Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 62 S2 ~ Berhadapan ~


__ADS_3

Ny. Cathrina berteriak tak setuju sambil membuka pintu double berukiran itu. Begitu terbuka, wanita kaya itu langsung terkejut saat melihat Reana yang berdiri di ruang tengah itu menatap lurus ke arahnya.


Ny. Cathrina merasa kalau Reana mungkin mendengar ucapannya. Reana tertunduk saat nyonya itu melangkah tergesa-gesa menuju kamarnya di lantai atas. Sedikit merasa tak enak hati karena terang-terangan tidak setuju dan ternyata orangnya langsung mendengar.  Namun hanya sekejap, setelah itu Ny. Cathrina berlalu tanpa peduli perasaan Reana.


Nico yang melihat Reana yang berdiri di situ segera datang menghampiri. Nico menduga Reana pasti mendengar ucapan ibunya. Laki-laki itu segera menggenggam kedua tangan gadis itu. Nico tak ingin hati Reana tersakiti dan sedih tapi semua itu sudah terlanjur, yang bisa Nico lakukan hanyalah menguatkan hati Reana dan menghiburnya.


"Apa yang aku duga benar-benar terjadi." Suara Reana serak, begitu pelan hingga nyaris tak terdengar.


Nico langsung memeluk gadis yang dicintainya itu sambil tersenyum Nico mengangkat dagu Reana.


"Tapi kamu sudah duga isi hatiku 'kan? Aku tak akan menyerah untuk menikahimu. Kalau perlu aku paksa Mommy menerimamu--"


"Kakak jangan begitu!" seru Reana tak setuju laki-laki itu bersikap durhaka pada orang tuanya.


"Tenang saja, sayang! Daddy merestui kita tapi … ada syaratnya," ucap Nico.


"Syarat? Apa syaratnya?" tanya Reana semakin risau.


"Daddy ingin aku mengambil alih posisi pimpinan perusahaan. Artinya … kita akan tinggal di sini. Tapi kalau kamu nggak setuju? Aku putuskan, kita pulang dan menikah di sana meski tanpa restu dari mereka. Aku sudah melamarmu, aku harus bertanggung jawab dengan janjiku untuk menikahimu. Meski dilema tapi aku harus memikirkan kebahagiaanku. Aku hanya bahagia jika bersamamu," tutur Nico lalu mengecup bibir Reana.


Reana diam mendengar penuturan laki-laki yang dicintainya itu. Pikirannya  langsung berkecamuk, tak rela membiarkan laki-laki itu menjadi anak yang durhaka pada orang tuanya.


"Kakak akan menjadi anak yang durhaka. Aku--"


"Aku nggak durhaka! Aku tetap putra mereka, mereka tetap orang tuaku. Aku akan tetap sayang orang tuaku. Hanya saja, aku jadi anak yang tidak patuh, itu saja," ucap Nico sambil tersenyum.


Reana menggelengkan kepalanya lalu tertunduk. Tetap saja tak setuju dengan sikap Nico. Reana tak ingin menjadi penyebab laki-laki itu menjadi anak yang tak patuh. Tapi, dia sendiri bingung mencari jalan keluarnya. Mendapat restu ayah Nico tetapi dia harus pindah dan menetap di New York, meninggalkan ibunya seorang diri di kampung.


Mama nggak mungkin mau meninggalkan rumahnya di kampung untuk dibawa ke sini. Nggak mungkin Mama setuju. Mama juga orang yang berpikiran teguh, tak ingin dikira menjadi orang tua yang menumpang dengan anak dan menantunya. Aduh bagaimana ini, batin Reana.


"Kalian istirahatlah dulu, nanti kita bicara lagi. Kasihan Reana, dia pasti lelah," ucap Alex Rayne tiba-tiba.


Kemudian melangkah menuju kamarnya menyusul istrinya. Bapak yang bijaksana itu tentu saja ingin membujuk istrinya. Nico langsung mengajak Reana ke kamarnya di lantai atas.

