Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 29 ~ Kepergianmu ~


__ADS_3

Reana berjalan seorang diri menuju kelasnya. Hari ini Nico tidak ada kegiatan di kampus, setelah mengantar Reana. Nico pergi ke perusahaan tempat laki-laki itu melakukan penelitian, mengambil data yang dibutuhkan untuk keperluan penyelesaian skripsinya.


Seperti biasa Reana berjalan menunduk, hari ini terasa berbeda. Tanpa Nico disampingnya, Reana merasa seperti saat pertama kali masuk Universitas ini.


Sendirian, tanpa teman, kadang-kadang Reana berpikir, kenapa dia tidak bisa berbaur dengan mahasiswa lain.


Bagaimana Reana bisa berbaur dengan mereka ? sehari-hari mereka nongkrong bersama, tertawa bersama, bercerita pengalaman seru yang mereka alami bersama.


Sementara Reana, sebagian hari-hari di kampus hanya dihabiskan di perpustakaan menyelesaikan tugas-tugas dari dosen sambil menunggu jam kerja di restoran. Reana tak punya waktu untuk bersantai.


Menyedihkan, kehidupan yang menyedihkan, masa-masa indah di kampus, saat-saat seorang remaja mengukir kenangan-kenangan manis selama menjadi mahasiswa.


Bagi Reana semuanya terlewati begitu saja. Menyedihkan ? Reana tidak menganggap semua itu menyedihkan. Karena hari-hari yang lebih menyedihkan pernah dialaminya.


Saat papa Reana perlahan diturunkan masuk ke liang lahat, adalah saat yang paling menyedihkan bagi Reana.


Itu adalah momen perpisahan yang paling menyakitkan.


Karena setelah itu takkan pernah ada kesempatan lagi baginya, menatap mata teduh, mendengar kata-kata bijak, dan pelukan yang menenangkan dari laki-laki setengah baya itu.


Setengah hari terbujur kaku di kelilingi para pelayat. Isak tangis, ucapan duka, dan do'a-do'a yang diucapkan orang-orang yang datang sama sekali tak dihiraukan Reana.


Reana masih tidak percaya papanya pergi begitu saja, tanpa tanda-tanda, tanpa pesan atau kata-kata. Reana menatap wajah pucat laki-laki setengah baya itu.


Tak ada setitikpun air mata menetes dipelupuk matanya Gadis itu masih berharap papanya membuka mata dan tersenyum padanya.


Dia tidak ingin menangis, dia tidak ingin bersedih, dia hanya ingin menunggu papanya bangun dari tidurnya. Air mata hanya akan menunjukkan bahwa Reana menerima papanya telah pergi meninggalkan raganya.


Meski usapan dipunggung, ucapan menghibur, pelukan belasungkawa masih terus berdatangan padanya. Gadis itu masih tak mau menitikkan air mata.


"Papa tidak mati tante, papa hanya tidur" kata-kata itu, sering diucapkannya setiap kali orang-orang yang dikenalnya memeluk iba gadis remaja itu.


"Jangan nangis Om, papa baik-baik aja, papa cuma capek, papa cuma ingin istirahat sebentar" ucap gadis yang masih duduk dikelas tiga SMP itu.


Tangis orang-orang di sekeliling gadis itu terdengar memenuhi ruangan, ada yang keluar tak sanggup mendengar ucapan gadis itu lagi, ada yang datang memberi pengertian, ibu-ibu yang langsung memeluk Reana.


Reana hanya memandang mamanya, wanita cantik setengah baya itu hanya mengangguk, mengiyakan ucapan anak gadis satu-satunya itu.


Wanita itu tak ingin memupus harapan gadis itu, meskipun itu tidak mungkin terjadi. Namun tetes air mata Bu Ridha Lia membuktikan bahwa wanita itu meyakini kepergian laki-laki yang sangat dicintainya itu.


Tapi saat-saat seperti itu tidak bisa berlangsung lama. Menunggu papanya terbangun tak bisa dilakukan Reana selamanya.


Perlahan orang-orang mulai berdatangan, tahap demi tahap penyelenggaraan jenazah mulai dilakukan hingga akhir prosesi pemakaman.


Reana berlari mendekat liang lahat papanya. Gadis itu tidak rela, tanah merah menimpa tubuh papanya. Gadis itu menangis sejadi-jadinya.


Beberapa orang menahan gadis itu meminta gadis itu pulang menenangkan diri dirumah, tapi Reana menolak, dia tidak ingin orang-orang terus mengubur papanya.


Mama Reana sendiri hanya bisa menangis menatap anak gadisnya, wanita setengah baya itu berdiri lemah dibantu ibu-ibu tetangga.


