Noah menggelengkan kepala dan bergumam. "Aku rasa, kau sudah sedikit gila ... "


"Ya, kau tidak bisa menyalahkan ku karena itu ... Apa kau tidak tau, bahwa menyukai seseorang, bisa membuat orang itu menjadi, gila?"


Saat itu, keduanya sudah melihat pintu keluar Tol. Noah meminta Laura membawanya langsung ke rumah sakit.


Sebelumnya, dia menelfon Alice untuk mengirimkan helikopter untuk membawa Henry dan Liam ke Silverstone.


Setengah jam kemudian, Noah sudah berada di depan rumah sakit itu. Mengetahui bahwa keduanya sudah sadar, tentu saja dia senang.


Akan tetapi, saat mengingat kembali, keduanya mendapat malapetaka, karena lepas dari pengawasannya.


Setelah mengatur nafasnya, Noah mulai melangkah memasuki rumah sakit itu.


"Aku harap, kalian bisa memberi tahuku, semua yang terlibat ... Hingga aku bisa menghancurkan, siapa saja brengsek yang berani, mengusik saudaraku."


Setelah mengatakan itu, Noah membuka pintu kamar, di mana keduanya berada.

__ADS_1


"Noah? ... Kau datang?"


__ADS_2