Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 75 S2 ~ Tergila-gila ~


__ADS_3

Seperti tertinggal dalam memorinya, saat berhadapan dengan Tn. Malvin. Tak percaya tetapi nyata. Seorang anak berbisik padanya saat berbincang-bincang dengan Alika. Anak itu berkata seorang tamu ingin pamit pulang dan ingin mengucapkan selamat atas pernikahannya.


Sambil menggandeng tangan anak itu, Reana berjalan dengan anggun mencari siapa yang ingin bertemu dengannya. Tetapi hingga hampir mencapai pintu masuk ballroom, orang yang di cari masih belum di temukan. Reana penasaran dan bertanya pada gadis kecil itu.


"Di mana orangnya?" tanya Reana.


"Menunggu di luar, orangnya udah mau pulang," jawab gadis kecil itu.


Reana pun mengangguk sambil tersenyum lalu mengikuti langkah gadis kecil itu. Anak itu hingga menarik tangan Reana agar segera sampai di depan pintu. Di luar sana, tiba-tiba muncul di hadapannya seorang pria dengan setelan jas hitam dan langsung menggendong anak itu. Reana mengira pria berjas hitam itulah yang akan berpamitan padanya.


"Halo sayang, apa kabarmu?"


Reana menoleh dan langsung terperangah, melihat Tn. Malvin yang tiba-tiba muncul dari arah sampingnya. Mulutnya yang ternganga memudahkan Tn. Malvin membekap gadis itu dengan sapu tangan yang mengandung obat bius. Reana terkulai, Tn. Malvin langsung menggendong Reana, lalu kembali ke ballroom. Menunjukkan pada Nico bahwa dia telah berhasil mendapatkan Reana.


Gadis itu telah terkulai dalam gendongannya. Dengan bangga memanggil Nico agar bisa menyaksikan sendiri, gadis yang pernah menjadi pengantinnya itu kini menjadi miliknya. Lalu pergi meninggalkan lokasi pesta dengan senyum kemenangan.


Kini gadis itu, terbangun dari pingsan. Kesan panik yang terakhir dirasakannya membuat dia segera bangkit dari tidurnya. Namun, hanya bisa duduk di ranjang, kepalanya terasa begitu sakit hingga tak menolak saat diminta kembali berbaring.


Pandangannya yang masih kabur dengan mata yang terasa berat membuat Reana tak menyadari siapa yang ada di hadapannya. Usapan lembut di pipinya saat Tn. Malvin meminta untuk merebahkan diri lagi. Membuat ingatannya langsung melayang pada laki-laki yang dicintainya.


"Kak Nico?" tanya Reana yang belum bisa melihat dengan jelas.


Mendengar itu Tn. Malvin tersenyum, kesempatan itu tak ingin dilewatkannya. Reana tak sadar siapa yang ada dihadapannya. Perlahan pengusaha tampan itu membenamkan bibirnya ke bibir Reana.


Sambil tersenyum dalam hati laki-laki tampan itu semakin menikmati ciumannya. Dan tentu saja semakin bernafsu hingga nafasnya terdengar semakin memburu. Tn. Malvin menikmati ciuman menggebu itu selagi pandangan Reana masih kabur dan belum begitu sadar. Melakukannya lagi, lagi dan lagi.


Tn. Malvin sudah tak bisa menahan dirinya. Mengetahui Reana yang sama sekali tidak menolak, bahkan menikmati dan membalas ciumannya. Tn. Malvin pun melepas jas hitamnya bahkan melepaskan kemeja putihnya. Namun, Reana sadar, gadis itu langsung menolak dan mendorong.


"Apa yang Tuan lakukan?" tanya Reana berteriak panik.


Gadis itu berusaha bangkit dari ranjang tetapi Tn. Malvin kembali menghempaskannya ke ranjang. Tn. Malvin sudah tak bisa menahan dirinya lagi. Hasratnya telah memuncak. Niatnya yang tak ingin memaksa Reana kini telah berubah.

