
Saat pulang Reana menempuh rute yang sama. Kembali wanita itu menoleh untuk mengamati rumah sakit daerah yang dilewati jalur angkutan umum itu. Namun, Reana tak lagi melihat mobil Yose. Entah mengapa wanita itu menjadi kecewa.
Tadinya Reana berpikir mungkin suatu saat bisa menemui laki-laki itu di sana khusus untuk mengucapkan terima kasih atas bantuannya beberapa tahun yang lalu. Ada rasa kecewa karena tak lagi melihat mobil Yose di sana.
Dia praktek di sana atau sekedar mampir? Kalau ternyata hanya mampir berarti aku tak bisa lagi bertemu dengannya. Kesempatanku untuk berterima kasih, hilang lagi, batin Reana.
Wanita itu menghela nafas panjang. Begitu kerasnya helaan nafas Reana hingga terdengar oleh Bu Ridha Lia. Ibu itu, menyentuh lengan Reana hingga mengagetkan wanita itu.
"Kamu lelah?" tanya Ridha dan dibalas dengan gelengan kepala oleh Reana.
"Nggak Ma, cuma kepikiran sama cowok tadi," ungkap Reana jujur.
"Hey Mama udah bilang, itu godaan. Jangan dipikirkan, kamu bisa berselingkuh kalau terus memikirkan apalagi berhubungan dengannya," jelas Ridha Lia.
"Nggak seperti itu Ma. Nggak ada maksud untuk berselingkuh. Dulu dia itu pernah menolong Reana. Mama ingat nggak waktu kita sama-sama berangkat ke sekolah tapi tiba-tiba sepatuku robek? Aku terpaksa ke pasar untuk mencari tukang sol sepatu? Hari itu aku bawa tugas IPA. Pohon dalam pot tapi saat tiba di sekolah pot itu jatuh, nasib pohonku yang masih kecil rusak parah, batangnya patah. Dia yang bantu aku cari pohon yang baru. Aku belum sempat berterima kasih karena pertolongannya waktu itu," jelas Reana.
"Oh rupanya itu masalahnya. Ya, kalau jodoh pasti ketemu lagi," ucap Ridha Lia.
"Haaaa," ucap Reana kaget.
"Bukan jodoh itu maksudnya, jodoh untuk bisa bertemu lagi sebagai teman atau saudara," jawab Ridha Lia langsung.
Reana tertawa, mungkin sedikit berharap kalau mereka berjodoh untuk bertemu lagi. Reana dan ibunya berbincang-bincang selama berjalan kaki menuju rumahnya. Saat melangkah pulang dari terminal itu tiba-tiba Reana tertegun.
Bu Ridha Lia pun menghentikan langkahnya. Di depan mereka, laki-laki yang seharian tadi melintas-lintas dipikirkan Reana kini ada di depan mata. Laki-laki itu tengah berdiri bersandar di mobilnya sambil memainkan kerikil di ujung sepatunya.
Entah firasat atau bagaimana? Laki-laki itu menoleh ke arah Reana dan ibunya melangkah. Laki-laki itu berdiri di tempat mereka bertemu tadi. Menunggu jadwal anak sekolah pulang dan berharap Reana akan kembali lewat di jalan itu dan harapannya tercapai.
Sambil tersenyum Reana langsung menghampiri. Laki-laki itu pun menyusul Reana dan langsung meraih barang bawaan Reana. Wanita itu menolak untuk dibawakan tetapi tetap dilakukannya bahkan memasukkan barang bawaan Reana ke dalam bagasi.
"Kenapa?"
"Aku antar pulang ya?" tanya Yose.
"Nggak usah, udah dekat. Di ujung sana," jawab Reana. Laki-laki itu tersenyum lalu tetap memasukkan bawaan Reana.
"Kalau di ujung jalan itu masih jauh," ucap Yose.
"Tapi …."
"Ayolah naik!" ucapnya sambil membukakan pintu belakang.
__ADS_1
"Mari Tante, jangan takut. Saya tulus kok nganter ke rumah," ucap Yose pada Bu Ridha Lia.
Ibu itu diminta masuk di bagian depan dan Reana di belakang. Bu Ridha Lia yang merasa tak enak hati akhirnya menuruti kemauan laki-laki itu. Saat mobil mulai melaju, Reana bertanya tentang rumah sakit daerah yang dilihatnya tadi.
"Apa Kak Yose praktek di sana?" tanya Reana.
"Kok kamu bisa tahu?" tanya Yose heran.
"Saat angkotnya lewat sana, aku melihat Kak Yose masuk ke rumah sakit itu," jawab Reana.
"Nak Yose dokter di rumah sakit itu?" tanya Ridha Lia.
"Ya Tante, dapat tugas di sana, balik kampung," ucap Yose sambil tersenyum.
"Dulu kuliah di kota?" tanya Ridha Lia.
"Ya Tante, lulus fakultas kedokteran. Kuliah di kota jadi nggak pernah ketemu Reana lagi," ucap Yose yang mulai akrab dengan ibunda Reana itu.
"Jadi kalian tidak satu kelas?" tanya Ridha Lia pura-pura tak tahu.
"Bukan Tante, saya ini kakak kelas Reana. Selisih dua tahun. Saya kelas tiga, Reana masih kelas satu," jawab Yose.
