
Reana meneliti satu persatu kertas-kertas yang menempel di papan pengumuman. Segala macam informasi ada disitu. Lomba-lomba, karya tulis, seminar, bahkan lowongan pekerjaan.
Tapi ada satu pengumuman yang selalu membuat gadis itu menghembuskan nafas berat. Daftar penerima beasiswa, pengumuman satu ini selalu membuatnya iri.
Coba namaku ada disitu, Hu-uh persaingan mendapat beasiswa sangat ketat, bagaimana cara mereka belajar ? bagaimana mereka bisa mendapatkan IPK sebesar itu ?
Apa aku kurang rajin belajar ? atau kapasitas otakku yang kecil ? batin Reana sambil memukul-mukul keningnya sendiri.
Reana kaget, tiba-tiba tangannya diraih dan digenggam seseorang. Tangan Reana ditarik dan ditaruh dibalik punggungnya. Tubuh gadis itu tertarik mendekat, saat melihat orang yang berani melakukan itu, Reana tersenyum.
"Kenapa memukul kening sendiri, merasa tidak cerdas ?" tanya Nico sambil memperhatikan daftar penerima beasiswa yang sedari tadi dilihat Reana.
Reana tersenyum malu.
Bahkan kak Nico bisa menebak isi kepalaku, batin Reana.
Nico beralih memandang Reana.
"Jangan terlalu memaksakan diri, nanti kamu kelelahan dan jatuh sakit. Mereka orang-orang yang fokus pada kuliahnya, sementara kamu, harus bekerja sambil kuliah"
Reana mengangguk mengerti.
"Kakak udah selesai kuliahnya?" tanya Reana.
Nico mengangguk.
"Mmm, kamu mau pulang dulu atau menunggu di kampus?" tanya Nico memberi pilihan, jika Reana ingin pulang laki-laki itu siap mengantarnya.
Tentu saja Reana memilih menunggu jam kerjanya di kampus, gadis ini sama sekali tidak ingin merepotkan Nico yang harus bolak balik mengantar ke tempat kost dan menjemputnya lagi saat masuk kerja di restoran nanti.
"Tunggu di kampus aja, buat apa bolak balik kost-an" pilih Reana.
"Kalau gitu makan dulu di kantin, kamu belum makan kan ?" tanya Nico sangat perhatian pada Reana.
Reana menggeleng, gadis itu terbiasa makan siang bersama karyawan di restoran. Lagi pula Reana merasa tidak nyaman berada di kantin, tempat itu memberikan kesan yang tidak enak bagi Reana.
Bahkan untuk melewati kantin itu saja, Reana merasa enggan jika tidak terpaksa ke perpustakaan. Berkali-kali gadis itu mengalami kejadian yang tidak mengenakkan di sekitar kantin itu.
"Apa kak Nico ingin makan ? mau saya temani ?" tanya Reana.
"Aku sudah makan sebelum ke kampus" tolak Nico halus.
"Kalau gitu kita kemana ? ke perpus atau ke mall ?" tanya Nico lagi sambil tersenyum.
"Jalan-jalan di taman belakang aja" akhirnya Reana menentukan pilihan untuk mengisi waktu.
Nico mengangguk setuju, sambil tetap menggenggam tangan gadis itu, Nico dan Reana berjalan menuju taman belakang kampus.
"Kamu tau ? dulu ada seorang gadis menangis disitu, mungkin kamu kenal orang nya ?" tanya Nico menunjuk lesehan kayu dibawah naungan pohon besar.
Reana menatap kearah yang ditunjuk Nico, gadis itu tertawa.
"Nggak kenal" jawab gadis itu menggelengkan kepalanya sambil tertawa.
Gadis itu masih ingat jelas saat menangis sendirian karena bingung tak bisa membayar uang kuliah sesuai dengan waktu yang dijanjikannya. Pilihan cuti kuliah hampir saja ditempuhnya jika saat itu Nico tidak datang membantu.
Atau yang lebih buruk dari itu, Reana terpaksa meminta bantuan tuan Malvin. Gadis itu menggelengkan kepalanya kuat, tak sanggup membayangkan hidupnya dibawah kendali tuan Malvin, jika terlanjur berurusan dengan eksekutif muda kaya raya itu.
Sekilas terbayang saat Nico dengan marahnya merobek kartu nama tuan Malvin dan melemparnya ke udara. Reana seperti melihat kembali kejadian waktu itu.
Nico mengucek rambut Reana membuyarkan lamunan gadis itu. Reana merapikan kembali rambutnya dengan wajah cemberut.
