
Reana mendengar Nico menerima panggilan telepon dari seorang wanita. Meski Nico menjarak darinya saat menerima panggilan telepon itu, tetapi Reana masih bisa mendengar dengan cukup jelas apa yang diucapkan Nico. Gadis itu merasa suaminya telah berubah, merasa suaminya telah mencari penggantinya.
Teringat kembali bagaimana perjuangannya untuk kembali ke sisi Nico. Melewati hari-hari yang menakutkan. Setiap saat khawatir Tn. Malvin yang bisa saja memaksanya menyerahkan diri. Namun, memilih tetap bertahan sekuat tenaga untuk setia pada suaminya.
Teringat kejadian yang mengerikan menjelang kepulangannya. Kejadian traumatis yang tak akan bisa dilupakannya seumur hidup. Rassya rela dipukuli demi memancing kemarahan Tn. Malvin pada dirinya dan Reana.
Namun, membawa hikmah baginya. Terpergoknya Rassya sedang mencium Reana, membuat gadis itu akhirnya justru diusir dari kamar hotel bintang lima itu. Reana baru sadar rencana Rassya di saat laki-laki itu seperti tak kuat lagi menahan pukulan dari Tn. Malvin. Di saat itulah Reana justru sadar dan ikut memancing kemarahan Tn. Malvin.
"Jangan pukul lagi, aku mencintainya! Aku ingin bersamanya!" teriak Reana.
Kata-kata itu membuat amarah Tn. Malvin semakin memuncak. Jika ejekan dari Rassya, hanya akan membuat pengusaha tampan itu semakin marah dan semakin membuat pengawal itu lebih babak belur lagi. Ucapan Reana justru membuat gadis itu langsung diusir dari kamar hotel miliknya itu.
Ucapan Reana lebih menyakitkan hatinya dibanding ejekan pengawal itu. Bagaimana tidak? Dengan jelas gadis yang dicintainya itu menyatakan mencintai pengawal itu dan ingin bersamanya. Kekecewaan Tn. Malvin lebih terasa karena gadis yang diharapkan bisa memilih mencintainya justru mencintai laki-laki yang baru dikenalnya.
Meski dimaki perempuan murahan, Reana tak peduli. Setelah berterima kasih pada pengawal itu. Reana berlari tanpa alas kaki. Dengan wajah lebam dan bibir yang pecah berdarah serta gaun pengantin yang telah compang camping, gadis itu berlari sejauh mungkin dari hotel milik Tn. Malvin.
Terus berlari hingga akhirnya berhenti di sebuah halte bus dengan napas yang terengah-engah. Terduduk di situ tanpa bisa melakukan apa-apa lagi. Reana terlalu letih. Letih jiwa dan tubuhnya setelah mengalami kejadian yang mengerikan seperti tadi.
Apa yang akan terjadi dengan Rassya? Apa dia akan baik-baik saja. Rencananya mengajakku berselingkuh ternyata untuk membuatku diusir oleh Tn. Malvin. Aku pikir dia hanya ingin mencari kesempatan denganku. Kasihan sekali dia babak belur seperti itu karena aku. Jika dulu Kak Nico dipukuli, akulah yang membantu mengobati lukanya. Bagaimana dengannya? Siapa yang akan mengobatinya? Kasihan sekali dia, bisik hati Reana lalu menitikkan air mata mengingat nasib Rassya.
Setelah termenung akhirnya gadis itu sadar dan meneruskan perjalanan pulang. Setelah dipikirkan akhirnya Reana memilih untuk langsung pulang ke apartemen Nico. Rasa rindunya pada suaminya itu, membuat Reana tak ingin lebih lama lagi menunda bertemu dengannya.
Gadis itu berjalan dengan lelah sementara hari telah hampir malam. Saat itulah Reana menjadi sedih. Rasa takut dan letih membuatnya sangat lemah. Reana hingga jatuh terduduk. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya. Gadis itu langsung ketakutan, kalau-kalau orang suruhan Tn. Malvin kembali mengejarnya.
__ADS_1
Namun, seorang ibu-ibu turun dari mobil itu dan mengaku mengenal Reana dari berita orang hilang yang pernah dibacanya. Reana bersyukur karena ibu itu bersedia mengantar Reana pulang ke apartemen Nico.
"Berita tentang pencarianmu setiap hari terlihat. Bahkan poster-postermu bertebaran di mana-mana, lalu di mana kamu selama ini?" tanya ibu itu merasa heran.
"Aku disekap di sebuah pulau Bu," jawab Reana.
"Ya ampun, kasihan sekali tapi sayangnya berita tentangmu simpang siur. Ada yang bilang kamu dibawa pergi oleh suamimu yang sebenarnya. Sedangkan poster-poster dan pengumuman orang hilang itu justru adalah orang yang ingin merebutmu dari suamimu. Jadi apa yang sebenarnya terjadi?" tanya ibu itu.
Reana pun menceritakan kejadian yang sebenarnya karena ibu itu karena ibu itu telah bersedia mengantarnya ke apartemen Nico. Di mana hari telah mulai gelap dan Reana tak punya uang sepeser pun untuk ongkos pulang. Mendapat pertolongan ibu itu Reana sangat bersyukur hingga dia merasa tak perlu menutupi kejadian yang sebenarnya.
