Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 117 ~ Tak Ingin Membalas ~


__ADS_3

Reana kesal, keluar dari ruangan suaminya dengan membanting pintu. Sekretaris Nico bahkan kaget, melihat Reana bisa berlaku seperti itu. Istri atasannya itu dikenalnya sebagai wanita yang sangat lembut.


Bisa bersikap kasar seperti itu tentu membuat sekretaris itu menjadi heran. Sekretaris itu hanya menoleh ke arah pintu ruangan Nico menunggu apa kira-kira imbas yang akan diterimanya. Namun, tak terjadi apa pun. Nico tak muncul dari balik pintu ruang kerjanya untuk marah, menegur atau apa pun.


Nico memang hanya diam di tempatnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Laki-laki bingung memikirkan saat bertemu dengan Reana di rumah nanti. Tak akan mudah baginya menjelaskan pada Reana alasan Rebecca bekerja di perusahaannya.


Begitu tiba di rumah, Nico langsung menemui istrinya yang sedang menatap layar laptop. Nico berusaha bersikap wajar. Menyapa istrinya dengan mengecup pipinya. Namun, Reana tak merespon. Nico tahu ini pasti tidak akan mudah.


"Apa sedang sibuk sekali? Aku ingin jelaskan semuanya," ucap Nico tetapi tatapan Reana tak beralih dari layar di hadapannya.


"Maafkan aku sayang. Aku salah. Memang seharusnya aku cerita sama kamu tapi … aku pilih tak beritahu kamu, itu juga karena aku nggak ingin nyakitin hati kamu," ucap Nico. Reana tetap diam.


"Reana tolonglah! Bicaralah padaku, sayang!" panggil Nico sambil meraih dagu Reana.


Wanita itu terusik, menepis tangan Nico dengan tatapan matanya yang tajam tetapi berkaca-kaca. Nico menatap sedih mata yang menangis itu. Nico sudah tahu ini akan terjadi tetapi tetap tak tega menatap wajah Reana yang menangis.


"Kakak tidak tahu seperti apa tatapannya padaku. Aku seperti istri yang mudah ditipu, seperti istri yang mudah dibohongi suami. Dia bangga Kakak menjadikan dia rahasia Kakak. Seperti ada sesuatu di antara kalian–"


"Apa? Ya nggak mungkinlah sayang. Rahasia apa? Sesuatu apa?" tanya Nico.


"Mana aku tahu! Yang jelas sekarang ini Kakak sudah berahasia padaku. Sudah lebih dari dua bulan Kakak merahasiakannya padaku. Kenapa? Kenapa berahasia denganku? Apa yang Kakak lakukan berdua dengannya di dalam? Apa Kakak selingkuh dengannya? Kakak ingin membuktikan kalau Kakak bisa menghamili seseorang?"


"Reana!" bentak Nico dengan tangan yang siap dilayangkan ke wajah Reana.


Reana kaget menoleh ke arah tangan Nico yang terhenti di udara. Tubuh gadis itu gemetar. Meskipun tangannya urung melayang ke wajahnya tetapi tatapan Nico sangat menakutkan bagi Reana. Nico terlihat begitu marah. Laki-laki itu beranjak dari kursi di samping Reana.


Melepas jasnya dan melempar ke lantai dengan kasar. Nico keluar dari kamar dengan membanting pintu. Lalu pergi menggunakan mobil sport milik, meninggalkan bunyi ruangan khas mobil berkecepatan tinggi.

__ADS_1


Begitu mencapai pagar laki-laki itu menginjak rem hingga menimbulkan bunyi. Pagar terbuka perlahan. Dari kaca spionnya terlihat Reana yang mengejar berdiri di teras. Wahai itu cemas saat mendengar bunyi raungan mobil suaminya. Nico tak peduli lalu kembali menginjak gas untuk melajukan mobilnya keluar dari gerbang.


Nico tak tahu kenapa dia melakukan itu. Memilih pergi dari rumah tetapi tak tahu hendak ke mana. Akhirnya memutuskan mengajak Rommy datang ke apartemennya.


"Kamu serius menginap disini? Reana pasti cemas menunggumu," ucap Rommy setelah cukup lama mendengar curahan hati Nico.


"Biarkan saja! Tega sekali dia berpikiran seperti itu padaku. Dia pikir aku laki-laki apa? Laki-laki murahan?" ucap Nico bertanya yang tak mungkin ada jawabannya.


