
Reana turun dari tangga diiringi gadis pelayan berwajah lugu. Tuan Malvin telah duduk di meja makan lebih dulu, namun laki-laki itu belum menyentuh sarapannya. Dia sangat ingin menyantap sarapan paginya bersama Reana.
Reana duduk dihadapan tuan Malvin tanpa menoleh sedikitpun pada laki-laki itu. Tuan Malvin memandang Reana dengan perasaan menyesal.
Apa yang terjadi semalam sangat menggangu pikirannya. Tuan Malvin hanya ingin menumbuhkan rasa nyaman bagi Reana tapi justru berakhir dengan cara seperti itu.
Tuan Malvin merasa ditantang oleh sikap Reana yang selalu mendebat ucapannya. Karena emosi laki-laki itu tak bisa menguasai diri, meraih Reana dan mencoba menciumnya.
Tuan Malvin ingin menunjukkan bahwa dialah yang berkuasa atas semua yang dimilikinya termasuk Reana. Bagaimanapun juga Reana akan menjadi istrinya, dan gadis itu harus tunduk pada keinginannya.
Niat tuan Malvin hanyalah ingin terbuka. Dia ingin Reana mengenal pribadinya dengan lebih baik. Tanpa sadar tuan Malvin justru menceritakan masa lalunya. Perbedaan pendapat diantara mereka membuat suasana menjadi tegang.
Tuan Malvin tak mampu menahan dirinya, karena Reana masih belum bisa ditaklukkannya. Segala yang diberikan tuan Malvin seperti tidak ada artinya bagi Reana.
Tuan Malvin memandang Reana dengan mata sedih, gadis itu masih memakai pakaian yang dikenakannya kemarin. Tuan Malvin meraih ponselnya menghubungi seseorang.
"Nanti antarkan Reana ke rumah kostnya" perintah tuan Malvin pada pengawalnya.
Reana melirik tuan Malvin.
"Apa saya boleh pulang ?" otomatis Reana bertanya mendengar ucapan tuan Malvin.
"Tidak, kamu pulang untuk mengemasi barang-barangmu, pernikahan kita sudah dekat, kamu harus tetap berada dirumah ini, ada banyak hal yang harus dipersiapkan" jelas tuan Malvin cepat.
Reana menghembuskan nafas panjang, gadis itu merasa tidak ada harapan lagi untuk bebas dari perjanjian pernikahan itu. Ekspresi Reana langsung terlihat sedih.
Tuan Malvin memandang pada Reana dengan perasaan menyesal. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak sanggup kehilangan gadis itu. Tuan Malvin benar-benar tak bisa melepas Reana untuk laki-laki lain.
Para pelayan membereskan piring yang telah kosong, setelah Reana menyantap cheesy mushroom scramble. Mereka mengganti dengan mangkok kecil berisi salad buah.
Pelayan tuan Malvin tidak hanya satu atau dua orang tapi banyak, dan rata-rata mereka adalah gadis muda. Entah dari mana tuan Malvin mendapatkan mereka semua. Mereka bekerja pada tuan Malvin di berbagai level pekerjaan.
"Bukankah tuan dikelilingi banyak gadis, kenapa tuan tidak memilih salah satu diantara mereka untuk dinikahi ?" tanya Reana sambil menancapkan potongan buah di garpunya.
"Mereka tak ada artinya bagiku, mereka hanya pekerja" jawab tuan Malvin kurang suka dengan pertanyaan Reana.
"Bagaimana dengan gadis di kantor waktu itu, apa dia hanya seorang pekerja ? bagaimana caranya tuan mengumpulkan gadis-gadis seperti itu ? " tanya Reana terdengar sinis.
Reana tak percaya dengan ucapan tuan Malvin yang menganggap semua gadis itu sama, tak ada arti baginya. Jelas-jelas gadis itu dan tuan Malvin terlihat begitu akrab. Gadis itu bahkan pamer kemesraannya dengan tuan Malvin.
Tuan Malvin semakin tidak suka dengan pertanyaan Reana tapi laki-laki itu bersabar. Mencoba memberi jawaban yang tak membuat gadis itu berpikiran buruk tentangnya.
"Mereka datang ke kota ini dengan berbagai impian yang tak bisa diwujudkan dengan kemampuan mereka sendiri. Aku hanya mencoba membantu mereka mewujudkannya, setelah itu tanpa kuminta mereka menempel padaku" jelas tuan Malvin sangat ingin Reana berhenti membahas ini.
