
Reana memandang keluar jendela dari kamar sekelas presidential suite. Reana terkurung dalam sebuah kamar yang super mewah. Seorang pengawal berdiri mematung di samping pintu.
Air mata gadis itu tak berhenti berlinang, dia tak bisa menghilangkan bayangan buruk di pikirannya.
Kenapa kak Nico bisa sampai kesini ?
Apa yang akan mereka lakukan padanya ?
Kenapa tuan Malvin membawaku kesini ?
Apa yang dia inginkan ?
bermacam pertanyaan bergelayut dipikirannya.
Air mata gadis itu terus meleleh, gadis itu tak kuasa menahan rasa sedih dan takut akan apa yang terjadi pada Nico. Hingga kini tubuh gadis itu masih gemetar.
Dengan jelas gadis itu melihat Nico berhasil di bekuk oleh para pengawal tuan Malvin.
Apa mereka akan menyakitinya ? tidak, tolong jangan sakiti dia, aku mohon jangan sakiti dia, bisik hati Reana.
Tuan Malvin masuk kedalam ruangan, serta merta pengawal keluar. Reana tegang, matanya mengikuti langkah tuan Malvin. Laki-laki itu melepas jas hitamnya lalu melemparnya ke sofa.
Sambil melangkah pria tampan itu melepas kancing lengan kemeja putihnya. Tak sampai disitu dia lalu melepas kancing atas kemeja putih itu, lalu melepas kancing kedua.
Reana menatap setiap tingkah laku tuan Malvin dengan perasaan takut, dan bertanya-tanya apa yang diinginkan tuan Malvin, apa yang akan dilakukannya.
Tuan Malvin melirik Reana yang berdiri mematung disamping jendela, tangannya gemetar memegang gorden mewah yang terpasang di kamar itu.
Tuan Malvin melepas satu lagi kancing kemejanya. Melangkah mendekati Reana, terlihat dada bidangnya yang putih berotot. Reana bergerak kesamping, gadis itu reflek menjauh dari tuan Malvin. Setiap langkah maju tuan Malvin, Reana melangkah mundur menjauh.
Tapi semakin bergeser, Reana makin terpojok. Tuan Malvin tersenyum melihat wajah panik gadis itu. Reana memang terpojok, Reana panik, satu-satunya yang terpikirkan adalah mencoba berlari kearah pintu tapi tuan Malvin langsung menyambar tubuh gadis itu.
Reana meronta, air matanya mengalir disudut matanya. Tuan Malvin memegang kedua tangan Reana mendorong gadis itu hingga membentur dinding.
Mata Reana menatap tajam pada tuan Malvin, tapi tuan Malvin bukanlah tandingannya. Semakin ditantang semakin tertantang. Reana sama sekali tidak bisa menjatuhkan mental tuan Malvin, laki-laki itu justru makin beringas. Reana kalah, air matanya mengalir, gadis itu ketakutan.
Perlahan Tuan Malvin mendekatkan wajahnya mencoba mengarahkan bibirnya ke bibir Reana. Sedikit lagi maka bibir tuan Malvin akan menyentuh bibir Reana. Gadis itu memalingkan wajahnya menutup rapat bibir dan kedua matanya.
Air mata gadis itu makin mengalir deras. Reana benar-benar ketakutan, Tuan Malvin menghentikan niatnya, tertawa tertahan. Mengusap air mata yang membanjiri wajah gadis itu dengan jari-jarinya. Membelai lembut bibir gadis itu.
"Baru kali ini ada perempuan yang menolakku" ucapnya sambil melonggarkan pegangan tangannya.
Menarik tangan Reana, lalu mendorong gadis itu duduk di sofa. Reana terduduk, mata gadis itu mengikuti langkah tuan Malvin, tubuhnya gemetar, wajahnya menunjukkan ekspresi kebingungan yang bercampur ketakutan,
Tuan Malvin membuka pintu, dua orang pelayan masuk sambil mendorong food trolley. Menata semua hidangan di meja makan mewah lengkap dengan lilinnya.
Mata Reana mengarah ke pintu yang terbuka, jika dia berlari kesana apakah dia akan berhasil melarikan diri. Reana menunduk.
Jangan berharap, disana pasti ada pengawal yang menjaga, bisik hati Reana bertentangan dengan keinginannya.
Tuan Malvin mendekati Reana, mengulurkan tangannya pada gadis itu. Reana hanya diam mengalihkan pandangannya kearah lain. Tuan Malvin meraih tangan gadis itu dan membawanya ke meja makan.
Kedua pelayan bergerak keluar ruangan sambil mendorong food trolley, pengawal diluar menutup kembali pintu kamar.
