
Persaingan kejam dimulai. Tanpa melihat hubungan keluarga ataupun rasa kasih sayang sesama saudara. Demi mendapatkan hati seorang Nico, kedua adik Kakak itu saling tega satu sama lain. Tak ada rasa kasihan di hati. Terkadang hati Angela terasa terenyuh mengingat penyakitnya sekaligus sikap adiknya yang telah memusuhinya.
Semua itu tercurah dalam tangis Angela, di dalam pelukan Nico. Namun, sedikit pun Angela tak mau cerita apa sebabnya menangis. Rasa takut mengingat tatapan mata adiknya membuat Angela menjadi mudah menangis.
Bagi Angelica, tingkah cengeng kakaknya yang menangis di hadapan Nico hanya untuk mengunci laki-laki itu agar tak lepas dari pelukan. Yang lebih membuat kesal Angelica adalah apa pun ucapannya tak lagi digubris oleh Nico karena laki-laki itu sibuk membujuk Angela.
Sengaja nangis untuk meraih perhatian Kak Nico, Huh, dasar licik. Tak bisa bersaing secara sehat. Sakit pun jadi alasan, batin Angelica.
Semua pemikiran Angelica ada alasannya karena sejak kedatangan Nico, Angela menangis membuat Nico panik. Selalu bertanya dan apa yang dirasakan Angela. Di mana rasa sakit yang dirasakannya atau apa yang bisa dilakukannya untuk mengurangi rasa sakitnya.
Membuat Angelica menjadi semakin iri. Namun, hebatnya, sikap persaingan kakak adik itu sama sekali tak tercium oleh orang tuanya. Ny. Nindya selalu berpesan pada Angelica untuk menjaga kakaknya dan membantu apa pun yang dibutuhkannya.
"Ika siapakan obat-obat Kakakmu," ucap Nindya.
Maka sambil tersenyum, Angelica akan menyiapkan obat-obatan untuk kakaknya dengan patuh. Begitu pun saat ibunya itu memintanya meminumkan obat-obatan itu pada kakaknya. Angelica terlihat seperti anak dan adik yang berbakti.
Ibunya sangat bahagia karena pertolongan Angelica memudahkan dan sangat membantu menjaga kondisi kesehatan Angela. Ibu itu bahagia melihat sikap putrinya yang terlihat sangat prihatin dan sayang pada kakaknya. Rasa bahagia dan tenang Ny. Ninndya berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Angela.
Jangankan merasa tenang, bahagia dan merasa terbantu, Angela justru merasa takut setiap kali menatap mata dan senyuman adiknya itu. Senyuman yang menyimpan sesuatu dan Angela mengerti karena dia sendiri juga menyimpan sesuatu di hatinya tentang adiknya itu.
__ADS_1
Rasa takut seperti diteror sangat dirasakan olehnya membuat pikiran Angela tak tenang. Efek kemoterapi dirasa sudah sangat menyiksa ditambah lagi tatapan dan senyum adiknya itu membuat tidurnya tak tenang. Membuat kondisinya semakin drop.
Angela menjalani kemoterapi untuk menyiapkan sumsum tulang baru, menekan sistem kekebalan tubuh menghancurkan sel-sel kanker. Setelah proses penyesuaian itu selesai, Angela diminta untuk beristirahat selama beberapa hari sebelum menjalani proses transplantasi.
Sementara Angela menjalani pengobatan dengan kemoterapi, Angelica diberikan suntikan selama empat hari untuk merangsang produksi sel induk darah agar jumlahnya meningkat hingga jumlah sel induk darahnya mencukupi.
Semua rasa sakit yang dirasakan Angelica dalam proses untuk menjadi pendonor sumsum tulang belakang itu, ditahannya sekuat tenaga. Semua itu demi menghilangkan rasa bersalahnya karena berniat jahat pada kakaknya. Setiap kali merasakan sakit dalam setiap tahap proses pengobatan, Angelica merasa tak rela.
Persiapan proses transplantasi sumsum tulang telah selesai. Transplantasi pun dilaksanakan dan berhasil. Sel induk yang memasuki tubuh Angela mulai berkembang biak untuk menghasilkan sel darah yang sehat.
Sepuluh hingga 28 hari setelah transplantasi Angela tetap di rawat di rumah sakit. Kesehatan Angela akan terus diawasi, pengobatan itu dinyatakan berhasil ditandai dengan meningkatnya jumlah sel darah putih. Selama itu pula Angela masih harus berhadapan dengan adiknya yang selalu menatapnya dengan cara yang berbeda.