"Lalu bagaimana kalian bisa kenal?" tanya Ridha Lia.
"Apa?" tanya Ridha Lia heran, Yose langsung tertawa.
"Waktu itu aku disetrap gara-gara nggak bikin tugas. Aku nggak boleh masuk kelas sampai pelajaran pertama habis. Eh taunya malah ketemu Reana. Awalnya sedih banget karena sendirian di luar kelas. Waktu lihat Reana jatuh–"
"Jatuh?" tanya Ridha Lia meyakinkan pendengarannya.
"Iya Tante, Reana terjatuh saat lari-larian karena telat. Awalnya aku merasa lucu, sudah sebesar itu masih berlari masih bisa jatuh. Aku ketawa sendirian," ucap Yose lalu melirik melalui kaca spion tengah itu dan tersenyum ke arah Reana.
"Tapi ternyata Reana menangis, aku jadi merasa bersalah. Bukannya menolong, malah menertawakan. Awalnya saya masih merasa lucu. Udah sebesar itu saat jatuh bukannya segera bangun malah menangis. Akhirnya aku samperin dia, ternyata dia nangis bukan karena jatuh tapi karena tugasnya amburadul berantakan di paving sekolah," cerita Yose lalu tertawa.
"Lalu?" tanya Ridha Lia mulai menyamakan dengan cerita Reana tadi.
"Aku ajak dia ke laboratorium IPA, di sana banyak pohon-pohon tugas anak kelas satu jadi aku ambil salah satu dan aku berikan pada Reana," jelas Yose.
"Apa? Berarti kamu mencuri? Kamu menolong anakku dengan mencuri hasil kerja keras anak kelas satu yang lain?" tanya Ridha Lia dengan suara keras karena kaget.
Aduh, batin Reana.
__ADS_1
"Oh tenang Tante! Sebenarnya itu juga hasil kerja keras saya," jawab Yose jujur karena takut ibu itu menjadi marah.
"Kok bisa, kamu kan anak kelas tiga, kok itu hasil tugas kamu?" tanya Ridha Lia penuh selidik.
Yose melirik ke arah kaca spion untuk melihat Reana. Gadis itu tersenyum miris. Merasa menyesal karena dirinya, Yose jadi kesulitan menjawab. Wanita itu juga tak yakin kalau pot dan tanaman itu adalah hasil kerjanya.
"Karena itu pot tugas adik saya yang masih kelas satu. Dia juga mendapat tugas yang sama. Saat mendapat tugas dia justru malah suruh saya yang kerjain, karena dia nggak mau tangannya kena tanah," jelas Yose.
"Sungguh! Kamu nggak bohong? Karena jika bohong kalian berhutang maaf pada anak itu" tanya Ridha Lia.
"Sungguh Tante, itu hasil kerja saya. Nggak apa-apa diambil. Tapi kalau Reana merasa berhutang maaf sama dia juga nggak apa-apa kalau ingin minta maaf. Karena ternyata pohon itu belum di nilai. Baru dikumpulkan saja–"
"Lho!" seru ibu dan anak itu.
"Tenang ibu-ibu, besoknya langsung saya ganti dengan yang baru. Tapi ternyata salah ambil, yang saya kasih ke Reana itu bibit mangga, sedangkan pohon yang saya ambil sebagai pengganti tugas adik saya ternyata adalah bibit sawo. Adik saya salah bikin laporannya," jelas Yose.
"Haaa, lalu?" tanya Reana dan Ridha Lia serentak.
"Ya, dia kena marah tapi masih diizinkan bikin laporan ulang. Dia nangis sama saya karena dikira saya salah memilih bibit. Akhirnya saya bantu dia bikin laporan. Masalah selesai," jelas Yose.
"Ya ampun, tapi tetap saja dia dimarahi gurunya," ucap Reana.
"Kalau mau minta maaf sama dia, ayok. Kita minta maaf sama-sama soalnya hingga sekarang saya nggak cerita kalau waktu itu salah tanam tapi memang beda pohon," ucap Yose sambil tertawa.
Bu Ridha Lia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Tak lama kemudian mereka tiba di rumah Reana. Yose pun diminta untuk singgah. Namun, laki-laki itu menolak secara halus karena harus segera kembali ke rumah sakit.
"Tapi kalau ada waktu luang, apa boleh saya mampir ke sini, Reana?" tanya Yose.
Reana menoleh ke arah ibunya. Ibu itu menganggukkan kepalanya. Reana pun mengangguk menyetujui.
"Baiklah, terima kasih. Kalau begitu saya pamit dulu," ucap Yose pamit.
"Baiklah, terima kasih untuk semuanya. Waktu itu aku belum sempat mengucapkan terima kasih pada Kak Yose. Saya nggak ingin kehilangan kesempatan lagi," jelas Reana.
"Ucapan terima kasih tadi untuk mengantar kamu pulang saja, kalau untuk menolongmu waktu itu. Aku minta imbalan lain, nanti saja kita bicara lagi–"
"Apa?"
"Sampai jumpa lagi," ucap Yose lalu melangkah menuju mobilnya.
Ucapan Yose sangat ringan. Diucapkan sambil tertawa. Namun, menjadi beban pikiran bagi Reana. Imbalan, karena ternyata Yose minta imbalan untuk pertolongannya waktu itu.
__ADS_1
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...