Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 97 S2 ~ Malam Pertama ~


__ADS_3

Besok-besoknya Nico tak pernah melewatkan sarapan paginya. Mereka melalui hari tanpa memikirkan hal-hal lain. Reana pasrah setelah beberapa hari tinggal bersama, Nico masih belum menyentuhnya.


Reana bertekad akan berbakti seperti yang diinginkan suaminya. Reana tak akan menuntut apa pun. Namun, kadang ada rasa sedih saat teringat masa pacaran mereka dulu yang terasa lebih indah. Saat beban itu tak bisa ditanggungnya lagi, Reana akan berteriak dari atas balkon itu.


Kadang Reana heran, karena tak ada yang merasa keberatan dirinya berteriak. Nico menjelaskan kalau masing-masing unit apartemen di sana berjarak sangat jauh, dan suara Reana juga terbang dibawa angin. Mendengar itu Reana langsung tersenyum lega.


Hari libur mereka akan berjalan-jalan, membeli segala keperluan. Di malam hari nonton televisi bersama. Malam ini, Reana ingin tidur di ruang tengah itu. 


Niatnya agar suaminya sekali-kali bisa tidur di dalam kamar. Reana pun berpura-pura ketiduran karena mengantuk di depan televisi hingga akhirnya benar-benar tertidur. Namun, tetap saja, ujung-ujungnya, Nico menggendong Reana untuk dipindahkan ke kamarnya. Dua kali Reana dipindahkan dengan cara digendong. Untuk yang ketiga kalinya gadis itu bicara pada Nico.


"Kenapa Kak Nico pindahkan aku ke sini. Aku memang ingin tidur di situ," ucap Reana begitu terbangun saat Nico ingin keluar dari kamar itu.


"Kenapa tidur di luar?" tanya Nico.


"Lalu kenapa Kak Nico tidur di luar?" tanya Reana. Nico tak menjawab.


"Kak Nico takut tergoda olehku? Apa seperti ini cara hidup sepasang suami istri? Ini apartemen Kak Nico. Kak Nico yang berhak tidur di kamar ini. Aku hanya menumpang tinggal di sini–"


"Reana!"


"Hari sudah malam, besok Kak Nico harus bekerja, tidurlah!" ucap Reana.


Nico menahan tangan Reana. Laki-laki itu ingin Reana keluar dari kamar itu. Malam ini Nico ingin mencoba untuk tidur sekamar dengan Reana. Sebenarnya malam ini laki-laki itu telah bertekad untuk tidur sekamar dengan Reana tapi entah mengapa setelah menaruh gadis itu, otomatis dia akan melangkah keluar dari kamar.


Nico bertekad mencoba seranjang dengan Reana malam ini, setelah tadi siang bertemu dengan Rommy. Setelah bicara dengan sahabatnya itu, Nico seperti memiliki tujuan. Setelah merasa tak sanggup terombang-ambing oleh perasaannya sendiri. Nico menghubungi Rommy untuk bertukar pikiran dengannya.


"Apa kamu mencintainya karena keperawanannya?" tanya Rommy.


"Kamu gila bertanya seperti itu. Aku sudah cerita padamu. Aku tak memaksakan situasi itu. Jika dia tak perawan lagi, itu tak masalah bagiku. Tapi jika melihat bekas ciumannya saja, aku sudah muak, lalu bagaimana aku sanggup memeluk tubuh gadis yang telah dipeluknya. Menciumi tubuh yang pernah diciumnya. Bagaimana aku–"


"Kalau begitu ceraikan Reana–"

__ADS_1


"Apa?"


"Kalau cinta padanya, ceraikan dia. Biarkan dia mencari laki-laki yang mencintainya. Laki-laki yang tak peduli dia pernah dipeluk, dicium, atau ditiduri oleh Tn. Malvin. Dia cantik, pasti banyak mau menikahinya–"


"Apa kamu gila? Menyerahkannya pada laki-laki lain? Setelah aku bersusah payah menjaganya, mencintainya, menikahinya?" tanya Nico bertubi-tubi.


"Lalu apa maumu? Kamu ingin menyiksanya? Apa menurutmu dia tak sedih. Berstatus sebagai suami istri, tapi tak pernah melakukan hubungan suami istri," ucap Rommy.


"Aku bukannya tak ingin melakukannya tapi aku belum siap," jawab Nico.


"Kamu itu harus diberi ultimatum, jika kamu tak melakukannya malam ini, besok kamu harus ceraikan dia–"


"Apa? Enak aja kamu bicara," ucap Nico.


"Kamu pikir bagaimana perasaannya setiap malam tiba? Dia akan bertanya-tanya? Apa suaminya akan menghampirinya malam ini? Apa kamu akan menerimanya malam ini? Hingga saat ini, kamu masih belum bisa menerimanya sebagai istri. Sampai kapan dia akan sanggup menahannya? Menjadi istri yang diabaikan?"


"Aku tak mengabaikannya," ucap Nico.


Membuat Nico termangu. Dalam hati merasa ragu, apakah dia sungguh-sungguh mencintai Reana atau hanya tak ingin miliknya direbut oleh Tn. Malvin. Nico menyakinkan dirinya sangat mencintai Reana.