Reana menghembuskan nafas berat, benar saja, ada pengawal yang berdiri dibalik pintu kamar. Tuan Malvin duduk di hadapan Reana, meneguk minuman lalu bersiap menyantap hidangannya.
"Kamu tidak mengizinkan aku menemuimu di restoran, karena itu aku membawamu kemari" ucap tuan Malvin menjelaskan.
Reana hanya diam menunduk.
"Kenapa tidak menghubungiku?" tanya tuan Malvin sambil menyendok makanannya.
Reana masih tidak menjawab.
Kenapa aku harus menghubungimu ? ucap Reana dalam hati.
"Habiskan makananmu atau kamu tidak diizinkan meninggalkan ruangan ini" ucap tuan Malvin masih menyantap makanannya.
Reana menyentuh sendok dan garpunya. Dalam situasi seperti ini Reana tidak memiliki selera untuk makan, namun dia harus mencoba mengikuti perintah tuan Malvin. Meskipun gemetar gadis itu mulai menyantap makanannya.
Reana justru teringat saat-saat makan siang di kafe bersama Nico. Pikirannya masih tak lepas dari nasib laki-laki itu.
Bagaimana keadaannya? bisik hati Reana.
Air matanya mengalir, gadis itu ingin menanyakan keadaan Nico tapi takut membuat tuan Malvin menjadi marah. Ponsel Reana dalam ransel diatas meja bergetar. Gadis itu melirik kearah tuan Malvin.
"Angkatlah" ucap tuan Malvin singkat.
Reana segera berdiri mengambil ponselnya dan melihat kontak yang menelponnya, wajah Reana berbinar lega segera gadis itu menjawab.
"Halo, Reana" terdengar suara Nico dari seberang sana, Reana lega mendengar suara laki-laki itu.
"Kak...." ucap Reana terputus.
__ADS_1
Tuan Malvin merampas ponsel Reana dan mematikannya.
"Kamu sudah mendengar suaranya ? dia baik-baik saja bukan ? sudah lega sekarang ? ucap tuan Malvin sambil meletakkan ponsel Reana diatas meja didekatnya.
Reana tercenung memandang ke arah ponsel itu.
"Aku ingin kamu disini bersamaku, tubuhmu disini tapi pikiranmu entah dimana" ucap tuan Malvin, dia yakin gadis itu masih mengkhawatirkan Nico.
Reana menyesal bersikap seperti itu, tapi apa yang dilakukan tuan Malvin barusan membuat gadis itu takut. Dan Reana masih risau dengan keadaan Nico.
"Maaf" ucap Reana singkat.
Dengan pandangan matanya tuan Malvin menyuruh gadis itu kembali ke kursinya.
"Hari itu saya sangat ingin menemuimu, tapi Manager Restoran mengatakan kamu tidak masuk kerja dan mereka tak bisa menghubungimu. Saya pikir mereka berbohong, jadi saya menempatkan orang untuk mengamati disana" tuan Malvin bercerita dan Reana mendengarkan.
"Saat orang suruhanku melihatmu memasuki restoran, aku sedang meeting, kamu tau apa yang kulakukan? aku meninggalkan meeting dan dan terbang dari Seoul langsung untuk menemuimu" lanjut tuan Malvin.
Reana ingat hari itu hanya mengikuti satu mata kuliah di pagi hari, gadis itu memutuskan mendatangi restoran lebih cepat, karena merasa tidak enak telah bolos dari pekerjaannya selama tiga hari karena sakit.
"Tapi apa yang kudapat, ingat ucapanmu waktu itu?" tuan Malvin meneguk minumannya.
"Saya pasti kan, saya tidak akan menemui tuan lagi, ini sudah kedua kalinya, takkan ada yang ketiga" ucap tuan Malvin meniru ucapan Reana waktu itu, lalu dia tertawa dengan keras.
"Seorang gadis memerintahkan aku untuk tidak menemuinya lagi ?" tuan Malvin kembali tertawa.
"Menempuh tujuh jam perjalanan dan meninggalkan orang-orang yang mempercayai bisnisnya padaku, hanya demi bertemu denganmu, dan kata-kata itu yang kudapatkan darimu" ucap tuan Malvin berdiri dari kursinya.
Reana menghentikan makannya, menunduk, matanya berkaca-kaca. Gadis itu tidak menyangka bahwa dia telah mengatakan sesuatu yang bisa melukai perasaan orang.
Kali ini, kata maaf saja tidak akan cukup, Reana menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Gadis itu menyesal.
Apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahanku, bisik Reana dalam hati.
Reana ingat ucapannya waktu itu membuat tuan Malvin segera meninggalkan restoran.
Jangan-jangan bisikan tuan Malvin waktu itu hanya untuk membalas sakit hatinya, tuan Malvin ingin menjadikanku simpanannya, hanya ingin membalas ucapanku, bisik hati Reana menyadari sesuatu.
