
Reana menyatakan cemburu pada Shafira. Nico bukannya marah tetapi malah tersenyum. Laki-laki itu ada rasa hangat menjalar di dadanya. Bahagia karena Reana yang memiliki rasa cemburu. Sebuah pernyataan kalau Reana juga takut kehilangannya.
Gadis tak malu-malu lagi mengucapkan itu. Padahal kata-kata cemburu seolah-olah membuat posisi seseorang berada lebih rendah dalam sebuah percintaan. Seseorang yang cemburu adalah seseorang yang berharap, seseorang yang takut kehilangan dan Reana tak malu lagi menunjukkan rasa takut kehilangannya pada Nico.
"Aku pikir setelah aku menghilang Kakak mencari gadis lain sebagai penggantiku," ucap Reana.
"Ya ampun sayang! Yang hilang itu istriku. Bukan kunci motor. Kalau kehilangan kunci motor, aku akan cari kunci mobil. Lagi pula mana mungkin seenaknya aku mencari pengganti. Aku terlalu sibuk mencarimu, mana sempat mencari pengganti," jawab Nico menjelaskan tapi tak terlihat kekesalan karena dituduh mencari cinta lain.
"Tapi waktu itu aku dengar Kakak bilang sayang," ucap Reana.
"Aku bilang sayang?" tanya Nico heran karena merasa tak pernah menyatakan sayang pada wanita itu.
"Ya, aku dengar sendiri. Kakak bilang, ya … ya … sayang sekali. Ok sampai jumpa besok. Begitu Kakak bilang itu saat ditelpon," jelas Reana
Gadis itu meniru ucapan Nico untuk mengingatkan laki-laki itu. Nico pun terdiam mencoba mengingat lagi apa isi perbincangannya dengan Shafira. Tak lama kemudian laki-laki itu tersenyum. Membuat Reana merasa heran.
"Itu karena kami gagal bertemu dengan seorang pengusaha dari luar negeri yang batal terbang karena tiba-tiba terkena serangan jantung. Padahal kami sudah bersiap-siap untuk menyambutnya. Karena itu aku bilang sayang sekali, bukan sayang pada Shafira. Lagi pula aku yakin sekali tak pernah mengucapkan rasa sayang pada wanita lain selain kamu," jelas Nico lalu tersenyum.
Reana terperangah mendengar cerita Nico, tak menyangka apa yang dipikirkannya ternyata berbeda jauh dengan kenyataan. Kesempatan itu dipergunakan laki-laki itu untuk menyusupkan lidahnya ke rongga mulut Reana. Rasa bahagia dicemburui oleh istrinya membuat ciumannya semakin menggebu-gebu.
Nico merasa selama ini hanya dirinya yang merasakan cemburu pada Reana. Merasa cuma dirinya yang mengharapkan Reana dan takut kehilangan Reana. Tapi kini gadis itu nyata-nyata menyatakan rasa cemburunya, membuat hati Nico berbunga-bunga.
Namun, saat beralih ke leher Reana, aksi laki-laki itu tiba-tiba terhenti. Bayangan laki-laki tampan yang dibencinya itu muncul lengkap dengan aksinya mencumbu istrinya. Nico tiba-tiba bangkit dari sofa.
"Tenggorokanku kering, rasa haus sekali. Apa kamu mau minum?" tanya Nico.
__ADS_1
"Ya," jawab Reana singkat.
Bibir gadis itu tersenyum, tetapi hatinya menangis. Reana merasa Nico tak bisa mencumbunya karena bekas ciuman Tn. Malvin masih terlihat jelas di lehernya. Reana duduk termenung di sofa itu dengan wajah murung.
Tak jauh beda dengan Nico. Laki-laki itu membuka lemari pendingin tetapi tak tahu harus mengambil apa. Matanya lurus ke depan tapi tak tahu apa yang dilihatnya. Sekian lama terpaku tak tahu harus berbuat apa, akhirnya Nico meraih air mineral yang tersusun di pintu kulkas.
Laki-laki itu kembali ke ruang tengah dan memberikan gelas dan sebotol air mineral pada Reana. Dengan sekuat tenaga berusaha bersikap sewajar mungkin. Berusaha agar Reana tak menyadari perubahan sikapnya. Namun, seperti apa pun sikap Nico, Reana bisa merasakan perubahan sikap yang suaminya. Reana berharap hal itu tanda ciuman itu akan segera hilang.
"Besok aku masuk kerja, kamu di rumah aja ya!" ucap Nico memecah keheningan.
