Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 39 ~ Persiapan ~


__ADS_3

Reana memandang kosong keluar jendela kaca mobil. Hari ini adalah hari yang paling menyedihkan yang pernah Reana rasakan setelah kehilangan papanya.


Memberitahukan perihal pernikahannya dengan tuan Malvin adalah pernyataan yang paling kejam yang pernah Reana ucapkan pada Nico. Sesungguhnya itu adalah pernyataan yang kejam bagi mereka berdua.


Karena mulai hari ini mereka harus mengubur impian mereka untuk bahagia bersama. Reana merasa dia takkan pernah merasakan kebahagiaan lagi.


"Sudah sampai nona" ucap pengawal membuyarkan lamunan Reana.


Reana telah sampai di depan restoran namun gadis itu tak menyadarinya. Reana turun dari mobil mewah tuan Malvin dan melangkah memasuki restoran.


Nella yang berdiri di balik pintu kaca tak lagi merasa bersemangat saat melihat mobil mewah itu datang. Yang dia tau sekarang mobil itu adalah milik seseorang yang akan memenjarakan Reana kedalam kehidupan yang menyedihkan.


Terlihat dari ekspresi Reana yang tak menunjukkan sedikitpun kebahagiaan meski dia turun dari mobil yang tak semua orang bisa mencicipi kenyamanannya.


Nella membukakan pintu untuk Reana, wajah mereka terlihat murung, meski Reana tersenyum namun matanya berkaca-kaca. Begitu juga Nella yang tak bisa tidur mengkhawatirkan Reana.


Nella memeluk Reana sangat erat, seperti itu adalah pelukan terakhir mereka. Reana merasa sikap Nella sedikit aneh, namun Reana menganggap Nella begitu karena merasa kasihan padanya.


"Kakak diminta menemui pak Gunawan" ucap Nella kemudian.


"Ada apa Nell ? kenapa pak Gunawan manggil kakak? " tanya Reana khawatir.


"Nanti kakak akan tau sendiri" ucap Nella murung.


Reana segera mencari pak Gunawan, gadis itu melihat pak Gunawan yang sedang memberi arahan pada bawahannya. Saat Reana datang, pak Gunawan langsung mengajak Reana masuk ke kantornya.


"Ini surat pengalaman kerjamu" ucap pak Gunawan sambil memberikan selembar kertas.


"A-Apa ini pak, apa saya dipecat ?" tanya Reana terbata-bata tak menyangka hal ini bisa menimpanya.


"Tuan Malvin meminta kami untuk tidak lagi mempekerjakanmu, kami dengar sebentar lagi kalian akan menikah" ucap pak Gunawan sambil tersenyum kecut.


Pak Gunawan berdiri diantara rasa senang dan sedih. Senang mendengar Reana akan menikah dan menemukan pendamping hidup yang bisa menjamin masa depannya.


Namun juga merasa sedih karena Reana masih begitu muda untuk menjalani kehidupan pernikahan. Pak Gunawan juga sangat mengerti Reana adalah pekerja keras dan memiliki cita-cita yang tinggi.


Manager Restoran itu menilai Reana adalah gadis mandiri yang lebih senang mengandalkan dirinya sendiri dibandingkan bergantung pada suami yang kaya raya.


Reana mengambil kertas itu dengan tangannya yang gemetar, air matanya berlinang. Reana langsung pergi meninggalkan restoran sementara Nella hanya bisa menatap kepergian Reana dengan perasaan sedih.


Nella sangat mengerti penderitaan Reana tapi tak bisa mengungkapkannya pada siapapun.


Reana melihat para pengawal yang masih menunggu. Mungkin itu adalah perintah tuan Malvin, Reana akan langsung pulang karena sudah tidak bekerja lagi di restoran.


"Tolong antarkan saya menemui tuan Malvin" ucap Reana sambil menghapus air matanya dengan kasar.


"Tapi nona, kami disuruh untuk membawa nona pulang" jawab salah seorang pengawal.


"Tolong antarkan saya menemui tuan Malvin" ujar Reana untuk kedua kalinya dengan suara yang lebih keras.


Seorang pengawal langsung menelpon tuan Malvin untuk menanyakan posisinya dan meminta izin bertemu. Reana mengamati pengawal yang sedang menelpon, gadis itu tak sabar ingin mengetahui jawaban tuan Malvin.


