
Saat perjalanan pulang Tn. Malvin tersenyum-senyum melirik ke arah Reana. Teringat bagaimana gadis di sampingnya itu membela teman seprofesinya. Seperti Reana yang dulu, yang tegas membela prinsipnya membela tempat dia mencari nafkah. Kali ini Reana pun tegas membela Viana.
"Sayang sekali kamu yang sudah capek-capek membela gadis itu tetap kalah dibandingkan manajer yang telah menyalahkannya. Gadis itu menolak ajakanmu dan memilih tetap bekerja di sana. Padahal kamu sudah memberikan tawaran yang menarik. Apa kamu tidak malu ditolak mentah-mentah oleh gadis pelayan itu?" tanya Malvin.
"Kenapa harus malu? Memangnya aku sungguh-sungguh mengajaknya bekerja di restoranku. Bagaimana cara aku memberikan gaji yang lebih tinggi daripadanya? Restoran tadi berkali lipat mewahnya dibandingkan restoran tempat aku bekerja. Lagi pula bagaimana nasib ku sendiri saja aku tidak tahu. Aku sendiri tak bisa masuk kerja hingga hari ini. Bagaimana tuan bisa berpikir kalau aku benar-benar menawarkan pekerjaan untuknya," tanya Reana.
"Benar juga, tapi kamu nekad sekali menawarkan pekerjaan untuknya. Bagaimana jika dia benar-benar mau menerima tawaranmu?" tanya Malvin.
"Aku tahu dia tidak akan mau. Aku yakin karena aku melihat diriku dalam dirinya. Orang seperti Viana itu adalah seorang gadis yang setia, tak akan mudah berpindah hanya karena materi," jawab Reana.
"Oh ya? Bagaimana kamu bisa yakin?" tanya Malvin penasaran.
"Waktu dia berdebat dengan pengunjung wanita itu. Sedikit pun dia tidak merasa takut, tapi justru pelanggan itu yang terdengar tidak yakin. Pelanggan yang tak ingin dikira kalah pasti akan mengambil minuman sebagai pelarian dari kekalahannya. Karena itu aku yakin dia orang yang benar. Itu juga yang membuat aku yakin kalau dia bukan tipe orang yang mudah berpaling hanya karena materi," jelas Reana.
"Kalau begitu dia memang mirip denganmu," ucap Malvin sambil mengangguk.
Jangan sampai nasibnya mirip denganku. Aku harap dia bahagia dengan orang yang dicintainya, bisik hati Reana sambil menatap keluar jendela kaca mobil.
Mereka kembali ke hotel dan beristirahat. Setelah mengganti gaun dan membersihkan riasan Reana istirahat di atas ranjangnya. Dengan posisi tengkurap dan bantal di dagunya, Reana menatap layar ponselnya. Hingga saat ini masih belum ada nomor yang tepat dengan nomor telepon Nico.
Gadis itu frustasi, kembali meneteskan air matanya hingga akhirnya tertidur. Tanpa disadarinya, Tn. Malvin masuk ke dalam kamarnya. Menatap Reana yang masih menggenggam ponselnya.
Dia pasti mencoba menghubungi Nico, batin Malvin sambil bergerak mengambil ponsel dari tangan Reana dengan sangat perlahan.
Perkiraan Tn. Malvin benar, terlihat dari riwayat nomor telepon yang begitu banyak dicoba oleh Reana. Tn. Malvin tersenyum lalu menaruh ponsel itu ke atas nakas. Perlahan mengecup tengkuk Reana lalu berbaring di samping gadis cantik itu sambil memeluk tubuh yang tertidur lelap itu.
Hampir satu bulan Reana disekap oleh Tn. Malvin dan gadis itu telah lelah berharap untuk bisa bebas dari jeratan cinta Tn. Malvin. Janji Rassya yang ingin mencarikan jalan keluar untuknya pun masih belum bisa mendapatkan waktu yang tepat.
Tiba-tiba, Rassya menerobos masuk ke dalam kamar Reana. Membuat Gadis itu sangat terkejut hingga terbelalak. Terlebih lagi saat ini Reana belum berpakaian, tetapi hanya mengenakan kimono handuk.
Gadis itu ingin segera mengusir Rassya. Namun, Rassya yang terlihat terengah-engah dan panik membuat gadis itu urung mengusir tetapi justru penasaran melihat Rassya yang begitu nekat masuk tanpa permisi. Reana menunggu penjelasan dari Rassya yang masih belum bisa menenangkan dirinya.
