Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 140 ~ Nostalgia ~


__ADS_3

Bagi Nico, tulisan Reana Forever adalah sakral. Sementara dia melihat sendiri Hasbi melukis wajah Reana dengan tulisan Reana Forever di bawahnya. Nico merasa kalau Reana akan selalu menjadi wanita yang dicintai Hasbi sama seperti dirinya.


Nico menuduh Hasbi terobsesi pada Reana karena pernah melihat Hasbi yang menatapnya dari jendela kaca ruang sekretariat BEM. Dari semua itu yang paling di takutkan oleh Nico adalah lukisan tangan Hasbi yang menggores wajahmu Reana di buku kuliahnya lengkap dengan tulisan Reana Forever.


"Itu tak menjadi jaminan akan selamanya Hasbi akan menyukaiku. Itu hanya tulisan biasa," sanggah Reana.


Wanita itu bahkan mencontohkan seorang aktor Hollywood yang bahkan mentato tubuhnya dengan nama kekasihnya. Namun, Nico tetap tidak berubah pendirian karena ternyata dia juga melakukan hal yang sama. Hingga kini, cintanya masih utuh untuk Reana. Wanita itu tertawa mendengarnya.


"Aku tersanjung Kak, jika Kakak menjadikan aku cinta kakak selamanya, tapi walaupun nama Kak Nico tidak aku tato atau aku tulis di buku kuliahku. Aku tetap berniat seperti itu. Menjadikan kakak cintaku selamanya," ucap Reana sambil tersenyum.


Nico pun tersenyum mendengar ucapan mengharukan itu. Menemui istrinya itu sepertinya harus dilakukannya setiap kali ada masalah. Reana selalu punya jawaban untuk gundah hatinya. Seperti sekarang ini. Saat mengetahui pimpinan perusahaan rekan bisnis itu adalah Hasbi. Laki-laki itu langsung pusing tujuh keliling.


Rommy bahkan tak bisa menghiburnya lagi. Yang terbayang di matanya adalah Reana yang akan kembali direbut oleh Hasbi. Meski laki-laki itu tak pernah bisa merebut Hasbi dari sisi Nico. Persaingan antara Hasbi dan Nico sepertinya tak pernah pudar.


Dalam hati sebenarnya Reana tetap khawatir. Hasbi bisa menekan suaminya untuk tujuannya. Mengingat hal itu, Reana rindu datang ke restoran tempat dia pernah bekerja sebagai pelayan. Nella dan yang lainnya masih tetap bekerja di sana. Bahkan Ading sekarang telah menjadi pelayan senior.


Masih ingat Reana meminta bantuan anak itu. Sengaja meminta diantar pulang dengan motor Ading untuk mengabaikan Nico. Mengingat itu Reana tersenyum. Jika tetap berjodoh, dihindari pun tetap akan bersatu jika tak jodoh, diusahakan bagaimana caranya pun tetap tak bersatu.


"Seperti Kak Re dan Tn. Malvin. Bagaimanapun dia memaksa tetap saja akhirnya Kak Re jadian sama Kak Nico," ucap Nella yang menemaninya makan siang. 


Belum ada keluhan dari Nico beberapa hari ini. Sejak frustasi melihat pimpinan baru perusahaan rekan bisnis itu adalah Hasbi. Tapi entah kenapa, sejak hari itu pikirannya jadi tak menentu. Entah terpengaruh oleh kekhawatiran Nico atau karena alasan lain. Setiap kali Hasbi muncul, hatinya menjadi galau.


"Oh ya Kak Re, teman Kak Re yang cewek itu sering datang kemari," ucap Nella.


"Teman cewek yang mana? Yang siram seragamku pakai jus itu?" tanya Reana teringat Rebecca yang sekarang juga bekerja di perusahaan Nico.


"Itu sih bukan teman, yang itu, yang merayakan ulang tahun di sini," ucap Nella.


"Oh Alika? Dia sering ke sini?" tanya Reana tak yakin.


"Ya, aku pikir cuma pas hari ulang tahunnya aja, tapi tahunya, hari biasa juga iya. Dia biasa duduk di meja ini, sama seperti waktu dulu, ya seperti bernostalgia gitu," ucap Nella.

__ADS_1


Alika masih mengenang Hasbi. Hari ulang tahunnya waktu itu adalah hari ulang tahun yang paling berarti baginya. Meski kami juga amemiliki kenangan buruk di sini, tapi Alika tetap ingin mengenang Hasbi, batin Reana.


"Nell, jika dia datang lagi, tolong langsung kabari aku ya?" ucap Reana meminta tolong.


"Baik Kak!" ucap Nella sambil telapak tangannya mengacung hormat.


"Ngomong-ngomong, siapa pacarmu sekarang?" tanya Reana setelah reda tawanya.


"Nggak jelas Kak, waktu itu anak kuliahan. Sekarang anak kantoran tapi orangnya sulit, kadang diajak ketemuan nggak bisa. Diajak jalan-jalan nggak bisa, haaah capek kalau begitu," ucap Nella mengeluh.


