
Reana tertawa saat melihat foto-foto di galery ponsel Ardi. Kelucuan dan keceriaan empat sahabat itu dalam mengisi liburan di tempat-tempat wisata, mulai dari domestik hingga mancanegara.
Hanya dengan membuat Nico kalah taruhan, maka ketiga sahabatnya itu bebas memilih tempat liburan yang mereka inginkan. Dalam bentuk apa saja, kapan saja dan dimana saja. Laki-laki dari keluarga kaya itu siap membiayai semuanya.
"Sebenarnya foto-foto kami sangat banyak, tapi tidak bisa di simpan di ponsel semua, takut memorinya penuh" ucap Ardi sambil menggeser-geser tampilan layar ponselnya.
Sesekali berhenti jika ingin menceritakan kenangan lucu yang terjadi dibalik pengambilan foto tersebut. Reana mendengar cerita-cerita itu dengan semangat. Foto-fotonya sangat banyak dan ceritanya pun lucu-lucu.
Sayang tidak semua foto bisa diceritakannya, karena sebagian besar foto telah disimpan Ardi di notebook nya, namun untuk tempat-tempat dan momen-momen yang paling berkesan dan istimewa, Ardi sengaja tetap menyimpannya di galery ponsel.
Reana tertawa lepas melihat cara Ardi menceritakan satu-persatu momen-momen di foto itu. Ardi pun ikut tertawa melihat Reana yang tertawa begitu renyah.
Ardi jadi kagum sendiri, caranya bercerita itu bisa membuat gadis yang jarang tertawa seperti Reana, bisa mengeluarkan tawa yang begitu bebas. Mahasiswa-mahasiswa disekitar Ardi dan Reana hanya bisa iri melihat keceriaan mereka.
"Nico nggak mau lagi ikut taruhan sejak itu" ucap Ardi tiba-tiba, setelah tawanya mereda.
Sambil memandangi rekaman video saat Nico mencium Reana, gadis itu terdiam berusaha untuk mengerti apa maksud ucapan Ardi.
"Sejak Nico memilih mencium kamu untuk membayar taruhannya, Nico nggak pernah mau terpancing lagi untuk ikut taruhan, kapok kali dia" lanjut Ardi.
"Semua itu salah kami, kami udah kelewatan memilih hukuman untuknya.
Karena kami pikir sangat mudah baginya untuk memenuhi hukuman itu.
Gadis mana yang tak ingin dicium Nico ?
Kami menyarankan untuk mencium Rebecca waktu itu. Karena kami yakin Rebecca pasti tidak keberatan" Ardi mulai serius bercerita.
Desas-desus Nico mencium Reana karena sebuah taruhan telah di dengar gadis itu sejak lama. Namun kisah sesungguhnya Reana tidak pernah mengetahuinya. Karena itu Reana begitu serius mendengar Ardi bercerita.
"Tapi saat mencari Rebecca, Nico tidak menemukannya. Dia justru bertemu denganmu, entah setan mana yang menghasutnya hingga dia akhirnya memutuskan untuk mencium kamu.
Kami semua kaget, aku rasa Nico sendiri juga kaget dengan keputusannya.
Tapi apa daya, semua terjadi begitu saja" ungkap Ardi dengan wajah menyesal.
Awalnya kak Nico ingin mencium Rebecca ? karena dia tidak menemukannya ? akhirnya kak Nico melampiaskannya padaku ? jerit hati Reana.
Dada Reana mendadak terasa sesak, gadis itu terdiam menunduk. Berusaha menahan rasa perih di dadanya.
"Kami mencoba bertanya alasan Nico melakukan itu, tapi dia tidak mengatakan apapun.
Saat kamu menghadapi bully-an dari cewek-cewek di kampus.
Nico justru bersembunyi di apartemennya, dia bahkan menyalahkan kami" sambung Ardi.
"Nico harus merasakan kepalan tinju Hasbi, ketua kelas mu. Beberapa hari setelah kejadian." lanjut Ardi memutuskan menceritakan tentang kejadian di aula basket.
Reana tercengang, Hasbi pernah berkata dia menemui Nico. Tapi tidak menyangka pertemuan mereka diwarnai dengan pemukulan. Reana semakin menyadari perhatian Hasbi yang begitu besar padanya.