__ADS_1


"Kamu seharusnya sudah menjadi milikku Reana. Sejak dua tahun yang lalu kamu itu sudah menjadi milikku. Aku tak mau menunggu lagi," ucap Malvin mengukung Reana di bawah tubuhnya.


"Tuan, aku sudah menikah. Tuan sendiri juga sudah membatalkan pernikahan kita. Aku bebas menikah dengan orang yang aku inginkan. Tuan tidak punya hak memaksaku. Tolong lepaskan aku. Tuan orang yang baik, pasti bisa menemukan yang lebih baik dariku, tolong lepaskan aku Tuan," ucap Reana mencoba membujuk laki-laki itu.


Dengan air mata yang mengalir di samping kedua matanya. Reana ingin memiliki harapan dia bisa menyadarkan Tn. Malvin. Meski dia sendiri tidak yakin, tetapi dia ingin terus mencoba membujuknya.


"Aku hanya mencintai kamu Reana. Aku bisa bertahan hidup di rumah tahanan hanya dengan memikirkan kamu. Aku tak bisa mundur lagi. Kamu harus menjadi milikku malam ini. Aku tidak tahan lagi," ucap Malvin langsung memaksa mencium bibir Reana.


Gadis itu meronta sekuat tenaga. Air matanya mengalir deras, terbayang wajah Nico yang setia menunggunya selama ini hingga di wisuda untuk dapat memperistrinya. Reana tak rela menyerahkan dirinya pada laki-laki yang tak dicintainya ini.


Namun, Tn. Malvin seperti telah kehilangan akal. Tak menggubris gadis itu yang menangis dan meronta.  Tn. Malvin bahkan menarik gaun pengantin gadis itu hingga jahitannya terlepas. Reana menjerit, melihat Tn. Malvin yang semakin kalap menciumi seluruh leher dan bahu Reana yang terbuka.


"Aku tak akan melepasmu Reana. Aku tak bisa menunggu lagi. Maafkan aku Reana, aku janji, aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku," ucap Malvin mengunci kedua tangan Reana di atas kepalanya.


Reana menangis, tak bisa melepaskan diri dari kekangan laki-laki bertubuh atletis itu. Tn. Malvin tak bisa lagi menahan diri. Bertekad memiliki Reana bagaimanapun caranya.


Reana pasrah tak bisa berbuat apa-apa. Melawan nafsu seorang laki-laki yang tak bisa lagi di sadarkan. Gadis itu hanya bisa menangis saat Tn. Malvin melahap seluruh lehernya. Hal yang sudah lama ingin dilakukan Tn. Malvin setiap kali menatap Reana. Menyesap leher putih susu itu hingga meninggalkan jejak kemerahan di manapun bibirnya singgah.


Tak rela tubuhnya disentuh oleh bibir laki-laki itu. Reana menangis sejadi-jadinya. Setiap detik menyesali dirinya yang tak menyerahkan kehormatannya pada Nico yang telah menjadi suaminya. Jika dia tahu Tn. Malvin akan merenggut kesuciannya, Reana rela menyerahkannya untuk Nico.


Ternyata tangisan Reana mampu menghentikan aksi Tn. Malvin. Begitu tulus cinta laki-laki itu hingga tak sanggup mendengar ancaman Reana. Dia ingin gadis itu mencintainya. Tn. Malvin tidak hanya ingin sekedar memiliki tubuh Reana, tetapi semuanya, hati dan tubuhnya.


Tn. Malvin bangkit dari tubuh Reana, turun dari ranjang itu lalu meraih kemejanya yang tadi dibuang sembarangan. Laki-laki itu menatap gadis yang menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Rasa syukur Reana tak terkira saat Tn. Malvin akhirnya memutuskan menghentikan aksinya.


"Nanti ada yang membantumu membersihkan diri. Aku tunggu kamu untuk makan malam," ucap Malvin lalu meninggalkan gadis yang masih belum bisa menenangkan diri dari rasa takutnya.