Pengawal itu mengangguk, pengawal yang lainnya membukakan pintu mobil untuk Reana. Mereka melaju ke sebuah gedung perkantoran yang sangat megah


Gedung 10 lantai dengan konsep cantik yang futuristik ini memiliki perpaduan arsitektur modern dan alami dengan ornamen jendela kaca yang sangat cantik.


Berpadu dengan lingkungan taman dan sungai, membuat bangunan ini tampak indah dan bisa dinikmati di tengah hiruk pikuk kota sepanjang waktu.


Gedung inilah yang dijadikan tuan Malvin sebagai pusat aktivitas perusahaannya dalam menjalankan semua bisnis-bisnisnya.


Reana mengetuk pintu ruang kerja tuan Malvin tiga kali lalu membuka dengan tergesa-gesa. Reana terpaku tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tuan Malvin duduk dimeja kerja sementara seorang gadis cantik memeluknya dari belakang.


"Oh... maaf, aku sudah mengganggu seorang pria yang berkata ingin melepaskan semua gadis-gadisnya" ucap Reana sakartis.


Setelah tersadar dengan tujuannya mencari tuan Malvin.


"Reana" ucap tuan Malvin sedikit terkejut dengan ucapan Reana.


"Aku perlu waktu untuk itu" lanjut tuan Malvin.


Gadis yang tadinya menempel pada tuan Malvin bergerak mundur, matanya menatap Reana. Sepertinya juga kaget dengan ucapan Reana barusan.


"Baiklah, gunakan waktumu setahun, dua tahun, sepuluh tahun, terserah, aku tidak peduli, aku datang kesini untuk menanyakan ini? " ucap Reana sambil mengacungkan surat pengalaman kerjanya.


Tuan Malvin meminta gadis cantik itu keluar dari ruangan. Gadis cantik itu melangkah keluar sambil memandang Reana. Reana tak habis pikir apa keperluan gadis-gadis seperti itu datang ke sebuah kantor.


Mungkin meminta tambahan uang atau memang ingin mendekati tuan Malvin. Reana tidak mau memikirkannya, tujuan Reana ke kantor ini hanya ingin tuan Malvin menarik kembali permintaannya pada restoran untuk mengeluarkan Reana dari pekerjaan.


Apa haknya, melarangku bekerja ? batin Reana.

__ADS_1


Meskipun nanti tuan Malvin berstatus suaminya, secara hukum, suami tidak berhak meminta perusahaan untuk tidak mempekerjakan istrinya, meski sang istri bekerja tanpa persetujuan suami.


Tuan Malvin bangkit dari tempat duduknya, berjalan mendekati Reana. Gadis itu justru mundur tak ingin terlalu dekat dengan tuan Malvin.


"Kamu ini calon istri seorang pengusaha sukses.


Kamu tidak perlu bekerja, aku akan memenuhi semua kebutuhanmu.


Lagi pula, jika kamu ingin bekerja, kamu bisa bekerja di salah satu perusahaanku.


Kamu tidak perlu menjadi seorang pelayan, aku tidak suka istriku melayani orang lain" ucap tuan Malvin tegas mengungkapkan semua alasan-alasannya.


"Apa tuan tau ? ruang tempatku bernafas semakin sempit. Aku tidak bisa bernafas di kampus, aku tidak bisa bernafas di rumahmu dan sekarang tuan ingin melarangku ketempat dimana aku bisa sedikit bernafas lega" curhat Reana.


"Apa tuan ingin membunuhku?" tanya Reana.


Tuan Malvin menatap Reana, diam. Tuan Malvin kehabisan kata-kata. Tuan Malvin tau bagaimana rasanya tercekik tak bisa bernafas saat dada terasa sesak terhimpit oleh beban masalah.


Tuan Malvin kembali duduk di kursi kerjanya. Dia benar-benar tak ingin melihat Reana kembali ke restoran itu lagi. Tapi dia juga tak ingin Reana merasa terkekang. Dia ingin Reana bahagia, dan dia ingin menjadi satu-satunya orang yang bisa membahagiakan gadis itu.