Nico tertawa melihat ekspresi lucu gadis itu. Sejutek apapun wajah yang ditampilkan Reana tetap saja terlihat manis dimata Nico.
"Rambutmu udah mulai panjang, apa mau diantar ke salon lagi ?" tanya Nico sambil mengajak Reana berjalan-jalan pelan mengitari taman.
"Nggak ah masih belum begitu panjang, biasanya bahkan lebih panjang dari ini" ucap Reana sambil menyentuh rambutnya, mengingat kebiasaannya dulu menguncir rambutnya setiap hari.
"Kalau nggak ingin potong rambut tapi masih bisa perawatan yang lain kan ?" tanya Nico lagi.
Reana hanya tertawa kecil, bayangan saat Nico mengajaknya pertama kali melakukan perawatan kecantikan di salon mewah waktu itu justru terjadi sesaat setelah Reana menangis sendirian di lesehan kayu itu.
"Oh ya kak, waktu di salon, para pegawai cerita kalau dulu kak Nico suka membawa seorang gadis bernama Angela, siapa dia ?" tanya Reana tiba-tiba teringat pembicaraan pegawai salon waktu itu.
"Dia pacarku, cinta pertamaku" jawab Nico pelan.
Reana tercenung mendengar jawaban Nico, ada perasaan aneh yang mengaliri tubuhnya. Gadis itu termangu, tubuhnya membeku sesaat, tertunduk, tidak tau harus berkata apa.
Nico memandang Reana yang terdiam, laki-laki itu mempererat genggaman tangannya, mengecup lembut punggung tangan gadis itu. Reana tersenyum canggung.
"Dimana dia... sekarang?" tanya Reana ragu, niatnya bertanya untuk menghilangkan suasana canggung, tapi justru semakin terlihat canggung.
"Disana, bersama-Nya" jawab Nico sambil memandang langit.
Reana mengikuti arah pandangan Nico. Kening gadis itu mengkerut, namun sesaat kemudian dia mengerti maksud ucapan Nico, gadis itu menyesal menanyakan pertanyaan itu. Tapi rasa ingin tau mulai menguasai pikirannya.
"Apa yang terjadi?" tanya Reana pelan.
"Dia menyerah pada Leukemia, satu setengah bulan sebelum ulang tahun ke tujuh belasnya" lanjut Nico.
"Dia gadis yang cantik, ceria, percaya diri, keras hati dan sangat manja, semua keinginannya harus dituruti. Memiliki kemauan yang kuat jika menginginkan sesuatu" kenang Nico pada Angela.
Reana memperhatikan ekspresi Nico yang terlihat sedih. Meski Nico tersenyum tapi seperti ada kerinduan yang terselip dari nada suara laki-laki itu.
__ADS_1
Kak Nico pasti sangat kehilangan gadis itu, dia pasti sangat mencintainya, meski selalu terlihat bahagia tapi kak Nico ternyata menyimpan kesedihan dihatinya, batin Reana menatap iba pada laki-laki itu.
Langkah Reana terhenti, tanpa disadari ada labirin dihadapannya, Nico merasa heran Reana menghentikan langkahnya.
"Kenapa, nggak ingin masuk ?" tanya Nico pada Reana.
Reana menggelengkan kepala, terlihat jelas gadis itu merasa takut masuk kedalam sana.
"Jangan takut, kan ada aku ? aku nggak mungkin biarin kamu terjebak sendirian disana" ucap Nico menggoda Reana.
"Nggak mau" ucap Reana sambil menggeleng kuat, hendak berbalik kearah lain.
"Kamu mengalami trauma?" tanya Nico penasaran dengan phobia yang dialami gadis itu.
Reana hanya diam, gadis itu tidak mau menceritakan kejadian saat bermain disebuah labirin. Saat itu family gathering yang diadakan perusahaan dimana papanya bekerja.
Reana yang masih berumur lima tahun diajak anak-anak karyawan perusahaan untuk bermain bersama. Saat memasuki sebuah labirin gadis kecil itu terpisah dari anak-anak lain.
Bingung, takut dan panik, Reana kecil mencoba mencari jalan keluar sendiri. Tapi tak kunjung menemukan jalan keluar hingga akhirnya papa Reana menemukan gadis kecil itu menangis seorang diri ditengah-tengah labirin.
Papanya mencoba mengajari Reana cara keluar dari sebuah labirin tapi saat itu Reana masih terlalu kecil hingga papanya berjanji akan mengajari gadis itu saat lebih besar nanti.
Tapi kesempatan itu tak pernah ada hingga akhirnya papa Reana pergi meninggalkan dunia.