"Malam ini kita akan kembali ke pulau. Jika tiba di sana akan sulit mendapat kesempatan lagi. Saat ini adalah kesempatan terakhir kita. Cepat lepaskan kimonomu–"
__ADS_1
"Apa?"
"Cepatlah Reana sebentar lagi Tn. Malvin akan ke sini," ucap Rassya panik.
Reana terperangah mendengar Rassya yang tak lagi memanggilnya dengan sebutan Nona. Juga sangat terkejut saat laki-laki itu muncul dan langsung menyuruhnya melepas kimononya. Seharusnya Reana marah karena laki-laki itu masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tapi melihat wajah paniknya, Reana tanpa sadar tak mempermasalahkan hal itu lagi. Justru fokus pada perintah Rassya yang tak mungkin di lakukannya. Laki-laki itu akhirnya melepas kemejanya sendiri. Begitu mendengar ketukan pintu, laki-laki itu langsung mendorong Reana ke atas ranjang.
Reana kaget, dalam hitungan detik Tn. Malvin telah masuk ke dalam kamar. Tepat di saat itu lah Rassya menimpa tubuh Reana lalu mencium bibir gadis cantik itu. Melihat itu Tn. Malvin sangat kaget dan marah. Rassya yang terlihat sibuk membenamkan bibirnya di bibir Reana seolah-olah tak mengetahui kehadiran pengusaha muda itu.
Tn. Malvin menarik tangan Rassya membuat laki-laki itu bangun dan langsung berhadapan dengan Tn. Malvin. Melihat wajah orang sangat di bencinya, Tn. Malvin langsung melayangkan pukulan ke wajah Rassya. Reana menjerit, tapi itu tak menghentikan Tn. Malvin memukuli laki-laki yang bertelanjang dada itu.
Reana menjerit, memohon agar Tn. Malvin menghentikan perbuatannya. Tn. Malvin yang merasakan sakit yang sangat dalam terjun langsung memukuli pengawal itu. Bukan kebiasaannya melakukan pekerjaan keras seperti itu.
Hanya tinggal menyuruh para pengawalnya, maka mereka akan siap membuat seseorang babak belur. Namun, kini Tn. Malvin tak ingin melewatkan sedikit pun kesempatan untuk membalaskan sakit hatinya pada Rassya. Pengusaha bertubuh atletis itu tak memberikan kesempatan pengawal terlatih itu untuk melawan.
Suara jeritan Reana setiap kali mendengar bunyi pukulan tak dihiraukan Tn. Malvin sama sekali. Hingga akhirnya Reana mencoba menahan tubuh Tn. Malvin agar tak meneruskan tindakan pemukulan itu lagi. Sontak Tn. Malvin menoleh pada Reana yang hanya mengenakan kimono handuk itu.
"Ternyata ini yang kalian lakukan di belakangku. Kamu terlihat seperti wanita yang menjunjung tinggi kehormatan, ternyata kamu tak lain hanyalah seorang … dasar tak tahu diri!" bentak Malvin sambil melayangkan tamparan ke wajah Reana.
Menatap pipi Reana yang telah memerah dan bibirnya yang pecah berdarah. Tn. Malvin menangis, jika akhirnya Reana berselingkuh dari suaminya kenapa harus memilih pengawal itu. Sedangkan dia telah lama menunggu Reana. Memberikan segalanya untuk Reana tetapi gadis itu tak pernah mau menerimanya.
Sekarang justru menyerahkan diri pada seorang pengawal. Hati Tn. Malvin terasa sangat perih. Tak menyangka dirinya akan dikalahkan oleh anak buahnya sendiri. Mengingat itu kembali Tn. Malvin melayangkan tamparan. Namun, tak melepaskan lengan Reana. Kembali menarik gadis itu ke hadapannya.
"Kenapa Reana? Kenapa kamu tega lakukan ini padaku?" tanya Malvin sambil terisak.
"Cinta tidak bisa dipaksakan Tuan," jawab Reana mencoba tegar.
"Jika akhirnya berselingkuh dari bocah itu, kenapa harus memilih dia? Kenapa tak memilih sku?" tanya Malvin dengan membentak.
"Kita tidak tahu pada siapa cinta itu mengarah, aku hanya mengikuti hatiku saja," jawab Reana.
"Kamu … Dasar kamu perempuan …!" bentak Malvin sekali lagi menampar wajah Reana.