Begitu hatinya tenang dari kejadian traumatis itu, Reana langsung berlari ke arah pintu kaca geser itu. Reana terkejut melihat pemandangan yang tak dikenalnya itu. Sebuah kolam renang dengan taman di sekelilingnya. Jauh di sana terlihat panorama pantai yang belum pernah dilihatnya.


Di mana ini? Aku tidak di hotel itu lagi? Ini bukan kamar hotel lokasi pestaku? Kenapa aku bisa sampai ke sini? Batin Reana bertanya-tanya.


Belum hilang rasa herannya, tiba-tiba masuk tiga orang gadis yang bisa di pastikan adalah para pelayan. Mereka meletakkan dua buah gaun untuk Reana. Satu gaun untuk makan malam dan satunya lagi gaun tidur. 

__ADS_1


Reana menatap gaunnya sendiri, gaun pengantinnya yang indah telah compang camping. Robek di sana sini. Gadis itu meneteskan air mata, mengingat teganya Tn. Malvin merobek gaun pengantinnya. Setelah susah payah memilih dan menentukan gaun pengantinnya bersama dengan Nico. Reana ingin gaun pengantin ini menjadi kenangan-kenangan baginya.


"Nona, mari kami bantu lepaskan gaunnya," ucap seorang gadis pelayan.


"Nggak usah! Aku bisa lepaskan sendiri," ucapnya sambil meraih perlengkapan mandi beserta pakaian dalam yang disediakan.


"Tapi Nona, kami disuruh untuk membantu Nona membersihkan diri," ucap gadis pelayan yang lain.


"Ya, kalian tunggu saja di sini, aku bisa membersihkan diriku sendiri. Kalian diam di sini, itu saja sudah membantuku," ucap Reana lalu melangkah mencari kamar mandi. Sampai di kamar mandi gadis itu menghembuskan nafas panjang.


Harusnya malam ini adalah malam pertamaku bersama Kak Nico, kenapa jadi begini? Kenapa dia bisa muncul? Bukannya masa tahanannya masih lama? Bagaimana aku cara aku kabur dari sini? Aku tak tahu di mana ini? Batin Reana bertanya-tanya.


Terdengar teriakan dari luar kamar mandi. Salah seorang gadis pelayan menanyakan apakah Reana perlu bantuan. Reana kaget, gadis itu baru sadar kalau dia harus segera membersihkan diri.


Reana melangkah ke sebuah tempat khusus. Setelah selesai membersihkan diri dan dibantu berdandan oleh para gadis pelayan. Reana diantarkan ke sebuah gazebo yang besar dan mewah. Di sana telah tertata rapi perlengkapan makan lengkap dengan lilin yang menyala.


Tn. Malvin berdiri menatap laut lepas. Gazebo itu dikelilingi oleh taman asri yang indah diterangi lampu taman. Tn. Malvin membalikan badan setelah seorang pelayan menyampaikan kalau Reana telah datang.


Laki-laki itu tersenyum, terpesona oleh kecantikan Reana malam itu. Laki-laki itu segera mendekati Reana. Meraih tangan gadis itu lalu mengecup punggung tangannya.


"Semakin dewasa kamu semakin cantik Reana," ungkap Malvin kembali mengecup tangan Reana.


Kali ini telapak tangan gadis itu. Tn. Malvin mengecupnya lama seperti begitu menikmatinya hingga pengusaha tampan itu memejamkan mata. Reana ingin menarik tangannya tetapi tak tega selain itu Reana tak ingin mencari gara-gara dengan Tn.. Malvin.


"Aku merindukanmu, aku semakin mencintaimu. Kita lanjutkan pernikahan kita besok," ucap Malvin.


"Apa?" tanya Reana kaget.


Reana merasa laki-laki itu sudah gila. Jika ditanya Tn. Malvin akan mengakuinya, kalau dia memang gila. Sangat tergila-gila pada Reana.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2