Reana menunggu jawaban tuan Malvin. Gadis itu tidak ingin berhenti bekerja, dia ingin memiliki penghasilannya sendiri. Reana tak ingin bergantung pada siapapun apalagi pada tuan Malvin.


"Baiklah, kamu boleh kembali bekerja tapi tidak sekarang. Setelah prosesi pernikahan selesai, hal yang biasa cuti menjelang pernikahan.


Saat ini semua orang sibuk mempersiapkannya, kita tidak boleh menghambat pekerjaan mereka, aku bahkan harus melakukan reschedule urusan pekerjaanku" jelas tuan Malvin.


"Salah tuan sendiri, kenapa begitu cepat menetapkan tanggal pernikahan" ucap Reana menyalahkan.


"Apa ? salahku ? semua itu salahmu" ucap tuan Malvin kembali berdiri dihadapan Reana.


"Kenapa bisa menjadi salahku ? aku tidak punya kekuasaan untuk menentukan tanggal apapun ? ucap Reana dengan wajah heran.


"Jika kamu tidak berciuman dengannya pagi itu, aku tidak akan buru-buru menetapkan tanggal pernikahan.


Kamu telah setuju menikah denganku, artinya kamu telah menjadi tunanganku, tapi kamu malah berciuman dengan laki-laki itu.


Jika itu terjadi padamu, apa yang akan kamu lakukan ? kamu pasti akan melakukan hal yang sama" ucap tuan Malvin sambil menatap mata Reana.


Reana menunduk, menghindar dari tatapan tuan Malvin. Hari itu Reana telah setuju menikah dengan tuan Malvin. Tapi keesokan harinya, Reana melihat Nico sedang menunggunya. Laki-laki yang telah diabaikannya karena sebuah kesalahpahaman.


Menerima lamaran seseorang tapi berciuman dengan laki-laki lain. Reana juga merasa itu perbuatan yang salah, tapi Reana tak bisa menolak Nico.


Kelakuan Reana membuat tuan Malvin kesal dan memutuskan tanggal pernikahan dengan tergesa-gesa.


Reana tertunduk, merasa bersalah, gadis itu pasrah dengan ketetapan tuan Malvin.


Apapun yang di perintahkan tuan Malvin Reana mengikuti, meski setiap kali ditanya pendapatnya, Reana cuma menjawab dengan kata 'terserah' atau 'apa aja boleh.


Tak ada ekspresi bahagia yang terpancar di wajah Reana, saat menjalani tahap demi tahap persiapan pernikahan, seperti fitting gaun pengantin, pengambilan foto prewedding dan juga saat melakukan serangkaian perawatan pranikah.


Reana justru terbayang saat Nico mengajaknya ke salon mewah waktu itu. Meski saat itu Reana merasa heran dan bertanya-tanya untuk apa Nico melakukannya. Tapi Reana menikmati semua perawatan dengan hati yang tenang.


Berbeda dengan saat Reana melakukan perawatan kali ini. Ekspresi Reana sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan seorang calon pengantin. Para terapis dibuat heran dengan sikap Reana yang lebih banyak melamun


Saat pengambilan foto prewedding, fotografer dibuat kesulitan dengan ekspresi Reana yang sulit menunjukkan wajah bahagia. Sekedar mendapatkan senyum tulus gadis itu, fotografer menghabiskan banyak waktu.


Meskipun Reana sudah berusaha, tapi senyum terbaik yang bisa dilakukannya adalah senyum yang terpaksa.


Tuan Malvin bukannya tak menyadari hal itu. Baginya prosesi pernikahan ini tidaklah penting, yang terpenting baginya adalah akad nikah yang menyatakan Reana resmi menjadi istrinya.


Namun reputasi tuan Malvin yang bukan orang sembarangan menuntut laki-laki itu harus melakukan semua yang terbaik. Dan yang sibuk mengurus semua itu adalah para bawahannya.


Mereka harus memilih wedding organizer yang terbaik, untuk membantu memudahkan perencanaan dan pengaturan semua kebutuhan yang terkait dengan penyelenggaraan sebuah pesta pernikahan.


Ditambah lagi pesta pernikahan ini diadakan dalam waktu yang sangat dekat. Sebagian penyelenggara kocar kacir menyiapkan apa yang menjadi tanggung jawab mereka hingga terpaksa lembur mengerjakan segala sesuatu agar terlihat sempurna.