__ADS_1


"Mau tidur di kamarku atau kamar yang lain?" tanya Nico yang telah mendorong Reana pelan hingga rebah di atas ranjangnya.


"Sekarang di sini, nanti malam di kamar yang lain," jawab Reana.


Nico tersenyum, kemudian membenamkan bibirnya ke bibir gadis pujaannya itu. Sudah sangat ingin melakukannya dari tadi. Namun, tak memiliki kesempatan untuk berduaan saja.


Reana mengusap lembut pipi Nico, berusaha menikmati ciuman laki-laki itu. Tapi, hatinya tetap tak tenang. Reana tak bisa melupakan begitu saja apa yang dilihatnya tadi. Ny. Catharina terlihat sangat kesal saat keluar dari ruang kerja. Dan sayangnya, ekspresi kesal itu langsung terlihat oleh Reana.


"Ada apa sayang? Tolong jangan terlalu dipikirkan. Kita di sini beberapa hari, selama itu aku akan selalu membujuk Mommy. Seharusnya aku mengenalkan kamu sejak dulu pada mereka. Bukannya tahu-tahu mengenalkanmu sebagai calon istri. Tapi dulu aku tidak percaya diri, kalau sekarang, apa pun akan aku hadapi demi kamu. Demi bisa selamanya bersamamu, apa pun akan aku lakukan sayang. Tolong jangan pernah punya pikiran untuk mundur. Aku akan kejar kamu ke mana pun, kalau perlu aku jadi penguntitmu," jelas Nico. Reana tertawa.


"Seram sekali, tapi bagaimana caranya menguntit aku di Indonesia, Kakak di sini?" tanya Reana sambil tertawa.


"Aku lepaskan semua yang aku punya di sini lalu pindah ke Indonesia. Jadi penguntit Nona Reana, ada cowok yang mencoba mendekat? Aku hajar sampai babak belur. Coba-coba kenalan dengan cowok lain, aku obrak abrik acara kencan kalian. Pokoknya kamu nggak boleh dekat dengan cowok lain. Biar jadi perawan tua, nggak laku. Sampai akhirnya kamu mau menerimaku lagi," tutur Nico lalu tertawa.


"Tapi sekarang aku sudah terima Kakak. Tapi …  jika tak ditakdirkan bersama, bagaimana?" tanya Reana.


"Aku akan gila Reana, atau aku akan hidup seperti mati. Satu-satunya yang membuat aku bertahan berpisah denganmu selama dua tahun ini karena aku yakin kita bisa bersama suatu saat nanti. Pokoknya aku akan lakukan apa pun agar aku bisa bersamamu," jawab Nico sambil mencium dalam pangkal leher Reana.


Memikirkan itu, Nico tak mau ambil pusing lagi, dia memutuskan melepas semuanya demi tetap bersama gadis yang dicintainya. Nico memeluk tubuh gadis itu. Meminta Reana beristirahat seperti yang dikatakan Tn. Alex Rayne.


"Istirahatlah sayang! Nanti malam kita bertempur," ucap Nico sambil menahan senyum.


"Apa?"


"Aku yakin nanti malam Daddy akan minta kepastian jawabanku untuk menerima tawarannya," ucap Nico.


"Kakak jawab apa nanti?" tanya Reana.


Gadis itu sendiri sangat bingung dengan pilihan yang ditawarkan Tn. Rayne pada putranya. Terlebih lagi meminta Nico untuk meninggalkan keluarga, itu adalah permintaan yang tak mungkin. Sementara dirinya tak bisa menetap di New York karena tak tega meninggalkan ibunya.


Reana memeluk Nico dan membenamkan wajahnya di dada bidang laki-laki itu. Reana tak tahan lagi untuk menyembunyikan air matanya. Tak ingin berpisah dengan laki-laki itu tapi situasi berkehendak lain. Reana putus asa, pasrah jika harus melepas laki-laki yang dicintainya itu.


