
"F**k kau—"
"Buk!"
"Argh!"
Tentu saja Noah tau dia tidak akan mendapatkan penerimaan yang baik setelah mengatakan hal tersebut.
Itu kenapa, dia membuat semua orang sedikit tercengang dan saat mereka lengah, Pemuda itu sudah berderap melangkah pada orang-orang tersebut.
Satu pukulan, tepat mengenai perut orang yang tadi mengumpat padanya itu, namun tak sampai di sana, Noah dengan melipat kakinya, saat mengangkat dengan cepat, lutut nya mendarat sangat keras yang seketika itu juga, menghancurkan batang hidung orang tersebut.
"Buk!"
Melihat yang lainnya akan segera bereaksi Noah langsung mendorong tubuh besar itu pada rekan-rekannya. Namun, berfikir Noah akan mundur, ternyata mereka salah.
Noah melangkah maju dan menggunakan tubuh yang hampir rubuh itu, sebagai tangga lalu melompat tinggi di udara.
"Menghindar ... !"
Lagi-lagi terlambat. Sebuah putaran di udara, di akhiri dengan hantaman keras punggung tapak kaki Noah, pada bahu orang yang berada di tengah.
"Kreekk ... !"
Terdengar jelas suara Tulang patah, atau bahkan mungkin pecah, yang membuat ngilu orang-orang yang mendengarnya.
"Sial, dia cukup hebat ... Serang bersamaan ... !"
Noah hanya tersenyum, saat tiga orang berbadan hampir sama besarnya dengan korban pertamanya itu, mendekat.
Jelas saat itu Noah menyadari bahwa ketiganya tidak berniat memberi pukulan. Orang-orang itu, sedang berusaha menangkapnya.
Saat ketiganya cukup dekat, Noah menendang satu tangan yang terantang paling dekat dengan dirinya, yang membuat tangan itu melibas wajah teman di sebelahnya dengan sangat keras.
"F**k, kau menamparku? ..."
"Tidak, itu ... "
Pengacauan konsentrasi. Itulah yang Noah pikirkan saat menghadapi banyak orang saat ini. Alih-alih menaikkan level bela dirinya, Noah menaikkan level Intuisi serta Sense nya terlebih dahulu.
Tendangan yang baru saja dia libaskan itu, bahkan belum menggunakan separuh kekuatannya saat ini.
Noah, juga sudah menaikkan level Vitalitasnya, di mana dia benar-benar merasa bisa bertarung dalam kurun waktu yang panjang meski lawannya sangat kuat
Dua orang yang kehilangan fokus, di biarkan Noah sejenak. Satu orang di sisi lainnya, tetap berusaha menangkap.
Noah baru saja menarik tangannya lebih mendekat, dan menunggunya dengan punggung dan sebuh pukulan dari sikunya.
"Buk!"
"Argh ... "
Berfikir hanya sampai di sana, orang itu langsung menyadari kesalahannya. Saat ini, dia merasakan kakinya tidak lagi menjejak tanah. Saat itu, Pandangan di sekitarnya terasa berputar.
"Hiyaaaaa ... !"
"Bruuuk ... "
Noah baru saja membanting tubuh itu dengan kuat, "Untuk apa gunanya badan besarmu ini, brengsek!"
__ADS_1
"Buk!"
Satu injakan di wajah, berhasil membuat orang tersebut tertidur saat itu juga.
"F**k ... "
Satu suara orang saja, sudah cukup bagi Noah merasakan jarak keberadaan satu lainnya, yang semakin mendekat.
Noah sengaja membiarkan mereka semakin dekat, seolah akan berhasil menangkapnya. Namun, saat keduanya terlalu dekat, semua sudah terlambat.
Noah langsung merebahkan badan terlentang, tepat di bawah keduanya. Saat itu, kedua kaki Noah terangkat dan langsung menendang kuat dagu kedua orang tersebut.
"Bruuuk ... !"
"Argh ... "
Saat keduanya terlihat sempoyongan, Noah memperlihatkan sebuah gerakan yang berhasil membuat lima lainnya terperangah.
Noah bermanuver di udara, dan memberikan tendangan masing-masing pada wajah keduanya.
Benar-benar tepat dan akurat. Keduanya terseret mundur saat baru saja terjatuh di lantai gudang itu.
Sempat terdiam, tiba-tiba mata mereka melebar. Noah menatap kelimanya dengan seringai meremehkan.
"Majulah ... Aku tidak ingin ini membuang-buang waktu. kalian Sons of a B***h"
"Sial, kau ... Bajingan ... "
Saat itu, mata Noah melebar. Dua orang baru saja mengeluarkan pisau dari sebalik pakaian mereka.
"Kalian, yang memintanya ... Jika bermain dengan benda seberbahaya itu, maka kalian akan tau sebabnya bukan, bajingan.?"
"Oh, sial ... !"
Ternyata tiga yang lainnya mengeluarkan senjata tajam juga. Namun, ukurannya jelas berbeda. Karena itu bukan pisau. Itu katana.
"F**k ... Maju dan lakukanlah ... B*st**d!"
Noah menangkap tangan satu diantara dua orang yang mendekat dengan pisau di gengamannya itu, lalu memukul lipatan lengan dengan keras, hingga membuat pisau itu terlepas.
