
Nico memanggil Rommy dan menanyakan alasan laki-laki itu menceritakan kondisi perusahaannya pada Reana. Begitu kesal laki-laki itu hingga memaki Rommy. Nico kesal karena penjelasan Rommy membuat Reana khawatir dan menangis.
Setelah mendengar penjelasan Rommy barulah Nico sadar kalau selama ini dirinya terlalu hanyut dalam kesedihannya. Semua karena rasa kehilangan Reana yang tak dapat diatasinya. Saat wanita itu menangis mengkhawatirkan kondisi perusahaannya. Nico baru sadar, kalau akibat perbuatannya itu juga bisa membuat Reana merasa bersalah.
Rommy tertunduk. Bersandar pada pagar pembatas balkon itu, Rommy berjanji akan ikut membantu Nico dalam mengambil keputusan selanjutnya. Asalkan Nico mau dengan serius mengatasi kondisi perusahaannya.
"Kamu akan jadi mata-mata untuk perusahaanku?" tanya Nico.
"Ya, aku akan melihat rencana perusahaan itu. Langkah-langkah apa yang akan diambilnya," ucap Rommy.
"Kamu tidak merasa bersalah pada perusahaanmu?" tanya Nico.
"Itu bukan perusahaanku. Aku hanya bekerja di sana. Lagi pula aku tak membongkar rahasia perusahaan. Aku hanya menyampaikan rencana perusahaan agak lebih cepat agar kamu hati-hati. Itu saja," ucap Rommy.
"Tapi Tn. Armen sebagai pemilik perusahaan itu orang yang sangat baik. Aku pikir dia tidak akan tega mengambil alih perusahaanku. Dia selalu bersikap baik padaku," ucap Nico yakin.
"Itulah masalahnya. Jika Tn. Armen masih menjabat sebagai CEO di perusahaan itu maka kita bisa tenang. Kamu masih punya kesempatan memulihkan kondisi perusahaanmu tapi bagaimana juga putranya yang mengambil alih. Bagaimana jika dia tertarik pada perusahaanku. Bagaimana jika dia tak peduli kalau kamu telah akrab dan berteman baik dengan ayahnya. Kadang sikap tenggang rasa dibutuhkan juga dalam menjalankan perusahaan," ucap Rommy.
"Jangan khawatir mulai hari ini aku akan bekerja dengan hati-hati. Kamu jangan khawatir lagi. Mudah-mudahan aku bisa mengatasinya," ungkap Nico.
Baru saja Nico bertekad untuk memulihkan kondisi perusahaannya selagi Tn. Armen memegang jabatan. Tiba-tiba berita tentang kepulangan putra dari Tn. Armen terdengar. Nico pasrah. Tn. Armen belum menyerahkan posisinya pada putranya. Nico masih terus berusaha.
"Bagaimana jika saat rapat pemegang saham nanti dia menggunakan saham miliknya untuk menguasai perusahaanmu?" tanya Rommy.
"Tenang saja, aku tak akan didepak dari perusahaan," jawab Nico.
"Ya mungkin, tapi kamu bisa dilengserkan dari posisi CEO. Apa yang akan dikatakan Daddy dan Mommy jika terjadi hal semacam itu. Mereka bisa hancur Nic," ucap Rommy.
"Harus bagaimana lagi Rom. Aku sudah menyalahkan diriku sendiri. Masa sekarang aku harus menyalahkan kamu?" tanya Nico sambil tersenyum.
Rommy menarik nafas panjang. Rommy tahu Nico sedang berusaha memulihkan kondisi perusahaannya sekarang. Jika kembali kuat dan para direksi kembali rasa percayanya pada Nico. Maka banyak yang akan berpihak padanya. Tetap menjadikannya CEO di perusahaan milik ayahnya itu.
__ADS_1
"Rommy bilang perusahaannya akan segera berganti pemimpin. Pemimpin yang sekarang sudah sangat tua dan putranya sudah cukup pantas untuk menggantikannya. Doakan ya sayang. Pemimpin baru itu memihak suamimu ini," ucap Nico pada istrinya saat makan malam.
"Baik Kak, aku akan berdoa ya terbaik untuk Kakak," ucap Reana tersenyum.
Tapi jangan sedih ya sayang. Jika tidak terkabul. Meski aku tidak jadi CEO lagi, kamu masih tetap sayang padaku kan? Cinta padaku kan? Batin Nico bertanya-tanya.
Reana tersenyum, wanita itu telah kembali bekerja di perusahaan tempat dia bekerja dulu. Saat sekretaris Reana datang untuk mengambil surat pengunduran dirinya, Nico tak memberikannya. Nico justru memintakan izin untuk istrinya yang sedang beristirahat. Reana dianggap mengambil cutinya, karena selama ini Reana tak pernah mengambil cuti sama sekali, maka perusahaan pun mengizinkan. Kini Reana telah aktif kembali bekerja.
Tiba-tiba Nico telah berdiri di pintu ruangannya. Reana kaget dan langsung menghampirinya. Terlihat mata Nico yang terlihat sayu, laki-laki itu bahkan langsung memeluknya dengan erat.
