
Reana duduk dibangku DPRD, sangat jarang melihat gadis itu duduk disitu, bahkan mungkin belum pernah. Bangku yang biasanya ramai diduduki para mahasiswa, hari ini terlihat agak sepi. Karena itulah Reana mau mampir dan merasakan duduk disitu.
Sesekali gadis itu melirik kearah mahasiswa-mahasiswa yang nongkrong disebelah sana. Tawa mereka terdengar begitu renyah. Reana tersenyum melihat tingkah laku mereka.
Tiba-tiba ponsel di ransel Reana bergetar. Gadis itu segera melihat siapa yang menelponnya. Tapi yang terpampang hanya sederetan angka-angka. Nomor kontak Itu belum terdaftar di ponselnya.
Biasanya gadis itu hanya menerima telepon dari Nico atau orang-orang dari restoran. Tapi kali ini nomor yang tak dikenalnya.
Apa mungkin salah sambung, pikir Reana dalam hati.
Meski bingung akhirnya gadis itu menerima telepon yang masuk.
"Halo, Reana" terdengar suara dari seberang.
Reana menjauhkan ponsel dari telinganya melihat kembali deretan angka yang tertera di ponsel itu.
Bukan salah sambung, tapi siapa ini ?, tanya Reana dalam hati.
Gadis itu tidak mengenali suara yang meneleponnya.
"Halo sayang, sudah lama tidak bertemu, aku merindukanmu, mau datang ke hotel ku ?" kata-kata dari seberang membuat Reana kaget.
Tangan gadis itu gemetar, ponsel yang dipegangnya terasa berat.
Tuan Malvin, itu suara tuan Malvin, bagaimana dia bisa mengetahui nomorku ? tanya Reana dalam hati, ekspresi Reana ketakutan.
Wajahnya mendadak pucat, sudah sekian lama tuan Malvin menghilang dari kehidupannya, tiba-tiba sekarang muncul lagi.
Kenapa tiba-tiba tuan Malvin menelponku, Reana melihat ke sekelilingnya.
Tuan Malvin bisa saja mengirim seseorang mengawasi, bagaimana dia bisa mendapatkan nomorku, kenapa dia kembali menghubungiku ? jerit hati Reana.
"Kenapa diam, aku sangat ingin mendengar suaramu" ucap tuan Malvin masih tersambung.
Reana tidak bisa berkata-kata, gadis itu tak tau harus berkata apa, namun dia sendiri takut memutus hubungan telepon itu.
"Baiklah kalau tidak mau bicara, bertemu langsung lebih baik, mungkin dalam waktu dekat ini" ucap tuan Malvin lalu memutus sambungan telepon.
Reana segera menyimpan ponselnya, matanya nyaris berkaca-kaca. Reana ketakutan, apalagi mengingat apa yang pernah dilakukan tuan Malvin dan pengawalnya terhadap Nico.
Reana terkaget saat seseorang menyentuh bahunya.
"Sendirian aja mbak ?" sapa Nico tiba-tiba muncul dan langsung duduk di samping Reana.
"Oh, kak Nico udah beres bimbingannya kak ?" tanya Reana sambil berusaha menenangkan diri.
"Belum, dosennya masih ada keperluan. Suka duka menyusun skripsi, harus sabar. Kadang kita udah siap, dosennya nggak ada waktu, giliran kita nyantai, dosennya nagih-nagih mulu" cerita Nico curhat sambil tersenyum.
Lalu Nico memandang mata Reana dengan lembut.
"Aku kangen sama kamu" ucap laki-laki itu pelan sambil meraih tangan Reana.
"Setiap hari aku kangen sama kamu, setiap bangun pagi aku berharap melihatmu menyiapkan sarapan pagi untukku" lanjut Nico pelan.
Reana hanya tersenyum mendengarkan.
"Abis wisuda, nikah sama aku, mau nggak?" tanya Nico ringan sambil tertawa.
Reana langsung tertawa mendengar ucapan Nico.
Cara melamar macam apa itu, batin Reana sambil tertawa.
"Nggak mau ya ? ya iyalah kamu masih kecil, kalau aku wisuda kamu baru tingkat tiga, baru semester lima" ujar Nico menghitung-hitung sendiri.
"Kalau gitu setahun setelah aku wisuda, aku kerja dulu setahun baru kita nikah?" usul baru Nico.
Reana menggeleng.
"Nggak mau juga ? kamu masih belum tamat ya ? masih semester tujuh ? aahh.. masih lama" ucap Nico sambil memandang Reana, pipi laki-laki itu bertumpu pada tangan gadis itu.
Nico membelai lembut punggung tangan Reana lalu mengecupnya. Reana kelimpungan, matanya terbelalak melihat tingkah Nico.
