Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 56 S2 ~ Ikatan Cinta Sebenarnya ~


__ADS_3

Reana melihat ponsel Nico yang bergetar, terkejut saat melihat foto kontak yang sedang menelponnya.  Seorang gadis bule cantik dengan bibir sensual yang sedikit terbuka sambil menggigit sebentuk hati. Reana kaget karena sebentuk hati itu adalah gantungan ponsel pasangan mereka.


Seketika mata gadis itu berkaca-kaca. Mengetahui Nico telah melepas tanda ikatan mereka selama ini dan yang lebih menyakiti hatinya, benda yang menjadi pengikat hubungan mereka itu sekarang telah berada ditangan gadis lain.


Reana termenung menatap ponsel yang layarnya menyala hingga berkali-kali karena terus menelpon itu. Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka Nico keluar dengan hanya mengenakan handuk putih di pinggangnya.


"Oh kamu masih di sini?" ucap Nico kaget reflek menutup dadanya yang terbuka.


Reana menoleh sekilas lalu melangkah keluar dari kamar dengan raut wajah yang murung, menutup pintu dengan sedikit dibanting. Membuat Nico merasa heran dengan ekspresi dan tingkah Reana. Laki-laki itu hendak menyusul keluar namun ponsel di atas meja itu kembali bergetar.


Nico menatap ponsel itu dan langsung mengerti yang menjadi penyebab perubahan air muka Reana. Laki-laki itu segera keluar dan terkejut saat melihat Reana yang telah memakai ranselnya melangkah menuju pintu. Nico langsung menghadang gadis itu.


"Kamu mau ke mana?" tanya Nico sambil merentangkan tangannya.


"Pulang! Mau ke mana lagi?" tanya Reana yang tak butuh jawaban.


"Kenapa pulang sih? Janjinya aku antar kamu habis makan malam," protes Nico.


Reana hanya diam menatap lurus ke mata Nico. Air mulai menggenang di pelupuk mata gadis itu. Nico kaget melihat ekspresi Reana yang begitu serius. Laki-laki itu langsung menduga kalau semua ini terjadi pasti karena panggilan telepon tadi.


"Kamu marah? Kenapa? Karena perempuan yang menelponku itu?" tanya Nico bertubi-tubi.


Reana hanya diam menatap Nico lalu menunduk tapi gadis masih tetap ingin melangkah melewati Nico. Laki-laki itu langsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Reana tentu saja meronta karena laki-laki itu bahkan hanya mengenakan handuk. Nico memeluk Reana dengan tubuhnya yang terbuka.


"Dengarkan aku dulu! Taruh ranselmu dan dengarkan ucapanku, atau aku tidak akan melepaskanmu," ucap Nico yang membuat gadis itu akhirnya diam tertunduk.


Nico melepas ransel Reana, dan melemparnya ke sofa. Reana diam melihat apa yang dilakukan Nico, gadis itu mengangkat wajahnya menatap laki-laki yang terlihat serius menatapnya itu.

__ADS_1


"Wanita itu hanya teman kerjaku, dia tidak ada artinya bagiku. Kamu jangan berpikiran macam-macam tentang kami ... dan jangan cemburu--"


"Cemburu? Siapa yang cemburu? Aku hanya nggak suka dengan orang yang plin plan. Kakak sendiri yang mengatakan kalau Kakak akan menjaga mainan ponsel itu karena itu adalah lambang ikatan kita. Sekarang Kakak justru memberikannya pada wanita lain. Aku juga tak mau menyimpannya lagi, untuk apa aku menjaga sendirian sementara Kakak begitu mudah memberikannya pada wanita lain. Aku tidak mau punya ikatan dengan wanita itu," tutur Reana lalu mengambil ponselnya dan berusaha melepas gantungan ponsel pasangan itu.


Namun gadis itu kesulitan untuk melepasnya hingga menjadi kesal sendiri. Gadis itu bahkan melempar ponsel itu ke sofa. Nico meraih tangan Reana lalu menggenggam tangan gadis itu. Reana menarik tangannya untuk melepaskan genggaman tangan Nico. Namun, laki-laki itu begitu kuat menggenggam tangannya.


