
Seperti biasa Nico dan Rommy menunggu teman-temannya di bangku DPRD. Dito yang masih asyik pacaran dengan gadis SMU nya di halte, sementara Ardi bimbingan skripsi dengan dosen pembimbingnya.
"Gimana kabar Reana?" tanya Rommy.
"Udah baikan" jawab Nico singkat.
"Apanya yang baikan, sakitnya atau hubungan kalian?" tanya Rommy sambil tersenyum.
Nico tertawa kecil, teringat kejadian semalam. Reana bersedia diantar pulang. Karena tidak membawa helm untuk Reana, akhirnya mereka melalui jalan-jalan kecil untuk sampai di kost-an Reana.
Berjalan pelan di gelap malam, diantara perumahan.
Kadang mereka menemui jalan buntu, sambil tertawa mereka mencari jalan yang lain. Nico senyum sendiri mengingat kejadian itu.
Ardi berlari kearah Rommy dan Nico.
"Gawat Nic... gawat" ucap Ardi nafas ngos-ngosan.
"Ada apa Di?" tanya Nico ikutan panik.
"Reana... Reana... dia, dia dipaksa cuti kuliah" ucap Ardi masih terengah-engah.
"Ambil nafas dulu Di, tenang, cerita yang jelas" ucap Rommy menenangkan Ardi.
Nico langsung berdiri, dia tak sabar mendengarkan penjelasan Ardi.
"Tadi itu... gue lagi bimbingan trus... gue liat Reana masuk ruangan... ruangan... apa ya.. administrasi... ah... kasubbid administrasi dan keuangan" ucap Ardi sambil mengingat.
"Gue nguping tuh, berhubung kantor dosen gue seberangan sama ruang Kasubbid. Reana, dia minta maaf gara-gara belum bisa memenuhi janjinya melunasi uang kuliahnya" ucap Ardi mulai lancar.
"Trus, ibu Kasubbid itu bilang, mereka sudah cukup memberi kelonggaran selama ini, jadi kalau belum bisa lunasin tunggakan uang kuliahnya, Reana musti cuti kuliah dulu" cerita Ardi sambil mengingat-ingat obrolan Reana dan Kasubbid Administrasi dan Keuangan.
Tanpa menunggu cerita Ardi selesai Nico langsung berlari menuju Gedung Sekretariat. Dia tidak sabar ingin segera mengetahui kejelasan cerita itu secara langsung dari mulut Reana.
Nico tidak rela, benar-benar tak rela jika Reana dipaksa cuti kuliah.
Apapun kulakukan agar kamu tetap kuliah Reana, bisik hati Nico.
Nico tau pasti Reana bekerja keras untuk membiayai kuliahnya.
Namun setiba disana Nico tak menemukan Reana. Reana sudah keluar dari tadi. Nico berbalik mencari Reana ke perpustakaan tapi tetap tak menemukannya. Nico berlari kearah Ardi dan Rommy.
"Dimana Reana, dia nggak ada di sekre juga di perpus" ujar Nico heran, nafasnya tersengal-sengal, keningnya berkeringat.
"Aduh gue nggak tau, soalnya gue tadi musti konsen ama omongan pak Fidlan sih. Gue bisa nguping, waktu itu pak Fidlan nya masih baca-baca skripsi gue" ucap Ardi kebingungan.
"Loe udah nyari di taman belakang?" tanya Rommy.
Nico langsung berlari ke taman belakang. Dan benar saja, Reana duduk di lesehan kayu, wajah nya menunduk tertumpu pada kedua lutut gadis itu. Terlihat bahunya yang berguncang, Reana menangis sendirian.
Nico berjalan perlahan mendekati gadis itu, duduk di sampingnya, Nico meraih gadis itu kedalam pelukannya. Reana kaget, gadis itu menatap mata Nico, laki-laki itu juga menatap mata gadis yang masih berlinang air mata itu.
"Jangan khawatir, aku akan membantumu" ucap Nico pelan sambil membelai rambut gadis itu.