"Nic, get a room" teriak seorang mahasiswi yang berjalan bersama teman-temannya, berjalan didepan Nico dan Reana.
"OK.." ucap Nico tanpa mengeluarkan suara, jari telunjuk dan jempolnya membentuk bulatan.
Ketiga gadis itu langsung tertawa terbahak-bahak. Dilihat dari penampilan dan wajahnya seperti mahasiswi tingkat akhir, mungkin mereka adalah teman-teman sekelas Nico atau gadis-gadis seangkatan dengannya.
Nico memandang Reana setelah para gadis itu berlalu, Reana yang dipandang berpaling kearah lain menyembunyikan wajahnya yang merah merona. Nico tersenyum.
Tiba-tiba ponsel disaku celananya bergetar.
"Orang dari perusahaan?" ucap Nico bicara sendiri setelah melihat nama kontak yang menelpon.
Nico menerima telepon dengan sebelah tangan yang masih menggenggam tangan Reana.
"Halo, ya pak... bisa... baik pak, saya akan disana dalam dua puluh menit, ya pak... makasih pak" ucap Nico langsung menutup ponselnya.
"Aku harus ke perusahaan, kebetulan pimpinannya datang aku bisa mendapatkan tanda tangannya sekarang, kamu disini aja dulu, atau mau ikut ?" tanya Nico pada Reana terburu-buru.
Reana menggeleng.
__ADS_1
"Saya tunggu disini aja, kak Nico nanti balik lagi kan ?" tanya Reana.
"Ya lah kan mau bimbingan.., kalau gitu kamu disini dulu ya, jangan kemana-mana" ucap Nico seperti berpesan pada anak kecil.
Reana hanya tersenyum mengangguk. Baru satu langkah Nico balik lagi, dengan cepat mengecup kening Reana lalu langsung pergi. Reana langsung menundukkan kepala sambil melirik sekeliling.
Untung aja nggak ada yang liat, kak Nico ini makin biasa aja bersikap mesra didepan publik, pikir Reana sambil menutup wajahnya dengan tangannya.
Setelah merasa situasi aman, Reana kembali duduk lebih santai mengacak isi ranselnya, mencari apa yang bisa dibaca. Tapi Reana tak menemukan buku-buku bacaan, akhir-akhir ini Reana jarang meminjam buku di perpustakaan.
"Reana, hai" sapa Ardi.
Reana memandang Ardi yang baru datang dan langsung duduk disampingnya. Raut wajah Reana agak canggung, gadis itu mengenal Ardi sebagai salah seorang sahabat Nico. Tapi belum merasa akrab karena belum berkenalan.
"Saya Ardi, temen Nico" melihat kebingungan Reana.
"Ya, kak Ardi" ucap Reana baru mengingat nama teman Nico yang satu ini.
"Tadi Nico nelpon, kalau kebetulan di kampus dia minta saya nemenin kamu" ucap Ardi menyampaikan pesan dari Nico.
"Oh, maaf kak, jadi ngerepotin kak Ardi, kak Nico ini ada-ada aja" ucap Reana merasa malu akan perhatian Nico yang berlebihan.
"Nggak lah, nggak ngerepotin, kan emang kebetulan ada di kampus" jawab Ardi menenangkan Reana.
Reana tersenyum, meski tetap tidak enak hati.
"Nggak nyangka ya, kamu bisa jadian sama Nico" ucap Ardi menunjukkan keheranan.
"Maksud kak Ardi, nggak nyangka kalau gadis miskin seperti saya..."
"Bukan gitu maksudnya" ucap Ardi memutus ucapan Reana.
"Kami bersahabat sejak pertama kali menginjakkan kaki di kampus ini, tapi aku nggak pernah liat dia itu peduli sama yang namanya cewek, kenal begitu aja sih ada, tapi nggak pernah seserius sama kamu" cerita Ardi.
Reana mendengarkan cerita Ardi, hal itu membuktikan bahwa memang tidak ada gadis-gadis lain setelah Angela.
"Kadang kami mengenalkan Nico pada seorang gadis, atau bahkan menjodohkan mereka.
Tapi tanggapannya biasa aja, padahal yang kami sodorkan padanya cewek-cewek cantik yang kebetulan mau berkenalan dengannya.
Dia cuma bilang 'cantik juga', 'lumayan', 'boleh lah', tapi nggak ada satupun yang berlanjut" cerita Ardi.
Laki-laki itu mengambil air mineral dari tasnya, menawarkan Reana yang langsung menggeleng menolak, lalu Ardi meminum air mineral itu.