"Reana, sudah nak, jika kamu masih menghalangi, mereka akan menyuruhmu pulang. Kamu nggak bisa menemani papamu hingga saat-saat terakhir" ucap Bu Ridha akhirnya memohon anaknya untuk menerima kenyataan.


Akhirnya Reana pasrah, setengah hatinya percaya papanya telah pergi meninggalkan dunia. Hanya saja gadis itu tak mau menerima kenyataan.


Isak tangis ibu dan anak itu mengiringi prosesi pemakaman hingga selesai, perlahan orang-orang mulai meninggalkan tanah pekuburan.


Reana bersandar pada Bu Ridha, wanita setengah baya itu membelai rambut anaknya. Mulai sekarang Bu Ridha harus lebih tegar demi anak semata wayangnya. Ibu yang memiliki wajah lembut itu tak ingin larut dalam kedukaan, dia harus bangun demi masa depan anaknya.


Namun seminggu kemudian ibu yang kadang masih menangis sendirian ditengah malam itu harus menghadapi cobaan lain.


Perusahaan kerjasama yang dibangun papa Reana dengan beberapa teman semasa kuliahnya dinyatakan pailit.


Perusahaan itu tidak bisa membayar utang karena gagal ketika investasi untuk meningkatkan produksi, ekspansi yang berlebihan, pengeluaran yang tak terkendali serta kesalahan manajemen perusahaan.


Untuk bertahan dan menghindari kebangkrutan perusahaan merilis produk dan menjualnya dengan harga yang jauh lebih murah. Kerugian berkurang namun membayar hutang pada pihak ketiga sulit dilakukan.


Perusahaan telah digugat pailit oleh pemberi pinjaman jika perusahaan tidak dapat melakukan kewajiban membayar pinjaman maka pihak pemberi pinjaman menyita aset perusahaan untuk melunasi kewajibannya.


Seluruh harta atas nama papa Reana tak luput dari sasaran. Segelintir orang-orang pengecut menjadikan papa Reana sebagai kambing hitam penyebab kebangkrutan.


Orang-orang di perusahaan pun berpendapat, papa Reana mengalami serangan jantung karena tak sanggup menghadapi semua tuduhan.

__ADS_1


Reana dan Bu Ridha harus mengikhlaskan semua hartanya, mereka pergi dengan hanya membawa beberapa helai pakaian. Bu Ridha memutuskan kembali ke kampung halamannya, rumah peninggalan kakek Reana masih bisa menjadi tempat bernaung mereka.


Karena ketabahan dan demi masa depan anaknya, Bu Ridha kembali bangkit, menjadi ibu kantin disebuah SMA di kampungnya. Reana tak segan-segan membantu mamanya dari pagi hingga kantin tutup.


Gadis itu membantu mamanya selama jam istirahat. Reana yang terlahir cantik, sering menghadapi godaan dari pelajar-pelajar laki-laki yang datang ke kantinnya.


Meskipun tak lagi mempedulikan penampilan, tapi kecantikan alami Reana tetap menjadi magnet para pelajar laki-laki.


"Nggak usah bantu mama di kantin, kamu belajar yang rajin aja dikelas" ucap Bu Ridha, tak ingin anak gadisnya digoda pelajar laki-laki terus.


"Nggak ma, Reana nggak mungkin biarin mama kerja sendiri. Jangan khawatir ma, meskipun mereka kadang nakal tapi tak pernah melewati batas kesopanan kok" sahut Reana menimpali kecemasan mamanya.


Tentu saja anak-anak itu takkan berani bersikap lancang pada Reana. Karena mamanya ada disitu dan Ridha Lia adalah nama yang cukup dihormati oleh perangkat sekolah itu.


Semua itu adalah berkat kebaikan hati Ny. Ridha Lia yang selama ini menyisihkan simpanannya untuk membantu operasional sekolah, serta membantu anak-anak tak mampu untuk bisa tetap bersekolah disitu.


Sejak itu Reana menjadi anak yang mandiri. Melakukan pekerjaan halal apa saja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua. Reana sama sekali tak ingin membebani mamanya. Dan Bu Ridha percaya sepenuhnya pada Reana.


Hingga akhirnya gadis itu memutuskan melanjutkan kuliah dan hidup sendiri, Bu Ridha meskipun berat, akhirnya ikhlas melepas anaknya berjuang sendiri demi masa depan dan cita-cita putri kesayangannya.


"Re.. tumben jalan sendiri, dimana kak Nico?" sapa Alika mensejajarkan langkahnya dengan Reana.