Tentu saja tuan Malvin menjanjikan penghargaan atas kerja keras dan usaha mereka untuk mendapatkan hasil yang terbaik.


Padahal tanpa itupun mereka akan melakukan yang terbaik untuk puncak pimpinan itu. Karena tuan Malvin terkenal dermawan pada semua bawahannya, sehingga mereka akan ikhlas melakukan yang terbaik baginya apalagi untuk sebuah acara yang sakral seperti pernikahan ini.


"Apa sangat lelah?" tanya tuan Malvin saat mengunjungi Reana yang baru saja selesai melakukan mineral springs spa.


Tuan Malvin menatap gadis yang terlihat murung itu, gadis itu hanya tertunduk tak membalas pertanyaan tuan Malvin. Melakukan semua persiapan pernikahan dalam waktu sekejap tentu saja sangat melelahkan.


Reana merapikan kimono handuk yang dikenakannya, meminum moccacino dihadapannya. Semua itu tak luput dari pandangan tuan Malvin. Gadis itu masih cantik meski terlihat lelah dan murung.


Tuan Malvin tak bosan-bosan memandang gadis yang akan segera menjadi istrinya itu.


"Bersabarlah, setelah semua ini berakhir kita pergi beristirahat, berlibur kemanapun kamu mau" ucap tuan Malvin menghibur Reana.

__ADS_1


Laki-laki itu meraih tangan Reana, mengusap punggung tangan gadis itu dengan lembut. Mengecup buku jarinya, semua yang dilakukan tuan Malvin menunjukkan rasa hormat dan sayangnya pada Reana.


Gadis mana yang tak bertekuk lutut dihadapan tuan Malvin. Mendapat perhatian dan perlakuan lembut dari seorang laki-laki kaya yang tampan adalah impian semua perempuan.


Semua yang dilakukan tuan Malvin adalah usahanya untuk mencoba memasuki hati Reana. Meski hati Reana telah terisi penuh dengan nama Nico, tuan Malvin tak peduli, dia akan mencoba menghapusnya satu persatu.


Tak peduli berapa lama, setahun, dua tahun, sepuluh tahun atau selamanya, tuan Malvin akan mencoba menguasai hati Reana, mengukir namanya sedikit demi sedikit dalam hati gadis itu.


Reana menarik tangannya dari genggaman tuan Malvin. Gadis itu menunduk tak mau memandang wajah tampan dihadapannya. Tuan Malvin tersenyum.


"Malam ini cobalah tidur yang nyenyak, besok kita harus menghadiri konferensi pers" ucap tuan Malvin sambil bersandar santai pada kursinya.


"Konferensi pers, untuk apa ?" tanya Reana panik.


"Untuk memberi informasi yang valid tentang isu yang sedang ramai di masyarakat, tentang kebijakan dan performa perusahaanku" jelas tuan Malvin.


"Lalu apa hubungannya denganku, kenapa aku harus ikut ?" tanya Reana sedikit lega karena merasa tak perlu ikut dalam konferensi pers itu.


"Karena aku juga akan mengumumkan pernikahan kita, mereka pasti ingin mengenal calon istriku" jelas tuan Malvin.


"Tidak perlu, mereka tidak perlu mengenalku, aku bukan orang yang biasa tampil di depan umum, cukup tuan saja" jawab Reana sambil berdiri dari kursinya dan berlalu dari hadapan tuan Malvin.


Tuan Malvin hanya menghela nafas.


Mungkin aku harus membujuknya nanti, pikir tuan Malvin.


Mobil tuan Malvin melaju menuju kediamannya setelah menjemput Reana dari sebuah klinik kecantikan. Sepanjang jalan Reana hanya diam, sementara tuan Malvin hanya tersenyum melirik gadis itu.


Reana risih diperlakukan seperti itu, gadis itu membuang muka, menatap keluar jendela kaca. Tuan Malvin meraih tangan Reana meletakkannya di dada laki-laki tampan itu. Tuan Malvin tersenyum menggoda Reana.


Reana menarik tangannya, berusaha melepaskan dari genggaman tuan Malvin. Yang dilakukan tuan Malvin justru mengingatkannya pada Nico.