"Tapi memang begitu rata-rata cara pikir wanita. Apalagi kalau urusannya dengan mantan pacar–"


"Siapa yang mantan pacar?" tanya Nico heran dengan pemilihan kata-kata Rommy.


"Reana tahu kalau tadinya target yang ingin kamu cium itu Rebecca tapi berubah karena karena kalian tidak bertemu. Menurut Reana, yang ingin kamu jadikan pacar adalah Rebecca–"


"Itulah dia, sok tahu! Sembarang tuduh! Dia nggak tahu bagaimana resahnya aku sejak mengetahui dia tidak bermasalah untuk memiliki keturunan–"


"Kalau dia tidak bisa hamil, aku tidak akan meninggalkannya. Tapi kalau aku yang tak bisa membuatnya hamil. Dia bisa hamil dengan laki-laki lain. Tapi aku tidak tuduh dia seperti itu," jelas Nico.


Belum saja. Kamu tidak tahu kalau kamu orangnya pencemburu, batin Rommy.


"Lalu apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Ingin beri Reana pelajaran? Aku rasa sekarang Reana sudah menyesal, kamu tak perlu lagi memberinya pelajaran. Sekarang pulanglah! Kasihan dia," ucap Rommy.


"Kamu ini ya? Selalu lebih bela dia daripada bela temanmu sendiri," ucap Nico yang tak didukung aksi protesnya dengan tidak pulang ke rumah.


Dikatakan seperti itu Rommy justru tertawa. Rommy benar-benar menyayangi Reana seperti adiknya sendiri. Lebih mudah baginya berpihak pada Reana.


"Lalu mau bagaimana? Dia istri kamu padahal, kenapa yang lebih bela dia dibanding kamu. Apa kamu tega membuat dia bersedih sendirian di rumah?" tanya Rommy.

__ADS_1


"Biar saja! Aku sudah terlanjur sakit hati. Dia menyakiti perasaanku," ucap Nico.


"Jadi kalian ingin balas-membalas sakit hati? Menurutmu lebih banyak mana yang merasakan sakit hati. Dia atau kamu?" tanya Rommy.


Nico terdiam. Sakit hati mungkin dia juga pernah rasakan tapi yang lebih banyak menangis adalah Reana. Padahal setiap kali membuat wanita itu menangis, Nico pun pasti merasakan sedih.


"Aku pulang sebentar lagi. Maaf aku sudah mengganggu istirahatmu," ucap Nico akhirnya.


"Aku nggak masalah kamu panggil kapanpun. Demi kalian, kapanpun aku dipanggil, aku akan datang tapi … kenapa tiba-tiba memutuskan untuk pulang?" tanya Rommy.


"Dia pasti sedih sekali kalau aku tidak pulang. Dia bilang boleh lakukan apa pun padanya, tapi jangan sampai aku tidak pulang ke rumah. Dulu, saat kami tinggal di apartemen ini, aku pernah tidak pulang. Aku menginap di rumah Mommy. Dia sangat sedih hingga menangis. Semua itu terjadi karena dia yang tak jujur padaku. Sekarang … giliran aku yang tak jujur padanya, tetap saja dia yang akan menangis," tutur Nico.


Rommy mengangguk. Laki-laki itu bersyukur, meski Nico dalam keadaan marah dan kesal pada ucapan Reana. Namun, tetap saja tak ingin membuat wanita itu bersedih menangis apalagi menangis.


"Ngomong-ngomong kamu jadi mengajukan kontrak kerjasama dengan perusahaan kami? tanya Rommy.


"Tentu, aku akan siapkan segala sesuatunya. Kita adakan pertemuan dengan pimpinan secepatnya," jawab Nico.


"Baiklah! Aku tunggu! Kapan kamu siap hubungi saja aku," jawab Rommy.


"Baiklah! Tapi pimpinan itu orang yang bisa diajak kerjasama kan?" tanya Nico.


"Tenang! Dia orangnya sangat baik. Aku dengar putranya yang akan menggantikannya itu juga baik, jadi tak akan ada masalah," ucap Rommy.


Nico mengangguk, Rommy pun pamit pulang. Nico termenung duduk sendiri. Saat itu rasanya begitu sepi. Nico kembali melihat kilasan-kilasan kenangannya bersama Reana di apartemen itu. Mengingat itu Nico merasa begitu rindu pada istrinya. Segera laki-laki itu pulang untuk melepas rindunya pada wanita yang dicintainya itu.


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...

__ADS_1


__ADS_2