__ADS_1
Melihat itu Rassya yang telah lemah, wajahnya yang telah lebam dan luka, memaksakan diri untuk bangkit. Rassya tak tega melihat gadis itu yang juga ikut dipukuli. Laki-laki itu hanya menargetkan dirinya sebagai korban kemarahan Tn. Malvin. Namun ternyata Tn. Malvin juga melampiaskan kemarahannya pada Reana.
Rassya bangkit untuk menarik perhatiannya Tn. Malvin. Laki-laki itu kembali memanggil dan mengejek Tn. Malvin. Merasa belum tercapai apa yang diinginkannya, Rassya terus saja mengejek Tn. Malvin yang diselingkuhi.
"Kasihan sekali, seorang pengusaha sukses kalah dengan bawahannya sendiri. Saat sibuk bekerja, wanita yang dicintainya malah berselingkuh dengan pengawal pribadinya. Sebuah kisah yang pilu. Orang-orang pasti banyak yang kasihan padamu Tuan," ucap Rassya tertawa meski wajahnya telah babak belur.
Apa yang dilakukan Rassya? Dia sudah hancur begitu masih berani mengejek Tn. Malvin? Batin Reana.
Reana tak habis pikir, Rassya sama sekali tak melawan meski Tn. Malvin telah memukulinya. Bagaimanapun juga dia adalah seorang yang terlatih. Satu kali pun Rassya tak melawan sedikit pun. Reana terpikirkan sesuatu. Melihat itu Reana langsung menghampiri mereka.
"Jangan pukul lagi, aku mencintainya! Aku ingin bersamanya!" teriak Reana.
Mendengar itu amarah Tn. Malvin semakin jadi. Meraih lengan Reana dan membanting gadis itu ke lantai. Reana terjatuh tetapi tak membuat Tn. Malvin iba.
"Dasar perempuan murahan! Semua wanita itu sama saja, murahan! Pergi kamu, dasar perempuan tak tahu diri! Bawa semua barangmu! Jangan sampai ada yang terlihat oleh mataku! Dasar murahan!" bentak Malvin sambil menyambar paper bag berisi gaun pengantin Reana dan melemparnya ke wajah gadis itu.
Reana terkejut mendengar ucapan Tn. Malvin. Gadis itu langsung mengucurkan air mata. Buka karena kata-kata hinaan itu, tetapi ucapan Tn. Malvin yang menyuruhnya pergi. Reana langsung menoleh pada Rassya. Laki-laki itu tertawa tetapi langsung meringis.
Reana tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Segera mengambil paper bag berisi gaun pengantinnya yang telah robek itu. Segera mengenakannya. Reana juga tak ingin membawa apa pun yang diberi Tn. Malvin. Gadis itu hanya berlari dengan gaun pengantinnya yang telah compang-camping.
"Ayo kita pergi!" ajak Reana pada Rassya.
"Pergilah! Urusanku belum selesai. Jika Tn. Malvin menyuruhku pergi, maka aku akan pergi. Tapi … aku masih ada hutang padanya. Aku tak bisa pergi begitu saja," jawab Rassya.
"Hubungi, atau cari aku jika butuh sesuatu Ok!" ucap Reana.
Gadis itu mencatatkan nomor teleponnya dan juga nama restoran tempat dia bekerja dalam ponsel milik Rassya. Reana menangis menatap wajah laki-laki itu yang telah hancur, luka lebam di mana-mana. Reana ingin mencium pipi laki-laki yang hanya duduk di lantai itu tapi tak bisa karena pipinya akan merasa kesakitan. Gadis itu akhirnya meraih punggung tangan laki-laki itu dan menciumnya sambil menitikkan air mata.
"Terima kasih! Terima kasih untuk segala pengorbananmu," ucap Reana tulus.
Laki-laki itu mengangguk dan Reana pun segera berlari dari kamar hotel itu. Sebelum suasana hati Tn. Malvin berubah dan mengurungkan niatnya mengusir Reana. Gadis itu tidak peduli jika semua orang di hotel itu merasa heran melihatnya berlari ke luar dengan gaun pengantin yang telah robek itu.
Reana berlari sejauh mungkin. Sekencang-kencangnya dan sekuat tenaganya. Benar saja tak ada satu pengawal pun yang menghentikan langkahnya yang cepat meski tak mengenakan alas kaki. Reana tak menemukannya lagi saat terbangun dari pingsannya di villa di tengah pulau itu. Reana berlari seperti orang gila. Tersenyum bahkan tertawa begitu bahagia.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...