
Reana mengirim pesan pada Tn. Malvin seperti permintaan pengawal pribadinya itu. Tn. Malvin merasa heran karena tiba-tiba Reana mengirim pesan padanya. Ada rasa penasaran ingin tahu apa yang diinginkan gadis yang dicintainya itu.
Namun, saat mengetahui dia meminta izin pergi ke luar hotel untuk berbelanja, Tn. Malvin merasa keberatan. Bukan karena berbelanjanya tetapi karena pergi berdua bersama Rassya, pengawal pribadi Reana yang muda dan tampan. Tn. Malvin mengusulkan untuk pergi bersama pengawal yang lain tetapi Reana menolak karena percuma memiliki pengawal pribadi jika harus bersama pengawal yang lain.
"Aku tidak kamu pergi dengannya." Ketik Tn. Malvin di ponselnya.
"Kalau begitu, apa boleh aku pergi sendiri saja?" tanya Reana membalas pesan dari Tn. Malvin.
Apa? Bisa-bisa kamu malah melarikan diri, batin Malvin.
"Sendiri tapi diantar sopir," ketik Malvin membalas pesan lagi.
"Tapi sopirnya Rassya 'kan? Sopir itu juga pengawal, kalau bukan Rassya? Buat apa gaji dia jadi pengawal pribadi jika aku pakai sopir yang lain?" balas Reana masih lewat pesan pribadi di ponsel.
Tn. Malvin kehilangan kata-kata. Ada rasa menyesal karena menyetujui permintaan Reana menjadikan laki-laki muda dan tampan itu sebagai pengawal pribadinya. Tn. Malvin sudah tidak menyukai laki-laki itu karena selalu dibela oleh Reana.
Ditambah lagi Rassya selalu menghalanginya menyalurkan hasrat cintanya pada Reana. Sekarang gadis itu ingin bersama dengan laki-laki yang selalu menghalanginya itu. Tn. Malvin kesal hingga akhirnya memutuskan menelpon Reana. Meninggalkan pertemuannya demi menghubungi gadis yang dicintainya itu.
"Tunggu nanti malam, aku yang akan mengantarmu sendiri," ucap Malvin menawarkan diri.
"Nggak bisa, harus sekarang. Cuma sebentar saja," ucap Reana mendesak Tn. Malvin.
Laki-laki itu akhirnya pasrah membiarkan Reana pergi diantar pengawal pribadinya. Meski hatinya tak tenang, Tn. Malvin mencoba berpikir positif pada Reana dan Rassya. Laki-laki itu kembali menjalani pertemuan dengan hati yang tidak tenang. Tetapi akhirnya mengutus seseorang untuk mengikuti Reana dan pengawal pribadinya.
Itu disadari Rassya beberapa saat setelah keluar dari area hotel bintang lima itu. Laki-laki itu yang tadinya telah menyusun rencana untuk Reana melarikan diri, kini harus mengganti strategi karena mencurigai sebuah mobil mengikuti mereka. Meski ragu karena mobil itu sendiri tak dikenalnya tetapi karena selalu terlihat di kaca spionnya, Rassya yakin telah diikuti oleh suruhan Tn. Malvin.
__ADS_1
"Sepertinya aku tak bisa membantu Nona melarikan diri," ucap Rassya pada Reana.
Mereka tiba di sebuah supermarket. Reana memilih keperluan khusus wanita agar menjadi alasannya untuk pergi sendiri saat itu juga. Rassya yang selalu berdiri dan mengikuti di belakangnya seolah-olah mereka tak berbincang-bincang.
Rassya menyampaikan rencananya untuk membuat Reana bisa lolos darinya. Membeli pakaian dan mengganti pakaian serta menyamar di ladies room. Rassya akan berpura-pura tetap menunggu. Tetapi mengingat mereka telah diikuti, Rassya yakin Reana tak akan bisa lolos. Mereka pasti akan mencegat siapa pun yang keluar dari ladies room itu.
"Kita ganti strategi," ucap Rassya. "Nona harus mau pura-pura berselingkuh denganku."
Reana tak percaya dengan strategi itu. Rencana itu terasa mengada-ada bagi Reana. Sejujurnya Reana orang yang tak bisa bersandiwara apalagi berpura-pura memiliki hubungan diam-diam dengan pengawalnya sendiri.
