
Di perjalanan dengan mobil yang melesat kencang itu, Alice mencoba menjelaskan situasinya. Namun karena kencangnya, baru beberapa saat saja, Alice sudah melihat pintu Tol.
"Noah, seperti yang aku katakan. Henry dan Liam hilang setelah dua hari berada di HighCopper saat melakukan tugas praktek kerja di lapangan ... "
Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Alice, Noah akhirnya mengerti situasinya. Memang sangat mencemaskan, tapi belum tentu seburuk itu.
Karena, menurut keterangan Alice, dari laporan yang diterimanya, Henry dan Liam serta tim yang mereka bentuk, memang sedang menyamar untuk mendapatkan sebuah berita ekslusif.
Sebagai, orang yang akan menggerakkan perusahaan media yang bernama WallEye milik World Order, pelajaran praktik di lapangan memang akan bekerja sangat cepat dalam peningkatan keahlian serta pengalaman mereka.
Namun, setelah dua hari di HihgCopper, Tim mereka tidak bisa dihubungi. Jika bukan karena ada dua orang teman Noah di sana, mungkin Alice tidak akan sepanik ini.
Kecepatan mobil tiba-tiba melambat. Noah tudak lagi merasa secemas Sebelumnya. Tapi, bukan berarti dia tidak menganggapnya hal tersebut sebuah masalah.
Hanya saja, saat ini dia teringat dengan Jade. Cara dia keluar dari rumah gadis itu terkesan sangat tidak sopan. Noah memutuskan akan menghubunginya nanti, dan menjelaskan situasinya.
Sementara di sebelahnya, Alice yang sejak tadi menggenggam erat kursi dimana dia duduk karena takut, kini juga merasa sedikit lega. Meski masih dikatakan kencang, tapi kecepatan mobil ini, tidak seekstrim tadi.
"Noah, bagaimana kau bisa ... Maksudku, kau ... "
Noah hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dia tau maksud pertanyaan Alice itu, lalu menjawabnya santai. "Sepertinya aku memiliki bakat dalam hal ini."
Meski tidak bisa mempercayainya begitu saja. Tapi dia yakin saat pertama kali mengajarkan pemuda ini mengemudi, bahkan saat itu Noah tidak tau guna pedal-pedal yang ada di kakinya.
Akan tetapi, apa yang baru saja dia alami, mau tidak mau Alice harus mempercayainya. Mungkin seperti apa yang dikatakan oleh pemuda itu, dia memang berbakat.
Menyadari hal tersebut, Alice menatapnya dengan senyuman menggoda. "Noah, taukah kau jika kau selalu punya cara meluluhkan hati wanita?"
Noah menggelengkan kepalanya, namun dia juga tersenyum. "Alice, apa kau belum menemukan seorang pria yang bisa menarik perhatianmu?"
"Hahahahahah ... "
Mendengar kata-kata Noah, Sontak Alice tertawa terbahak. Hal itu langsung membuat Noah berbalik menatap sambil mengernyitkan dahinya, heran.
"Kenapa kau tertawa?"
Lagi, Alice menggelengkan kepalanya. Gadis itu tidak mengerti kenapa Noah masih bertanya. Muda, Tampan, kaya-raya, dingin dan sangat mengintimidasi serta sangat lihai dalam mengemudi.
Alice tudak yakin lagi akan ada pria diluar sana, yang mampu menarik perhatiannya.
"Noah, jangan tanggapi perkataanku ini, jika itu membuatmu tidak nyaman. Tapi dengarkan aku... "
__ADS_1
Sambil tetap memperhatikan jalan, Noah mengangguk mengerti. "Katakan, apa itu?"
Dengan mata yang menatap Noah lekat, Alice mengatakan hal yang sangat ingin dia katakan sejak lama, tapi dengan keseriusan.
"Noah, bercintalah denganku ... Meski sekali saja ... "
"Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ... "
Sontak Noah terbatuk. Dia dan Alice memang seperti tidak memiliki batas lagi dalam hal apapun. Tapi, saat Alice mengatakan hal itu, jelas Noah terkejut.
Dia menyempatkan sebentar melihat Alice. Sekarang, dia menyadari bahwa wanita cantik itu benar-benar serius.
"Nona Alice ... Kau masih bercanda tentang—"
"Tidak, tidak ... Aku tidak bercanda ... Kali ini aku serius. Aku benar-benar menginginkannya. Walau sekali saja ... "
Noah menelan ludah. Dia tidak menyangkan akan berada dalam situasi seperti ini.
Dengan kecantikannya serta bentuk tubuhnya yang sangat menggoda, tidak akan sulit bagi Alice mencari pasangan. Apalagi hanya untuk bercinta.
Akan tetapi, jika Alice benar-benar mengajaknya untuk melakukan itu, Tentu saja Noah juga akan tergoda. Bagaimanapun, dia adalah pemuda yang Normal.