"Percayalah padaku" ujar Nico meyakinkan Reana.
Gadis itu berpikir keras, antara mengalahkan rasa takut dan keinginan untuk mempercayai Nico. Tidak, tidak ada keraguan untuk mempercayai Nico. Gadis itu percaya seratus persen pada laki-laki itu.
Perlahan Reana melangkahkan kakinya memasuki labirin. Begitu masuk, matanya langsung terlihat panik, dinding tanaman yang menghadang disana sini membuat gadis itu mengalami kecemasan yang berlebihan.
Reana hampir saja berbalik arah, namun perlahan Nico meletakkan tangan gadis itu pada dinding tanaman disampingnya.
"Telusuri dinding ini dengan tanganmu, cepat atau lambat kamu pasti akan menemukan jalan keluarnya" kata Nico sambil tersenyum, membuat perasaan gadis itu menjadi lebih tenang.
Ada rasa penasaran membuktikan ucapan Nico. Dan rasa itu perlahan membuat rasa takut gadis itu memudar. Nico tersenyum melihat raut wajah Reana yang tak lagi terlihat tegang.
Sebelah tangan Reana menyusuri dinding labirin, sebelahnya lagi di genggam erat laki-laki tampan itu. Nico tertawa, merasa keberadaannya seperti tidak diperlukan lagi, Reana sibuk menelusuri dinding tanaman labirin itu.
Reana ikut tertawa saat menyadari Nico yang menertawakan tingkah lakunya. Tak ingin ditertawakan Nico lagi, Reana mencari bahan untuk diperbincangkan.
"Bagaimana kak Nico dan Angela bertemu?" tanya Reana sekenanya.
Nico heran menatap Reana, tiba-tiba gadis itu kembali membicarakan Angela. Tapi Reana cuek, setidaknya sekarang Nico tidak lagi menertawakannya.
"Saat itu Angela sedang berlari menuju sekolah, karena gerimis yang semakin deras akhirnya aku menawarkan untuk membonceng di motorku.
Dia bersedia dan akhirnya kami berkenalan setiba disekolah" Nico bercerita sambil mengenang saat-saat pertemuan pertama dengan Angela.
"Keesokan harinya dia menunggu di persimpangan menuju sekolah kami.
Dia jawab ya, meski dia tidak yakin, dia akan tetap menungguku, dia ingin menikmati rasa takut dan cemas saat menunggu kedatanganku.
Aneh bukan?" tanya Nico pada Reana.
Reana mengangguk pelan.
Pasti itu adalah kenangan yang paling berkesan bagi kak Nico. Seseorang menunggu dan percaya sepenuhnya dia akan datang dan mengantar mereka berdua ke sekolah, bisik hati Reana.
"Sejak itu hubungan kami semakin dekat, hingga suatu saat seorang bapak mendatangiku dan ingin bicara empat mata denganku.
Saat itulah aku baru menyadari, Angela bukanlah gadis sederhana yang naik angkutan umum untuk ke sekolah tapi seorang gadis dari keluarga kaya" Nico menghentikan ceritanya melihat ekspresi Reana, laki-laki itu takut gadis itu merasa bosan mendengar ceritanya.
"Lalu ?" tanya Reana, menunjukkan gadis itu masih ingin mendengar cerita Nico.
"Setelah menanyakan latar belakang keluargaku akhirnya Keluarga Angela merestui hubungan kami" lanjut Nico.
Tentu saja direstui, keluarga kaya ketemu keluarga kaya, mana mungkin ditentang yang ada justru malah didukung, pikir Reana.
Gadis itu berjalan sambil menghentakkan kakinya, Nico menghentikan langkahnya membuat lamunan gadis itu buyar.
"Bagaimana kak Nico bisa berpikir kalau dia gadis dari keluarga sederhana ?" tanya Reana tak ingin dipandang Nico dengan ekspresi heran.
Mendapat pertanyaan itu, pikiran Nico kembali teralihkan. Tadinya laki-laki itu merasa heran dengan cara berjalan Reana. Tapi karena Reana kembali bertanya, Nico jadi melupakan rasa herannya.
"Itu juga yang menjadi masalah, aku tidak terima, aku merasa ditipu.
Angela berusaha menjelaskan bahwa dia tidak bermaksud menutupi latar belakang keluarganya.
Saat itu dia marah pada papanya yang melupakan pesta ulang tahunnya.
Papanya mencoba membujuk dengan mengantarkannya ke sekolah, tapi Angela justru menolak dan kabur naik angkutan umum.