"Aku tidak akan melepaskanmu hanya karena perempuan itu. Dia memang usil padaku, dia tahu gantungan ponsel itu sangat berharga bagiku karena itu dia merebutnya dariku. Maafkan aku karena tidak mampu menjaganya. Tapi aku memiliki alasan untuk melepasnya, dia akan mengembalikan gantungan itu asal aku bersedia menciumnya. Tentu saja aku menolak, lebih baik aku merelakan gantungan itu daripada aku harus mengkhianatimu. Aku bisa mengganti gantungan itu dengan yang baru. Berapa pun kamu mau ratusan bahkan ribuan sekalipun. Tapi aku akui, aku memang tak bisa mendapatkan yang satu itu. Lagipula tak ada gunanya, bagiku, gantungan itu sudah tak artinya lagi--"


"Apa?"


"Karena sekarang tanda ikatan yang terpenting bagiku adalah ini," tutur Nico lalu mengangkat jari manis Reana.


Laki-laki itu memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manis Reana. Gadis itu terpana hingga ternganga. Karena cemburu gadis itu lupa dengan tanda ikatan mereka yang sesungguhnya. Reana menatap nanar jari tangannya sendiri yang diangkat oleh Nico. 


"Tanda ikatan ini yang membuat aku menjadi memilikimu, tidak hanya tubuhku tapi juga hatiku," ucap laki-laki itu lalu menempelkan tangan Reana di dadanya yang terbuka.


"Reana! Apa kamu masih tidak yakin, apa yang ada di dalam sini? Ini adalah milik kamu?" tanya Nico masih menempelkan tangan Reana di dadanya.


Reana merasakan degup jantung Nico yang begitu kuat. Jantung itu berdebar-debar karena panik Reana marah dan akan pergi. Reana diam menatap tangannya yang ditutupi oleh kedua tangan Nico di dada laki-laki itu lalu mengangkat tangan gadis itu dan mencium telapak tangan Reana.


Sekian lama mencium tangan gadis itu lalu meraih kedua tangan Reana dan melingkarkan ke belakang punggungnya. Nico balas memeluk calon istrinya itu, merasakan tubuhnya yang menempel di tubuh Reana tanpa penghalang. Reana bahkan menempelkan pipinya di dada terbuka laki-laki itu.


"Untung merontanya tidak terlalu kuat, kalau melorot bisa bahaya. Tubuhku sudah ternodai oleh matamu," ungkap Nico yang membuat Reana langsung tertawa tertahan.


Nico merenggangkan pelukannya, segera menyatukan bibir mereka. Namun, belum lama bibir mereka menyatu, ciuman Nico tiba-tiba terhenti.


"Sebaiknya aku pakai baju dulu," ucap Nico.

__ADS_1


Reana reflek menatap tubuh Nico, laki-laki itu langsung memutar wajah Reana ke arah lain. Laki-laki itu segera berlari menuju kamarnya dan menutup pintu. Reana tersenyum lalu melangkah duduk di sofa. Meraih ponselnya yang masih mengenakan gantungan berbentuk hati itu.


Sayang sekali, setelah sekian lama, akhirnya kamu tidak punya pasangan lagi. Pasanganmu telah diambil orang, batin Reana menatap gantungan hp itu.


Sekian lama menatap mainan ponsel itu, Nico telah selesai mengenakan pakaiannya.


"Aku belikan yang baru untukmu ya?" tanya Nico begitu muncul setelah mengenakan pakaian.


Laki-laki itu langsung duduk di samping Reana dan melingkarkan tangannya di bahu gadis itu.


"Nggak usah Kak, lagi pula … ponsel laki-laki mana ada pakai gantungan ponsel lagi," ucap Reana akhirnya.


"Nggak apa-apa! Kalau kamu ingin aku memakainya, aku akan pasang. Pokoknya kamu ingin aku lakukan apa saja, akan aku lakukan untukmu," ucap Nico sambil tersenyum.


Reana tersentuh mendengar ucapan Nico. Namun, gadis itu tak berniat memaksakan kehendaknya.


"Aku ingin lepaskan ini, Kakak nggak pakai, aku juga nggak ingin pakai," ucap Reana.


Nico mengambil ponsel Reana untuk membantunya melepas gantungan hp itu.


"Maaf ya sayang," ucap Nico menyesal sambil menyerahkan gantungan ponsel yang telah dilepasnya.


Reana menggelengkan kepalanya lalu menunjukkan cincin di jari manisnya.


"Aku sudah punya tanda ikatan yang asli," jawab Reana sambil tersenyum.


Nico langsung meraih tengkuk Reana dan mencium keningnya lama. Kemudian perlahan turun ke matanya. Puncak hidung gadis itu dan berakhir di bibirnya. Sampai di situ Nico enggan beralih lagi. Menetap di bibir itu sambil mengecupnya hingga berkali-kali. Reana tersenyum di sela-sela tarikan-tarikan lembut yang dirasakannya.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2