"Mencoba membantu mereka atau memanfaatkan mereka untuk memenuhi kebutuhanmu tuan ? " tanya Reana ringan tanpa berpikir.
Tuan Malvin menggebrak meja, Reana kaget. Ucapan Reana dinilai tuan Malvin sebagai suatu penghinaan.
Entah mengapa dulu tuan Malvin merasa bangga karena dikelilingi wanita-wanita cantik yang datang dengan ikhlas melayani semua keinginannya.
Namun saat pemikiran itu terlontar dari mulut Reana, tuan Malvin merasa terhina, tuan Malvin merasa Reana meremehkannya, seakan-akan tujuan laki-laki itu memberi bantuan adalah untuk mengambil keuntungan dari gadis-gadis itu.
Tuan Malvin mengepalkan tangannya, memejamkan mata, laki-laki itu mencoba menahan amarahnya. Melihat ekspresi itu Reana ketakutan, gadis itu menyesal telah mengucapkan kata-kata seperti itu.
"Maksudku mereka pasti sangat menginginkanmu tuan, kenapa tidak memilih salah satu diantara mereka untuk dinikahi ? " jelas Reana mencoba menerangkan maksud ucapannya.
Tersirat dari ucapannya, kalau Reana mengusulkan itu agar dia terbebas dari jerat pernikahan dengan tuan Malvin.
"Menurutmu aku laki-laki seperti itu ?
Laki-laki yang sembarangan memilih gadis untuk dinikahi ?
Hanya karena mereka ada di sisiku dan menyerahkan dirinya padaku ?" tanya tuan Malvin sambil berdiri mendekati Reana.
Reana tertunduk, takut menatap mata tuan Malvin. Gadis itu menyesal telah menanyakan pertanyaan yang membuat laki-laki itu kesal. Reana bertanya-tanya apa yang akan tuan Malvin lakukan. Gadis itu sedikit trauma dengan kejadian semalam.
__ADS_1
"Kalau menurutmu dengan berkata seperti itu bisa membuatmu terbebas dari pernikahan, jangan harap, aku tidak akan pernah membatalkannya" ucap tuan Malvin sambil bergerak menuju tangga.
Di anak tangga pertama laki-laki itu menghentikan langkahnya.
"Jika kamu tidak suka, aku akan melepas semua gadis-gadis itu" ucap tuan Malvin sambil menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, aku tidak menginginkan apa-apa, aku tak ingin tuan berkorban apapun untukku" teriak Reana berdiri dibawah anak tangga.
Langkah kaki tuan Malvin berhenti sesaat, entah apa yang dipikirkannya, lalu kembali menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya.
Gadis itu panik, dia sama sekali tak ingin menerima pengorbanan apapun dari tuan Malvin. Melepas semua gadis-gadis itu adalah sebuah pengorbanan yang besar, dan Reana tidak mau menerimanya.
Reana menghembuskan nafas panjang, melihat tuan Malvin tidak merespon ucapannya. Laki-laki itu berlalu begitu saja menuju kamarnya, bersiap-siap untuk berangkat kerja.
Reana juga ingin segera pergi karena tuan Malvin memberinya izin untuk mampir ke tempat kostnya. Kesempatan ini akan digunakan Reana untuk berpamitan dengan bu Yati.
Sesampai dikamar kost Reana mengganti pakaiannya, mengemasi baju dan buku-bukunya. Reana duduk di tepi ranjang, mengusap lembut ranjang yang menjadi tempat gadis itu melepas lelah, dadanya terasa sakit, sangat berat rasanya meninggalkan kamar ini.
Reana berencana akan tetap tinggal di kamar ini hingga dia tamat kuliah nanti, bahkan saat dia mendapat pekerjaan, gadis itu masih ingin bertahan dikamar ini.
Tapi takdir berkata lain, angan-angannya untuk tetap dikamar kesayangannya ini harus pupus sampai disini.
"Kamu yakin dengan keputusanmu nak ?" tanya bu Yati khawatir.
Tuan Malvin telah menemui bu Yati sebelumnya, memberitahu rencana pernikahan mereka. Begitu juga dengan niat tuan Malvin untuk membawa Reana tinggal bersamanya.
