Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 78 S2 ~ Tak Ingin Kehilangan ~


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Nico terbangun dan tak bisa lagi memejamkan matanya. Begitu matanya terbuka Nico langsung meraih ponselnya. Memeriksa kalau-kalau ada kabar tentang istrinya. Laki-laki itu terkejut ada pesan yang mengundangnya untuk menghadiri konferensi pers yang diadakan Tn. Malvin di hotel yang sama saat konferensi pers pernikahannya dulu.


Nico segera menghubungi Rommy. Laki-laki itu masih tertidur lelap. Nico pun menghubungi Dito, entah untuk apa? Nico hanya merasa teman-temannya harus tahu kabar yang baru didapatnya ini. Sementara Dito tak juga menyahut panggilan di ponselnya.


Nico beralih menghubungi Ardy, sahabatnya itu seperti enggan untuk bangun. Nico akhirnya menyiapkan dirinya sendiri untuk datang ke lokasi konferensi pers. Tn. Malvin kembali ingin mengumumkan rencana pernikahannya di hotel bintang lima miliknya itu.


Nico tak peduli jika harus pergi sepagi itu seorang diri. Hal terpenting baginya, dia telah mengirimkan kabar tentang rencana merebut istrinya di acara jumpa media itu. Segera laki-laki itu bersiap-siap untuk berangkat. Namun, Mikho tak menemukan kunci mobilnya.


Di mana aku menaruhnya? Kenapa aku bisa lupa? Batin Nico dalam hati. 


Kondisi hatinya yang tak menentu sejak kehilangan Reana membuatnya merasa kehilangan gairah hidup. Apa pun tak menjadi perhatiannya lagi sehingga letak kunci mobilnya pun Nico tak tahu lagi.


Laki-laki itu beralih menggunakan motor sport miliknya yang sudah cukup lama tak digunakannya. Nico bahkan sulit menemukan di mana dia memarkir kendaraan roda duanya itu. Begitu menemukan, Nico langsung berlari ke arah motor dengan jenis dan warna yang sama dengan miliknya itu.


Namun, saat mencoba menancapkan kunci ke lobang kuncinya. Nico mengalami kesulitan. Kunci itu tak kunjung bisa masuk ke dalam lubangnya. Laki-laki itu terus mencoba tetapi selalu gagal.


Apa aku salah memilih motor? Atau kuncinya yang salah? Kenapa begitu sulit mencapai hotel itu? Kenapa selalu ada halangan? Batin Nico semakin panik.


Begitu banyak halangan yang dirasakannya untuk mencapai lokasi konferensi pers itu. Awalnya bermula dari saat membersihkan tubuhnya. Nico merasa tubuhnya tak kunjung bersih dari licinnya sabun mandi. Setelah mandi berhasil, giliran Nico tak menemukan jaket yang biasa dipakainya.


Kemudian berlanjut tak menemukan kunci mobilnya. Padahal biasanya tergantung di gantungan segala macam kunci. Nico justru merasa bingung memilihnya. Di saat dia yakin memilih, sesaat kemudian dia ragu. Lalu memilih kunci yang lain tetapi tak menemukan kunci yang pas untuk mobilnya.


Aku pakai motor saja, batin Nico yang akhirnya memilih kunci motor.


Kini laki-laki itu terdiam karena tak menemukan motornya. Setiap kali melihat motor yang sama dengan motor sport miliknya, Nico langsung mendekati tetapi menyadari kalau motor yang dilihatnya bukanlah motor miliknya. Laki-laki itu hingga merasa lelah mencarinya.

__ADS_1


Kenapa banyak sekali halangan untuk menemukan istriku? Tidak! Aku tak boleh putus asa. Aku harus menemukan Reana, batin Nico bertekad.


Berhasil menemukan motornya, Nico langsung melesat menuju hotel yang sudah sering dikunjunginya. Namun, Nico merasakan suasana yang berbeda dengan yang pernah dilihatnya. Suasana hotel itu tak terlihat sama lagi. Berubah 180° derajat dari apa yang pernah dilihatnya dulu. Nico seperti melihat sebuah pesta pernikahan dengan konsep pinggir pantai.


Laki-laki itu berlari ke arah keramaian. Tak peduli orang-orang yang menatapnya heran. Nico terserang rasa panik entah dari mana asalnya.


"Reana," ucapnya pada dirinya sendiri.


Segera berlari menuju pasangan pengantin yang siap mengikat janji. Nico terkejut karena melihat istrinya yang tersenyum menyelipkan cincin di jari manis Tn. Malvin. Laki-laki itu mencium pengantinnya dan Reana membalas sambil memeluknya.


"Reana!" teriak Nico.


Pasangan pengantin itu langsung menoleh. Tak peduli apa pun situasinya. Entah itu Reana telah resmi menjadi istri Tn. Malvin, Nico tak peduli. Segera laki-laki itu menghampiri Reana dan menarik tangannya untuk pergi.


Nico tak peduli jika Tn. Malvin akan menembakkan senjata api padanya. Tak ada rasa takut sedikit pun di hatinya. Namun, tak seperti yang diduganya. Tn. Malvin tak menembakkan apa-apa ke arahnya tetapi justru Reana yang menghentakkan tangannya.


