World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Pilihan Yang Tepat, Jade


__ADS_3

Sudah seminggu sejak Noah bertemu dengan Arlen siang itu. Sepertinya Albert Hall memang bekerja sangat keras guna menyamarkan identitas pemiliki World Order.


Sebelumnya, Noah sempat merasa bahwa keluarga Fargo sudah mengetahui semuanya. Namun tidak, bahkan Fargo memilih untuk mengajak Noah bekerja sama untuk mengkhianati Alice dan mencari tau siapa The Ghost sebenarnya.


Tentu saja Noah menyetujui kesepakatan itu. Karena pada akhirnya, dia memang berniat menunjukkan siapa pemilik World Order pada Keluarga Fargo. Terutama pada Arlen.


"Noah, maaf ... Akhir-akhir ini kami di sibukkan dengan pendirian perusahaan kami. Jadi, aku dan yang lainnya tidak bisa menemanimu di kampus beberapa waktu."


Niah hanya tersenyum dengan penjelasan Henry itu. Tentu saja dia mengerti, karena sejak awal dialah yang membuat ketiga temannya tersebut sesibuk itu.


"Henry, tidak apa-apa. Lagipula akhir-akhir ini aku juga jarang ke kampus."


Saat itu juga, Henry menyadari sesuatu. Ada hari dimana dia datang dan Noah tidak ada, Terjadi sesuatu antara Jade dan Leyton di asrama wanita.


Karena mereka sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak bertemu, Henry tidak ingat untuk menyampaikannya.


"Noah, apa kau sudah mengetahui sesuatu tentang Jade dan Leyton beberapa waktu yang lalu?"


Noah hanya menggeleng. "Tidak, tidak. Aku tidak tau apapun. Lagipula, untuk apa aku tau, bukan?"


"Hmm ... Sepertinya begitu. Tapi, sepertinya gadis itu tidak menyukai Leyton. Mereka bertengkar di asrama wanita."


Sebenarnya, Noah sudah tidak peduli. Meski sempat dekat tapi itu hanya sangat sebentar sekali dan Jade bukan pacarnya. Jika Jade bersama Leyton atau siapapun, tentu saja itu bukan masalah Noah.


"Henry, aku pernah mengalami yang lebih buruk. Jadi, aku rasa itu hal biasa jika sepasang kekasih bertengkar."


Henry langsung menggeleng. "Tidak, mereka jelas bukan pasangan seperti yang kau pikirkan. Jade saat itu mengusir Leyton dari kamarnya."


"Henry ... Jade gadis yang baik, tapi dia bersama Leyton. Meskipun kita tidak menyukai anak itu, kita tidak bisa ikut campur urusan mereka."


Henry menghela nafas dan melepasnya. "Ya, kau benar. Hanya saja saat itu, apa yang di alami Jade, sedikit memalukan."


Noah langsung mengernyit heran. "Maksudmu?"


"Sepertinya saat itu di kamar Jade, Leyton mungkin sedikit memaksa agar mereka melakukannya. Namun, jelas Jade menolak dan mengusirnya. Saat itulah Leyton yang keluar dengan hanya memakai c3lana dal4m, mengumpat Jade dan mengancamnya."


"Apa yang dia katakan?"


"Leyton mengancam akan meminta ayahnya berhenti membantu keluarga Jade, setelah itu jelas wajah Jade langsung berubah."


Saat itu, Noah langsung ingat pertemuannya dengan Jade di Restoran siang sebelum mereka bertemu di depan Horizone di DevilHill.


Saat itu juga, Noah berdiri dan berniat ingin langsung pergi. "Henry, sepertinya aku harus pergi."

__ADS_1


Tanpa menunggu tanggapan Henry, dia langsung meninggalkan temannya itu. Sementara itu, henry hanya tersenyum melihatnya.


"Noah?"


"Jade, kau dimana?"


"Aku sedang berada di apartemen, ada apa?"


"kirimkan aku alamatmu, aku akan kesana."


Jade begitu terkejutnya saat Noah menghubunginya. Di salah satu apartemen sederhana, di sanalah dia tinggal saat ini.


Sudah tiga hari sejak keluarga Knox memutuskan untuk mengeluarkan Ayah Jade dari proyek pekerjaan yang di janjikan sebelumnya.


"Hei, Jade? ... Kau sendiri?"


Jade sedikit gugup saat melihat kedatangan Noah. Bagaimanpun, terakhir kali mereka bertemu Noah benar-benar tidak memandangnya sama sekali.


