
Reana datang mencari Nico dan mendapati suaminya sedang tidur di kamar Angelica. Reana tak mampu menatap suaminya yang tertidur lelap seperti kelelahan sehabis bercinta. Hatinya terlalu sakit untuk lebih lama berdiri di kamar itu.
Angelica yang memang tak pernah mau menyapa Reana hanya membiarkan wanita itu berdiri memandangi Nico. Begitu wanita pergi, Angelica langsung membanting pintu. Menunjukkan kalau kedatangan Reana hanya mengganggu saja.
Dengan air mata yang mengalir, langkah Reana terhenti ketika mendengar suara bantingan pintu. Menoleh sekilas ke arah pintu lalu segera berlari meninggalkan rumah mertuanya itu. Reana pergi dan Angelica pun kembali melanjutkan niatnya. Menikmati tidur satu ranjang dengan pujaan hatinya.
Namun, bantingan pintu itu justru membuat Nico perlahan terbangun. Niat Angelica tidur bersama Nico pun gagal. Rasa kesal karena kedatangan Reana yang mengganggu keasyikannya bersama Nico.
Kamu ingin disingkirkan juga rupanya. Kak Nico sayang, aku akan bantu kamu singkirkan wanita-wanita yang hanya mengganggu itu. Tunggu saja giliranmu, wahai gadis kampung, batin Angelica.
Sementara itu, Nico menjaga istrinya yang demam. Menyuapi wanita yang dicintainya itu dengan bubur yang dibuatnya sendiri. Nico tahu rasanya pasti tak enak tapi melihat Reana yang lahap menyantap bubur itu hatinya menjadi berbunga-bunga.
"Terima kasih ya karena sudah menghabiskannya. Walaupun rasanya tak enak," ucap Nico sambil mengusap rambut istrinya.
"Karena kakak susah payah bikin, jadi rasanya enak," ucap Reana.
"Masa sih?" tanya Nico sambil tersenyum.
"Ya Kak," jawab Reana.
"Aku bahagia sayang, karena bisa mengabaikan masalah. Kalau aku ikuti rasa kesal di hati wah, kamu juga bisa babak belur," ucap Nico dengan mata yang tajam.
"Haaaa, teganya," ucap Reana dengan ekspresi panik.
"Tapi babak belurnya di kamar," sambung Nico lalu tertawa.
"Cuma di kamar aja?" tanya Reana.
"Maunya di mana? Apa sofa lagi? Sensasinya beda sayang," ucap Nico.
Reana tertawa, laki-laki itu tersenyum menatap manisnya senyum istrinya. Tak ingin kehilangan wanita itu walaupun hanya sebentar saja. Reana menghilang ke kampung halaman membuat hidup Nico tersiksa. Hanya bersedih, melamun dan menangis. Nico merasa dirinya tak mampu hidup tanpa istri tercintanya itu.
"Kakak menangis saat aku pergi?" tanya Reana yang bersandar di dada suaminya
"Setiap hari, setiap saat," jawab Nico.
__ADS_1
"Kakak cengeng," ucap Reana sambil tertawa.
"Nggak apa-apa, asal kamu kembali," jawab Nico.
"Aku ingin bertahan tapi tak sanggup, apalagi sikap Angelica, entah kenapa aku takut padanya," ungkap Reana.
"Aku juga merasakan itu sayang. Dia mengerikan, terkesan baik tapi menyeramkan," ucap Nico.
"Apanya yang menyeramkan?" tanya Reana.
"Ucapannya, aku ingat ucapannya yang bikin bergidik," ucap Nico.
"Apa katanya, kapan dia katakan itu?" tanya Reana.
"Waktu kami sama-sama menjaga Angela. Saat itu Angela memintaku untuk tidak terlalu dekat dengan Angelica–"
"Angela cemburu pada adiknya?" tanya Reana.
"Sepertinya begitu," jawab Nico.
"Saat itu aku bilang kalau Angelica akan jadi adikku jika kami menikah, lalu dia menyeletuk, kalau Selamat mungkin bisa menikah," ucap Nico.
"Dia bicara seperti itu tentang kakaknya?" tanya Reana.
"Ya, dan akhirnya ucapannya jadi nyata kan? Di saat semua orang berharap Angela selamat, dia justru berpikir beda," ucap Nico.
"Kalau begitu, memang seram, Kakak, aku juga takut lihat tatapan matanya," ucap Reana.
"Sudah sayang, jangan dipikirkan lagi," ucap Nico.
