
Melihat Toby, nafas Ivy memburu. Matanya menatap tajam pada pemuda itu. Jika saja mulutnya tidak tertutup, mungkin semua Sumpah serapah sudah tumpah dan menghujani pemuda itu.
Toby yang merasa ditatap begitu tajamnya, semakin terpancing. Dia sama sekali tidak ingin membuat hal itu menjadi mudah.
"Ivy ... Kau bisa tenang. Aku tidak akan memberikan benda ini, langsung. Akan tetapi akan ku buat kau memintanya."
Sambil mengatakan itu, tangan Toby terangkat menyentuh pipi gadis itu. Kemudian tangan itu berjalan, hingga masuk ke celah rambutnya.
Ivy tersentak, saat tiba-tiba saja Tobias meremas dan menjambak rambut itu dengan kasar, hingga membuat wajahnya terpaksa menengadah ke atas.
"Hehe ... hehe ... Kau akan menikmati setiap detik yang berlalu, Ivy ... Dan kau akan menyesali semua yang telah kau lakukan, padaku ... "
"Mmmpp ... "
Tobias Zargosky tersenyum miring melihat tatapan gadis itu sama sekali tidak berubah. Selain mata yang memerah, jelas dari sana pemuda itu mengerti bahwa Ivy lebih baik mati daripada memberikan apa yang dia mau.
Toby menggelengkan kepalanya. "Ivy Clark ... Semakin kau melawan, semakin membuatku bergairah ... Bukankah sudah jelas? Aku mengejarmu, karena kau begitu sulit untuk di dapatkan?"
Setelah mengatakan itu, Tobias melepas rambut gadis tersebut. Namun, tak lama kedua tangannya menarik kemeja yang di gunakan Ivy, hingga tiga kancing bagian atasnya nya terlepas.
"Kreeek!"
Kulit putih mulus langsung terpapar di wajahnya. Dada itu terlihat naik turun menahan emosi yang membuncah di kepala gadis itu.
"Oh, jujur saja ... Aku sama sekali tidak pernah membayangkan untuk melakukannya dengan cara seperti ini. Akan tetapi, pemandangan ini membuatku memiliki ide lainnya."
Mia dan Sally menahan nafas mereka, melihat apa yang tengah dilakukan. Toby pada Ivy. Keduanya saling bertatapan, mencoba mencari solusi untuk membantu gadis itu.
Saat ini, Tobias berjalan mengelilingi gadis yang terduduk di kursi itu. Dia berniat melepas ikatan pada tangan Ivy yang ada di belakang.
"Kau ingin bermain? ... Ayo, kita akan bermain."
Begitu ikatan itu terlepas, Ivy langsung berdiri dan mencoba untuk segera berlari. Sialnya, dia melupakan bahwa kakinya juga sedang terikat. Hasilnya, hampir saja dia jatuh tersungkur, jika tidak cepat menahan dengan kedua tangannya.
"Pengecut ... Brengsek!! ... "
Itulah kata yang pertama kali di ucapkan Ivy saat dia baru saja melepas lakban yang menutupi mulutnya.
Mendengar itu, Tobias hanya tersenyum meremehkan. "Yah, sepertinya saat ini aku terlihat seperti itu ... Tapi, apa bedanya. Ini karena aku ingin berhadapan langsung dengan orang itu."
Ivy berangsur mundur, saat Toby berjalan pelan mendekatinya. Dia melirik ke kiri dan ke kanan mencoba mencari sesuatu yang bisa dia gunakan sebagai senjata untuk melawan pemuda itu.
Sayangnya, tidak ada apapun di dekatnya, selai pasir dan debu yang berserakan di lantai gudang tersebut.
Simpul yang ada di kakinya, terlihat sangat sulit untuk di buka. Namun, Ivy segera mencoba untuk melepasnya.
Tobias terus berjalan mendekati, dan seolah membiarkan gadis itu mencobanya. Namun, saat dia berjongkok di depan Ivy, tatapan mereka beradu.
__ADS_1
"Ivy Clark ... Jika kau mau melakukannya dengan suka rela, maka aku akan melepaskanmu. Bagaimana?"
"Cuih ... "
Wajah Tobias baru saja di basahi oleh cairan yang keluar dari mulut gadis itu, setelah dia selesai mengatakan tawarannya.
"Plaaak!!!"
Sebuah tamparan keras, mendarat di pipi gadis itu, sebagai balasannya. Hal itu, membuat tubuh Ivy terhuyung ke kanan. Dia bisa merasakan darah mulai mengalir keluar dari mulutnya.