"Maafkan kami Reana, kami menyesal dengan kejadian itu. Karena sejak itu, kamu mengalami masa-masa sulit menghadapi orang-orang di kampus" ucap Ardi dengan raut wajah menyesal.
"Kamu mau kan memaafkan kami ?" tanya Ardi menatap Reana.
Reana hanya terdiam, apa lagi yang bisa dikatakannya. Raut wajah Ardi sudah menunjukkan penyesalannya. Ditambah lagi Ardi adalah sahabat Nico, dan Reana mulai merasa akrab dengan laki-laki itu.
Beberapa hari ini Reana memang sering di temani Ardi di kampus. Karena skripsi Ardi sudah memasuki bab iv, dimana laki-laki itu harus sering bolak-balik bimbingan dengan dosen pembimbingnya.
Ardi termasuk mahasiswa yang lancar dalam menyusun skripsi karena beruntung mendapatkan dosen pembimbing yang memberi kemudahan dalam proses penyusunan skripsinya.
Ditambah lagi dosen pembimbing Ardi adalah dosen tetap yang tidak sulit untuk ditemui. Ardi jadi lebih sering bertemu dengan Reana, apalagi Nico selalu berpesan untuk menemani Reana jika kebetulan melihat gadis itu sendirian di kampus.
Reana memandang gedung sekretariat, Nico masih belum muncul dari situ, sepertinya laki-laki itu masih konsultasi dengan dosen pembimbingnya.
Teringat cerita Ardi, Reana kembali tertunduk, cerita tentang Nico yang kalah taruhan itu membuat hatinya terasa pedih. Reana baru mengetahui kejadian yang sesungguhnya. Gadis itu merasa dijadikan objek permainan keempat sahabat itu.
Memaafkan kalian ?
Apa kalian sungguh-sungguh menginginkan maaf itu ? Kalian bertindak tanpa memikirkan perasaanku ?
Tidak, mereka tidak salah, mereka menyarankan untuk mencium Rebecca.
__ADS_1
Kak Nico, kak Nico yang tidak peduli perasaanku, kak Nico lah yang tidak peduli akibat dari perbuatannya padaku, jerit hati Reana gadis itu memejamkan matanya.
Dan lebih membuat hati Reana teriris, apa yang dilakukan Nico telah membuat gadis itu dicap perempuan murahan, tidak tau malu dan perempuan gampangan.
Mungkinkah kak Nico juga berpikir seperti mereka ?
Bagi kak Nico, aku hanyalah seorang perempuan murahan yang pantas diperlakukan seperti itu ? jerit hati Reana.
Mata Reana mulai berkaca-kaca, namun gadis itu memalingkan wajahnya. Hingga Ardi tidak menyadari perubahan suasana hati Reana.
Ardi terus saja bercerita seakan-akan apa yang mereka lakukan, hobi-hobi mereka, menjadikan orang-orang sebagai objek taruhan adalah hal yang biasa.
Reana ingin segera beranjak dari tempat itu. Gadis itu merasa tidak tahan lagi, dia ingin mencari alasan untuk segera pergi dari hadapan Ardi.
Tapi tiba-tiba Ardi menunjuk kearah Nico yang baru saja keluar dari gedung sekretariat.
Reana reflek menoleh kearah Nico yang berjalan sambil tersenyum padanya. Reana memandang Nico dengan tatapan nanar. Gadis itu merasa tidak yakin ingin menemui Nico saat ini.
Tiba-tiba gadis itu muncul, gadis cantik yang tidak dikenal itu, berjalan kearah Nico, dalam sekejap memeluk dan mencium bibir laki-laki itu, didepan semua mahasiswa yang berdiri di sekitar gedung, mereka berciuman. Berciuman didepan banyak orang.
Reana terkejut, dada gadis itu terasa sesak. Reana berdiri dan berlari meninggalkan Ardi yang masih termangu menatap kejadian itu. Perasaan Reana yang sejak tadi telah hancur, tak mampu lagi membuatnya bertahan ditempat itu.
Nico melepaskan tangan gadis itu, dengan tatapan mata tajam membentaknya. Nico panik, kelakuan gadis itu membuatnya sangat kesal sekaligus gusar. Tapi gadis itu seperti tidak peduli pada teriakan Nico, dia hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan Nico begitu saja.