Reana hanya tersenyum. Orang-orang di kampus sudah mendengar hubungan antara Reana dan Nico. Ada yang percaya mereka pacaran, ada yang menyangkal tak percaya Nico menyukai gadis sederhana seperti Reana.


Bisik-bisik para gadis di kampus berkembang tak tentu arah. Ditambah lagi semboyan dimana ada Reana disitu ada Nico.


Kenyataannya memang Nico tidak pernah membiarkan Reana seorang diri. Laki-laki itu sudah seperti bodyguard Reana.


"Hasbi..." ucap Alika tiba-tiba.


Reana menunggu kelanjutan ucapan Alika, tapi Alika hanya diam menunduk.


"Hasbi kenapa Al?" tanya Reana penasaran.


"Nggak apa-apa, kamu akan tau nanti" jawab Alika, semakin membuat Reana penasaran.


Sesampai dikelas Reana langsung memandang meja kuliah yang biasa Hasbi tempati. Tak terlihat Hasbi disitu. Sejak kejadian didepan restoran, Reana dan Hasbi tak lagi banyak bicara. Laki-laki itu hanya memperlakukan Reana sebagaimana ketua terhadap anggota kelasnya tak lebih dari itu.


Selain itu Reana juga tak ingin berdiri diantara Hasbi dan Alika. Reana memilih menyingkir dibanding menyakiti hati Alika dengan kehadirannya ditengah-tengah mereka.


"Mohon perhatian teman-teman" ucap Alika, tiba-tiba berdiri didepan kelas.


Kelas yang tadinya riuh mendadak hening.


"Hari ini, selepas kuliah kita akan melakukan voting untuk pemilihan ketua dan wakil ketua kelas baru" ucap Alika tertunduk.


"Hasbi sudah tidak kuliah disini lagi" sambung Alika.


"Dan saya juga ingin mengundurkan diri dari jabatan wakil ketua kelas" lanjut Alika, melangkah kembali ke meja kuliahnya.


Reana terkejut dengan pengumuman Alika barusan. Gadis itu ingin segera bertanya pada Alika. Tapi ekspresi Alika yang terlihat sedih membuat Reana urung bertanya lebih lanjut, ditambah sebentar lagi dosen akan segera masuk untuk memulai kuliah.


Reana tak sabar ingin bicara dengan Alika. Selama kuliah berlangsung Reana sama sekali tidak konsentrasi, begitu juga dengan mahasiswa lain, mereka sangat penasaran mengetahui penyebab keluarnya Hasbi dari kampus ini.


Begitu dosen selesai memberi kuliah, pemungutan suara pun dilakukan. Alika keluar dari kelas, Reana langsung mengejar gadis itu.


"Reana jangan keluar, kita voting dulu" teriak seorang gadis menahan langkah Reana.


"Maaf saya harus pergi, saya ikut suara terbanyak aja" ucap Reana bergegas mengejar Alika.


"Al.. tunggu, tolong jangan pergi dulu, kenapa Al ? kenapa Hasbi keluar dari kampus ini ?" tanya Reana dengan nafas yang tersengal.


Alika menatap Reana, terlihat wajah Reana yang masih syok dengan kabar tadi. Reana sungguh ingin tau alasan Hasbi pergi. Alika menarik tangan Reana, mengajaknya pergi.


Reana menghentakkan tangannya. Dia ingin penjelasan dari Alika.


"Kenapa Al ?" tanya Reana lagi.


"Kalau kamu ingin tau, ikut aku" ucap Alika sambil melangkah pergi menuju taman belakang kampus.


Reana heran namun mengikuti langkah Alika. Sesampai di lesehan kayu Alika duduk disana. Reana mengikutinya duduk disamping Alika. Menunggu gadis itu bicara.

__ADS_1


Alika menatap gedung disamping taman itu, memandang kearah sebuah jendela. Matanya berkaca-kaca, Reana menunggu dengan sabar. Tangan gadis itu membelai lembut punggung Alika.


Reana tau, orang yang paling sedih akan kepergian Hasbi adalah Alika.


"Kamu liat jendela kaca dilantai tiga itu? " tanya Alika sambil menunjuk sebuah jendela kaca tepat dihadapan mereka.


Reana mengikuti arah telunjuk Alika.


"Itu ada adalah kaca jendela sekretariat BEM" ucap Alika masih memandang kearah jendela itu.


Reana kaget, dia sama sekali tidak menyangka. Sekretariat BEM ada di gedung itu, dan Hasbi adalah ketua BEM fakultas mereka.


"Setiap kali kesana saya sering melihat Hasbi menatap melalui kaca jendela itu, dan setiap kali itu pula saya melihat kesedihan di wajahnya" ucap Alika memulai cerita.