"Aku nggak mau ikut," ucap Reana yang lebih membuatnya kaget.


"Reana, apa maksudmu? Kamu itu istriku–"


"Nggak! Nggak lagi! Kenapa selama ini tak mencariku? Kenapa membiarkan aku jatuh dalam pelukan Tn. Malvin. Kak Nico tak berhak atas diriku lagi. Kak Nico sudah menyerahkan aku padanya–"


"Nggak Reana! Itu nggak benar! Aku mencarimu. Aku melakukan segala cara untuk mencarimu. Melaporkan ke pihak berwenang, menggunakan jasa orang yang banyak untuk melakukan pencarian. Mereka menyebar di seluruh dunia untuk melacak keberadaanmu. Menyebarkan iklan pencarian orang hilang di media cetak, elektronik, dan cyber. Semuanya sayang, aku melakukan segalanya untuk mencarimu," jawab Nico untuk menyakinkan Reana.


"Lalu kenapa masih belum menemukan aku juga?" tanya Reana.

__ADS_1


"Aku tidak tahu Reana. Kalian sulit dilacak. Aku tak akan mungkin membiarkan istriku direbut orang," ucap Nico dengan wajah panik dan resah.


"Aku harus bagaimana lagi Kak! Aku kecewa Kak Nico tak mencariku. Aku menyerahkan diri pada Tn. Malvin karena aku merasa kembali pada Kak Nico pun, Kakak tak akan mau menerima aku lagi. Kak Nico pasti sudah meragukan kesucianku. Kak Nico pasti tak akan bisa menerima keadaanku sekarang ini. Sudahlah Kak Nico pasti akan menyesal membawaku. Suatu saat pasti akan mengungkit kehormatanku yang direnggut Tn. Malvin. Biarkan semua berlalu, kita ini tak berjodoh Kak," tutur Reana lalu berbalik arah menuju Tn. Malvin yang menunggu.


Nico tak terima dengan ucapan Reana. Dengan cepat meraih tangan gadis itu dan kembali menyeretnya pergi. Reana meronta, Nico tak peduli.


"Kamu itu istriku! Kita sudah menikah! Kamu tak diizinkan menikah dengan laki-laki mana pun di dunia ini!" seru Nico sambil terus menarik tangan Reana.


"Kak Nico nggak akan bisa menerima aku yang sudah ternoda!" jawab Reana.


"Aku akan menerimamu bagaimanapun keadaanmu. Apa yang terjadi padamu adalah kesalahanku, kelalaianku menjagamu. Aku tak peduli dengan keperawanan. Aku akan selalu menerimamu apa adanya," ucap Nico menangis sambil menangkup wajah Reana.


Akan sulit baginya jika Reana sendiri tak percaya dan tak ingin hidup bersamanya. Sementara dia tak bisa hidup tanpa Reana. Nico memohon agar istrinya itu percaya pada janjinya yang akan menerima seperti apa pun keadaannya.


"Kamu bisa menerima? Tapi aku tidak! Aku tak terima istriku direbut bocah ingusan sepertimu. Pergi kamu dari sini! Apa kamu tidak lihat? Sebenarnya dia sudah tidak ingin lagi bersamamu," ucap Malvin sambil menarik tangan Reana.


Gadis itu pasrah ikut dengan Tn. Malvin sementara Nico berdiri termangu menatapnya. Laki-laki itu tersadar dan tak rela, segera ingin mengejar dan merebut Reana kembali tetapi kakinya terasa berat. Begitu berat hingga terasa lengket. Pasir pantai itu seperti mengikat kakinya kuat. Nico hanya bisa berteriak, sementara Reana melangkah semakin menjauh pergi dan menghilang.


"Reana! Jangan pergi! Reana! Reana!" jerit Nico lalu membuka matanya.


Laki-laki itu merasakan nafasnya yang tersengal-sengal. Berulang kali menghela dan menghembuskan nafas. Nico merasakan air matanya benar-benar keluar dari pelupuk matanya. Menghapus peluh dan air mata itu saat duduk di ranjangnya.


Rasanya sangat nyata, apa Reana sudah pasrah padanya? Apa dia memaksa Reana menyerahkan diri? Reana, apa yang harus aku lakukan? Di mana aku bisa menemukanmu? Bisik hati Nico bertanya


Sementara Nico terbangun, Reana justru telah tertidur. Setelah sekian lama matanya tak mau terpejam. Reana merindukan suaminya. Memikirkan bagaimana khawatirnya Nico saat ini. Membuat Reana tak henti-hentinya menangis. Reana pasrah, berharap dapat menemukan jalan agar bisa kembali pada suaminya. 

__ADS_1


Membayangkan hari-hari yang akan dilaluinya dengan rasa takut, jika suatu saat Tn. Malvin tak bisa berpikir jernih hingga memaksanya menyerahkan diri. Sesungguhnya Reana masih merasa trauma dengan apa yang terjadi padanya tadi. Meski akhirnya Tn. Malvin sadar dan mengurungkan niatnya memaksa Reana. Tetap saja, Reana merasa takut membayangkan hari-hari ke depannya.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2