Nico segera berlari kearah Ardi, menanyakan keberadaan Reana. Ardi bingung, jelas-jelas Reana tadi bersamanya, tapi sekarang gadis itu sudah tak ada lagi di sampingnya.
Nico panik langsung menelpon Reana, tapi gadis itu tidak mengangkat ponselnya.
"Tadi dia disini, dia benar-benar ada disini" ucap Ardi menyakinkan Nico.
Nico juga tau itu, dia sendiri melihat Reana duduk bersama Ardi menunggunya. Nico mencoba menelpon Reana lagi, tapi Reana tak kunjung menerima panggilannya. Nico semakin gusar.
Nico berlari ke perpustakaan namun tak menemukan Reana, hingga akhirnya berlari ke taman belakang kampus. Dalam ingatan Nico setiap kali gadis itu bersedih, dia akan menangis sendirian disitu.
Nico berlari mengitari taman, tapi tetap tak menemukan gadis itu. Laki-laki itu mencoba memanggil nama Reana, tapi tetap tak ada sahutan. Nico mencoba menelepon Reana kembali sambil terus berjalan mengitari taman.
Hingga akhirnya mendekati labirin, Nico hendak berbalik arah karena merasa Reana tidak mungkin berada disitu. Nico tau gadis itu tidak akan berani masuk ke dalam labirin seorang diri.
Tapi Nico justru mendengar suara ponsel yang bergetar dari balik tanaman labirin.
"Reana, kamu disini ? aku mencarimu" ucap Nico khawatir.
Nico langsung duduk dihadapan Reana. Laki-laki itu tidak percaya Reana berani memasuki labirin itu seorang diri. Nico sangat yakin gadis itu memiliki rasa takut yang berlebihan pada labirin.
Saat itu juga Nico menyadari, Reana bisa melakukan hal nekat jika merasa putus asa. Reana bisa melupakan rasa takutnya jika dia merasa terluka.
"Hei, bicaralah padaku, tadi itu, aku benar-benar tidak tau gadis itu berada disitu.
Sejak kejadian kemarin, aku berharap dia tidak pernah muncul lagi dihadapanku" ucap Nico menjelaskan.
Tapi Reana tetap pada posisinya.
"Reana bicaralah padaku" mohon Nico pada Reana yang masih bergeming.
Tak berapa lama kemudian Reana mengangkat wajahnya, menatap lurus ke mata Nico. Air mata gadis itu sudah berlinang.
"Reana, bukankah kamu percaya padaku ? tanya Nico melihat wajah Reana yang terlihat begitu sedih.
"Saya sungguh ingin percaya kak Nico, tapi kelakuan kalian yang menjadikan perempuan sebagai bahan taruhan, membuat saya sulit percaya" ucap Reana dengan air mata yang terus mengalir.
"Apa ? apa maksudmu ?" tanya Nico, laki-laki itu tidak mengerti.
"Tak pernahkah terpikirkan oleh kakak ?
Gadis itu, mungkin saja pernah jadi bahan permainan kalian ?
Dan sekarang muncul untuk membalas perbuatan kalian ?" tanya Reana pada Nico yang bingung dengan ucapan Reana.
"Apa maksud ucapanmu Reana ? aku tidak mengerti" tanya Nico masih tidak mengerti.
"Saya... saya pernah menjadi korban permainan kalian, Apakah mencium perempuan tak dikenal itu biasa bagi kalian ?
__ADS_1
Apa kak Nico benar-benar menganggap saya perempuan murahan yang pantas di perlakukan seperti itu ?" tanya Reana sambil menepuk dadanya.
"Reana, kamu ini bicara apa ?" tanya Nico panik sambil memegang kedua bahu Reana.
"Jangan sentuh" ucap Reana melepaskan tangan Nico dari bahunya.
"Berciuman tanpa perasaan itu sama sekali tidak membuat orang bahagia.
Ciuman seperti itu hanya membuat orang terluka, Kak Nico nggak akan mengerti," ucap Reana menunduk, air matanya kembali menetes.
"Reana kamu salah, kami tak selalu menjadikan perempuan sebagai bahan taruhan " kata Nico mencoba memberi penjelasan.
"Berciuman tanpa perasaan ?