Akan sangat aneh jika dia sama sekali tidak pernah membayangkan hal tersebut terjadi, pada mereka berdua.
Jika Alice benar-benar serius meminta, Noah takut jika mereka melakukannya akan membawa mereka ke hubungan yang rumit yang berpotensi merusak segalanya.
Namu sekarang, dia juga bingung bagaimana cara menanggapi permintaan Alice tersebut.
Tau bahwa dia telah membawa Noah pada situasi yang sulit, Alice kemudian kembali tertawa.
"Hahahahha ... Noah, kau ... Kau ... Benar-benar sesuatu ... "
Noah kembali mengernyit heran dan melihat pada Alice. Menurutnya, dia baru saja dipermainkan Alice. Kesal bercampur malu, karena jelas telah memikirkan hal-hal kotor berdua dengan wanita itu, Noah bertanya dengan raut kesal.
"Alice ... Kau mempermainkanku?!"
Melihat Noah yang berubah kesal, Cepat Alice menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak bercanda. Akan tetapi, dia melupakan satu hal.
Noah, yang dia kenal memang seperti ini. Seorang pemuda polos, yang entah bagaimana menyimpan sesuatu yang sangat besar di belakangnya.
Sebagai pemuda yang baru akan menginjak jenjang kedewasaan, Alice bisa memaklumi bahwa pemuda ini masihlah sangat naif.
__ADS_1
"Tidak, tidak ... Aku tidak mempermainkanmu. Aku hanya melupakan bahwa selain menarik, kau masih sangat polos dan juga sangat naif ... "
Kata-kata Alice tersebut, sedikit melukai harga dirinya. Memang dia masih muda seperti kata Alice. Akan tetapi, Polos dan Naif, sepertinya berlebihan.
Dia baru saja menaklukkan dua kota. Sesuatu yang belum tentu bisa di lakukan kebanyakan pemuda yang seumuran dengannya.
"Alice ... Apa kau lupa apa yang sudah berhasil aku lakukan? Aku—"
Kata-kata Noah terpotong, karena Alice langsung menyelanya.
"Tepat seperti itu ... " Tegasnya.
Noah memundurkan sedikit kepalanya lalu berbalik kembali menatap pada Alice yang tersenyum padanya, sebelum kembali melihat ke jalan raya.
"Tepat seperti itu? ... Apa maksudmu?"
Memang tepat seperti apa yang dikatakan Alice tersebut. Noah memang bisa melakukan apa yang tidak bisa atau bahkan mustahil dilakukan oleh pemuda lain. Dan hal itu tentu saja menarik perhatian wanita manapun.
"Noah, kau tidak bisa menyalahkanku atau wanita lainnya karena menginginkan banyak hal darimu, termasuk hal-hal seperti itu ... "
Noah melihat Alice sebentar, lalu kembali menatap Jalanan, menunggu penjelasan Alice.
"Kau bilang bahwa kau akan ke puncak tertinggi, bukan? ... Itu berarti, entah dalam bentuk apapun, kau akan menjadi seorang Raja ... "
Noah hanya diam dan terus memperhatikan jalanan. Dia tidak bisa mengangguk ataupun menggelengkan kepalanya saat mendengar kata-kata Alice tersebut. Namun demikian, dia masih berharap Alice menjelaskannya lebih jauh.
"Jika memang didalam dirimu, memiliki jiwa seorang Raja, maka kau seharusnya tau konsekuensi ini ... "
Noah menelan ludah, mendengar kata-kata Alice tersebut. Akan tetapi, jujur saja. Dia semakin tidak mengerti arah penjelasan wanita yang berbicara semakin serius itu, padanya.
"Seorang Raja, pasti akan dikelilingi wanita. Aku dan gadis itu ... Siapa namanya? Jade, bukan ... ?
Tanpa sadar, Noah menganggukkan kepalanya. Meski saat ini apa yang dikatakan Alice, semakin membingungkannya.
Namun, semuanya menjadi jelas, saat beberapa saat kemudian, Alice menyelesaikan maksudnya.
"Ya, aku dan Jade ... Yakin, kau memiliki jiwa seorang Raja. Dan kami tidak akan mempermasalahkan jika kau memang dikelilingi wanita. Akan tetapi, seorang Raja, akan dinilai dari bagaimana dia memperlakukan wanita-wanitanya ... "
Penjelasan yang panjang lebar itu, langsung mengirim Noah pada kebungkaman.
Dia tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Bahkan, dia mimpi terliarnya sekalipun, dia tidak pernah membayangkan akan terlibat pembahasan seperti ini, apalagi dengan seorang wanita.
__ADS_1
Untuk beberapa saat, terjadi keheningan di antara keduanya. Akan tetapi, itu tidak lama. Karena saat itu juga, Alice kembali bertanya.
"Noah, katakan ... Kau ingin menjadi Raja, yang Bagaimana ... ?"