
Yose menceritakan awal mula adiknya mengalami sakit. Itu juga merupakan awal Yose merasa marah pada Reana. Gara-gara menolong gadis itu, nekat mengganti pohon Reana yang rusak dengan pohon milik adiknya hingga Yori ditegur gurunya. Sebenarnya tidak juga ditegur tetapi hanya mempertanyakan. Hanya saja, Yori yang manja langsung menyalahkan kakaknya yang dianggap tidak becus memenuhi permintaannya.
Yori kesal lalu menendang pot bunga di halaman belakang rumah. Ayunan kaki Yori diduga membuat syarafnya terjepit, itulah diagnosa awal dokter waktu itu. Rasa sakit di kaki Yori tak hilang meski telah meminum obat, dokter pun menyarankan untuk melakukan fisioterapi.
Namun, rasa sakitnya bukan berkurang tetapi malah bertambah. Yori, bahkan sulit berjalan. Rasa sayang Yose pada adiknya hingga rela menggendong adiknya ke sekolah. Kadang tubuhnya terasa lelah, saat itulah Yose merasa menyesal telah menolong Reana.
"Suatu ketika aku kembali melihatmu berjalan ke arah kantin. Aku yang telah merasa kesal dan marah padamu sangat ingin menarik kuncir rambutmu lalu membawamu ke samping sekolah. Di sana aku bebas menjambak rambutmu, menampar wajahmu bolak balik, kanan-kiri lalu–"
Yose menoleh ke arah Reana. Menatap wajah wanita itu yang langsung pucat mendengar cerita Yose. Reana yang mengkhayal sesuatu yang lebih kejam tadinya justru merasa lebih ketakutan saat mendengar cerita Yose.
"Kamu kenapa?" tanya Yose melihat ekspresi Reana yang tegang.
"K-kejam sekali," ucap Reana pelan.
"Tapi kan nggak jadi kenyataan," ucap Yose sambil tertawa. "Aku urung melakukan itu karena terlanjur melihatmu menghampiri ibumu yang kerepotan melayani siswa-siswi yang ingin jajan. Aku melihat ibumu sangat terbantu. Aku akhirnya batal menamparmu bolak-balik, kanan-kiri," ucap Yose kembali tersenyum.
"Saat itu Kakak, tidak benci aku lagi?" tanya Reana.
"Kata siapa, aku masih benci sama kamu, cuma aku batal tampar bolak balik, kanan-kiri," ucap Yose.
"Udah sih kak, tampar bolak-balik, kanan-kiri nya," ucap Reana.
"Tampar kanan-kiri nya di ganti cium kanan-kiri sekarang boleh nggak?" tanya Yose.
"Aku ini istri orang Kak," ucap Reana.
"Ya aku tahu, sayang sekali," ucap Yose.
"Lalu bagaimana dengan Yori selanjutnya?" tanya Reana.
"Karena melakukan fisioterapi tak merubah keadaan, dokter menyarankan pemeriksaan dengan MRI, saat itulah akhirnya, terdeteksi adanya sel kanker di tulang pahanya. Setelah mengetahui kenyataan itu, kondisi Yori langsung drop, setiap merasa kesakitan. Akhirnya dilakukan pemotongan bagian tulang yang telah rusak. Penderitaannya berkurang. Yori tak berteriak sakit lagi tapi penyakitnya masih belum sembuh. Sel kanker ditubuh masih terdeteksi. Yori, selalu meminta ditemani olehku tapi saat diperiksa seorang dokter yang ganteng dia selalu meminta aku pergi. Saat itu dia memintaku untuk menjadi seorang dokter. Karena menurutnya, aku lebih lebih ganteng daripada dokter itu. Aku memenuhi permintaannya untuk menjadi dokter," tutur Yose.
"Lalu apa yang menyebabkan Yori tak bisa bertahan lagi?" tanya Reana.
"Selama masa penyembuhan kanker tulang, kembali terdeteksi kanker lain. Ternyata, telah terjadi metastasis menyebabkan kanker menyebar hingga ke beberapa bagian tulang bahkan hingga ke otak, Yori tak bisa bertahan lagi," jelas Yose lalu tertunduk.
__ADS_1
Reana mengangguk lalu mengucapkan permintaan maafnya sambil menatap nisan Yori. Seperti janjinya pada Yose, Reana benar-benar meminta maaf meski hanya bisa dilakukan pada sebuah makam.
"Apa kira-kira Yori memaafkan aku?" tanya Reana.
Yose diam sesaat, bertingkah seperti sedang mendengarkan sesuatu. Reana tersenyum sambil mengernyitkan dahinya. Wanita itu tersenyum melihat tingkah Yose yang begitu ceria.
"Dia bilang ada syaratnya," ucap Yose.
"Apa syaratnya?" tanya Reana sambil tertawa karena tak mungkin Yose bisa berkomunikasi dengan Yori.
"Dia bilang cium, pipi abangnya," jawab Yose tertawa, membuat Reana juga ikut tertawa.
Setelah tawa itu reda barulah mereka terdiam. Reana merasa heran. Hatinya terasa bebas saat bersama Yose. Beban kesedihannya jauh berkurang. Reana bahagia saat bersama dengan Yose. Sayang, Reana merasa Yose selalu memberi sinyal kalau dirinya menginginkan Reana.
Setelah merasa cukup, mereka pun kembali pulang. Reana berterima kasih karena telah diajak untuk meminta maaf pada Yori. Yose mengantar Reana hingga sampai di depan rumah. Ketika wanita itu ingin turun dari mobil. Yose menahan tangan waktu itu.