Nico tahu Reana menangis, meski gadis itu tahu dia akan tetap memilih Reana tapi gadis itu tak seketika bahagia. Justru bersedih karena harus membuat dirinya menentang keluarganya. Nico memeluk gadis itu dan berbisik agar Reana segera tidur dan dia sendiri juga akan tidur sambil terus memeluk gadis cantik itu.

__ADS_1


Dan seperti yang Nico katakan. Setelah makan malam, Tn. Alex Rayne mengajak istrinya, Nico dan Reana berbicara serius di ruang tengah. Nico menggandeng tangan calon istrinya yang terasa dingin. Begitu dingin seperti darah tak mengalir hingga ke telapak tangan itu.


Dia jadi Vampir atau bagaimana? Jangan-jangan nggak ada darah lagi dalam tubuhnya, batin Nico sambil tersenyum.


Mereka melangkah dengan santai ke ruang tengah. Begitu besarnya ruangan itu, melangkah ke sana pun Nico masih sempat menggoda calon istrinya. Sebentar-bentar melirik sambil tersenyum. Reana melirik Nico yang hanya senyum-senyum.


Ih, Kak Nico ini, rasanya seperti mau diadili. Tapi Kak Nico malah senyum-senyum? Nggak takut, apa? Batin Reana heran.


Nico bahagia, melihat calon istrinya itu yang begitu manis mengenakan gaun yang pernah dibelikannya dulu. Gaun selutut berwarna peach yang masih terlihat seperti baru. Tak mengherankan, karena gaun itu memang tak pernah lagi di pakai Reana. Gaun itu terlalu spesial baginya sementara hari-hari Reana tak lagi ada yang luar biasa.


"Kamu manis sekali, aku rasa Mommy akan terpesona melihatmu," ucap Nico berbisik di telinga Reana.


Dan benar saja, jika saat duduk di meja makan Ny. Cathrina tak begitu melihat seperti apa penampilan Reana. Sekarang saat berdiri di hadapan kedua orang tua itu. Kembali nyonya elegan itu menatap Reana dari ujung kaki hingga ujung kepala lalu kembali ke ujung kaki lagi. Seperti tidak puas hanya melihat sekali saja.


Penampilan Reana yang berbeda dari saat pertama bertemu tadi, jelas-jelas membuat nyonya itu heran. Seperti melihat seorang gadis dari kalangan atas. Itu yang ada dalam pikiran nyonya itu meski tak bisa melupakan bagaimana cara keluarga gadis itu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


Anak seorang penjaga kantin ternyata bisa cantik juga, batin Cathrina.


Lalu segera berpaling seolah-olah tak terpesona dengan penampilan Reana. Jika berpenampilan seperti itu saat bertemu pertama kali, ibunda Nico, mungkin tak akan begitu protes dengan kesenjangan status sosial mereka. Namun, Nico sama sekali tak peduli seperti apa Reana berpakaian. Baginya seperti apa pun gaya berpakaian Reana, gadis itu tetap mempesona baginya.


Nico masih teringat saat mengajak Reana berjalan-jalan di Mall. Membelikan gaun itu justru membuat Reana tersinggung karena mengira Nico merasa malu dengan penampilannya hingga membelikan gaun cantik itu untuk menemaninya berjalan-jalan.


"Kami setuju kalian menikah!" ucap Alex.


Singkat namun membuat mereka tercengang. Reana dan Nico yang duduk di hadapan kedua orang tuanya itu seperti tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Berhubung cara pengucapan dalam bahasa Indonesia Tn. Alex Rayne yang kadang tidak tepat.


"Sayang, kamu dengarnya setuju atau tidak setuju?" bisik Nico.


"Setuju! Tapi mungkin itu halusinasiku saja," jawab Reana yang jelas menunjukkan kalau dia sendiri tidak begitu yakin.


Nico mengangguk bingung, semakin bertanya semakin bingung. Kembali mereka menatap kedua orang tua itu berharap Tn. Alex Rayne akan mengulang ucapannya tadi.


...~   Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2