Reana melepaskan dirinya dari pelukan Nico, Gadis itu menggelengkan kepala. Dia tidak ingin menyusahkan Nico, terlebih lagi Reana tidak ingin berhutang budi terlalu banyak pada laki-laki itu.
__ADS_1
"Kenapa ? aku akan membayarkan uang kuliahmu" tanya Nico heran.
"Saya nggak bisa menerimanya" jawab Reana pelan suaranya terdengar serak.
"Kenapa?" tanya Nico heran.
"Saya nggak bisa menerima kebaikan kak Nico lebih banyak lagi ?" jawab Reana pelan.
"Kenapa nggak ngajuin beasiswa ?" tanya Nico mencoba mencari jalan keluar yang lain.
"IPK saya tidak memenuhi syarat" ucap Reana singkat.
Nico mengeryitkan keningnya, heran.
Reana mengerti kebingungan Nico, sejak gadis itu menyelesaikan soal mata kuliah Analisa Numerik dan menjadi dosen dadakan menggantikan pak Suprapto yang berhalangan hadir waktu itu.
Sebagian besar mahasiswa di kelasnya mengira gadis itu jenius. Reana risih sendiri orang-orang itu berpikiran seperti itu. Kadang mereka minta bantuan konsultasi tentang mata kuliah lain, tentu saja gadis itu kebingungan. Dia merasa tak lebih tau dari mereka.
Intinya Reana bukan gadis jenius dengan IPK yang tinggi. Dia hanyalah gadis dengan IQ rata-rata yang kebetulan suka matematika.
"Saya tidak pintar di semua mata kuliah" jawab Reana menjelaskan dengan hidungnya yang memerah.
Nico membuang nafas berat.
"Jadi kamu mau menyerah ? kamu tau nggak, jika melepaskan semester ini, artinya kamu harus mengulang semester ini di tahun depan" ucap Nico resah, dia bahkan terlihat lebih panik dengan keputusan Reana.
Reana bisa membayangkan itu, jika kali ini harus cuti kuliah, tahun depan harus mengulang semua mata kuliah, mungkin dia tidak akan sanggup menjalaninya. Atau bahkan Reana takkan bisa wisuda tepat waktu.
Reana kembali menangis, menelungkupkan wajahnya pada kedua lututnya.
Sekaligus membujuk gadis itu untuk mau menerima bantuannya. Nico merasa bersalah, Reana kekurangan uang untuk bayaran semesternya, bisa jadi karena terpakai untuk biaya rumah sakit.
Kalau saja waktu itu Nico tidak memesan kamar VIP untuk rawat inap Reana, uang tabungan gadis itu mungkin tidak terpakai, atau terpakai tapi hanya sedikit.
"Justru itu, saya sudah banyak berhutang budi sama kak Nico, gimana saya bisa membayarnya" jawab Reana.
Gadis itu teringat bagaimana Nico selalu menghiburnya di masa sulit dan berada di sisinya saat dia jatuh sakit.
Nico berdiri dihadapan Reana, laki-laki itu mengusap wajahnya kasar, Nico bingung cara menghadapi Reana. Tiba-tiba Nico melihat sesuatu ditangan Reana. Nico merebutnya dari tangan gadis itu.
Reana kaget, Nico lebih kaget, disitu tertera nama sebuah hotel bintang lima dan nama seorang pria dengan jabatan General Manager.
"Apa ini solusi yang terpikirkan olehmu?" teriak Nico kesal sambil mengacungkan kartu nama itu.
Reana tidak menjawab, gadis itu hanya diam tertunduk.
"Apa ini laki-laki yang memegang tanganmu waktu itu ?
Yang katamu hanya seorang pelanggan ?
Yang katamu dia bukan siapa-siapa ?
Kamu ingin menghubungi laki-laki itu ?
Lalu bagaimana cara kamu membayarnya?
__ADS_1
Jika kamu bingung cara membayarku lalu bagaimana cara kamu membayarnya?
Apa dengan tubuhmu?" teriak Nico kesal penuh kemarahan.
