Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 125 S2 ~ Godaan ~


__ADS_3

Bu Ridha Lia terkejut saat melihat putrinya berdiri di teras rumah dengan air mata yang bercucuran. Segera ibu itu mengejar putri kesayangannya itu. Melihat Reana yang menangis, Bu Ridha tahu pasti terjadi sesuatu dalam rumah tangga putrinya.


"Kenapa Nak? Kamu kenapa nangis?" tanya Ridha Lia sambil menghapus air mata putrinya.


Reana tak menjawab, hanya mengikuti ibunya yang memintanya masuk ke dalam rumah. Bu Ridha Lia langsung mengambilkan air putih untuk putrinya. Menatap travel bag yang dibawa Reana, ibu itu yakin kalau putrinya telah pergi dari rumah mertuanya karena suatu masalah.


Bu Ridha tak ingin mendesak putrinya untuk bercerita lagi. Wanita setengah baya lebih itu membuka bawaan dari sekolahnya. Menawarkan pada Reana untuk mencicipi makanan buatan rumahan itu.


"Makanlah, hampir setiap hari Mama, bawa makanan-makanan seperti itu ke rumah. Biasanya ibu-ibu itu jika ada sisa suka bagi-bagi ke ibu-ibu pedagang kue yang lain. Jadinya tiap hari tukar-tukaran kue kalau mau pulang. Kadang kue yang ini kadang kue rasa itu. Cuma Mama yang jarang sisa, karena Mama nggak bisa bikin banyak-banyak. Anak-anak juga makin ramai makanya, jarang makanan bikinan Mama yang sisa," cerita Ridha Lia.


Reana hanya menatap ibunya sambil menikmati kue pemberian ibunya. Reana memberikan seluruh gajinya untuk ibunya agar ibu itu tak lagi bersusah payah menjual makanan di kantin sekolah. Namun, Bu Ridha Lia menolak karena hatinya bahagia bisa mengisi hari-harinya bertemu dengan ibu-ibu sesama pedagang kue di kantin dan juga siswa-siswi SMA itu.


"Tidurlah! Istirahat nanti kita bicara lagi," ucap Ridha Lia sambil menyisir rambut putrinya dengan jemari tangannya.


Reana memejamkan matanya, air matanya kembali mengalir. Namun, Reana ingin menceritakan pada ibunya tapi tak sanggup menahan kesedihannya. Reana tak ingin ibunya ikut menanggung kesedihannya. Wanita itu berusaha untuk menenangkan pikiran dan mencoba untuk tidur.


Bu Ridha Lia menatap wajah putrinya dengan iba. Ibu itu merasa yakin pada cinta Nico pada putrinya tetapi tetap ragu pada keluarga laki-laki itu. Bagaimanapun juga strata sosial keluarga mereka berbeda. Secinta-cintanya Nico pada Reana, suatu saat perbedaan itu tetap akan jadi masalah.


Apalagi keluarga Nico tak sepenuhnya bisa menerima keadaan menantunya itu. Meski setiap kali bertanya pada Reana melalui sambungan telepon. Wanita itu selalu menjawab kedua mertuanya baik padanya tetapi Bu Ridha Lia tak begitu percaya.


"Mertuamu baik padamu?" tanya Ridha Lia saat mereka makan malam berdua. Reana mengangguk.


"Nico?" tanya Ridha Lia lanjut bertanya. Reana kembali mengangguk.


Kalau begitu apa masalahnya? Mertuanya baik, Nico juga baik, lalu kenapa Reana pulang sambil menangis? Batin Ridha Lia bertanya-tanya.

__ADS_1


"Reana kangen sama Mama, apa boleh menginap beberapa hari di sini?" tanya Reana.


"Tentu boleh sayang. Ini juga rumah kamu. Tadi Mama sangat khawatir melihat kamu tiba-tiba pulang sambil menangis. Mama berpikir-pikir apa yang terjadi dengan rumah tangga kalian. Sebenarnya Mama khawatir, karena Mama belum dengar kabar kalau kamu telah mengandung. Itu adalah hal yang paling dinanti-nanti oleh orang tua, apalagi keluarga suamimu yang sangat membutuhkan penerus untuk seluruh kekayaannya. Satu-satunya yang Mama khawatirkan dari pernikahanmu adalah itu, masalah anak," ungkap Ridha Lia.


Reana tertunduk, air mata wanita itu kembali mengalir. Bu Ridha Lia langsung menghapus air mata putrinya. Ibu telah menebak satu permasalahan putrinya.