"Bagaimana kalau dia begitu inginkan kakak, sampai singkirkan orang-orang yang menjadi pendamping kakak," ucap Reana.
"Jangan berpikir seperti itu sayang," ucao Nico cemas.
Nico meminta Reana tidak memikirkan hal semacam itu karena dirinya sendiri merasa takut jika membayangkan harus kehilangan untuk kedua kalinya. Jika kehilangan seorang pacar saja rasanya sudah menakutkan dan menyedihkan apalagi kehilangan istri. Nico langsung memeluk erat istrinya. Reana justru tersenyum mendapat pelukan erat dari suaminya.
__ADS_1
"Kalau aku target yang harus disingkirkannya–"
"Jangan bicara begitu!" ucap Nico dengan suara yang sedikit keras saking paniknya.
"Baiklah, maaf ya Kak," ucap Reana.
Nico semakin memeluk erat istrinya. Baru menyadari setelah mengingat kembali hal yang menakutkan waktu itu. Bagaimana ekspresi Angelica yang tersenyum di saat semua orang menangis karena kematian Angela.
Nico tak ingin kehilangan Reana, karena apa pun. Sakit, kecelakaan atau karena masalah. Membayangkan itu, Nico merasa sangat takut.
Keputusanku untuk pindah dari rumah itu sudah tepat. Reana tak boleh dekat-dekat dengan Angelica. Kalau perlu tak pernah bertemu sama sekali. Proses transplantasi sumsum tulang belakang itu berhasil, hasil pemeriksaan medis juga menunjukkan kondisi Angela membaik tapi justru timbul kerusakan lain, ginjal, nggak! Reana! Jangan ambil Reanaku! Aku tak mau kehilangan Reanaku, batin Nico sambil memejamkan matanya meneteskan bulir bening air mata.
Nico menjalani hari dengan rasa cemas. Hal itu lagi-lagi diungkapkannya pada Rommy. Sahabatnya itu termenung mengingat kembali seperti apa wanita yang ditemuinya malam ini saat mengantar Nico ke rumah orang tuanya.
"Ya, dia sangat inginkan kamu. Aku rasa dia ingin menjebak kamu. Saat itu dia memintaku untuk melepas seluruh pakaianmu. Aku hanya bersedia melepas kemejamu, aku takut dia manfaatkan kamu di saat mabuk. Aku ancam dia jika ada isu yang menyalahkan kami maka aku akan jadi saksi kalau kamu tidur dan tak bisa berbuat macam-macam," ucap Rommy.
"Kamu katakan itu padanya?" tanya Nico.
"Ya, gaya bicaranya seperti ada niat-niat terselubung makanya aku ancam langsung," ucap Rommy.
"Oh begitu, ternyata kamu juga merasakannya. Sekarang aku jadi khawatir pada Reana," ucap Nico.
"Jangan khawatir, kita lindungi dia bersama-sama," ucap Rommy ingin menenangkan sahabatnya.
Mendengar ucapan Rommy hati Nico sedikit tenang. Nico percaya Rommy pasti sungguh-sungguh dengan ucapannya. Begitu banyak yang dikhawatirkan Nico, selain perusahaannya yang sedang terguncang. Nico, bisa saja turun dari jabatannya jika pada saat rapat pemegang saham, memutuskan Nico untuk melepas jabatannya.
Sementara itu dendam Hasbi semakin memuncak setiap kali mengingat pukulan-pukulan yang terpaksa diterimanya. Nico tak memberinya kesempatan untuk membalas. Laki-laki itu jadi terlihat sangat lemah. Tak masalah jika dia kalah karena mendapat pukulan yang tiba-tiba. Tapi tak memberi perlawanan sedikitpun di depan Reana membuatnya merasa sangat malu.
"Kamu ingin pertahankan dia dengan pukulan. Aku rebut dia dengan kecerdikan," ucap Hasbi bicara sendiri.
Menatap sambil tersenyum ke arah layar laptop dihadapannya. Galeri berisi foto-foto seorang wanita cantik dengan berbagai pose menjadi penghibur hatinya setiap saat. Hasbi bahkan mengusap wajah cantik di hadapannya itu.
Reana, tunggulah, saatnya akan tiba. Suamimu tak akan sanggup pertahankan kamu. Dia pasti akan merelakan kamu dan kita akan bahagia bersama, batin Hasbi.
Lalu menatap jadwal rapat umum pemegang saham yang memutuskan Nico akan tetap menjadi pimpinan atau lengser. Hasbi tersenyum membayangkan saat-saat Nico panik dalam mengambil keputusan.
__ADS_1
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...