Tentu saja Jade tidak bisa menyalahkan Noah karena itu. Sebab, dia datang dengan tiga orang yang mungkin paling di benci pemuda yang kini berdiri di depannya ini.


"Hei, Ya. Aku sedang sendiri. Apa kau mau masuk?"


Tidak menerima tawaran Jade, Noah langsung membicarakan niatnya datang kesini.


Seketika itu, wajah Jade langsung berubah. "Noah, apa kau datang untuk menertawakan ku?"


"Tidak, tidak ... Jade, apa kau berfikir aku orang seperti itu?"


Jade tau Noah tidak seperti apa yang dia pikirkan. Hanya saja, saat itu Leyton benar-benar mempermalukannya.


"Noah, maukah kau ikut denganku? Aku harus menggantikan Ayah untuk menjaga ibuku di rumah sakit."


"Ibu mu sakit?"


Jade mengangguk. "Ya, apakah kau mau ikut? Aku akan menceritakan semua padamu."


"Baiklah kalau begitu, ayo."


Di perjalanan, Jade menceritakan semua yang terjadi. Bahkan, Jade juga menceritakan apa yang di inginkan Leyton hari itu sehingga Jade mengusirnya dari asrama.


"Saat itu kami baru saja pulang makan malam, namun karena dia tidak terlihat ingin langsung pergi, aku terpaksa menawarkannya masuk. Akan tetapi, pembicaraan kami berujung desakannya agar aku melayaninya."


"Jade, bukankah kau bilang hari itu Leyton memintamu menjadi pacarnya?"

__ADS_1


"Noah, sudah aku katakan bukan, aku tidak menyukainya tapi aku dalam posisi yang sulit dan aku baru saja menceritakan keadaannya padamu."


"Maaf, maksudku ... Jika kalian memang memiliki hubungan spesial, bukankah ... "


Noah kebingungan apa akan meneruskan kata-katanya. Karena jika dia teruskan, maka seolah dia akan merendahkan gadis yang berjalan di sebelahnya ini.


"Noah, jujur saja ... Jika Leyton tidak mendesak, mungkin saja beberapa waktu aku mau melakukannya. Lagipula, ini bukan pertama kalinya buatku. Akan tetapi, Leyton seperti predator yang ingin memangsaku. Kau mengerti maksudku?"


Noah mengangguk. "Ya, aku mengerti. Maafkan aku."


Jade tersenyum. Dia bari saja memberitahu seluruh keadaannya, dan Noah sepertinya tidak memandang rendah dirinya.


"Tidak, perlu. Memang begitulah keadaannya. Aku bukan gadis yang baik-baik yang seolah tidak menginginkan hal-hal seperti itu. Tapi, melakukannya dengan Leyton, aku pikir aku benar-benar tidak bisa."


"Ya, kau benar. Setidaknya, kau berani mengambil keputusan, meski itu membuatmu kesulitan."


Saat itu, mereka sudah memasuki loby rumah sakit dan berjalan menuju bangsal di mana Ibu Jade sedang di rawat.


"Ya, tapi ... Itu benar-benar membuat keluargaku kesulitan. Kadang aku berfikir kenapa aku tidak berikan saja apa yang Layton—"


Jade tidak sempat menyelesaikan kata-katanya saat Noah langsung memotongnya. .


"Jade, kau melakukan hal yang tepat dan kau tidak perlu menyesalinya."


Saat itu, Jade hanya menggelengkan kepala. Meski baik, menurutnya Noah sedikit naif.


"Noah, sekarang ibuku benar-benar memerlukan biaya perawatan. Dan kami sudah kehabisan uang. Kadang aku merasa sedikit egois."


Saat itu juga, Noah memegang kedua bahu Jade dan mereka berhenti tepat di tengah koridor rumah sakit itu.


"Jade, kau tidak perlu menyesal. Sebagai temanmu, aku senang kau melakukannya. Bukankah sekarang kau hanya perlu seseorang untuk membantumu. Kalau begitu aku—"


"Jade, siapa anak muda ini?"


Kata-kata Noah terhenti saat mendengar seorang pria di dekat mereka, menyapa Jade.


"Ayah, ini teman kuliahku."


Saat Noah melepas bahu Jade dan menoleh pada pria itu, matanya langsung melebar.


"Kau?! ... Bukankah kau pemuda waktu itu?"


Saat itu juga Jade merasa heran melihat reaksi ayahnya, saat melihat Noah.

__ADS_1


"Helo Tuan, kita bertemu lagi, perkenalkan. Aku Noah Evans, teman kuliah Jade."


__ADS_2