
Orang tersebut, menggelengkan kepalanya. "Aku masih belum yakin. Tapi, informan yang aku letakkan di keluarga Flare ... Juga menyebutkan kata yang sama."
Detik itu juga, Nicholas Zargosky kehilangan keyakinannya sebagi orang yang akan memicu pergerakan yang berpotensi menyebabkan kekacauan besar di negara bagian ini.
Terlalu banyak informasi yang tidak dimengerti nya saat ini. Sebuah jaringan, tidak akan menggunakan kode untuk pergerakan mereka, jika itu bukanlah hal yang sangat besar.
Jika hanya keluarga Fargo saja. Mungkin dia akan mengabaikannya. Tapi, jika apa yang dikatakan bawahannya ini benar, danĀ keluarga Flare juga menggunakan kode yang sama, maka itu tidak bisa lagi di anggap sesuatu yang biasa.
Saat itu itu, Nicholas memajukan tubuhnya. "Tambah informan dan kumpulkan informasi sebanyak mungkin dan langsung laporkan padaku, jika kau merasa itu sangat berguna."
"Baik, Tuan ... "
Saat orang itu berdiri dan terlihat hendak berbalik, Nicholas kembali memanggilnya.
"Sebentar ... !"
"Ya, Tuan?"
"Cari cara agar aku bisa berkomunikasi dengan Tamara ... Tapi, pisahkan ini dengan informan yang kau taruh di sana, mengerti?"
Orang itu kembali mengangguk. "Baik, aku mengerti."
Nicholas kembali bersandar, dan tampak berpikir. "Sial ... Ini memang jauh lebih sulit dari apa yang pernah aku bayangkan!" Batinnya.
Sementara itu, di tempat yang menjadi tujuan Tobias Zargosky, kota yang ingin dia hancurkan itu seperti sedang mengalami perayaan sesuatu.
Entah ini bagian dari protokol kota tersebut atau tidak, namun beberapa tempat seperti sedang mengadakan berbagai macam even.
Keberadaan the Madness di kota ini, menambah kepercayaan diri seluruh penduduk, bahwa orang itu akan selalu memberi mereka rasa aman, serta masa depan yang jauh lebih baik.
Sementara itu, di bangunan megah yang ada di ujung kota. Denting suara sendok dan garpu memenuhi ruangan utama bangunan itu.
Sebuah meja makan yang sangat panjang, di penuhi oleh orang yang sedang makan.
Tidak ada satupun yang bersuara di sana, karena mereka semua tau bahwa itulah aturannya.
Victoria tidak memperbolehkan siapapun bicara saat sedang makan bersamanya. Aturan yang tumbuh dengan semua anak-anak yang kini ada di depannya, termasuk Noah.
__ADS_1
Walaupun begitu, ini adalah pertama kalinya, sejak Noah pergi, mereka makan bersama dengan anggota yang bisa dikatakan lengkap.
Jadi, semua melewatinya dengan hati yang senang, karena saat ini keluarga mereka benar-benar sedang berkumpul.
Bahkan, saat ini, di meja itu, ada Antonius dan empat orang lain yang bekerja bersama nya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan Noah padanya.
"Bagaimana, apa kau masih menyukainya?"
Akhirnya semua sudah menghabiskan makan malam yang ada di piring mereka masing-masing. Victoria yang melihat Noah makan dengan lahap, langsung bertanya.
Mendengar itu, Noah langsung menganggukkan kepalanya. "Tentu saja ... Tidak ada makanan yang bisa mengalahkan, makanan yang ada di rumah ... "
Victoria tersenyum, begitu pula yang lainnya.
"Sukurlah kalau begitu ... Tapi, Noah ... "
Noah melihat wajah Victoria sudah berubah. Dia mengernyitkan keningnya, heran.
"Ya, Nyonya Victoria? Apa ada yang salah?"
Tidak adanya dia saja, Myra, Freedy, Bearice dan tentu saja Dax yang juga ada di sana, merasakan hal yanga sama.
Meski perut mereka sudah terisi. Namun, tidak ada waktu yang tepat atau baik, jika harus berhadapan dengan Noah Evans dalam mode The Madness, jika dia merasa seseorang telah mengecewakan wanita itu.
Namun, detik berikutnya terjadi sesuatu yang benar-benar di luar apa yang mereka perkirakan.
"Plaaak!!"
Mata semua orang terbelalak, karena melihat kepala milik the Madness, baru saja di pukul oleh wanita tersebut.
"Aku memang tidak pernah menghubungimu, karena takut mengganggu pekerjaanmu. Tapi, aku mencoba mencari nomor universitas mu ... "
Saat itu Victoria berdiri dan melipat tangan di depan dadanya. Lalu kembali berkata.
"Jadi, kenapa kau bolos kuliah, hah?!"
Noah ingin menjawab, namun tiba-tiba beberapa kursi berderit mundur. Saat itu, juga Victoria mendelik dan berkata.
__ADS_1
"Tidak, ada yang boleh pergi! ... Rachel, kau selanjutnya! Kepala sekolahmu, mengatakan kau memukul anak laki-laki lagi, bukan?!"
Mereka yang yang terlihat ingin kabur, langsung mengurungkan niat. Dan kembali duduk, menunggu giliran.
Antonius, sama sekali tidak siap dengan kejadian ini. Dia tidak pernah membayangkan bahwa, akan ada orang yang berani memukul kepala bos nya, namun masih bisa berdiri dengan penuh percaya diri setelahnya.
Tentu saja yang lainnya, merasakan hal yang sama. Namun, sekarang, mereka sedang di hadapkan pada situasi yang terasa sangat horor ini.
Namun, situasi mereka jadi serba salah. Mereka tidak tau apakah saat Victoria tidak memperbolehkan siapapun pergi, apakah itu termasuk mereka, atau tidak.
Rachel yang duduk di sebelah Noah, langsung menggenggam tangan kakaknya itu, dan berbisik. "Bukankah kau the Madness? ... Kenapa tidak melawan?"
Noah menunduk, dan balas berbisik. "Bukankah kau sudah tau? bahwa, di sini, nyonya Victoria-lah, the Madness yang ssebenarnya, bukan?"
"Ya, kau benar ... Dia jauh lebih mengerikan dari dirimu." Bisik Rachel, lagi.
"Plak!"
"Plak!"
Keduanya terperanjat, saat tangan Victoria, memukul kepala mereka, dan kembali mengingat kan.
"Jangan berbisik-bisik! ... "
"Maaf! ... " Ucap keduanya, serentak.
"Jadi, Noah ... Bagaimana dengan janjimu untuk menyelesaikan kuliahmu, huh? ... Apa kau lupa, bagaimana kau bisa sampai ke sana, huh?!"
"Maaf, aku ... "
Antonius dan yang lainnya hanya bisa terdiam dan menundukkan wajah. Mereka sama sekali tidak ingin berada dalam situasi seperti ini.
"Ingatkan aku terus, agar tidak membuat kesalahan pada ibu, dari the Madness ini ... " Gumamannya, pada mereka.
Saat keempatnya ingin menganggukkan kepala, namun detik berikutnya mereka merasa jantung yang memompa darah kelimanya, berhenti bekerja.
"Aku bilang, Jangan berbisik-bisik ... !!"
__ADS_1