"Apa Nona tidak tahu? Majikan dan pengawal itu memang sering memiliki hubungan khusus," ucap Rassya yang dari jauh hanya terlihat diam.
Reana yang selalu menatap ke arah produk-produk yang dicarinya. Juga tak terlihat seperti seorang yang sedang bicara. Terlihat sibuk memilih-milih padahal sedang berunding.
"Maksudmu?"
"Ya layani Tuan Malvin seperti gadis-gadis itu melayaninya. Aku rasa setelah mendapatkan apa yang diinginkannya Tuan Malvin akan melepaskan Nona–"
"Tidak bisa! Ide macam apa itu. Aku harus menyerahkan diri padanya. Dia akan mencampakkan aku setelah mendapatkan apa yang dia inginkan. Lalu bagaimana denganku? Benar-benar menjadi wanita murahan yang dicampakkan? Aku tidak mau! Lagi pula aku tak bisa berpura-pura menginginkan dia lalu menyerahkan diri padanya," ucap Reana tegas tak mau menerima usulan dari Rassya.
"Kalau begitu Nona harus mau pura-pura berselingkuh denganku," usul lain dari Rassya yang langsung dijawab dengan gelengan kepalanya.
"Nona tak benar-benar harus berselingkuh denganku. Tapi kita lakukan agar Tn. Malvin membenci Nona hingga mengusir sendiri Nona dari hidupnya.
Mendengar itu Reana langsung tertarik. Reana pun mendengar rencana Rassya. Kadang gadis itu berpikir dalam hati apa dia sanggup berpura-pura seperti itu.
__ADS_1
"Sekarang itu, Tn. Malvin sudah sangat benci pada saya. Karena mengira saya menyukai Nona dan diam-diam ingin merebut Nona. Semakin lama Tn. Malvin semakin takut kehilangan Nona. Semakin lama Tn. Malvin semakin curiga pada saya. Kondisi sekarang ini kita pergunakan untuk memancing kemarahannya hingga akhirnya mengusir Nona, bagaimana?" tanya Rassya.
"Baiklah! Tapi sangat beresiko, entah apa yang akan dilakukan Tn. Malvin padamu nanti," ucap Reana.
"Jangan khawatir Nona. Aku pernah bilang, aku ini hanya hidup sendiri di dunia ini. Tak ada yang menangisiku jika aku mati–"
"Jangan berkata seperti itu!" ucap Reana tegas.
Rassya tersenyum. Melihat raut tak senang Reana akan ucapannya itu. Rassya semakin bahagia ada yang peduli padanya.
Terima kasih Nona, ada yang khawatir padaku, rasanya senang sekali, batin Rassya.
Setelah Rassya menyampaikan rencana-rencananya. Acara belanja itu pun selesai. Reana tertawa sendiri melihat belanjanya hanya berupa pembalut wanita untuk waktu belanja sejauh dan selama itu. Mereka pun langsung kembali ke hotel. Reana menghembuskan nafas berat saat melewati jalanan yang biasa dilewatinya.
"Jangan coba-coba kabur sekarang Nona, mereka ada di belakang," ucap Rassya sambil melirik ke spion tengah.
"Aku tahu," jawab Reana tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela kaca mobil.
Jika aku mencoba kabur sekarang mungkin aku berhasil tapi mungkin juga tidak. Jika gagal, aku akan semakin sulit. Entah apa yang akan dilakukan Tn. Malvin padaku. Dia pasti sangat marah karena aku mencoba kabur dan Rassya, aku yakin dia akan dipecat dan aku tak punya alasan untuk menolongnya. Ya Tuhan, mungkin memutuskan untuk kembali ke hotel ini akan aku sesali tapi, aku mohon bantu aku agar rencana Rassya bisa berhasil, batin Reana sambil menghapus titik bening di matanya.
Reana tak mau lagi menatap jalanan-jalanan yang dikenalnya. Hatinya semakin meronta untuk mencoba lari. Namun, melihat laki-laki yang sedang mengemudi itu, hatinya surut. Apa pun yang dilakukannya akan berdampak pada diri Rassya. Reana juga tak ingin Rassya merasakan akibat dari kecerobohannya yang tak tahan ingin mencoba melarikan diri.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1