Reana terdiam, sebenarnya dia sangat ingin kembali beraktivitas seperti biasa. Gadis itu telah terlalu lama di sekap dan hanya berada dalam ruangan tanpa bertemu dengan siapa pun yang dikenalnya. Melihat Reana yang hanya diam, Nico kembali bertanya.
"Kenapa Reana? Apa kamu ingin bekerja? Aku melarangmu karena aku khawatir, anak buah Tn. Malvin masih mencarimu," jelas Nico mengemukakan alasannya melarang Reana keluar dari apartemen.
"Reana?" tanya Nico menanyakan persetujuannya untuk tidak keluar rumah.
"Baiklah!" ucap Reana akhirnya.
"Aku akan menelponmu nanti. Sekarang ayo kita makan siang," ajak Nico.
Gadis itu mengangguk, dan mereka pun berangkat untuk makan siang. Reana sengaja tak memilih makan siang di restoran tempat dia bekerja. Reana tak ingin mereka banyak bertanya tentang peristiwa penculikannya. Apa yang mereka tanyakan nanti, mungkin adalah sesuatu yang ingin dilupakannya atau ingin ditutupinya.
Gadis itu termenung saat menikmati hidangan di hadapannya. Teringat dirinya yang tak bisa bebas ke mana-mana seperti dulu. Nico tak akan membiarkan dia ke manapun seorang diri. Saat Nico bekerja, gadis itu hanya akan menghabiskan waktu di dalam apartemen.
Apa sebaiknya aku istirahat di kampung? Di sana mungkin aku bisa bebas ke mana-mana. Oh Tuhan ternyata aku masih terpenjara, batin Reana.
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Nico.
"Nggak ada apa-apa," jawab Reana lalu tersenyum.
"Aku pikir kamu sudah terbiasa mengungkapkan isi hatimu. Apa ini masalah Shafira lagi? Kamu ingin bertemu dengannya?"
"Apa?"
"Kalau kamu penasaran, aku bisa mengenalkan kamu padanya. Besok saat istirahat siang, aku akan mengutus sopir kantor untuk menjemputmu. Apa kamu setuju?" tanya Nico sambil menyantap hidangan makan siangnya.
"Baiklah," jawab Reana sambil tersenyum.
Sebenarnya gadis itu sangat ingin jalan-jalan keluar dari apartemen tetapi tak punya alasan yang tepat. Saat Nico ingin mengenalkan Reana dengan Shafira, membuat gadis itu menjadi semangat lagi. Reana menjadi punya alasan untuk melihat-lihat dunia bebas.
Dalam perjalanan pulang ke apartemen. Reana mengajak suaminya berbelanja kebutuhan dapur. Reana ingin memasak sendiri di rumah. Gadis itu teringat saat dulu pernah menginap di apartemen Nico. Gadis itu menyiapkan sendiri sarapan pagi, makan siang dan makan malam mereka.
Reana merasa setidaknya dia memiliki kegiatan selama terkurung di dalam apartemen. Sebenarnya Nico bisa saja menyuruh seseorang menyiapkan segala kebutuhan dapur yang diinginkan Reana tetapi laki-laki itu tak ingin lagi menolak keinginan gadis itu.
Saat malam tiba, Reana pun menyiapkan makan malam untuk mereka. Reana bahagia bisa melakukan itu karena suasana canggung yang terasa sejak kejadian siang tadi. Ada rasa aneh saat bersama dengan Nico, seolah-olah laki-laki itu menghindar untuk berdekatan dengan Reana.
Kakak sepertinya menjaga jarak denganku, Kak Nico hampir saja mencium kissmark yang ditinggalkan Tn. Malvin. Mungkin karena itu, Kak Nico tak mau dekat-dekat lagi denganku. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana cara, agar kami bisa hidup dengan normal seperti dulu lagi? Sampai kapan kami akan merasa canggung seperti ini? Batin Reana bertanya-tanya.
Setelah makan malam, mereka duduk di ruang tengah sambil menikmati tayangan televisi. Sedikit pun Nico berani menggoda Reana lagi. Laki-laki itu merasa takut tak bisa menahan diri untuk bermesraan dengan Reana Sedangkan dia sendiri tak sanggup menghilangkan bayangan perbuatan Tn. Malvin terhadap Reana. Saat malam tiba, Nico yang mengaku masih menonton tayangan televisi memilih untuk tidur di sofa di ruang tengah itu. Reana hanya bisa menangis sendiri di dalam kamarnya.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1