Namun, Angela maupun orang tuanya tetap mempercayakan Angelica mengurus kakaknya. Meski ada rasa takut terhadap Angelica, Angela masih berpikir positif pada adiknya. Keinginan untuk menguasai Nico bukan berarti Angelica bisa tega menyingkirkan Angela dengan cara yang kejam.
Tak ada yang mengira, tak ada yang menyangka jika hari demi hari kondisi Angela menurun. Dokter melakukan pemeriksaan secara intensif terhadap kondisi Angela yang semakin memburuk.
"Kami telah memeriksa keadaan pasien, telah terjadi penolakan sel transplantasi. Pengobatan ini dengan cangkok sumsum tulang belakang ini mengalami kendala," jelas dokter.
Tn. Nugroho dan Ny. Nindya langsung terduduk. Nico menunduk menitikkan air mata. Laki-laki itu menatap sedih gadis yang dicintainya terbaring lemah.
__ADS_1
Ada penolakan transplantasi? Tentu saja menolak. Aku yang tak rela, aku yang menolak sel darahku mengalir di tubuhnya. Apa Kakak tahu? Saat proses transplantasi pikiran, otakku, hatiku, tubuhku, semuanya menolak untuk menolongmu. Karena Kakak jahat, Kakak kejam padaku. Kenapa aku harus menolong Kakak yang membenciku? Sama sekali tak mau mengalah padaku? Aku pasrah saat Kak Nico tak bisa menjadi milikku tapi … mulut yang jahat. Tanpa berpikir apakah ucapanmu itu akan menyakitiku. Begitu tega mengucapkan kata-kata yang menghina adikmu sendiri. Semua demi apa? Demi laki-laki itu, laki-laki yang justru Kakak tinggalkan untukku. Maaf Kak, harusnya Kakak mengalah hari itu, maka Kakak akan selamat, batin Angelica.
Diam menatap kosong ke arah Kakaknya yang semakin lemah. Hasil pemeriksaan telah keluar selain terjadi penolakan sel transplantasi, Angela juga mengalami kerusakan ginjal.
"Kemoterapi mengakibatkan gangguan fungsi ginjal dengan merusak pembuluh darah atau struktur ginjal. Ginjal pecah dan mengeluarkan obat kemoterapi dari tubuh," jelas dokter kala itu.
Semua menangis mendengar pernyataan dokter. Mereka berusaha mengisi hari-hari yang tersisa dengan selalu berada di sisi Angela. Dengan tatapan mata yang sayu, dengan tubuh yang semakin lemah. Angela ingin Nico memeluknya.
Semua yang menyayangi Angela berkumpul untuk dapat menemani gadis itu hingga detik-detik terakhirnya. Angela yang dicintai, yang dikagumi, yang disanjung kini hanya bisa menghitung hari. Menit demi menit, detik demi detik. Hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan Nico.
Kesedihan merasuki seluruh penghuni sekolah. Setelah pemakaman, Nico bahkan tak ingin masuk sekolah hingga beberapa hari. Kesedihan yang tak berkesudahan pun dirasakan Ny. Nindya. Setiap hari menolak untuk makan.
Setelah berusaha sekian lama, menjalani pengobatan di rumah sakit. Setiap hari datang ke rumah sakit untuk menunggui, menjenguk dan menjaga putrinya hingga terasa seperti sebuah kebiasaan. Ny. Nindya kadang masih terasa ingin datang ke rumah sakit seolah-olah putrinya masih dirawat di sana.
Angelica melihat tingkah laku ibunya merasa kesal. Ibunya itu seperti tak peduli apa pun. Bahkan tak peduli padanya. Hatinya yang kesal, membuat Angelica protes terhadap ibunya yang sama sekali tak peduli padanya.
"Mommy, apa baju ini cocok untukku," ucap Angelica sambil meniru gaya bicara Angela.
Ny. Nindya langsung menoleh. Suara, nada bicara dan gaya Angela, ditiru sepenuhnya oleh Angelica. Bukannya senang atau bahagia. Nyonya itu justru histeris, tak rela Angelica meniru Angela, memakai pakaian, sepatu dan aksesoris milik putri kesayangannya. Ny. Nindya bahkan memukuli Angelica.
__ADS_1
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...