Bayangan laki-laki itu kembali muncul. Tidak, bayangan Nico selalu muncul, setiap saat, setiap detik. Kenangan bahagia bersama Nico berubah menjadi kenangan yang menyiksa. Perlakuan lembut tuan Malvin tak mampu membuat Reana melupakan laki-laki itu.


Karena persiapan pernikahan Reana tak dapat menjalani hari-harinya seperti biasa, Reana terpaksa absen kuliah dan cuti bekerja. Akses menuju dua tempat itu sudah terputus, satu-satunya tempat yang menjadi tumpuannya sekarang hanyalah kamar.


Seperti malam ini, setelah menyantap makan malamnya, Reana pamit ke kamar, dia ingin berkurung di kamarnya. Tak ingin menjadi kebiasaan gadis itu, tuan Malvin berdiri meraih tangan Reana dan mengajaknya keluar.


"Kita cari udara segar" ucapnya sambil tersenyum.


Tuan Malvin mengajak Reana berjalan di pinggir kolam renang, sambil memandang langit yang penuh bintang. Menggenggam erat tangan Reana, untuk menunjukkan rasa sayangnya.


Meski hening tanpa kata-kata, senyum di wajah laki-laki itu sudah cukup untuk menggambarkan suasana hatinya yang bahagia.


Tuan Malvin mengajak Reana duduk di sebuah kursi panjang, yang biasa digunakannya saat ingin bersantai di tepi kolam renang.


Kursi itu juga biasa menjadi tempat berjemur tuan Malvin di pagi hari, setelah sebelumnya kembali dari perjalanan bisnis yang melelahkan. Meninggalkan sejenak urusan kantor dan melakukan me time dengan duduk bersantai di kursi panjang yang nyaman.


Dimalam hari kursi santai ini dimanfaatkannya untuk memandang bintang-bintang. Tuan Malvin bisa melakukannya selama berjam-jam hingga ia tertidur.


"Aku ingin kamu menghadiri konferensi pers itu, aku tak ingin isu baru muncul karena ketidak hadiranmu" ucap tuan Malvin setelah diam beberapa menit menikmati langit malam.


"Isu ? isu apa yang muncul dari orang sepertiku" tanya Reana sambil matanya lurus memandang langit.


Tuan Malvin menoleh, laki-laki itu terpesona menatap gadis cantik yang sedang rebah memandang langit. Rasanya laki-laki itu ingin menghampirinya, duduk disampingnya, mengecup bibirnya.


Andai itu bisa kulakukan, batin tuan Malvin.


Tuan Malvin segera menghapus khayalan itu, nekat melakukan itu hanya akan membuat hati Reana semakin menjauh dan gadis itu akan semakin membencinya.


"Mereka penasaran gadis seperti apa yang ingin kunikahi, mereka menyimpulkan sendiri alasan-alasannya. Sebagian besar adalah alasan yang buruk, isu-isu seperti itu lebih cepat tersebar dan bisa mempengaruhi reputasiku" curhat tuan Malvin.


"Alasan seperti apa? " ucap Reana menoleh pada tuan Malvin.


"Aku menikahimu karena terlanjur hamil" ucapnya lagi.


Reana menghembuskan nafas panjang, gadis miskin sepertinya bisa dinikahi laki-laki kaya pastilah karena alasan itu. Bahkan bu Yati pun berpikiran sama.


"Kamu hanya perlu hadir disitu, kamu tidak harus mengatakan apapun. Aku yang akan bicara pada mereka" bujuk tuan Malvin.


Reana masih diam, tuan Malvin duduk dari posisi rebahnya. Laki-laki itu memandang gadis dihadapannya, menunggu jawaban yang diinginkannya. Tuan Malvin berharap gadis itu menyetujui.


Setelah berpikir sesaat akhirnya Reana menyetujui. Reana memastikan tuan Malvin yang akan menjawab semua pertanyaan dari pers.


Dan tentu saja tuan Malvin menyetujuinya, karena dia tidak ingin terjadi kesalahan. Sedikit saja salah memilih kata-kata reputasi dirinya dan perusahaan menjadi taruhannya.


...*****...


.

__ADS_1


__ADS_2