
Nico yang bermalam di rumah Reana di kampung halamannya, ingin ikut menemani sang ibu mertua berjualan di kantin sekolah. Bu Ridha Lia merasa tak enak hati, tetapi justru Nico yang merasa tak enak hati. Kedatangannya ke rumah itu membuat istrinya tak bisa membantu ibunya.
Tak ingin hanya berdiam diri di rumah berdua dengan istrinya. Nico dengan alasan ingin mencari pengalaman ikut ibu mertuanya berjualan di kantin sekolah. Bu Ridha akhirnya mengizinkan menantunya itu ikut berjualan walau merasa tak enak hati, seorang yang berasal dari keluarga kaya, mau menemaninya berjualan.
Bersama-sama mereka memutuskan berangkat ke sekolah. Namun, baru saja keluar dari rumah, Yose muncul di hadapan mereka. Saat melihat Reana yang bergandengan tangan dengan Nico. Yose langsung tahu kalau laki-laki di hadapannya itu adalah suami Reana.
"Oh Kak Yose datang juga?" tanya Reana langsung.
"Bukannya aku datang tiap hari?" ucap Yose balik bertanya.
"Oh ya tapi aku pikir hari Kak Yose nggak mau ikut," ucap Reana.
"Karena udah ada suamimu, kamu berharap aku tidak datang lagi?" tanya Yose.
"Bukan begitu Kak. Oh ya kenalkan ini Kak Nico, suamiku," ucap Reana mengenalkan suaminya.
__ADS_1
Nico mengulurkan tangan untuk menyalami Yose. Kedua laki-laki itu saling bertatapan, menyebutkan nama dan tersenyum. Nico segera mengajak istrinya berangkat ke sekolah. Reana tersenyum tak enak hati pada Yose.
"Kak Yose nggak mau ikut?" tanya Reana yang merasa tak enak hati.
Nico langsung menatap heran istrinya. Nico tidak tahu, Reana merasa tak enak hati tiba-tiba mengabaikan Yose setelah selama ini selalu datang membantu ibunya bahkan di saat dirinya kembali ke kota.
"Seperti tidak untuk hari ini. Terlalu banyak karyawan, aku takut nanti bukannya membantu malah merecoki. Kalau begitu aku pulang dulu ya," ucap Yose.
"Baiklah, istirahat di rumah ya kak," jawab Reana mengingatkan.
"Mari Nico," ucap Yose mengangguk lalu pamit pada suami Reana.
"Kamu perhatian sekali padanya," ucap Nico dengan raut wajah kesal.
"Bukan begitu, aku cuma merasa nggak enak hati. Setiap hari datang membantu kami. Tiba-tiba dia seperti didepak begitu saja setelah Kak Nico ikut membantu ibu," jelas Reana.
__ADS_1
"Tiap hari? Apa tujuannya membantumu tiap hari?" tanya Nico.
"Dia bukan membantuku, dia bantu Mama. Saat aku tak di sini pun dia selalu datang untuk mengantar mama berjualan, dia–"
"Jangan bohong!" ucap Nico dengan nada sedikit membentak.
Reana tertunduk. Nico melangkah menuju mobilnya lalu duduk di belakang kemudi. Bu Ridha Lia yang sempat mendengar pembicaraan mereka, mengusap lengan putrinya.
Jika tidak percaya padaku, kenapa menikahiku, batin Reana memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan bulir bening di matanya.
"Kamu di rumah saja bersama Nico. Biar Mama saja yang pergi," ucap Ridha Lia.
Reana menggelengkan kepalanya. Reana tak mungkin lakukan itu. Tak mungkin Reana tidak membantu ibunya saat suaminya ada di sisinya. Wanita itu segera melangkah ke samping mobil Nico lalu mengetuk kaca mobil di samping laki-laki itu.
"Kami pergi dulu ya Kak," ucap Reana pamit lalu melangkah berjalan kaki tanpa menunggu jawaban suaminya.
__ADS_1
Nico terkejut. Tak menyangka Reana akan berlalu meninggalkannya di mobil. Wanita itu rela menenteng bawaan sebanyak itu dengan berjalan kaki. Nico tak menyangka Reana menolak di antarkan olehnya dan memilih berjalan kaki.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...