Tamparan itu, begitu keras, hingga Ivy merasakan tulang lehernya, baru saja berbunyi. Sakit yang di timbulkan oleh hal itu, membuat kepalanya sedikit pusing.
"F**k!! ... Apa yang dimiliki bajingan itu, yang tidak aku miliki, huh? ... "
Sebuah harga diri dan kebanggaan. Hal yang rata-rata di miliki oleh setiap pembalap jalanan.
Sebagai salah satu dari empat raja, dan lahir dari keluarga super kaya, Tobias Zargosky sama sekali tidak mengerti apa yang membuat Ivy tidak bisa menerimanya.
"Cuh ... "
Ivy membuang darah yang ada di mulutnya dan tersenyum.
"Haha ... Kau bahkan tidak pantas dibandingkan dengan alas kakinya, *******le ... "
Tobias menarik nafas panjang, dan membuangnya kasar. Dia berjalan mendekat, lalu menarik paksa seluruh pakaian Ivy, hingga terkoyak lebar.
"Bukkk!!"
Sebuah tamparan di tempat yang sama dan tendangan mendarat di pinggulnya, dia terima, saat Ivy mencoba memberontak.
Ivy terseret sebelum akhirnya berhenti dan menahan rasa sakit di bagian tubuh yang mendapat tendangan yang lumayan kuat itu.
Namun, Tobias sama sekali tidak merasa iba, atau berniat berhenti.
Pemuda itu, menyingkirkan tangan Ivy yang memegang pinggulnya, lalu dia membuka kancing celana dan menarik paksa hingga jauh kebawah.
Reflek Ivy langsung menutupi area sensitif miliknya itu, karena Tobias menarik semua yang menutupinya.
Saat Ivy mencoba menjauh, namun rasa sakit yang dia rasakan di pinggangnya, semakin kuat.
Akhirnya gadis itu hanya bisa meringkuk, dan memalingkan wajahnya dari Toby.
"Oh, aku rasa aku tidak harus menundanya lebih lama ... "
Mendengar itu, mata Ivy melebar. Dengan tenaga yang tersisa gadis itu berusaha memaksa tubuhnya menjauh dari Tobias.
Namun, pemuda itu terlalu dekat dan kini sudah berada di dekat kepalanya, menatapnya rendah.
__ADS_1
Tidak ada lagi senyuman di sana. "Meski kau mati saat mencoba melawan, aku tetap akan melakukannya, pada tubuhmu ... "
Tobias Zargosky begitu marah, karena apa yang di ucapkan Ivy padanya. Saat ini, dia ingin gadis ini benar-benar menderita.
Tobias melangkahi tubuh Ivy dan sedikit menunduk.
"Plaaaak!"
"Plaaaak!"
"Plaaaak! ... "
"Buk!!"
"Buk!!"
Tamparan yang dia layangkan Bertubi-tubi pada gadis tersebut, di akhiri dengan sebuah pukulan ke wajah Ivy.
Sebuah luka langsung terkoyak merobek pelipis matanya. Hingga darah segar langsung mengalir di sana. Kepala bagian belakang Ivy juga membentur lantai dengan sangat keras.
"Buuuuk!!"
"Uhukk ... Uhukkk ... Uhukkk ... !"
Ivy langsung terbatuk hebat dan mengeluarkan darah dari mulut, begitu Tobias menginjak perutnya.
"Uhukk ... Uhukkk ... Uhukkk ... !"
Sebelah matanya sudah tertutup, akibat bengkak yang muncul di dekat luka bekas pukulan dari Toby itu.
Kepalanya pusing, dan perut nya terasa begitu melilit. Ivy mencoba melawan, saat tiba-tiba saja Tobias membalikkan tubuhnya. Namun, usaha sia-sia
"Oh, sepertinya ini pertama kali buatmu, bukan? ... Sayang sekali, kau harus merasakannya, dengan cara seperti ini."
Air mulai mengalir dari mata Ivy saat mendengar apa yang di katakan oleh Tobias, yang sudah berada di belakang itu.
"Kemari kau, jallang ... !! Sudah terlambat bagimu, untuk menyesalinya."
Toby menarik dengan paksa tubuh Ivy kebelakang, mendekat padanya. Bahkan, lutut Ivy terluka saat pemuda itu melakukannya.
Saat ini, di belakangnya, Ivy mendengar Toby membuka resleting celananya.
Ivy mencoba bergerak, namun Toby cepat menangkap dan kembali menariknya.
Tangis Ivy teredam, menyadari apa yang akan terjadi padanya beberapa saat lagi.
"Tuan Evans ... Maafkan aku, karena gagal menjaga apa yang sudah menjadi milikmu ... !"
__ADS_1