"Sreup!"
"Pegang terus, hingga ini selesai, jika kau masih ingin hidup, atau ... ah, terserah."
Noah baru saja melukai pembuluh nadi di tangan lawannya dan menaruh tangan lainnya di sana. Saat orang itu terlihat kebingungan, Noah kembali berkata.
"Kau ingin melepasnya, brengsek?"
Gelengan kepala orang tersebut, jelas bahwa dia mengerti bahwa sejak awal Noah memang tidak ingin membunuhnya. Padahal, bisa saja tadi pemuda itu, melukai lehernya.
Dengan sebuah pisau di tangannya, Noah menjadi sangat menakutkan bagi empat orang tersisa. Saat mereka terasa sedikit mundur, Noah membuang pisaunya.
"Yah ... Akan sedikit menakutkan jika aku menggunakannya ... "
Menghancurkan mental lawan. Itulah yang kini sedang Noah praktekkan. Intuisi serta Sense, memberi efek lebih besar dari pada level beladiri, jika mereka berada di tingkatan yang sama pada Bar Sistem.
Tau bahwa keempatnya sudah tidak memiliki nyali untuk menyerangnya, saat itu juga Noah sudah menyadari lawannya yang sebenarnya sudah datang.
Saat Noah berbalik, dia langsung berkata "Aku sempat berfikir, jika kau akan terus bersembunyi di belakang wanita itu."
__ADS_1
Saat itu, Noah juga melihat Empat puluh orang lainnya juga sudah berada di sana. Namun, hal tersebut sama sekali tidak dipedulikannya.
"Anak, muda ... Kau cukup menarik dan ... Sepertinya memang memiliki kemampuan. Aku mengakuimu."
Saat itu dia dengar, tiba-tiba dada Noah terasa terbakar. "Kau? ... Mengakuiku? kau, meremehkanku?!"
Orang itu menggelengkan kepalanya sambil mengusap janggut tipisnya. "Ya, aku mengakuimu. Kau memang jauh lebih hebat dari semua orang-orang bodoh ini."
Noah langsung menggeleng. "Tidak, tidak ... aku bahkan belum menyelesaikannya. Maksudku adalah, siapa kau yang dengan percaya diri sekali mengatakan bahwa kau mengakui ku. apa saat ini aku terlihat membutuhkan Pengakuanmu itu, As*h**le?"
Seketika wajah orang itu berubah. Tidak marah, namun tersenyum meremehkan.
"Anak muda, dunia ini sangat luas. Dengan mengalahkan lima orang saja, kau tidak bisa mensejajarkan dirimu, dengan sang raja. Kau mengerti?"
Noah mengangguk, "Kau benar dan berarti kau sudah mengerti. Semua orang akan tunduk pada sang Raja, bukankah begitu?"
"Hahahaha ... Ternyata kau juga sangat cerdas, brengsek ... Hahahaha! "
"Ya, tentu saja kau, Ba**ard ... Kemari, dan berlututlah jika kau sudah mengerti."
Kata-kata Noah, langsung membuat tawa orang tersebut menghilang.
"Kau terlalu memaksakan keberuntungan, bedebah ... !"
"Sial, God Dam*it ... Datang saja kesini, jangan banyak bicara, keparat ... !"
Mendengar bagaimana cara Noah berbicara dengannya yangbterlihat sangat pristasi serta dipenuhi amarah itu, saat itu juga orang tersebut berlari mendekat.
Lima langkah sebelum benar-benar sampai, langkahnya langsung membentuk sebuah pola gerakan khusus.
Tau apa yang akan di lakukan orang itu, Noah maju setengah langkah saat orang itu mulai melompat.
Saat dia baru bermanuver setengah putaran di udara, sebuah pukulan yang sangat cepat dari Noah, telah menunggu Tulang kering dari kaki yang berniat menerjangnya itu.
"Kraaaak ... !"
Semua mata melihat bagaimana kaki itu terlipat ke depan dan patahan tulang yang meruncing, mengoyak betis orang tersebut.
Dengan begitu, secara tidak langsung Noah juga menghentikan momentum perputarannya di udara.
"Bruuukk ... !"
Saat tubuhnya Ambruk kebawah, saat itu juga tapak kaki kanannya sendiri sudah berada tepat di depan wajahnya.
"Aaaaaaaarrrrrrrrrrrgghhhhhhhhhhhhhh ... "
"Buk!"
Satu tendangan tepat di wajahnya, langsung membungkam orang yang Noah yakini ketua The Ravens tersebut.
"Kau berisik sekali ... Brengsek!"
Semua kejadian itu, berlangsung tidak sampai lima belas menit saja. Namun saat ini, ketua dari gangster terkuat di BronzeLand, the Ravens, sudah terkapar tak sadarkan diri di tanah.
Noah mengedarkan pandangannya ke segala arah. Mata nya berhenti pada sebuah bendera yang berukuran sangat besar, yang bergambar gagak, tertempel di salah satu dinding bangunan itu.
"The Ravens, Huh? ... "
Noah kembali mengedarkan pandangannya menatap pada semua mata yang ada di sana.
__ADS_1
"Mulai hari ini, Aku Rajanya ... !"