Bu Yati sangat kaget mendengar penjelasan tuan Malvin. Bahkan tidak percaya, bu Yati ingin mendengar secara langsung dari mulut Reana. Karena itulah tuan Malvin memberi izin pada Reana pulang ke rumah kostnya.
Reana tertunduk mendengar pertanyaan bu Yati. Jika ingin jujur, gadis itu tidak akan pernah bersedia menikah dengan tuan Malvin, tapi keadaan memaksanya mengambil keputusan itu.
"Kamu ini masih terlalu muda, masa depanmu masih panjang. Kenapa mendadak ingin menikah ? Jika tuan Malvin benar-benar mencintaimu harusnya dia bisa menunggu. Atau... jangan-jangan kamu sudah... hamil?" tanya bu Yati ragu-ragu.
"Nggak bu, sungguh, saya tidak seperti itu. Saya hanya tak bisa menolak permintaan tuan Malvin, itu saja" jawab Reana tak ingin Bu Yati berpikiran buruk tentang dirinya.
"Baiklah, kalau ini memang keputusanmu. Jika dilihat, tuan Malvin adalah seorang yang baik, sopan, mapan, dan sangat tampan, sangat sulit mencari orang yang lebih baik dari tuan Malvin" ucap bu Yati menyetujui.
Gadis itu menangis tersedu-sedu, bu Yati merasa aneh melihat sikap Reana. Gadis itu menangis sedih seakan-akan merasa tak rela.
Akhirnya bu Yati berpikir mungkin karena Reana yang masih terlalu muda, hingga masih gamang untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
Sementara tuan Malvin sudah sangat ingin menikahinya. Dan gadis itu tak ingin kehilangan pria tampan yang pasti banyak dipuja-puja orang, begitulah pemikiran bu Yati.
Reana memutuskan untuk segera pergi setelah meminta bu Yati mendo'akannya. Bu Yati melepas Reana dengan berat hati, gadis itu sudah seperti anak kandungnya sendiri.
Reana juga meminta bu Yati membantunya menjelaskan kepada para penghuni kost lainnya dan menitip salam untuk mereka. Bu Yati menyanggupi permintaan Reana.
Reana diantar para pengawal ke kampus karena harus mengikuti perkuliahan, sementara travel bag yang berisi pakaian dan buku-bukunya di titipkan pada pengawal untuk dibawa pulang ke rumah tuan Malvin.
Reana mengikuti kuliah dengan pikiran yang melayang. Gadis itu banyak melamun, kedua mata kuliah yang diikutinya hari ini, tak satupun yang benar-benar diikuti Reana dengan serius.
Bahkan hingga perkuliahan itu berakhir Reana masih saja berwajah murung. Saat ini gadis itu berharap punya keberanian untuk melarikan diri.
Dengan wajah tertunduk Reana melangkah menuju parkiran kampus, dimana para pengawal tuan Malvin telah menunggunya.
Tiba-tiba seseorang menahan tangannya. Nico berdiri dihadapannya dengan perasaan yang bercampur aduk antara cemas, kecewa dan marah.
"Reana dimana kamu selama ini ? aku mencarimu, aku menunggumu, kenapa kamu bisa bersama dengan tuan Malvin ? " teriak Nico emosi.
Reana heran bagaimana Nico bisa mengetahui dirinya bersama tuan Malvin, namun gadis itu hanya diam memandang wajah Nico dengan penuh kerinduan.
Didalam hatinya mungkin ini adalah kesempatan terakhir baginya menatap wajah laki-laki yang telah mengisi hatinya.
Nico mengguncang bahu Reana yang hanya terdiam. Gadis itu menitikkan air mata. Nico panik bertanya-tanya apa yang terjadi pada Reana.
Gadis itu masih belum menjawab, kenapa dia bisa bersama dengan tuan Malvin. Yang lebih menyakiti hati Nico, Reana menutup telepon begitu saja saat berbicara dengannya.
__ADS_1
"Reana, aku mohon bicaralah, katakan sesuatu" teriak Nico semakin panik.
"Kak, jangan temui saya lagi, saya tidak bisa menemui kakak lagi, maafkan saya" ucap Reana ingin segera berlalu dari hadapan Nico.
Nico menghalangi langkah gadis itu, dia tidak terima Reana pergi tanpa memberi penjelasan padanya.
"Tolong biarkan saya pergi" ucap Reana.