"Saya pernah menanyakannya, kenapa dia selalu memandang ke jendela itu, tapi dia selalu mengelak, bergegas mengajakku pergi dari situ"


Reana mendengarkan Alika dengan seksama.


"Hingga suatu ketika, diam-diam saya berdiri dibelakangnya dan memandang apa yang dilihatnya.


Saat itu saya baru tau, hal yang membuatnya sedih setiap kali memandang jendela itu adalah kamu" ucapan Alika terhenti, tenggorokannya terasa tercekat.


"Jika aku tau perasaannya begitu dalam padamu, saya akan merelakannya untukmu Re.


Saya akan mengikhlaskannya... Katakan Re... katakan kau menolaknya bukan karena aku" ucap Alika berderai air mata.


"Aku menyesal memaksakan cintaku padanya, jika aku tau dia begitu menderita kehilanganmu.


Aku akan mengalah Re.., aku akan mengalah" ucap Alika masih menangis.


Tanpa sadar air mata Reana mengalir, gadis itu tidak tahan setiap kali melihat orang menangis, apalagi semua ini ada hubungan dengan dirinya. Reana sungguh tidak suka melihat orang-orang yang disayanginya bersedih.


"Dari jendela itu, aku melihatmu bersama kak Nico, kalian terlihat bahagia, kamu sedang belajar bersama dengannya, kalian tertawa bersama sementara Hasbi menitikkan air mata" lanjut Alika mengingat kembali apa yang dilihatnya waktu itu.


Setiap kali ke sekretariat, yang dilakukan Hasbi pertama kali adalah memandang jendela itu. Berharap bisa melihat gadis yang selalu dirindukannya. Tapi setiap kali itu pula dia merasa kecewa.


Setiap kali ada Reana setiap kali itu pula ada Nico disampingnya. Semua itu berawal ketika Hasbi melihat Reana menangis sendiri di lesehan kayu dibawah pohon besar itu.


Hasbi yang baru sampai di sekretariat langsung pergi mengejar Reana yang terlihat sedang menangis. Laki-laki itu bahkan memilih menuruni tangga karena tak sabar menunggu elevator.


Tapi setibanya disana, laki-laki itu justru melihat Nico sedang memeluk Reana, Hasbi terlambat. Hasbi selalu terlambat. Keinginannya untuk membantu dan menghibur Reana selalu didahului Nico.


Laki-laki itu frustrasi, namun tetap tak menyurutkan hatinya untuk memandang ke taman disamping gedung itu. Baginya, di sanalah tempat dia bisa memandang Reana setiap saat, meskipun pemandangan itu sering menyakitkannya.


"Puncaknya kemarin siang, saat itu adalah saat paling menyedihkan yang pernah kulihat.


Hasbi terduduk dibawah jendela, laki-laki itu menangis, Hasbi menangis terisak.


Saat itu aku sudah mengira apa yang dilihatnya, tapi aku sangat ingin melihat apa penyebab Hasbi menangis begitu sedih.


Dia melarangku mendekat, dia bahkan membentak dan mengusirku keluar, apa Re ? apa yang kalian lakukan hingga dia begitu terguncang ?" tanya Alika sambil menggoyangkan tangan Reana.


Reana memandang kearah jendela. Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Reana mengingat sesuatu, air mata gadis itu mengalir deras.


Kemarin siang, Hasbi ada disitu, Hasbi berdiri disitu, batin Reana sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Hasbi melihat kami, Hasbi pasti melihat kami berciuman dilabirin, jerit hati Reana menggelengkan kepalanya kuat, kedua tangannya masih menutupi wajahnya.


Gadis itu menyesal.


Kenapa kamu berdiri disitu, kenapa tidak menghindar, kenapa harus melihat kami ? jerit hati Reana.


Reana tidak menyangka selama ini Hasbi memperhatikannya dari balik jendela itu. Dan kejadian kemarin sungguh membuat hati laki-laki itu terluka. Gadis yang sangat diharapkannya telah membuka hatinya untuk laki-laki lain.


Berciuman tepat dihadapannya. Hasbi tak sanggup lagi menghadapi kenyataan itu. Dia memilih pergi, meninggalkan harapannya pada satu-satunya gadis yang bisa membuatnya merasakan jatuh cinta.


Maafkan aku Hasbi, maafkan aku, jerit hati Reana.


Alika memeluk Reana, meski tak mendapat jawaban dari gadis itu, tapi Alika mengerti Reana juga merasakan kesedihan yang mendalam atas kepergian Hasbi.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2