"Hati-hati ya Nell jangan sembarangan terima laki-laki jadi pacarmu. Sekarang banyak orang berhubungan hanya untuk ditipu, kalau ditipu uang masih bisa dicari lagi tapi kalau penipu yang hanya mencari kehormatan seorang gadis, mau cari di mana lagi?" ucap Reana memberi nasehat.


Wanita itu khawatir pada gadis yang telah dianggapnya sebagai adik kandungnya sendiri ini. Merasa tak bisa sering-sering datang melihatnya karena kesibukannya dan masalah yang dihadapinya.


Namun, beruntung Bu Shinta datang. Reana langsung lega, Bu Shinta bisa diandalkan untuk memberi nasehat pada Nella. Ibu itu juga menganggap Nella sebagai putrinya sendiri. Bu Shinta langsung memeluk Reana. Rasa rindu pada Reana bisa terobati hari ini.


"Sibuk apa Bu? Kok baru nongol, saya udah mau pulang lho," ucap Reana.


"Jangan bohong! Kamu itu baru sampai," ucap Shinta. Reana dan Nella tertawa.


"Iya ini ibu habis rundingan sama Pak Gunawan dan juga klien. Biasa Reana sejak, restoran ini viral sama kamu suka banjir pesanan. Sering juga ada yang booking," jawab Shinta.


"Oh ya, berarti tambah maju dong Bu," ucap Reana.


"Ya kak, makin maju, kita sering dapat bonus sekarang," ucap Nella.


"Lho waktu aku kerja di sini. Malah sepi, aku getar-getir melihat tamu yang makin sepi setiap harinya," ucap Reana sambil menampilkan wajah cemberutnya. 


"Ada masanya Kak, segala sesuatu itu kadang menunggu masanya. Kejadiannya sekarang, booming beberapa tahun yang akan datang," jelas Nella.


"Tapi bisa jadi ini karena konsep kamu juga, waktu itu kita belum pakai konsep baru," ujar Shinta. Reana dan Nella mengangguk-angguk.

__ADS_1


Bu Shinta pamit melanjutkan tugasnya menentukan menu-menu yang akan ditawarkan setiap harinya. Sementara Nella juga kembali menjalankan tugasnya sebagai pelayan. Mereka berpelukan sebelum berpencar. Tinggallah Reana sendiri menghabiskan makan siangnya.


"Reana?"


Wanita itu terkejut saat mendengar seseorang memanggil namannya. Segera menoleh dan lebih terkejut lagi karena Hasbi telah duduk di kursi di hadapannya. Jantung Reana berdebar kencang. Bukan karena merasakan debaran cinta tapi karena teringat nasib posisi suaminya yang tergantung pada pilihan Hasbi.


"Kamu sering datang ke sini?" tanya Hasbi.


"Kalau aku sering datang ke sini, itu wajar. Aku bekerja di sini. Kadang aku kangen dengan teman-teman yang ada di sini," jawab Reana.


"Kangen dengan teman-teman harus makan menu yang sama, meja yang sama bahkan kursi yang sama? Kamu pasti mengangkat kursi itu untuk duduk di sana. Kenapa? Apa itu juga kenangan indah bagimu?" tanya Hasbi.


"Ya benar, itu kenangan indah bagiku. Karena itu adalah pertama kalinya seorang teman ulang tahun dan aku ikut merayakannya," jawab Reana.


"Itu juga kenangan indah bagiku, pertama kalinya aku menyukai seorang gadis dengan sungguh-sungguh," ucap Hasbi.


Reana menoleh ke arah Hasbi yang duduk di sisi kirinya. Reana ingin menceritakan Alika yang juga sering datang ke restoran ini. Namun, matanya terpaku pada sorot mata Hasbi yang menatapnya sendu.


"Aku akan bertunangan," ucap Hasbi.


"Oh ya baguslah! Kapan?" tanya Reana bersemangat.


"Kamu senang? Seorang yang biasanya mengganggumu akan terikat pertunangan dengan wanita lain. Kamu pasti sangat senang," ucap Hasi.


"Hasbi, aku tidak anggap kamu sebagai pengganggu," jawab Reana.


"Sungguh? Bagi suami kamu, aku adalah pengganggu," ucap Hasbi sambil menyentuh tangan Reana.


"Ternyata kalian datang ke sini juga. Kalian–"


"Ternyata begini kelakuan kalian. Aku nggak nyangka Reana. Aku pikir kamu cinta sama suami kamu, ternyata …."

__ADS_1


Alika menggelengkan kepalanya. Ucapan Alika terputus saat melihat tangan Hasbi menggenggam tangan Reana. Reana sendiri baru sadar kalau, tangannya disentuh setelah mengikuti arah pandangan mata Alika karena tepat saat Hasbi menyentuh, tepat saat itu juga Alika datang menyapa.


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2