
Noah hanya menganggukkan kepala sambil berkata. "Kita tidak punya pilihan lain. Setidaknya, kita bisa berputar arah dan kembali ke BronzeLand secepatnya, jika memang mereka mencoba mempermainkan kita."
Mereka terus mengikuti mobil-mobil tersebut keluar dari jalan tol. Akan tetapi, tidak jauh dari sana, mereka langsung mengetahui bahwa apa yang mereka duga benar.
Bukan dugaan yang baru saja mereka pikirkan, tapi yang sebelumnya. Sekarang, di depan sana di tengah jalan raya tampak banyak sekali mobil yang terparkir, seolah menghambat siapapun yang ingin melewatinya.
Mata William melebar saat dia melihat ke spion. Di belakang sana, dia juga melihat jumlah mobil yang bahkan lebih banyak lagi.
"Sial! ... Sepertinya, mereka memang sudah menyiapkan semuanya. Noah, para bajingan itu, telah menjebak kita."
Saat itu, Noah juga sudah menyadarinya. Bahkan dia sudah menghitung berapa jumlah mobil yang berada di depan mereka, serta memperkirakan berapa banyak jumlah mobil musuh yang ada di belakang sana.
"William, minta pada semua orang untuk berhenti."
Tak menungu lama, William. Memberikan tanda lewat lampu sorot pada anggota yang berada di depan mereka untuk berhenti, lalu yang di belakang juga melakukan hal yang sama saat mobil yang dikemudikannya sudah tak bergerak di tengah jalan itu.
Keduanya segera keluar dari sana dan di ikuti oleh semua anggota mereka. Tak lama William bersuara.
"Empat puluh enam mobil."
Entah bagaimana caranya, William telah memghitung semuanya. Akan tetapi, Dengan begitu mereka sudah bisa memperkirakan berapa jumlah musuh yang akan mereka hadapi.
"William, apa kalian semua bisa menghadapi yang di belakang sana?"
Mendengar itu, mata William melebar. "Noah, apa maksudmu?"
Sebuah senyuman miring terukir di wajahnya. Noah menggelengkan kepala sambil berkata. "Maaf, karena meragukanmu. Tentu saja kalian bisa menghadapinya, bukan?"
"Tidak, Ya ... Maksudku, Ya! tentu saja kami bisa. Tapi, apa maksudmu dengan itu"
"Aku tidak ada maksud apa-apa. Hanya saja, saat ini aku senang kau ada disini, karena aku yakin bahwa kau menjadi satu dia antara empat Raja, tidak hanya karena kau menguasai jalanan saja, bukan?"
Apa yang dikatakan Noah, benar adanya. Jika hanya jumlah musuh yang sedikit lebih banyak dari mereka, tentu saja hal itu bukan apa-apa bagi William dan Timnya. Mereka sudah terbiasa berperang dan menang di jalanan meski kalah jumlah.
Hanya saja saat ini, apa yang ada di pikirannya, sangat bertolak belakang dengan apa yang Noah katakan.
__ADS_1
"Noah, jika kita ingin keluar dari sini, bukannya sebaiknya kita melumpuhkan musuh yang didepan sana, lalu mengunakan mobil mereka untuk keluar dari jebakan ini?"
Tentu saja saat ini, itulah jalan terbaik yang bisa dipikirkan oleh William. Melawan musuh di belakang, tidak akan memberikan mereka keuntungan apapun.
Meski mereka menang, masih ada musuh di depan sana yang akan menyerang di saat bersamaan. Kecuali, sesuatu bisa menghentikan mereka.
"William, kau sebut apa seorang Raja yang lari dari pertempurannya?"
Tanpa fikir panjang, William langsung menjawabnya, "Yang lari dari pertempuran tidak lantas menyandang gelar Raja. Bukankah, orang itu lebih pantas dipanggil pecundang?"
"Hahahaha ... Tepat sepertu Itulah yang kumaksud. Jadi, selesaikan urusanmu di belakang. Karena yang di depan, aku sendiri yang akan mengurusnya ... "
Sejenak, pikiran William kosong. Namun, beberapa saat kemudian, dia langsung mengerti apa yang di maksud oleh Noah.
