
Reana akhirnya memutuskan untuk masuk ruang rawat inap, Tn. Malvin. Setelah dibujuk oleh Viana dan keinginannya sendiri yang ingin segera menuntaskan hubungannya yang buruk dengan Tn. Malvin. Reana nekat menemui sosok yang sejak dulu ditakutinya. Laki-laki itu pun terkejut tak percaya bisa bertemu lagi dengan Reana. Setelah dia sendiri yang mengusir wanita yang dicintainya itu
Tn. Malvin menatap wajah Reana dengan perasaan yang bercampur aduk. Antara benci dan cinta. Lalu menoleh ke arah Viana yang mengangguk seperti memberi dukungan pada Reana untuk menemui Tn. Malvin.
"Apa kalian sekongkol untuk mengalahkan aku? Jangan-jangan kalian sudah saling kenal sebelum bertemu di restoran itu. Atau jangan-jangan tamu yang membuat keributan itu teman kalian juga? Yang berperan untuk membuat adegan seperti yang pernah Reana alami," tuduh Malvin bertubi-tubi.
"Jangan sembarang tuduh Tuan. Kami tak saling kenal sebelumnya. Lagi pula adegan seperti apa yang pernah Nona Reana alami?" jawab Viana sekaligus bertanya.
"Aku pernah di posisimu saat bekerja di restoran. Aku juga disiram jus oleh pengunjung restoran," jawab Reana.
"Oh kita punya pengalaman yang sama? Tapi tetap saja, Tuan tak boleh tuduh kami bersekongkol. Kami tak pernah berniat jahat," ucap Viana teringat akan tuduhan Tn. Malvin.
"Tapi kalian yang membuatku mendapat serangan jantung," jawab Malvin.
"Itu tidak akan terjadi jika tuan tidak mengkonsumsi alkohol secara berlebihan," ucap Viana.
"Aku tidak akan mabuk-mabukan jika bukan karena dia," ucap Malvin menyalahkan Reana.
"Itu juga tidak akan terjadi kalau Tuan tidak memaksakan cinta Tuan pada Nona Reana," jawab Viana.
"Kamu!"
"Segala sesuatu yang dipaksakan itu hasilnya tidak akan baik Tuan. Pasti ada yang rusak, terluka atau menderita," ucap Viana.
Tn. Malvin terperangah mendengar ucapan Viana yang seperti menggurui. Laki-laki itu kehabisan kata-kata. Reana tersenyum. Mendengar debat antara Tn. Malvin dan Viana. Wanita itu baru menyadari kalau Viana adalah seseorang yang berani karena tak merasa takut menentang tamu yang berkunjung ke restoran tempat dia bekerja.
Reana merasa Viana tak sama dengannya. Reana bukanlah gadis pemberani seperti Viana. Reana hanya mempertahankan keyakinannya untuk membela dirinya sendiri. Sementara Viana berani menentang demi orang lain.
"Sekarang Kak Reana datang untuk menuntaskan hubungan yang buruk di antara kalian. Selesaikan segera! Jadi setelah ini Tuan tak perlu lagi melarikan diri dari masalah dengan minum minuman keras," ucap Viana seperti seorang guru yang mengajari muridnya.
Gadis itu lalu meninggalkan Reana di ruang rawat inap itu. Membiarkan mereka berdua bicara dengan bebas. Reana tertunduk saat Tn. Malvin menatapnya.
"Apa masih sakit?" tanya Malvin dengan raut wajah khawatir.
__ADS_1
"Apa?" tanya Reana tak mengerti pertanyaan Tn. Malvin.
"Pipi dan bibirmu, aku ingat saat itu bibirmu berdarah," ucap Malvin.
"Sudah sembuh, aku baik-baik saja," jawab Reana sambil mengusap pipinya.
Kamu tidak tahu kalau aku sangat ingin menghapus darah yang mengalir di sudut bibirmu. Sangat ingin mencium pipimu yang memar karena tamparanku. Kenapa Reana? Kenapa begitu sulit aku melupakanmu, batin Malvin.
"Apa kamu kembali pada suamimu?" tanya Malvin.
"Ya Tuan," jawab Reana.
"Lalu bagaimana dengan pengawal itu? Kamu memanfaatkannya atau ini memang rencana kalian?" tanya Malvin.
"Aku tak tahu apa yang ada dalam pikiran Rassya. Tapi aku bisa jawab kalau aku tidak memanfaatkannya. Aku memang ingin melarikan diri tapi aku tak memanfaatkan perasaan untuk niatku itu," jawab Reana.
