Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 70 S2 ~ Pulang ~


__ADS_3

Nico meminta maaf atas ucapannya saat menelpon tadi. Dengan segala cara membujuk gadis itu agar memaafkannya. Reana berkata telah memaafkan Nico tetapi saat diajak video call gadis itu masih menolak. Nico pasrah, dia tahu jawaban Reana akan seperti itu.


Sebenarnya Nico sangat ingin membuktikan Reana tak menangis lagi tetapi gadis itu tetap menolak. Reana malu wajahnya yang bersimbah air mata, masih belum sepenuhnya normal seperti semula. Reana tak ingin Nico melihatnya dengan mata dan hidung yang masih memerah.


"Kak Reana! Ayo makan siang dulu! Kak Reana telponan sama siapa? Apa dari Tn. Malvin lagi?" tanya Nella sedikit berteriak.


Reana kaget mendengar ucapan Nella tetapi tak hanya Reana, di belahan dunia yang lain, Nico pun terperanjat mendengar teriakan Nella. Meski Reana buru-buru meredam ponselnya tapi Nico telah terlanjur mendengarnya. Laki-laki itu langsung ingin bertanya pada Reana.


Namun, gadis itu dengan tergesa-gesa menutup panggilan telepon Nico dengan alasan telah ditunggu karyawan restoran lainnya yang ingin makan siang bersama. Nico mendengar seseorang menyebut nama Tn. Malvin, membuat laki-laki itu menjadi geram. Bukan karena rasa takut atau marah pada eksekutif muda itu tapi pada Reana yang tak kunjung mengangkat lagi panggilan teleponnya.


Nico kesal, hampir saja laki-laki itu membanting ponselnya. Untung saja Nico bersabar dan hanya melempar ponsel itu ke atas ranjang. Rasa penasarannya tak tertahankan hingga ingin ditanyakan langsung pada Reana tetapi gadis itu tak mengangkat panggilan telepon darinya lagi.


"Berani sekali kamu tak menjawab teleponku. Ya ampun, apa yang harus aku lakukan padamu. Kesal … kesal … kesal! Awas saja nanti! Kalau masih tak mau mengangkat telponku? Aku … aku aahh, Reanaaaaa, kamu membuatku kesal!" jerit Nico sambil memukul-mukul ranjang di sampingnya.


Laki-laki itu mencoba memejamkan mata tapi jelas tak akan bisa. Sebentar-bentar kelopak matanya kembali terbuka. Nico kembali meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Reana kembali. Menunggu dan mengulang hingga beberapa kali. Saat laki-laki itu kembali putus asa dan ingin menaruh ponselnya. Terdengar sayup-sayup suara Reana menyapa, Nico langsung memanggil Reana.


"Kenapa tidak segera menjawab panggilan teleponku?" tanya Nico dengan nada marah.


"Maaf Kak, tadi kami makan siang bersama. Jadi aku simpan hp ku di dalam tas di loker. Sama sekali nggak kedengaran Kak," jawab Reana memberi alasan.


"Apa katamu nggak kedengaran? Apa kamu tahu? Aku dari tadi nggak bisa tidur karena mikirin kamu?" tanya Nico masih dengan nada kesal.

__ADS_1


"Maaf Kak," jawab Reana pelan.


Gadis itu serba salah, ingin segera mengangkat panggilan telepon Nico tetapi merasa takut karena Nico pasti akan memarahinya. Reana juga tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Nico jika menyangkut tentang Tn. Malvin.


"Apa yang aku dengar tadi? Apa ada yang menyebut Tn. Malvin tadi? Siapa yang telah menelponmu? Apa benar Tn. Malvin telah menelponmu?" tanya Nico bertubi-tubi.


"Bu … Iya Kak," ucap Reana akhirnya jujur.


"Kamu ingin menjawab, bukan? Kamu ingin menutupinya? Sama seperti dulu, merahasiakan segala sesuatu yang berhubungan dengan Tn. Malvin? Benar 'kan?" tanya Nico emosi.


Reana terdiam, sekeliling mata gadis itu terasa mulai memanas. Reana benar-benar serba salah. Begitu khawatirnya pada Nico hingga tak ingin laki-laki itu tahu tentang Tn. Malvin yang kembali menghubunginya.


Tapi jika ketahuan seperti ini, justru dia sendiri yang terkena imbas kemarahan dari Nico. Reana pasrah jika Nico memarahinya. Gadis itu pasrah jika harus menjadi pelampiasan kekesalan laki-laki itu.