Apa kamu nggak bisa merasakan ketulusanku ?
Apa kamu nggak bisa merasakan perasaanku ?" tanya Nico.
Lalu menangkup wajah Reana dan mengecup bibir gadis itu, berharap hal itu bisa menenangkan hati Reana.
"Lepas, teganya kak Nico lakukan ini padaku setelah berciuman dengan gadis lain" teriak Reana mendorong Nico.
Gadis itu mengusap bibirnya dengan kasar, air matanya mengalir semakin deras.
Reana berdiri dari tempat itu, mengambil ransel yang tergeletak disampingnya, Nico pun bergegas berdiri mengikuti.
"Saya berharap Rebecca lah yang kakak cium waktu itu" ucap Reana sambil menatap mata Nico.
Reana menyesali keputusan Nico yang menjadikan dirinya sebagai gadis pengganti Rebecca. Gadis itu menghapus air matanya yang masih mengalir dengan kedua tangannya.
Bergerak melangkah pergi, Nico memandangi gadis itu, lalu mencoba mendekati Reana.
"Jangan mengikutiku, atau selamanya aku akan membencimu" ucap Reana menghentikan langkah Nico.
Reana berjalan sambil terisak. Meskipun dia mencoba menghentikan tangisnya, namun gadis itu tetap tak bisa. Nico memanggil Reana, namun ia tak mempedulikannya. Nico ingin mengejar, tapi takut Reana sungguh-sungguh dengan ucapannya.
Reana tak ingin diganggu, Nico hanya bisa terdiam ditempatnya. Laki-laki itu tidak sanggup membayangkan ancaman Reana, Nico tak ingin Reana membencinya.
Perlahan laki-laki berjalan keluar labirin dan duduk di bangku taman. Dibangku ini Alika pernah hampir menampar Reana dan Nico datang menghentikannya.
Nico berpikir keras pada setiap ucapan Reana, taruhan, ciuman, Rebecca. Nico merangkai kalimat demi kalimat yang diucapkan Reana.
Mungkin benar apa yang dikatakan Reana ?
Gadis itu salah satu korban permainan kami ?
Dan bagaimana Reana bisa tau, Rebecca lah yang awalnya akan kucium ?
Apa ini hukuman bagiku, atas perlakuanku pada Reana ? jerit hati Nico.
Nico meremas rambutnya, mengusap kasar wajahnya. Sejujurnya Nico merasa yang dikatakan Reana mungkin saja benar. Gadis itu mungkin salah satu korban dari permainan mereka. Dan sekarang datang untuk mengacaukan hubungannya dengan Reana.
Karena itulah Nico menanyakan pada ketiga sahabatnya, namun tidak ada satupun dari mereka yang mengenali gadis itu. Nico benar-benar penasaran dengan tujuan gadis itu hadir diantara mereka.
Nico tidak ingin Reana terluka, laki-laki itu ingin segera menjelaskan semuanya. Tentang perasaannya yang tidak bisa berpaling dari Reana sejak pertama kali melihatnya didepan kelas.
Reana bukanlah bahan permainan baginya. Apa yang dilakukannya terhadap gadis itu adalah luapan perasaannya yang sudah terpendam. Sejak melihat senyum gadis itu, Nico selalu menciuminya.
Hari itu, adalah hari dimana dia harus mencium seorang gadis. Reana tepat dihadapannya, keinginan yang terpendam itu tak bisa dilawannya.
Meskipun bukan Reana tujuannya, tidak, itu tidak benar. Reana selalu menjadi tujuannya, dalam hati, Reana selalu menjadi tujuannya, meskipun rasanya saat itu tidak mungkin mendapatkannya.
Namun kesempatan telah diberikan kepadanya, gadis itu berdiri dihadapannya, menengadahkan wajahnya bersiap untuk di cium. Nico merasa itu adalah kesempatannya, mencurahkan perasaannya.
Tidakkah Reana bisa merasakannya ?
Perasaanku saat pertama kali menciumnya ?
Itu bukan ciuman tanpa perasaan.
Itu benar-benar luapan perasaanku.
__ADS_1
Nico menarik nafas berat, laki-laki itu berharap masih ada kesempatan baginya untuk menjelaskan semuanya. Kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Reana.
...*****...