"Tawaranku sungguh-sungguh" ucap tuan Malvin seperti bisa membaca pikiran Reana.
"Kamu akan jadi milikku, tunggu saja" ucap tuan Malvin sambil menarik kemejanya keluar dari balik celana dengan sembarang, membuat penampilan tuan Malvin terlihat berantakan.
Pria itu melangkah keluar dengan penampilan yang acak-acakan, kemeja yang dikeluarkan dan kancing yang tak terpasang, namun begitu dia tetap terlihat tampan bahkan terkesan seksi. Tersenyum simpul pada Reana lalu menghilang dibalik pintu.
Tapi Reana tak menemukannya bahkan mobil Nico pun tak terlihat. Reana segera mengeluarkan ponselnya dan menelpon. Nico menjawab setelah beberapa kali Reana mengulang panggilannya.
Kenapa kak Nico tidak segera menjawab, apa yang terjadi padanya, apa dia baik-baik saja? bisik hati Reana mencemaskan laki-laki itu.
"Halo" akhirnya terdengar suara Nico, Reana merasa lega.
" Kak Nico dimana?" tanya Reana to the point.
"Diluar" terdengar suara Nico pelan.
Reana berlari keluar hotel, setelah melihat ke kanan dan kiri akhirnya melihat Nico yang tersandar di dinding pagar hotel. Mobilnya parkir tak jauh dari situ.
Reana langsung menghampiri Nico, mengamati wajah laki-laki itu yang terlihat lebam serta darah membeku dari sudut bibirnya yang pecah. Reana sedih dan prihatin melihat kondisi Nico, air matanya langsung menetes. Nico hanya tertunduk.
Lutut laki-laki itu terasa lemas saat melihat penampilan tuan Malvin yang menunggu mobilnya di teras hotel.
Sejak para pengawal itu melepaskannya, Nico berusaha untuk masuk, namun selalu dihalangi hingga akhirnya Nico memutuskan menunggu Reana diluar hotel.
Lama laki-laki itu menunggu, hatinya cemas atas apa yang akan dilakukan tuan Malvin pada Reana. Laki-laki itu berusaha menepis semua pikiran buruk.
Reana tidak akan tunduk pada laki-laki itu, Reana tidak sembarangan tunduk pada laki-laki hanya karena dia seorang yang kaya, bisik hatinya menghilangkan pikiran buruknya.
Tapi bagaimana jika laki-laki itu memaksa, tiba-tiba pikiran itu muncul membuat Nico kembali nekat ingin menerobos pertahanan para pengawal.
Tapi apa yang dilihatnya, tuan Malvin keluar dengan pakaian acak-acakan, tidak lagi mengenakan jas, kemeja yang telah keluar dari posisi semula dan kancing yang terbuka hingga ke dada.
Nico mundur, tersandar di dinding pagar hotel, pikirannya kacau.
Reana hanya gadis lemah, dia tidak akan bisa melawan bajingan itu, semuanya sudah terjadi, jerit hati Nico sambil meremas rambutnya dengan kuat.
Laki-laki itu merasa kepalanya berat. Nico menangis sendiri, frustrasi, hingga tak menggubris ponselnya yang bergetar dibalik saku celananya. Hingga tersadar dan akhirnya menerima panggilan dari Reana.
Reana menangis menatap wajah lebam Nico. Gadis itu menangkup wajah laki-laki itu dengan kedua tangannya. Mata Nico sayu memandang Reana, lalu memeluk gadis itu.
"Maafkan aku, aku tidak bisa melindungimu" ucap Nico sambil menangis di bahu Reana.
"Maafkan aku, membiarkan dia menyakitimu" lanjut Nico menitikkan air mata.
"Dia tidak menyakitiku, aku baik-baik saja" ucap Reana menenangkan Nico sambil mengusap lembut punggung laki-laki itu.
__ADS_1
Nico melepaskan pelukannya.
"Kamu menyerahkan dirimu padanya?" tanya Nico dengan suara tinggi.
"Menyerahkan diri ? apa maksud kak Nico ? aku tidak menyerahkan diriku pada siapapun " ucap Reana heran.
"Jangan bohong, aku melihat sendiri orang itu keluar hotel dengan pakaian yang berantakan" ucap Nico dengan suara tinggi.
Reana kaget dengan pemikiran Nico, apa mungkin laki-laki ini mengira Reana menyerahkan dirinya pada tuan Malvin.
"Terserah kalau kak Nico nggak percaya, saya nggak bisa memaksa orang untuk mempercayai saya" ucap Reana sambil menghapus air matanya dengan kasar.