Kejadian itu justru mempertemukan kami dan Angela merasa bersyukur karena memutuskan untuk menolak tawaran papanya saat itu"
"Angela selalu bisa mencairkan suasana, dia selalu bisa meredakan kekesalanku. Aku tak pernah bisa mengelak dari kemanjaannya, sifat cerianya, tak bisa membuatku marah lama-lama.
Keluarga kami akhirnya menjadi sangat akrab, aku sudah dianggap anak bagi keluarga nya, dan Angela sudah dianggap putri dalam keluarga kami" Nico tertunduk, laki-laki itu menghela nafas panjang.
"Tapi kebahagiaan keluarga kami tidak berlangsung lama, dengan cepat penyakit itu mulai menggerogotinya. Angela yang tak ingin terlihat lemah menyembunyikan sakit yang dideritanya, hingga semuanya terlambat.
Dokter mendiagnosa leukemia stadium lanjut, bahkan cangkok sumsum tulang belakang pun tak mampu lagi menyembuhkannya" langkah Nico terhenti, seperti sedang mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan langkahnya.
"Maaf kak, harusnya saya tidak menanyakan tentang Angela, saya jadi membuka luka lama kak Nico" ucap Reana menyesal.
__ADS_1
Nico tersenyum memandang lembut Reana, gadis itu terlalu perasa. Selalu merasa menyesal, selalu merasa bersalah.
"Nggak apa-apa, lagian perasaan jadi lega setelah menceritakan uneg-uneg yang terpendam sekian lama" jawab Nico tersenyum.
"Benarkah ? kakak tidak menyesal menceritakannya ? tadi kakak keliatan sedih ?" tanya Reana berbinar.
Nico menggeleng, melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu.
"Aku senang bisa menceritakan semuanya padamu" sahut Nico.
"Oh ya, lalu bagaimana dengan gadis-gadis setelah Angela ?" tanya Reana lega, gadis itu makin terbiasa mengorek kehidupan pribadi Nico.
Dalam pikirannya pasti banyak kisah tentang gadis-gadis yang singgah dalam kehidupan Nico.
"Kenapa pertanyaanmu seperti itu? kenapa mengira banyak gadis setelah Angela? tanya Nico sambil lanjut melangkah pelan.
"Pastilah seperti itu, kak Nico sangat populer di kalangan gadis-gadis, pasti sangat mudah bagi kak Nico bergonta ganti pasangan, mereka ngantri mendapatkan posisi itu, pasti sudah banyak yang menjadi korban" ucap Reana pelan.
Reana ingat, salah seorang yang tak bisa melepaskan Nico adalah Rebecca. Hingga saat ini gadis itu masih mengharapkan cinta Nico.
"Korban apa ?" tanya Nico tertawa.
"Korban cinta palsu kak Nico, mereka tidak tau, kalau dalam hati kak Nico hanya ada Angela" jawab Reana sambil tangannya terus menelusuri tanaman labirin, matanya mengelak dari tatapan Nico.
"Kamu salah nona Reana, aku tidak pernah mempermainkan gadis manapun.
Aku tak pernah memberikan harapan pada gadis manapun.
Aku sendiri tak bisa melepaskan diri dari bayangan Angela... hingga tanpa kusadari, aku mulai melupakan Angela karena mengenal gadis itu" ucap Nico menyadari sesuatu.
"Kalau dipikir-pikir rasanya aneh, gadis itu berbeda 180 derajat dibandingkan Angela. Sama sekali tidak mirip, Angela ceria, percaya diri dan manja, sementara kepribadian gadis itu introvert, senang menyendiri.
Ingin melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Pendiam, jauh dari kesan percaya diri.
Tapi kenapa perasaan yang kumiliki pada Angela bisa teralihkan padanya ?" tanya Nico pada dirinya sendiri.
"Mungkin kak Nico, mencari sosok yang berbeda dari Angela, sebagai pelarian dari kekecewaan karena tak bisa hidup bahagia bersama Angela" jawab Reana.
Tiba-tiba langkah Reana terhenti, dihadapannya jalan buntu, tak ada jalan kemanapun, sekelilingnya hanya ada tanaman pagar, mata Reana mulai berkaca-kaca.
Gadis itu menarik tangannya dari sisi tanaman labirin. Seperti berhenti mempercayai bahwa tangannya bisa mencari jalan keluar. Tubuh gadis itu mendadak lemas.
Nico segera meraih Reana, menempelkan tangan gadis itu kembali ke dinding labirin dan mengajaknya berbalik, kembali menyusuri jalan yang tadi mereka lalui.