"Kalau cinta, kamu akan terima dia apa adanya. Tak peduli bagaimanapun keadaannya," ucap Rommy.


Yang membuat Nico akhirnya memutuskan untuk mencoba mendekati Reana. Malam ini, Nico bertekad tidur dikamar. Namun, saat melihat gadis itu tertidur pulas di sofa, seperti biasa Nico memindahkankannya ke ranjang. Lalu melangkah pelan ke luar kamar.


"Kak Nico tidurlah di sini. Biarkan aku yang di luar," ucap Reana.


Gadis itu tersenyum lalu melangkah kembali keluar kamar. Sekuat tenaga menahan tangisnya dan sesak di dadanya. Reana ingin terlihat kuat, sama seperti malam-malam penyiksaan sebelumnya. Tersiksa oleh perasaannya sendiri yang merasa tak diinginkan lagi oleh Nico.


"Reana," ucap Nico sambil menahan tangan gadis itu.


"Ya?" tanya Reana sambil berusaha untuk tersenyum.

__ADS_1


Nico pernah berkata, benci pada bekas ciuman Tn. Malvin tapi saat bekas ciuman itu menghilang pun Nico tetap tak mau mendekatinya. Reana pasrah jika memang seperti itu kondisi rumah tangganya.


"Jangan tidur diluar! Tidurlah di sini … bersamaku," ucap Nico.


Reana tak mampu lagi menahan tangisnya. Gadis itu menangis terisak-isak. Mendengar ucapan Nico yang seperti sebuah keajaiban baginya. Reana tak berharap laki-laki itu akan menidurinya. Tapi setidaknya bisa tidur disamping suaminya sudah cukup baginya untuk menunjukkan Nico tak lagi jijik padanya.


Melihat gadis yang menangis terisak itu, Nico langsung membenamkan bibirnya ke bibir manis yang telah lama dirindukannya itu. Entah kekuatan dari mana, membuat Nico langsung menghempaskan tubuh istrinya ke atas ranjang dan menghujaninya dengan ciuman-ciuman yang menggebu-gebu.


Dalam waktu singkat membuat gadis itu tak mengenakan apa pun lagi. Hasratnya yang telah memuncak, telah terbakar oleh gairahnya yang telah lama tertahan. Nico tak memikirkan apa pun lagi. Laki-laki itu hanya ingin menyalurkan hasrat cintanya pada gadis cantik di hadapannya. 


Sedikit pun tak teringat lagi pada apa yang dilakukan oleh Tn. Malvin pada Reana. Hingga akhirnya Nico merasakan sensasi yang luar biasa. Nico merasakan tangan Reana yang kuat mencengkram punggungnya saat gadis itu tak sanggup menahan rasa sakitnya. Reana tetap bertahan demi suaminya yang telah tenggelam dalam permainan cintanya.


Nico akhirnya melepas pelukannya setelah mereka mencapai puncaknya. Mengatur napasnya sambil menatap langit-langit kamar. Nico menoleh pada Reana yang juga terpaku menatap langit-langit kamar.


"Kenapa tak cerita padaku, kalau kamu masih suci?" tanya Nico.


"Aku tak suci seperti apa yang Kakak inginkan. Kakak lihat sendiri, aku pernah dicium olehnya, bagiku, aku sudah suci lagi–"


"Reana," ucap Nico langsung memeluk erat istrinya.


Nico menyesal atas apa yang terjadi. Karena keegoisannya menuntut kesempurnaan seorang Reana. Hingga membuat gadis itu memiliki ukuran kesuciannya sendiri. Reana selama ini memang tak pernah disentuh oleh siapa pun selain oleh Nico. Saat tak mampu lagi mengelak dari Tn. Malvin, Reana merasa tubuhya tak suci lagi.


Bekas ciuman itu menjadi tanda nyata tubuhnya yang telah tersentuh laki-laki lain. Hingga suaminya sendiri akhirnya mempertanyakan kesuciannya. Reana memang merasa tidak suci lagi. 


Malam itu menjadi malam penuh arti bagi Nico dan Reana. Malam peresmian mereka menjadi suami dan istri yang sesungguhnya. Sebagai pembuktian Reana yang hanya menyerahkan diri pada suaminya. Nico memeluk erat istrinya. Berkali-kali menghujani gadis itu dengan ciuman-ciuman yang menggebu-gebu. Reana dengan segala kelemahan dan ketidakberdayaannya melawan kehendak Tn. Malvin tapi masih mampu mempertahankan kehormatannya hanya untuk suaminya.


"Reana aku mencintaimu, aku tergila-gila padamu," bisik Nico.


"Aku juga mencintaimu Kak," bisik Reana sambil tersenyum.


Nico mengusap wajah Reana yang ditutupi helain rambutnya. Ada rasa sesal karena meragukan kesucian cinta gadis itu. Tapi Nico tak ingin memikirkan lagi. Laki-laki itu hanya ingin merasakan bahagianya hidup bersama gadis yang dicintainya.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2