"Aku akan segera menyelesaikan urusanku di sini. Kita harus segera menikah, persiapkan dirimu! Jika ada yang kamu butuhkan, beritahu aku segera, mengerti!" ucap Nico akhirnya dengan suara pelan.


Laki-laki itu sadar, meski dirinya memaki Reana sekalipun tak ada gunanya. Hanya gadis itu yang akan merasa terluka sementara penyebab dari kemarahannya sama sekali tak terkena imbas apa-apa.


"Kenapa tak menjawab?" tanya Nico semakin melunak.


"Ya, baiklah!" ucap Reana akhirnya.

__ADS_1


Gadis itu menggigit bibirnya agar tak menangis tetapi Reana memang seperti itu. Saat Nico melunak, saat laki-laki itu sadar telah bersikap keras padanya. Saat Nico membujuknya, Reana justru tak bisa menahan tangisnya.


"Aku khawatir sama kamu Reana. Aku tak peduli hal yang lain selain kamu. Harta yang paling berharga bagiku adalah kamu. Kalau terjadi sesuatu padamu aku yang akan menyesal. Tolong bantu aku! Apa pun yang berhubungan dengan Tn. Malvin, aku mohon, jangan tutupi lagi dariku. Aku ingin siap menghadapinya. Aku tak ingin seperti orang bodoh yang lengah, lalu terkejut karena tiba-tiba kamu perpindahan ketangannya. Itu akan menjadi penyesalan seumur hidupku. Apa kamu ingin aku seperti itu? Aku mencintaimu sayang. Aku tak ingin kehilanganmu. Aku harap kamu mengerti perasaanku," jelas Nico pelan dan penuh perasaan.


Reana menjawab dengan isak tangis yang tak bisa ditutupi lagi. Namun begitu, hatinya sedikit lega karena Nico tak lagi mengungkit tentang panggilan telepon dari Tn. Malvin. Reana hanya berharap Tn. Malvin hanya ingin menakut-nakutinya seperti yang diucapkan Nella.


Ucapan Nico memang serius, laki-laki itu mempercepatnya proses pemindahan kantor pusat perusahaannya ke kantor cabang di tanah air. Laki-laki itu bekerja siang hingga malam untuk menyelesaikan segala persiapan perpindahan kantor pusat perusahaannya ke tanah air.


Nico telah bermimpi tentang Tn. Malvin dan Reana pun telah dihubungi oleh laki-laki mapan itu. Nico merasa semakin dekat pertemuannya dengan eksekutif muda dan tampan itu. Hal itu sangat menjadi beban pikirannya.


Dua bulan kemudian Nico mendapat surat resmi perpindahan kantor pusat. Rapat umum pemegang saham pun dilaksanakan. Untuk terakhir kalinya Tn. Alex Rayne menjabat sebagai CEO di perusahaan itu. Tn. Alex Rayne dengan bangga menyerahkan posisi yang telah di pegangnya sejak masih muda hingga sekarang.


Para komisaris dan dewan direksi, menyetujui pengalihan jabatan itu sekaligus perpindahan kantor pusat. Begitu resmi berpindah, Nico langsung terbang ke tanah air untuk membantu Reana dalam persiapan pernikahan mereka. Nico tiba di depan pintu kaca restoran, seorang pelayan baru membantu membukakan pintu.


"Sudah pesan tempat Tuan? Untuk berapa orang?" tanya pelayan baru itu.


Nico hanya tersenyum lalu melangkah masuk. Baru beberapa langkah terdengar suara jeritan dari dalam. Nella, langsung mencari Reana yang sibuk membantu Bu Nani membuang sampah di belakang restoran.


"Kak Nico datang! Kak Nico datang!" jerit Nella sambil berlari.


Reana terlihat acuh dan masih sibuk memilah-milah sampah yang akan dibuang. Tak percaya sedikit pun dengan ucapan Nella karena Reana sama sekali belum mendapat kabar tentang rencana kepulangan calon suaminya itu. Reana juga tahu kalau Nella dan karyawan restoran lainnya paling suka bercanda dengannya. Jangankan para karyawan yang masih muda-muda, Bu Shinta dan Pak Gunawan pun suka mengerjainya.

__ADS_1


Tiba-tiba dari arah belakang Reana merasa kedua matanya ditutup. Reana langsung tersenyum. Karena gadis itu mengenal aroma khas yang berasal dari tubuh Nico.


...  Bersambung  ~...


__ADS_2