"Kakak ada apa?" tanya Reana heran.
"Ternyata dia Reana," ucap Nico.
"Apa maksudnya?" tanya Reana tak mengerti.
"Yang menjadi pimpinan baru di perusahaan itu ternyata dia," ucap Nico.
Teringat saat Nico menerima undangan dari perusahaan kerjasamanya. Jantung Nico serasa mau copot mendapat surat undangan itu. Firasatnya langsung buruk, dan benar saja. Laki-laki itu diundang dalam acara pengalihan tampuk pimpinan perusahaan kerjasama dengannya itu.
Nico langsung menoleh ke sisi lain aula kantor itu. Terlihat Rommy yang tertunduk dengan wajah yang murung. Laki-laki itu telah tahu siapa yang akan menggantikan CEO lama, tapi tak memberi tahu Nico karena menurutnya tak perlu. Seluruh pimpinan perusahaan rekanan datang untuk mengucapkan selamat atas terpilihnya pimpinan baru.
Nico pasti akan tahu sendiri siapa orangnya. Memberi tahu lebih cepat juga tak ada gunanya. Hanya akan membuat Nico terkejut lebih cepat. Setelah menghadiri acara pengalihan tampuk pimpinan perusahaan itu. Nico langsung menemui istrinya.
Jatuh lemah dalam pelukan istrinya. Reana hanya bisa menunggu suaminya itu bicara. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya wanita itu mendengar Nico buka suara. Meski pelan dan berat Nico akhirnya memberitahukan pimpinan CEO baru perusahaan rekan kerja samanya.
"Hasbi,"
"Apa? Kenapa Hasbi?" tanya Reana tak mengerti.
"Ternyata putra Tn. Armen adalah Hasbi," ucap Nico.
__ADS_1
"Dia yang sekarang menjadi CEO baru?" tanya Reana yang dibalas dengan anggukan oleh Nico.
Reana menghela nafasnya antara sedih dan senang. Jika Hasbi menganggap Nico adalah temannya maka perusahaan Nico akan aman. Hasbi tak mungkin menjatuhkan Nico dari posisinya. Namun, sebaliknya jika Hasbi menganggap Nico musuhnya maka bisa jadi Hasbi dapat mengambil alih perusahaan milik keluarga Nico.
"Kalau begitu, aku akan bicara dengan Hasbi," ucap Reana.
"Apa? Nggak! Nggak! Aku nggak mau kamu ketemu sama dia," ucap Nico.
"Kenapa? Kakak masih nggak percaya sama aku?" tanya Reana.
"Untuk apa kamu ketemu sama dia?" tanya Nico.
"Biar dia tak berniat buruk pada Kakak," ucap Reana langsung menunduk.
"Agar kamu mengemis padanya? Meminta dia jangan menggoyang posisiku? Apa kamu akan merayunya?"
"Kakak! Kenapa masih saja berpikiran buruk padaku?" tanya Reana.
"Ya, kalau berhubungan dengannya aku akan berpikiran buruk," ucap Nico dengan nada kesal.
"Kenapa Kakak tidak berubah! Tetap saja menganggap temanku adalah musuh," ucap Reana.
"Dia itu bukan teman kamu, dia itu cinta sama aku. Melihat kamu dia pasti ingin menguasai kamu," jelas Nico.
Reana terdiam, sangat sulit untuk menyakinkan suaminya untuk menerima yang satu ini. Entah mengapa, Hasbi bagi Nico adalah musuh bebuyutannya. Bagaimanapun Reana berusaha meyakinkan Nico kalau perasaannya terhadap Hasbi adalah teman biasa, tetap saja Nico menganggap Hasbi saingan beratnya.
"Kenapa Kak? Apa yang membuat Kakak tak bisa menganggap Hasbi sebagai temanku? Dia juga sudah menganggap aku teman biasa," ucap Reana.
"Karena dia terobsesi padamu. Aku pernah melihatnya menatapmu dari sekretariat BEM. Aku juga pernah melihat dia melukis wajahmu di buku kuliahnya dengan tulisan Reana Forever," jelas Nico. Reana justru tersenyum.
"Kalau itu tak menjadi jaminan akan selamanya menyukaiku. Itu hanya tulisan biasa. Johnny Depp juga sampai mentato tubuhnya dengan tulisan Winona Forever, apa dia tetap cinta Winona, dia akhirnya menikah dengan yang lain," ucap Reana.
__ADS_1
Nico terdiam, hal itu juga pernah didengarnya tapi Nico selalu merasa kalau seorang laki-laki menulis hal semacam itu maka cintanya akan abadi. Reana sudah memberikan contoh kongkrit, kalau tulisan itu tidak ada artinya. Nico tetap bersikeras kalau itu benar, karena dia sendiri juga menulis nama Reana di buku catatan kuliahnya. Hingga kini, cintanya masih utuh untuk Reana. Wanita itu tertawa mendengarnya.
☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️