Hanya saja, itu terdengar sangat mustahil. Karena Tidak mungkin seseorang bisa mengalahkan musuh dalam jumlah banyak, hanya karena mereka memiliki gelar Raja.
Apalagi, itu hanya gelar yang didapat karena mereka memenangkan balapan jalanan saja.
Akan tetapi melihat kemana arah Noah melangkah, William langsung menepis pikirannya. Saat itu juga dia berseru pada Noah.
Noah menghentikan langkah ataupun berbalik saat mendengar pertanyaan William tersebut.
Sebaliknya, tanpa ragu dia tetap berjalan ke depan melewati beberapa. Anggota Wilkiam menuju langsung pada musuh yang sudah berkumpul yang kini juga sudah tampak berjalan kearah mereka.
Namun saat itu, terjadi sesuatu yang membuat semua orang yang mendengarnya, merinding.
Saat itu, satu tangan Noah terangkat dengan telunjuk menunjuk tinggi ke udara. Bukan itu yang membuat semua orang terperangah.
Sambil berjalan dan tetap membelakangi semua orang, Noah berseru.
"William ... Untuk terus hidup, Takdir memaksaku menjadi penguasa tertinggi. Jika aku tidak bisa mengatasi ini, maka aku tidak pantas membawa takdirku sendiri."
Kata-kata Noah, membuat Mereka semua terdiam. Namun beberapa saat kemudian, mata mereka terbelalak.
Noah yang tadi hanya berjalan, tiba-tiba berlari kencang. Setidaknya di depan sana, ada sekitar enam puluh musuh yang menghadangnya.
__ADS_1
"Ayo, kemari kalian bajingan! ... Akan ku kirim kalian semua ke neraka, malam ini juga ... !!"
Teriakan Noah menggelegar. Dalam sepersekian detik, William dan yang lainnya sempat melihat wajah-wajah dari musuh mereka di depan sana bergeming.
Mungkin semua orang akan tetap menganggap Noah pemuda gila yang sedang putus asa. Namun itu tidak lama, karena begitu satu musuh terdepan mendekat padanya, di saat itu pula mereka meragukan fakta bahwa, saat ini siapa yang sebenarnya terjebak.
"Bruk! ... "
Secepat musuh di depannya datang, dengan satu tendangan yang mengenai dadanya, secepat itu juga Noah mengirimnya terbang kebelakang.
Setelah menabrak beberapa orang lainnya, Korban pertama Noah itu tergeletak di jalan dengan darah segar mengalir keluar dari mulutnya.
"Mati?!"
Terdengar Gumaman satu orang yang berada cukup dekat dengan tubuh salah satu rekannya, yang tak lagi bergerak tersebut.
Entah dugaan mereka benar ataupun salah, tapi melihat satu tendangan Noah yang sangat keras itu, membuat nyali mereka tiba-tiba menciut seketika.
Belum sempat dua tarikan nafas setelah kejadian itu, terdengar dua suara teriakan di depan sana, yang membuat mereka semakin ketakutan.
"Buk!" "Buk!"
"Arggh ... !"
"Arggh ... "
Bukan pertempuran seperti ini yang mereka bayangkan sebelumnya. Karena jumlah mereka yang cukup banyak, setidaknya, mereka akan melakukan pembantaian beberapa saat lagi.
Namun, tiga orang tumbang dan tidak bisa dipastikan masih hidup atau tidak, hanya karena satu serangan pemuda yang terlihat tidak begitu kuat, membuat mereka sulit mencerna keadaanya.
Masih dengan keterkejutan mereka, sebuah suara keluar dari pemuda yang kini terasa begitu menakutkan itu, menyeringai pada mereka semua.
"Berdo'alah ... "
Mereka semua masih terdiam karena tidak bisa mencerna arah perkataan Noah. Namun begitu, kata itu terdengar lagi, tapi kali ini pemuda itu menambahkan kata-katanya.
__ADS_1
"Berdo'alah ... Karena, setelah semua ini selesai, saat mata kalian terbuka, mungkin saja kalian benar-benar sudah berada di neraka.!"