
Nico berhasil mengejar Reana. Dengan segala cara meyakinkan gadis itu kalau dia tidak sungguh-sungguh, sangat menyesal dan ingin meminta maaf. Nico tak peduli Reana akan percaya pada ucapannya atau tidak. Namun, dia bertekad memenuhi janjinya. Laki-laki itu sadar, dalam setiap punya masalahnya masing-masing.
Nico ingin setiap kali masalah yang datang mengguncang rumah tangga mereka, Nico akan mencoba berpegang teguh pada ucapannya yaitu akan tetap mencintai Reana dan hanya Reana yang akan menjadi istrinya. Sebuah kata-kata indah, tetapi sulit dipercayai oleh Reana. Gadis itu merasa jurang pemisah antara mereka terlalu dalam dan itu akan selalu menjadi pangkal dasar masalah dalam rumah tangga mereka.
Sementara bagi Nico, perbedaan yang ada di antara mereka justru menjadi ujian yang bisa memperkuat cinta mereka. Satu persatu akan dijalani, dikalahkan dan dilewati. Nico akan berjuang mengejar Reana lalu membujuknya untuk kembali.
"Tapi jika Kak Nico melihat itu lagi, Kak Nico akan membenciku lagi," ucap Reana tak yakin mereka bisa mengatasi masalah kali ini.
"Tanda itu akan hilang sayang. Aku juga bisa membuatnya tapi tanda yang di sini, itu tak akan pernah hilang. Itu akan selalu mengingatkanku pada pengorbananmu. Rasa sedih karena melihat tanda ciuman di tubuh istriku akan aku usir dari ingatanku dengan melihat tanda di sini," ucap Nico sambil menunjuk bekas tembakan yang yang diarahkan untuknya tapi di hadang oleh Reana.
"Kata-kata yang sok romantis tapi salah," ucap Reana sambil menahan senyum.
"Apanya yang salah?" tanya Nico tak percaya.
"Bukan di situ," ucap Reana menunjuk sambil menahan senyum.
"Iya di sini, aku yakin sekali, di sebelah sini," ucap Nico ngotot.
"Ih bukan lho," ucap Reana masih saja menahan senyum.
"Iya aku yakin. Kalau begitu buka! Aku ingin lihat. Aku yakin pasti di sebelah sini," ucap Nico.
"Nggak!" ucap Reana sambil berlari.
Nico tersenyum lalu mengejar Reana. Merebut tasnya dan menggenggam tangan gadis itu. Nico melangkah sambil menatap wajah istrinya.
"Awas lobang!" seru Reana dan langsung berlari.
Nico kaget. Menghentikan langkahnya sementara Reana langsung berlari. Kesal karena dikerjai, laki-laki itu langsung mengejar istrinya yang berlari sambil tertawa itu. Memanggul tas Reana di belakang punggungnya sambil terus mengejar.
"Kamu ini benar-benar tak menghargai pengorbananku mengejarmu," ucap Nico terengah-engah.
"Apa? Pengorbanan apa?" tanya Reana.
"Apa kamu tidak liat? Aku ini berlari mengejarmu, kalau dulu aku mengejarmu pakai mobil. Sekarang dengan kaki, bayangkan bagaimana capeknya aku. Habis ini kamu harus pijit kakiku," ucap Nico.
"Oh terus, gimana dengan pengorbananku? Kalau dulu aku dijemput pakai mobil sekarang cuma pakai kaki. Habis pijit kaki Kakak, Kakak harus pijit kaki aku," ucap Reana sambil tersenyum.
__ADS_1
"Oh ya ampun sekarang sudah bisa mendebat orang ya. Kalau dulu cuma bisa diam, jalan menunduk, sekarang sudah bisa melawan ucapan orang. Baiklah putri Reana nanti akan hamba pijit," ucap Nico sambil sedikit membungkuk hormat.
"Salah! Bukan putri Reana tapi Reana Putri, itu namaku," ucap Reana memperbaiki.
"Aku tahu. Bodohnya aku malah bertanya siapa kamu pada teman-temanku. Begitu terpesonanya aku saat melihatmu mengerjakan soal itu di papan tulis–"
"Aku tahu Kakak terpana padaku, Kakak berkali-kali menatapku–"
"Apa? Bukannya kamu yang selalu lirik-lirik padaku?" tanya Nico.