Reana terperangah mendengar ucapan Nico, air matanya yang telah mengering, kini kembali mengalir, menatap Nico yang berdiri dihadapannya.
Tega sekali kak Nico bicara seperti itu, jerit hati Reana.
"Saya tidak meminta uang padanya, saya hanya ingin meminjamnya, suatu saat akan saya bayar" jawab Reana sambil terisak.
"Kamu pikir dia butuh uangmu ? dia bisa memberikan segalanya, asal kamu mau menyerahkan dirimu padanya" sahut Nico semakin kesal.
Nico tahu persis, tipe laki-laki seperti itu pasti mendekati dan membantu gadis-gadis karena menginginkan sesuatu dari mereka.
Nico merobek kartu nama itu menjadi serpihan kecil dan melemparnya ke udara.
"Jangan harap kamu bisa menghubunginya" ucap Nico setelah membuang kartu nama tuan Malvin.
Reana menatap kartu nama yang sudah terbang sebagian tertiup angin. Nico memandang gadis itu dengan kesal.
"Kamu tidak mau menerima bantuan dariku, terserah, kamu ingin menambah semester hingga bertahun-tahun lagi, terserah, kamu ingin menyerahkan diri mu pada laki-laki itu, terserah" teriak Nico semakin keras, perasaannya bercampur aduk bingung, sedih, marah, cemburu.
Reana lebih memilih laki-laki lain untuk membantunya, itu sangat menyakiti perasaan Nico. Laki-laki itu hendak berlalu dari hadapan Reana.
Namun tiba-tiba Reana menahan tangan Nico, dia menangis tertunduk. Tak sanggup melihat kemarahan laki-laki itu.
"Kak... tolong saya" ucap Reana, air matanya menetes.
Mendengar ucapan gadis itu, Nico tersenyum, perasaannya lega, amarahnya mereda, tangannya membelai lembut rambut gadis itu.
Kemudian meminta gadis itu menunggu, segera Nico ke Sekretariat untuk melunasi tunggakan uang semester Reana.
Tak butuh waktu lama, Nico kembali menemui Reana, sambil tersenyum ia memberikan tanda bukti pembayaran uang kuliah Reana semester ini.
Reana menatap haru pada selembar kertas itu, begitu mudah bagi Nico melunasi uang kuliahnya, sementara begitu sulit baginya mengumpulkan uang sebanyak itu.
Nico tersenyum sambil menarik bahu Reana, membuat gadis itu bersandar padanya.
"Kamu bisa pakai tubuhmu untuk membayarku" ucap Nico sambil tersenyum.
Reana langsung duduk menjauh dari hadapan Nico, matanya melotot.
"Aku ingin tubuhmu menemaniku jalan-jalan di mall" ucap Nico sambil tertawa.
Nico langsung menarik tangan Reana dan mengajaknya pergi. Diparkiran, Nico membukakan pintu sebuah mobil sedan sport untuk Reana. Gadis itu tercengang.
"Aku senang mengajakmu jalan-jalan mengendarai motor tapi... aku kesulitan membawakan helm untukmu" ucap Nico.
Teringat saat mereka kesulitan mencari jalan untuk mengantar Reana pulang malam itu, karena Nico tidak membawakan helm untuk Reana.
Reana tersenyum lalu masuk kedalam mobil, sekilas mengamati interior mobil mewah itu. Nico duduk dibangku kemudi, menatap Reana, laki-laki itu tersenyum sangat manis, terlihat jelas ekspresi bahagianya karena bisa mengajak Reana jalan bersamanya.
Nico bergerak mendekati Reana, jantung gadis itu berdegup kencang, Nico semakin mendekat hingga Reana bisa mencium aroma wangi dari tubuh laki-laki itu. Reana menahan nafas, dia tak ingin hembusan nafasnya mengenai wajah laki-laki itu.
Nico mengambil safety belt disamping Reana dan membantu memasangkannya untuk gadis itu. Nico tertawa saat melihat ekspresi tegang Reana. Mereka melaju ke jalan raya.
__ADS_1
...*****...