Gadis itu membuka ranselnya, mengeluarkan ponsel dan meletakkannya diatas kap mobil Nico, lalu melangkah pergi. Reana melangkah sambil menunduk, air matanya kembali menetes.
Mungkin ini yang terbaik, kak Nico sebaiknya menjauh dariku, bersamaku hanya akan membuatmu terluka, jerit hati Reana.
Nico memandang ponsel yang ditaruh Reana, menyentuh gantungan hati yang Reana pilih. Teringat senyum gadis itu mengagumi gantungan ponsel pilihannya itu. Saat bersamanya adalah saat-saat yang membahagiakan bagi Nico.
Tidak, kamu nggak boleh pergi, aku nggak mau kehilangan kamu, jerit Nico dalam hati.
Nico mengejar Reana, memeluk gadis itu dari belakang.
"Maafkan aku, maafkan ucapanku, aku percaya padamu" bisik Nico dengan suara serak.
Reana terpaku.
Apa yang harus kulakukan, membiarkan dia bersamaku? nggak, aku nggak mau kejadian seperti ini terulang lagi, jerit hati Reana.
Reana menggeleng, hendak melangkah pergi, gadis itu tak ingin mempedulikan Nico lagi. Tapi Nico bertahan, tidak mau melepaskan Reana.
Nico membalik tubuh Reana, gadis itu menatap wajah Nico yang masih memar, air matanya menetes.
Aku yang menyebabkan semua ini, aku yang melukai kak Nico, ungkap hati Reana.
"Jangan pergi, aku nggak mau kehilangan kamu" ucap Nico memelas.
Reana tidak tega meninggalkan Nico dalam keadaan seperti ini. Gadis itu merasa Nico mengalami luka karena kesalahannya. Masalahnya dengan tuan Malvin justru membuat laki-laki itu terlibat. Reana mengangguk, gadis itu urung meninggalkan Nico.
"Kakak punya P3K?" tanya Reana.
Nico mengangguk, lalu mengajak Reana ke mobilnya. Nico mengembalikan ponsel Reana, gantungan ponsel itu mengingatkan Nico akan janjinya sendiri untuk selalu mengikat hati Reana.
Reana mengoleskan gel untuk mengobati memar agar mempercepat proses pemulihan dan mengurangi gejala bengkak, kebiruan, dan nyeri di wajah Nico.
Hati gadis itu sedih setiap kali Nico meringis sakit saat Reana menyentuh bagian memar diwajahnya. Air mata Reana meleleh disudut matanya.
"Kenapa menangis ?" tanya Nico pelan.
Gadis masih terus mengolesi gel di luka memar Nico.
"Kenapa kak Nico menyusulku ?" ucap Reana menyesali tindakan Nico.
"Aku nggak mungkin biarin kamu dibawa orang begitu aja" jawab Nico
"Lihat akibatnya, berani melawan orang sebanyak itu" ucap Reana masih menitikkan air mata.
"Luka ini tidak seberapa di banding aku harus kehilangan kamu" ucap Nico ringan namun membuat Reana tertegun.
Benar juga, jika Nico tak muncul, entah apa yang akan terjadi padanya. Bisa jadi tuan Malvin urung menyakiti Reana karena tuan Malvin tau Nico sedang menunggunya.
Trimakasih kak Nico, ucap tulus Reana dalam hati, matanya lembut menatap Nico.
Lagi-lagi gadis itu meneteskan air mata. Nico tersenyum membelai lembut pipi Reana. Nico meraih tangan Reana dan menempelkan ke dada bidangnya. Reana merasakan jantung Nico yang berdetak cepat.
Nico menatap gadis itu, perlahan Nico mendekat, semakin dekat, Reana menahan nafasnya, jantung gadis itu berdebar kencang, tanpa disadari gadis itu memejamkan matanya.
Reana merasakan hembusan nafas Nico di pipinya, tak lama kemudian Reana merasakan bibir mereka menyatu, Nico menempel bibirnya ke bibir Reana, perlahan Reana merasakan tarikan lembut di bibirnya, lagi dan lagi.
Hingga akhirnya lidah Nico mencoba untuk menembus bibir Reana.
"Ah, sakit" Nico mundur, Reana membuka mata, melihat Nico sedang memegang bibirnya yang terluka.
Gadis itu memalingkan wajah dengan senyum ditahan.
"Orang lagi sakit malah diketawain" ucap Nico pura-pura kesal.
"Salah sendiri" ucap Reana.
Nico meraih tubuh Reana, menenggelamkan gadis itu dalam pelukannya.
"Mulai sekarang, aku akan mengantar kemanapun kamu pergi, jangan pernah menolak, mengerti" ucap Nico tegas.
Reana mengangguk. Nico mengecup lembut puncak rambut gadis itu lalu mempererat pelukannya.
__ADS_1
...*****...