"Reana, terima kasih," ucap Yose.
"Untuk apa?" tanya Reana.
"Untuk kembali," jawab Yose.
"Punya suami, aku tahu, aku tahu," jawab Yose sambil tersenyum.
Dokter tampan itu tak peduli. Entah memiliki kesempatan bersama Reana atau tidak. Yang terpenting baginya saat ini bisa menatap wanita itu setiap kali dia mau. Reana meminta Yose untuk beristirahat karena nanti malam bertugas sebagai dokter jaga di rumah sakit daerah.
Hari-hari Reana terasa lebih bahagia. Kehadiran Yose mengisi hari harinya, membuat Reana sedikit demi sedikit bisa melupakan kesedihannya. Berbeda dengan Reana yang perlahan melupakan kesedihannya. Nico justru terpuruk. Beruntung Rommy selalu menemaninya. Sahabat Nico itu, tak ingin Sahabatnya itu melakukan kesalahan yang membuat hidupnya lebih hancur.
"Aku heran melihatmu. Di suruh memaafkan Reana, kamu menolak. Di suruh melupakan Reana kamu nggak bisa. Lalu apa maumu sekarang? Kamu baru saja melewati masa sulit di perusahaan. Apa kamu tunggu sampai lebih hancur lagi," ucap Rommy dengan nada tinggi.
"Kamu pikir aku mau seperti ini? Aku juga ingin bahagia. Aku ingin memaafkan Reana tapi aku juga membencinya. Aku masih tetap mencintainya, ini yang sulit aku atasi. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Nico.
"Cinta itu memaafkan, jangan mengaku cinta jika tak bisa memaafkan," ucap Rommy.
"Aku harus memaafkannya? Aku tidak bisa. Setiap kali aku membayangkan dia dalam pelukan laki-laki itu, aku sangat memesona," ucap Nico.
__ADS_1
"Tapi dia melakukannya untuk kamu," ucap Rommy dengan nada tinggi.
"Justru itu! Kenapa dia harus mengkambinghitamkan perusahaanku. Kenapa dia melakukan itu seolah-olah demi aku. Aku bisa memaafkannya saat disekap Tn. Malvin. Aku menerimanya meski akhirnya aku tahu dia masih suci tapi sekarang dia melakukannya dengan alasan demi aku, orang tuaku. Aku benci dia, karena dia membuat aku membenci diriku sendiri," tutur Nico sambil menangis.
Rommy tertunduk, sementara Rassya yang ditugaskan Rommy untuk mengantarnya pulang nanti hanya diam mendengar keluh kesah atasannya itu. Rassya tak percaya Reana bersedia melakukan itu. Pengawal itu tahu pasti, Reana begitu setia pada suaminya.
"Jika bersama menderita, berpisah pun menderita. Aku lebih memilih untuk bersama. Aku akan memaafkannya, dan berusaha untuk kebahagiaan," jelas Rommy.
"Aku harus memaafkannya," ucap Nico ragu-ragu. Rommy mengangguk, begitu juga dengan Rassya.
"Carilah dia di kampungnya. Aku rasa dia kembali pulang ke kampungnya," saran Rommy.
Laki-laki itu meminta Rassya mengantarkan Nico pulang karena Nico telah mabuk. Rassya mengantarkan Nico ke hotel tempat dia menginap. Namun, Nico meminta diantar ke apartemennya. Laki-laki itu berharap Reana telah berada di sana.
"Dia belum pulang," ucap Nico setelah masuk ke apartemennya.
"Tuan harus menjemputnya di kampung," ucap Rassya.
Nico mengangguk lalu meminta di tinggalkan sendiri. Rassya pun mohon diri. Tinggal Nico yang termenung menatap kosong. Menatap sofa favorit mereka. Semakin banyak teringat kenangan indah itu. Semakin rindu Nico pada Reana. Nico jatuh terduduk. Lalu merebahkan diri di sofa itu.
"Aku rindu kamu sayang, aku rindu," ucap Nico berkali-kali hingga akhirnya tertidur.
Reana baru selesai menyiapkan bahan-bahan untuk dijual besok pagi. Bu Ridha tersenyum saat melihat putrinya telah terbiasa menyiapkan segala sesuatunya. Ibu itu meminta Reana, untuk segera beristirahat. Reana terkejut saat menutup tirai jendela kaca itu.
Tubuhnya membeku menatap sosok yang berdiri di depan halaman rumahnya. Sosok itu hanya diam menatap ke arah rumah. Ekspresi kaget seperti melihat hantu. Membuat Bu Ridha Lia penasaran dengan apa yang dilihat putrinya.
"Nico, kenapa diam saja dia masuk," ucap Ridha Lia.
"Apa mungkin kak Nico datang untuk menceraikan aku Ma," ucap Reana langsung menangis.
"Hanya menemui dia, kita baru tahu maksud kedatangannya
"Aku nggak mau! Aku nggak mau! Aku nggak mau temui dia," ucap Reana langsung masuk ke kamarnya dan menangis di atas ranjang.
Bu Ridha Lia menoleh ke arah Nico yang hanya berdiri mematung menatap rumah. Terlihat Nico sendiri yang ragu untuk menemui Reana. Laki-laki itu kembali merasa takut, istrinya tak mau menerimanya lagi.
__ADS_1
Nico bertekad memaafkan istrinya yang telah menyerahkan diri pada laki-laki lain. Semua itu demi dirinya yang tak mampu melupakan Reana. Cinta itu memaafkan, maka Nico ingin memaafkan Reana yang tak patuh padanya.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...