"Baiklah sayang! Mama tidak akan paksa kamu untuk bicara, kapanpun kamu siap Mama akan dengarkan. Mama tidak akan sedikit pun menyalahkan kamu. Karena kamu yang menjalani. Mama tak akan bisa sepenuhnya merasakan apa yang kamu rasakan. Mama tak akan bisa mengerti sepenuhnya apa ada dalam hatimu. Karena itu Mama hanya akan mendengar dan percaya pada setiap keputusanmu. Sungguh! Mama tidak akan menyalahkan pilihanmu atau keputusanmu. Hanya saja Mama akan memberi saran jika pilihanmu tidak sesuai dengan pemikiran Mama, ya?" jelas Ridha Lia


Ibu itu ingin membuat hati putrinya tenang dan percaya padanya. Sepenuhnya mendukung keputusan putrinya. Bi Ridha Lia tak ingin memaksakan kehendak pada putrinya. Membiarkan apa pun pilihannya. Asalkan itu membuat Reana bahagia.


Keesokannya Reana bangun sebelum subuh untuk membantu ibunya menyiapkan jualannya. Reana tersenyum saat mengenang masa sekolah di situ. Sambil belajar sambil membantu ibunya berjualan. Dengan kesibukannya itu hatinya sedikit terhibur.


"Reana?" tanya seseorang.


Reana membalik badan untuk melihat dari mana datangnya suara yang memanggilnya. Seorang laki-laki tampan melangkah mendekatinya. Reana tak bisa mengingat siapa laki-laki itu.


"Oh maaf Kak, aku lupa," ucap Reana.


Laki-laki itu mengajak Reana untuk berjalan melanjutkan langkah mereka. Tak lupa membantu membawakan barang bawaan Reana. Wanita itu menolak tetapi Yose merasa tak enak hati melihat seorang wanita membawa beban sementara dirinya hanya melenggang. Melihat itu Reana merebut bawaan ibunya sambil tersenyum. Bu Ridha Lia berjalan lebih dulu di depan mereka.


"Bantu Mama jualan?" tanya Yose. Dibalas anggukan oleh Reana.


"Sudah lama sekali, baru sekarang ketemu lagi. Di mana selama ini?" tanya Yose.


Reana menjawab seadanya kalau dia kuliah dan bekerja di kota. Laki-laki itu mengira Reana sedang berlibur mengunjungi ibunya. Reana menjelaskan kalau untuk selanjutnya ingin menemani ibunya berjualan di kantin sekolah.

__ADS_1


"Tidak kembali ke kota lagi?" tanya Yose.


Reana menggelengkan kepalanya. Laki-laki itu justru mengangguk. Mengalihkan pandangannya ke arah lain lalu tersenyum. Setiba di terminal, Reana pamit untuk naik salah satu angkutan umum untuk ke sekolah. Ibunya telah menunggu di salah satu angkutan umum itu.


Yose mengantarkan barang bawaan Reana hingga ke atas angkutan umum. Wanita itu naik dan duduk di samping ibunya. Yose pun pamit pada Reana dan Bu Ridha Lia untuk pergi ke suatu tempat. Mereka mengangguk dan berterima kasih. Dengan senyum dibibirnya Yose melangkah keluar dari terminal.


"Ini godaan Nak, hati-hati," ucap Ridha Lia.


"Maksud Mama?" tanya Reana.


"Saat rumah tanggamu terguncang selalu ada yang datang untuk menguji keteguhan hatimu, menguji imanmu, menguji kekuatan cintamu. Yang menjadi penggoda itu akan selalu terlihat lebih baik–"


"Ih Mama, siapa yang menggoda?" tanya Reana.


"Dia itu, sepertinya suka sama kamu. Kamu aja nggak ingat sama dia, tapi dia ingat sama kamu. Artinya dia punya perasaan khusus sama kamu dulu waktu di sekolah. Mama tak akan menghalangi apa pun keputusanmu tapi, pikirkan baik-baik segala sesuatunya. Jangan terburu-buru mengambil keputusan," ucap Ridha Lia.


Aku justru merasa telah mengambil keputusan dengan terburu-buru. Tanpa bertanya bagaimana kelanjutan rumah tangga kami. Tanpa tahu apa masalah yang terjadi, aku sudah memutuskan untuk pergi. Apa ini bukan keputusan yang terburu-buru? Mama, apa yang harus aku lakukan? Apa aku tidak akan menyesal nanti? Batin Reana.


Reana mengusap cincin di jari manisnya itu. Setiap kali teringat pada suaminya Reana menatap cincin itu dengan mata yang berkaca-kaca. Mobil angkutan umum yang membawa mereka pun mulai melaju.


Melintasi sebuah rumah sakit daerah Reana terkejut. Melihat Yose turun dari sebuah mobil dengan mengenakan jubah putih yang menjadi ciri khas seorang dokter. Reana termenung sendiri, mengingat-ingat siapa laki-laki yang menyapanya tadi.


"Aaah, ternyata dia?" tanya Reana pada dirinya sendiri.


"Siapa?" tanya Ridha Lia.

__ADS_1


Reana hanya tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya. Reana sudah ingat sekarang siapa laki-laki yang menemani langkahnya tadi. Reana tersenyum-senyum mengingat sesuatu saat masih di sekolah dulu.


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2