"Aku? Aku nggak lirik-lirik? Cuma merasa lucu aja, ada cowok ganteng duduknya gelisah. Aku langsung yakin, pasti cowok itu nggak bisa ngerjain soal. Tapi malu kalau disuruh maju. Aku jadi kasihan, akhirnya aku maju untuk menyelamatkan cowok itu. Kasihan nanti popularitasnya bisa merosot–"
"Benarkah? Kamu maju demi aku?"
"Nggak!" ucap Reana langsung tertawa.
Lagi-lagi Nico kesal karena dikerjai. Laki-laki itu langsung memeluk dan mencium bahkan menggigit bibir Reana saking gemasnya. Reana menjerit, Nico panik, laki-laki itu lupa kalau bibir Reana sedang terluka.
"Ini … bekas gigitan Tn. Malvin?" tanya Nico.
"Bukan! Ini karena tamparan," jawab Reana.
Reana mengangguk. Nico merasa terenyuh. Laki-laki itu langsung melepas tas Reana lalu memeluk istrinya. Nico merasa menyesal mendengar kejadian itu.
"Apa tidak sebaiknya kita menuntutnya?" tanya Nico.
"Tidak usah Kak, aku tidak mau lagi berurusan dengannya. Seperti pisau bermata dua. Jika dibiarkan rasanya tak rela, jika dituntut akan timbul masalah. Aku juga kasihan padanya–"
"Kamu … tidak mulai menyukainya 'kan?" tanya Nico. Mendengar itu Reana tersenyum.
"Kalau aku menyukainya justru akan lebih mudah. Aku akan menerima cintanya tapi … masalahnya aku tak bisa menyukai siapa pun selain cowok keren yang terpesona padaku dan langsung jatuh cinta padaku pada pandangan pertama–"
"Itu bukan pandangan pertama. Itu sudah kesekian kalinya," sanggah Nico.
"Oh akhirnya mengaku juga kalau sudah memandangku berkali-kali," ucap Reana dan langsung tertawa.
Nico ikut tertawa. Reana berhasil memancingnya. Laki-laki itu semakin gemas pada Reana. Saat tiba di apartemen, Nico langsung meminta Reana duduk di sofa lalu memijat kaki gadis yang dicintainya itu.
__ADS_1
"Bukannya kaki Kakak dulu yang minta pijit? Setelah pijit Kakak baru giliran aku? Lagi pula aku sudah biasa jalan kaki," ucap Reana. Nico menggelengkan kepalanya.
"Kamu pijit yang lain aja," ucap Nico lalu tersenyum.
Reana mengerutkan dahinya, Nico tertawa. Laki-laki itu mendekatkan wajahnya pada istrinya. Membuat Reana mundur hingga akhirnya rebah di sofa itu.
"Mungkin aku bau keringat karena habis berlari, tapi saat ini aku sangat ingin memelukmu," bisik Nico.
"Jangan khawatir, aku suka keringat Kakak," jawab Reana.
Nico kembali tertawa, Reana telah jauh berubah dibandingkan Reana yang tadi mereka bicarakan. Gadis introver itu sudah tak ada lagi. Sekarang Reana telah berani mengungkapkan isi hatinya. Apa yang dipikirkan di otaknya. Apa yang terlintas di benaknya.
"Kenapa Kakak tertawa?" tanya Reana.
"Karena kamu telah berani mengungkapkan isi hatimu. Kamu tak lagi suka memendam apa yang ada dipikiranmu," ucap Nico.
"Tidak juga. Tetap masih ada yang aku pendam," ucap Reana pelan.
"Apa itu?" tanya Nico ingin tahu.
Reana malah memilih bangkit dari sofa. Namun Nico menahannya. Laki-laki bahkan mengurung Reana di bawahnya. Nico penasaran apalagi jika berhubungan dengan Tn. Malvin.
"Apa itu? Kamu adalah istriku. Kamu tak boleh menyimpan rahasia dariku," desak Nico semakin penasaran.
"Sebenarnya aku …."
"Apa?"
"Aku cemburu," ucap Reana.
"Cemburu? Pada siapa?" tanya Nico heran.
"Itu … yang menelpon Kakak waktu itu," ucap Reana lalu mengalihkan pandangannya ke bawah.
"Shafira? Ya ampun kamu cemburu pada Shafira? Memangnya kamu mengenalnya?" tanya Nico.
Reana menggelengkan kepalanya. Nico tersenyum, ada rasa hangat menjalar di dadanya. Bahagia karena Reana yang memiliki rasa cemburu. Sebuah sinyal kalau Reana juga takut kehilangannya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...