"Dia rela menerima pukulan demi menolongmu?" tanya ibu itu heran.
"Iya Bu, aku sangat bersyukur mengenalnya," jawab Reana.
"Dia pasti sangat sayang padamu. Tapi ucapmu itu … aku tak menyangka kamu bisa berakting. Kata-kata kalau kamu mencintainya dan ingin bersamanya itu bisa membuat salah paham padamu. Pengawal itu bisa mengira kalau kamu benar-benar cinta padanya. Tuan itu saja bisa percaya apalagi dia yang mungkin berharap sungguh-sungguh pada padamu," ucap ibu itu.
Teringat saat mengatakan cinta tak bisa dipaksakan. Semua itu tetap untuk suaminya, bukan untuk pengawal itu. Begitu juga saat mengatakan kalau dirinya tak tahu ke mana cinta itu akan mengarah, Reana dengan pasti mengarahkan cintanya pada Nico.
"Aku mengatakan mencintainya dan ingin bersamanya, semua kata-kata itu aku tujukan untuk suamiku. Meski saat itu aku sedang memeluk tubuh pengawal itu untuk melindunginya," sambung Reana.
Ibu itu mengangguk mengerti. Juga mengagumi kesetiaan Reana pada suaminya. Namun, kini Reana merasa semua perjuangannya sia-sia. Menolak menyerahkan diri pada Tn. Malvin dengan segala macam cara. Merasa ketakutan setiap kali pengusaha itu mendekatinya, terasa tak berguna.
Di saat bertahan untuk setia. Di saat dirinya merindukan suaminya, Nico justru menemukan wanita lain. Reana tak pernah mendengar Nico menyebut nama wanita satu kali pun selama ini. Mendengar laki-laki itu menyebut nama itu dengan lembutnya membuat hati Reana merasa teriris.
__ADS_1
Kak Nico menemukan penggantiku. Aku telah pergi terlalu lama. Aku terlambat pulang. Jika tahu begini, lebih baik Tn. Malvin membunuhku dan membuang jasadku ke laut. Kak Nico tak perlu ragu untuk mencintai wanita lain lagi, batin Reana.
Yang merasa aneh melihat Nico sejak kemunculanku di depan pintu apartemen itu. Nico hanya termangu seolah-olah berpikir, kenapa dia datang? Kenapa dia muncul? Setidaknya itulah yang Reana duga saat ini.
Sikap Nico yang tak lagi hangat padanya. Menatapnya ragu-ragu dengan wajah yang penuh tanda tanya. Reana merasa kedatangannya seperti tak diharapkan. Kini terjawab sudah dengan panggilan telepon yang diterima Nico.
"Ya … ya … sayang sekali. Ok … sampai jumpa besok." Penggalan kata-kata yang terngiang-ngiang di telinga Reana.
Shafira, namanya sangat manis. Sayang sekali? Pertanyaan apa yang dilontarkannya hingga Kak Nico menjawab sayang sekali? Apakah dia menanyakan seberapa sayang Kak Nico padanya? Oh Tuhan dadaku sakit sekali, jerit hati Reana sambil bertumpu pada wastafel.
Reana telah mengucurkan air mata. Gadis itu menatap Nico sambil menopang tubuhnya pada wastafel. Namun, laki-laki itu hanya berdiri termangu tak mengucapkan apa-apa. Tak memeluknya apalagi menghiburnya. Setelah menitikkan air mata barulah laki-laki itu mendekati.
"Kamu kenapa? Apakah sakit?" tanya Nico.
Reana tak menjawab, hanya menatap wajah laki-laki di hadapannya itu. Nico sama sekali tak menyentuhnya, tak memeluknya. Meski melihatnya menangis dan terlihat lemah, Nico tak melakukan apa-apa. Bahkan laki-laki itu tak melepas ponselnya.
Reana lalu menatap t-shirt longgar yang digunakannya. Jika waktu itu membuat Nico bernafsu padanya, kini sama sekali tak berpengaruh apa-apa padanya. Masih teringat rasa penasaran Nico yang meragukan Reana memakai pakaian dalam. Saat itu mereka bahagia, Nico merasa menyesal tak meraih kesempatan bercinta dengannya padahal saat itu mereka belum menikah. Kini semua terasa hampa justru di saat mereka telah menjadi suami istri.
"Maukah Kak Nico mengantarku pulang?" tanya Reana akhirnya.
"K ... kenapa?" tanya Nico heran.
Karena aku rasa, di sini bukan rumahku. Aku sudah tersingkir dari hidupmu, jerit hati Reana sambil menangis terisak-isak.
__ADS_1
Reana tak menjawab apa-apa. Gadis itu hanya menggeleng sambil memaksa tersenyum. Semua jeritan hatinya hanya ditelan dalam dadanya yang semakin sesak. Nico kebingungan, istri yang ditunggu-tunggunya justru tak ingin lagi tinggal bersamanya.
...~ Bersambung ~...