Reana menangis sambil berusaha melepaskan tangan Nico. Laki-laki itu heran dengan sikap Reana yang terlihat begitu sedih, takut dan panik.
"Apa yang terjadi ? katakan padaku yang terjadi ? yang aku tahu hubungan kita telah membaik, kamu telah memaafkanku, kamu telah memaafkan kesalahpahaman kita, lalu kenapa sekarang kamu menghindariku ? " tanya Nico bertubi-tubi.
"Maaf kak, saya tidak bisa bersama kak Nico lagi" hanya itu yang diucapkan Reana, gadis itu kembali hendak pergi.
"Katakan padaku apa alasannya ? kenapa kita tidak bisa bersama? " teriak Nico panik mendengar ucapan Reana.
"Saya akan menikah, saya memutuskan untuk menikah dengan tuan Malvin" ucap Reana dengan air mata yang mengalir deras.
Akhirnya Reana mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang dia sendiri tak ingin mengucapkannya. Tapi gadis itu harus melakukannya, agar Nico tak lagi mencarinya.
Nico terpaku, tak percaya dengan ucapan Reana. Tapi ekspresi Reana yang menunjukkan dia serius dengan ucapannya membuat Nico bertanya-tanya.
"Apa yang dia lakukan padamu ? kenapa kamu harus menikahinya ?"tanya Nico panik.
"Dia tidak melakukan apapun" sanggah Reana.
"Reana, kita bisa menuntut dan mengirimnya ke penjara jika dia melakukan hal yang buruk padamu, kamu nggak harus menikahinya" ucap Nico dengan perasaan sedih.
"Tidak seperti itu" ucap Reana menyanggah ucapan Nico.
"Aku yang akan bertanggungjawab, percayalah semua ini karena kesalahanku, aku yang tak bisa menjagamu, tapi tolong Reana, jangan tinggalkan aku, jangan menikah dengannya, jangan Reana... aku mohon" ucap Nico menitikkan air mata.
Untuk kedua kalinya laki-laki itu menangis karena Reana, dia tak peduli dinilai sebagai laki-laki yang cengeng. Hal yang paling ditakutkannya ada di depan mata, yaitu perpisahan dengan Reana.
"Maafkan saya kak Nico, tapi saya sudah menerima lamaran tuan Malvin, saya sudah memutuskan untuk menikah dengannya" ucap Reana menangis sambil melangkah meninggalkan Nico.
Didepan mereka telah menunggu para pengawal untuk menjemput Reana. Melihat itu Nico langsung menarik tangan Reana dan mengajaknya pergi. Tapi Reana menghentakkan tangannya.
Nico tak percaya ini benar-benar terjadi, gadis itu menolak pergi bersamanya.
"Dia memaksamu untuk menikah dengannya ?" tanya Nico.
Reana menggeleng.
"Dia memberiku pilihan, dan aku memilih untuk menikahinya, maafkan saya kak Nico" ucap Reana sambil berjalan menuju para pengawal.
"Silahkan nona Reana" ucap seorang pengawal membukakan pintu mobil untuk Reana.
Reana berhenti, gadis itu melepas kalung pemberian Nico dan mengembalikannya.
"Maafkan saya kak Nico" ucap Reana berkaca-kaca.
Gadis itu meraih tangan Nico dan meletakkan kalung pemberiannya di telapak tangan laki-laki itu. Lalu berbalik berjalan menuju mobil.
"Tidak Reana, aku mohon jangan pergi... Reana" teriak Nico mencoba mendekati Reana.
Empat orang pengawal menghalangi Nico, laki-laki itu mendorong mereka agar tidak menghalanginya mengejar Reana.
Tapi para pengawal tetap bertahan menghadang Nico. Setelah mereka yakin Reana masuk kedalam mobil barulah mereka membiarkannya.
Para pengawal yang menghadang Nico masuk ke mobil yang lain. Mereka melaju bersamaan.
Nico berusaha mengejar mobil yang membawa Reana. Laki-laki itu berteriak memanggil nama gadis itu. Reana menutup telinganya dengan kedua tangannya.
Tak sanggup Reana mendengar jeritan sedih Nico yang memanggil namanya. Disepanjang jalan Reana menangis sesenggukan. Para pengawal hanya bisa diam mendengar tangisan pilu gadis itu.
__ADS_1
...*****...