Nico ingin gadis itu tetap mempercayai bahwa dia bisa menemukan jalan keluarnya sendiri. Dengan tangan Reana yang masih menelusuri tanaman labirin, sekarang mereka telah menemukan jalan lain yang berbeda.
Reana menghentikan langkahnya, mengatur nafasnya yang tadi terasa berat. Nico membelai rambut Reana, perasaan gadis itu mulai lega. Nico membantunya mengatasi rasa takut terjebak yang sempat dirasakannya tadi.
"Gadis itu tidak mungkin hanya sebuah pelarian, karena aku sangat bahagia berada didekatnya.
Meskipun sulit, aku akan selalu berusaha agar dia mau menerimaku" ucap Nico pelan, setengah berbisik pada Reana.
Rasanya tidak masuk akal, laki-laki sebaik kak Nico sulit mendapatkan hati seorang gadis, batin Reana.
Seperti apa gadis yang telah meluluhkan hatinya ? dimana dia sekarang ? apa dia mahasiswi di kampus ini ? kenapa aku sama sekali tidak tau ? bukankah selama ini aku bersamanya ? aku tidak pernah mendengarnya menyebut nama ? pertanyaan Reana bertubi-tubi dalam hati.
Perasaan aneh menjalar dalam diri Reana, ada rasa tidak terima, perasaan laki-laki sebaik Nico diabaikan begitu saja oleh gadis itu.
Sekaligus rasa ikhlas jika memang gadis itu bisa membuat Nico bahagia. Namun juga iri, jika gadis itu menerima Nico, maka Reana tak bisa lagi berada didekat laki-laki itu. Reana menundukkan kepalanya.
"Apa gadis itu menerima kak Nico ?" akhirnya pertanyaan itu yang meluncur dari mulut gadis itu dari sekian banyak pertanyaan yang mengganggu pikirannya.
Langkah Nico terhenti menatap Reana yang tertunduk. Pertanyaan Reana adalah pertanyaan sama dengannya.
Laki-laki itu mengangkat dagu Reana, memaksa mata mereka bertemu.
"Aku tidak tau, tanyakan pada dirimu, hanya kamu yang bisa jawabannya" bisik Nico pelan ditelinga Reana.
Nico mengangkat genggaman tangannya, menempelkan tangan gadis itu di dadanya. Membiarkan gadis itu merasakan debaran jantungnya.
Reana kembali tertunduk, salah tingkah dengan ucapan Nico. Laki-laki itu menunggu jawaban darinya.
Gadis itu tidak tau harus menjawab apa, dia tidak ingin salah paham, Reana tidak tau jawaban apa yang diinginkan Nico. Reana gemetar, tanpa sadar gadis itu menggigit bibirnya.
Jangan gigit bibirmu Reana, jerit hati Nico.
Tapi gadis itu terus menggigit bibirnya. Melihat tingkah gadis itu, Nico tak mampu lagi menahan diri. Dia mendekat, langsung menempelkan bibirnya pada Reana.
Perlahan Nico menggigit bibir gadis itu. Sesuatu yang sangat ingin dilakukannya setiap kali memandang bibir mungil gadis itu.
Reana memejamkan matanya, menikmati perlakuan lembut Nico, gadis itu melingkarkan tangannya dibahu Nico, bahasa tubuh yang menunjukkan Reana menginginkan laki-laki itu, tanpa disadari Reana membalas kecupan Nico.
Laki-laki itu tersenyum disela-sela tarikan lembut dibibir Reana, gadis itu pasrah membiarkan Nico yang ingin ******* bibirnya lebih dalam. Laki-laki itu mempererat pelukannya, kepasrahan Reana membuat Nico semakin berani.
Pelan, lembut, berulang kali, semakin lama ciuman Nico semakin dalam. Mengejar, menemukan lidah lembut dan terasa manis seperti strawberry, Nico kecanduan, dia ingin menemukan rasa itu lagi.
Lidahnya bergerak lincah, lagi, Nico menginginkannya lagi, hingga akhirnya menemukan rasa manis itu lagi, perlahan laki-laki itu merenggangkan pelukannya, memberi ruang untuk mereka bernafas.
Nico menangkup wajah Reana, gadis itu menunduk tak berani menatap mata Nico. Gadis itu merasa malu karena keberaniannya membalas ciuman Nico.
Nico tersenyum bahagia, mengecup lembut puncak rambut gadis itu.
"Terimakasih sayang, terimakasih untuk penyerahan dirimu" ucap Nico sambil memeluk Reana.
__ADS_1
...*****...