"Ternyata inilah hikmah kami ngambil Analisa Numerik di kelasmu" lanjut Ardi sambil tersenyum.
"Awalnya kami milih kelas itu karena banyak yang bilang kalau kelas kamu banyak cewek cantik nya" ucap Ardi sambil tertawa.
"Dan memang kan, disitu ada Rebecca dan geng nya, trus ada wakil ketua itu siapa namanya, Alika ya... juga kamu. Makanya kami pilih kelas itu, seger kalau liat cewek cantik, eh kamu tau nggak aku termasuk orang yang berdiri didepan kelas waktu itu, kalau bukan karena kamu.
Mungkin saya berdiri disana sampai pegel, saya belum mengucapkan terimakasih dengan serius he..he..he.. makasih Reana.." ucap Ardi sambil agak membungkuk tersenyum.
Reana tertawa, tidak menyangka Ardi orang yang heboh kalau bercerita, kalau menunggu bersama Ardi mungkin Reana tidak akan merasa bosan.
"Ini udah ada Ardi" tiba-tiba Dito muncul bicara dengan Rommy.
Rommy langsung duduk di samping Reana.
"Kami ditelpon Nico, dia bilang untuk nemenin kamu kalau kebetulan di kampus" ucap Rommy pada Reana.
Reana langsung memandang Ardi, mereka tersenyum bersamaan. Rommy heran begitu juga dengan Dito.
"Maaf kak Rommy, maaf kak Dito udah ngerepotin, saya jadi nggak enak hati" ucap Reana pada Rommy dan Dito bergantian.
"Nggak lah, nggak ngerepotin, kan emang kebetulan ada di kampus" jawab Rommy dan Dito serentak.
Ardi dan Reana tertawa, jawaban mereka sama persis seperti jawaban Ardi.
"Kak Rommy nyusun skripsi juga?" tanya Reana setelah tawa mereka mereda.
"Kami semua lagi nyusun, tapi yah, bikin skripsi itu gampang-gampang susah, gampang ngetiknya susah mulainya" ucap Rommy curhat.
Semua tertawa.
"Nyusun skripsi itu butuh dukungan dan penyemangat. Kami sengaja mengajukan tiga judul dengan perusahaan yang sama biar bisa kerjasama dan saling mendukung. Yah judulnya di plesetin dikit gitu lah, ya metodenya dibedain, atau judul sok Inggris gitulah, atau kalimat nya dibolak-balik, tapi hehh.. tetap aja yang di ACC, beda perusahaan, yang satu diujung sana, yang satu diujung sini, jadinya terpisah deh" Dito ikutan curhat.
Reana mendengarkan dengan serius, tapi kadang-kadang tersenyum melihat cara mereka bercerita.
"Penampilan kak Rommy terlihat berbeda, kak Rommy ganti kacamata?" tanya Reana.
"Ya, Nico yang membelikan, canggih, harganya wow, kalau saya beli sendiri, nggak mungkin deh" ucap Rommy sambil membuka kacamatanya dan memperlihatkan pada Reana.
Reana melihat kacamata yang disodorkan Rommy. Eksklusif, ringan dan tidak tebal, terlihat sangat keren dan modern.
Reana tersenyum, Nico sangat menyayangi teman-temannya. Rasa peduli yang tinggi dan perhatian diberikannya seperti pada saudara sendiri.
"Kak Rommy jadi ganteng banget kayak eksekutif muda" ucap Reana memuji Rommy.
Memandang Rommy yang kembali memasang kacamata nya. Entah mengapa Reana merasa Rommy seperti abang sendiri, mungkin karena pembawaan Rommy yang tenang, bijaksana dan mengayomi.
"Itu Nico udah balik" teriak Ardi.
__ADS_1
Serentak mereka melihat Nico yang baru datang, berjalan menuju kearah mereka. Tiba-tiba langkah Nico terhenti dan menoleh ke sampingnya. Seorang gadis berpakaian seksi mendekati Nico langsung bergelayut di lengan laki-laki itu.
Nico terlihat jengah tapi gadis itu terus bergelayut di lengannya bahkan semakin mendekat. Gadis itu terlihat berbicara sesuatu, menempelkan dua jari di bibirnya lalu menempelkan ke pipi Nico kemudian melangkah pergi.
Semua itu tak luput dari pandangan Reana, Rommy, Dito dan Ardi. Begitu sampai Nico langsung dihujani pertanyaan.
"Siapa tuh cewek, cantik banget, seksi lagi" tanya Ardi memancing Nico.
"Nggak tau, nggak kenal" sanggah Nico.
"Iiih... pura-pura nggak kenal, padahal di luar udah lengket tuh" goda Ardi lagi, Dito tertawa.