Reana meyakinkan Tn. Malvin kalau dia tak memberi harapan apa pun terhadap Rassya hingga laki-laki itu nekad menciumnya saat itu. Reana terlalu takut bermain-main dengan perasaan. Tanpa memberi harapan pun Tn. Malvin sudah sangat sulit melepaskannya.
"Apa kamu tahu? Kamu selalu datang padaku di saat aku lemah. Dulu saat aku di penjara, sekarang saat aku di rumah sakit, kenapa? Kenapa kamu bisa mengirimku ke tempat yang tak diinginkan seperti ini?" tanya Malvin.
"Entahlah Reana, apa aku bisa. Sulit bagiku melupakanmu. Aku terlalu mencintaimu," ungkap Malvin terus terang lalu memalingkan wajahnya.
"Cobalah untuk membuka hati pada gadis lain. Tuan pasti akan menemukan kebahagiaan yang lain. Aku sudah menikah dengan seseorang yang aku cintai. Aku tak mungkin berpaling darinya Tuan. Saat belum menikah saja, aku tak bisa berpaling darinya. Mana mungkin aku bisa mengalihkan cintaku darinya setelah aku menjadi istrinya?" tanya Reana berusaha meyakinkan Tn. Malvin.
"Dia menerimamu? Meski sekian lama kamu menghilang bersamaku?" tanya Malvin ingin tahu bagaimana perasaan Nico terhadap Reana.
"Ya Tuan, Kak Nico menerimaku," jawab Reana.
Dia sungguh-sungguh mencintaimu Reana. Dia bersedia menerima istrinya yang sekian lama hidup dengan laki-laki lain, batin Malvin termenung.
"Kamu yakin dia bisa membahagiakanmu?" tanya Malvin seolah-olah bertanya tetapi untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau Reana tak salah pilih suami.
"Ya Tuan! Hal kecil apa pun yang dilakukannya untukku, selalu membuatku bahagia," jawab Reana.
__ADS_1
"Apa aku masih boleh bertemu denganmu, suatu saat aku rindu padamu?" tanya Malvin.
"Ya, aku anggap Tuan adalah temanku. Tentu saja kita bisa bertemu," jawab Reana sambil tersenyum.
"Kamu tidak dendam padaku?" tanya Malvin.
"Dendam hanya mengikat hati kita hingga tak bisa bebas dari perasaan yang tidak kita inginkan. Dendam itu menyakitkan dan menyakiti diri sendiri. Aku tak ingin menyimpan dendam pada Tuan karena aku ingin bebas dari rasa benci. Tuan bukan orang yang jahat. Aku tahu, Tuan hanya seseorang yang ingin mencintai dan butuh dicintai. Tak perlu bagiku untuk menaruh dendam pada Tuan," jelas Reana sungguh-sungguh.
Tn. Malvin mengangguk dan berjanji untuk mencoba membebaskan hatinya dari rasa dendam dan juga rasa cintanya terhadap Reana. Wanita itu tersenyum dan mengulurkan tangannya. Menganggap bahwa mereka baru bertemu, baru berkenalan dan baru memulai pertemanan.
Tn. Malvin menyambut uluran tangan itu dengan senyum di bibirnya. Tn. Malvin tahu, tak akan mudah baginya melupakan Reana dan menganggapnya sebagai teman. Cintanya pada Reana mungkin bisa beralih jika menemukan seseorang yang bisa membuatnya melupakan Reana.
Namun, Tn. Malvin ragu bisa menemukannya. Tn. Malvin sangat mudah menemukan gadis-gadis yang menyukainya tetapi sangat sulit baginya untuk menemukan gadis yang membuatnya jatuh cinta. Laki-laki itu menghembuskan nafas berat.
Begitu Reana pamit pulang laki-laki itu langsung merasa kesepian. Terdiam seorang diri lalu mengalihkan pandangannya ke sekelilingnya. Matanya tertumpu pada buku yang tergeletak di atas nakas. Tanpa sadar Tn. Malvin meraih buku itu
Buku kuliah calon dokter itu, batin Malvin.
Lalu membuka halaman buku itu. Tn. Malvin tertegun saat membaca nama yang tertera di sudut kanan atas buku itu. Laki-laki itu tersenyum. Ulang membaca sekali lagi, seolah-olah tak yakin dengan apa yang dibacanya lalu kembali tersenyum sambil membaca.
Malviana.
Malviana.
Malviana.
...~ Bersambung ~...
Halo pembaca setia Noveltoon.
Sambil nunggu update selanjutnya, mampir juga ke salah satu karya temanku ini yaaa 🤗🤗🤗
Jangan lupa tinggalkan jejak sebagai dukungan buat Author, makasih 😘😘😘
__ADS_1