"Apaan sih" sahut Nico sambil melirik pada Reana.
"Nico selingkuh, Nico selingkuh, putusin aja Re" goda Ardi lagi.
Mata Nico melotot pada Ardi yang tak berhenti menggodanya, padahal perasaan Nico gusar memikirkan Reana.
Rommy memberi kode pada Ardi untuk menghentikan candaannya, Ardi pun patuh mengikuti, meskipun begitu, Ardi dan Dito masih saja cekikikan.
Nico menghampiri Reana dan duduk disampingnya.
"Saya berangkat sekarang kak, udah harus ke restoran" ucap Reana berdiri dari bangku padahal Nico baru saja duduk.
"Kamu udah mau pergi ? baiklah kalau gitu aku antar" ucap Nico juga ikut berdiri.
"Nggak usah kak, saya berangkat sendiri aja, kakak-kakak semua saya dulu berangkat ya, makasih udah nemenin" ucap Reana pada Rommy, Dito dan Ardi.
Melirik pada Nico sebentar lalu langsung melangkah pergi.
"Reana, ayo aku antar" ucap Nico menghadang Reana.
"Nggak usah kak, kak Nico kan baru sampai, lagian sebentar lagi mau bimbingan" ucap Reana sambil melanjutkan langkahnya.
"Wah bakal perang nih, kira-kira Reana dianterin atau nggak?" tanya Ardi pada Dito dan Rommy.
"Nggak, Reana marah, pasti nggak mau dianterin" jawab Dito.
Ardi menoleh pada Rommy, meminta jawaban.
"Dianter, pasti dianter, Nico nggak bakalan biarin Reana berangkat sendiri" jawaban dari Rommy.
"Ok.. kalau gitu gue pilih nggak dianter, Reana itu kuat pendirian, dia pasti lagi cemburu, jadi bertahan nggak mau dianter" analisa Rommy.
"Tapi gimana cara membuktikannya? siapa yang menang tau dari mana?" tanya Dito.
"Kalau Nico balik kesini, berarti nggak dianter, gitu aja bingung" jawab Rommy.
Ardi dan Dito mengangguk-angguk.
Sementara Reana masih bertahan tidak mau diantar.
"Kak, mungkin sekarang dosennya lagi nungguin kakak, kak Nico liat dulu sana, mana tau bisa bimbingan sekarang" ucap Reana masih terus melangkah.
"Aku nggak peduli, aku harus nganterin kamu" bentak Nico, membuat Reana kaget.
"Aku nggak kenal gadis itu, dia aja yang sok akrab" ucap Nico membahas kejadian tadi.
"Aku senang kamu cemburu tapi jangan berlebihan begitu" lanjut Nico.
"Hah... siapa yang cemburu ?" jawab Reana sambil melanjutkan langkahnya.
Nico menahan tangan Reana.
"Baiklah kamu nggak cemburu, tapi aku harus tetap nganterin kamu, semua ini gara-gara Ardi, selingkuh, selingkuh apa sih dia itu" kata Nico sambil melihat kearah sahabat-sahabatnya nongkrong.
"Kok malah nyalahin kak Ardi sih, dia kan cuma becanda" protes Reana pada pemikiran Nico.
"Dia itu manas-manasin kamu" ucap Nico lagi.
"Udah lah saya pergi sendiri aja" lanjut Reana.
Nico menggenggam tangan Reana, kebetulan mereka sudah sampai diparkiran, Nico membukakan pintu mobil untuknya.
"Masuk" perintah Nico pada Reana.
Tapi Reana hanya berdiri mematung.
"Kamu pikir gimana perasaanku, kalau kamu pergi sendiri seperti ini, please Reana" ucap Nico mulai melunak.
Akhirnya Reana masuk ke mobil Nico. Gadis itu memandang Nico yang berjalan ke sisi lain. Nico menghembuskan nafas panjang setelah duduk dibalik kemudi.
Reana diam tertunduk, Nico menoleh kearah Reana, mendekati gadis itu dan memasangkan safety belt untuknya. Menatap Reana yang sekarang memandang keluar jendela sambil menggigit bibirnya.
Nico langsung mendekat menggigit lembut bibir Reana. Reana kaget, lalu terdiam, membiarkan laki-laki itu menggigit lembut bibirnya berkali-kali.
Gigit aja terus bibirmu, aku tidak akan menahan diri lagi, batin Nico, menikmati manisnya bibir Reana.
Reana mengangkat tangannya, membelai lembut tengkuk laki-laki itu, membuat Nico semakin bernafsu, nafasnya memburu, dia tidak akan berhenti sampai mendapatkan rasa yang diinginkannya.
...*****...
__ADS_1