Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 55 S2 ~ Telah Lepas ~


__ADS_3

Reana meminta izin pada Nico untuk pulang malam itu juga jika pakaiannya telah kering. Laki-laki itu tentu saja terkejut dengan keputusan Reana. Gadis itu menebak kalau Nico merasa tak nyaman dengan keberadaannya di sekitar Nico. Gadis itu meledek Nico, laki-laki itu pun mengejarnya.


Sebelum mencapai kamar Nico berhasil menangkap Reana dan menghempaskan ke sofa. Perlahan laki-laki itu mendaratkan bibirnya dengan sempurna di bibir Reana. Menyesap manis rongga mulut yang masih menyisakan manis es krim rasa vanilla itu. Bergantian menjilati setiap sudut di rongga mulut itu dengan mata mereka yang terpejam, hanya lenguhan serta desahannya yang terdengar saling bersahutan.


Isapan demi isapan itu perlahan berubah menjadi tarikan-tarikan lembut di bibir Reana. Hingga akhirnya Nico melepaskan ciumannya. Laki-laki itu menatap lembut gadis yang masih terkunci di bawahnya itu.


"Kamu benar-benar ingin dimangsa?" tanya Nico setengah berbisik.


Reana menggelengkan kepalanya. Nico tersenyum.


"Lalu kenapa tadi bilang sudah pasrah jadi mangsa lucu yang siap diterkam?" tanya Nico.


"Kalau terpaksa! Namanya juga mangsa lucu mana bisa melawan?" jawab Reana dengan gaya yang menggemaskan.


"Ya ampun!" Nico langsung tertawa. "Ya benar sayang, dari tadi aku memang ingin menerkammu. Kamu tidak salah, entah kenapa kalau di sini rasanya berbeda padahal di hotel kita juga begini tapi tidak sampai … berpikiran macam-macam," ucap Nico. Reana tertawa.


"Mungkin karena ada Mama di kamar sebelah jadi kita tidak berani macam-macam. Kalau di sini … tidak ada siapa-siapa," jawab Reana sambil tersenyum.


"Baiklah! Nanti setelah makan malam aku antar kamu ke kost-an," ucap Nico sambil mengusap rambut Reana.


Gadis itu mengangguk, sementara Nico masih menatap lembut gadis yang dicintainya itu. Laki-laki itu tak bosan-bosannya menatap gadis yang telah mencuri hatinya sejak pertama kali melihatnya di depan kelas saat kuliah dulu. Nico langsung jatuh cinta saat melihat gadis itu yang begitu mudah menyelesaikan soal di depan kelas.


"Padahal aku masih kangen sama kamu," ucap Nico seperti menyesal dengan keputusannya tadi. Reana kembali tertawa.


"Besok kita bisa ketemu lagi Kak," ucap Reana menghibur tunangannya itu.


"Ya benar! Besok kita bisa langsung mengurus dokumen-dokumen perjalanan ke luar negeri, agar bisa segera berangkat ke New York. Kamu masih ada kegiatan di kampus?" tanya Nico dan langsung duduk di sofa itu.


"Paling mengambil skripsi yang sudah jadi, sama ijazah dan transkrip nilai asli," ucap Reana juga duduk di samping Nico.


Laki-laki itu meraih tubuh gadis itu dan merebahkan di pangkuannya. Menatap gadis itu sambil membelai rambutnya. Sesekali mengusap pipi lembut seputih susu itu.


"Aku tidak bisa lama-lama di sini, karena itu kita harus segera urus dokumen-dokumenmu. Kamu masih ingin bekerja di sana 'kan?" tanya Nico sambil membelai rambut gadis yang tidur di pangkuannya itu.


"Masih, jika aku sudah dapat ijazah dan restoran buka lowongan di bagian manajemen aku akan melamar di sana," jelas Reana.


"Tak ingin bekerja di perusahaan lain?" tanya Nico.

__ADS_1


"Aku sudah merasa nyaman bekerja di restoran itu, Kak. Semua karyawan di sana bersikap baik padaku. Aku tidak bisa meninggalkan restoran itu, mereka sudah seperti keluarga bagiku," jelas Reana.


Nico mengangguk, kembali menatap Reana. Laki-laki itu seperti masih ingin sepuas-puasnya memandang gadis yang dirindukannya, sambil terus mengusap helaian rambut gadis itu. Reana tak ingin beradu pandang dengan Nico, gadis itu merasa takut akan memancing hasrat Nico. Laki-laki itu meraih tangan Reana dan mencium telapak tangan itu dengan sangat dalam hingga memejamkan mata.


"Aku mencintaimu Reana," ucapnya tanpa menoleh ke arah gadis itu.


Hanya memejamkan matanya sambil mencium dalam-dalam telapak tangan gadis itu. Kini giliran Reana yang menatapnya, gadis itu tersenyum. Tiba-tiba Nico mengangkat tubuh Reana dan memeluknya erat.


"Berjanjilah padaku, apa pun yang diucapkan orang tuaku nanti, tak akan membuatmu mundur ya sayang!" pinta Nico yang di balas anggukan oleh Reana.


Nico tersenyum merasakan anggukan Reana di bahunya. Setelah puas memeluk gadis itu, Nico pun ikut berbaring di samping Reana. Berdua mereka tidur di sofa itu. Nico memilih tidur siang bersama Reana karena mereka tak bisa melakukan apa pun. Nico takut semakin tak mampu menahan hasratnya setiap kali menatap Reana.


Nico tidur sambil memeluk Reana dari belakang. Di sore harinya Reana terbangun, perlahan melepaskan tangan Nico yang melingkar di pinggangnya. Setelah menatap sekilas wajah orang terkasihnya, Reana melangkah ke ruang cuci. Mendapati pakaiannya telah bisa dipakai lagi.


Gadis itu segera melangkah ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Sementara itu Nico yang terbangun merasa heran karena tak mendapati Reana di sofa itu. Segera mencarinya ke dalam kamar. Saat mendengar aktivitas di kamar mandi, laki-laki itu tersenyum lalu segera duduk kembali di sofa. Tak lama kemudian Reana keluar dari kamar dengan mengenakan pakaiannya sendiri.


"Oh Kakak sudah bangun?" tanya Reana untuk menyapa Nico.


"Hm, aku pikir kamu ke mana, lain kali kalau mau ke mana-mana harus bilang padaku dulu--"


"Ya ampun! Cuma mau mandi masa bangunin Kakak dulu? Itu namanya lebay," jawab Reana sambil tersenyum.


Reana melingkarkan tangannya ke leher Nico juga sambil tersenyum menatapnya dengan tatapan lembut. Mengamati setiap inci detail wajah laki-laki itu bahkan hingga memiringkan wajahnya.


"Lagi lihat apa?" tanya Nico heran melihat Reana yang menatapnya hingga sampai memiringkan wajahnya seperti itu.


Melihat pipi Reana yang terbuka bebas di hadapannya, Nico langsung mendaratkan kecupan di pipi putih itu. Reana terkejut. Lalu berpura-pura cemberut.


"Dasar pencuri ciuman!" ucap Reana.


"Salahmu sendiri kenapa begitu posisimu, pipimu seperti minta dicium, tahu nggak?" tanya Nico.


"Aku sedang perhatikan wajah Kakak--"


"Kenapa dengan wajahku, apa kotor?" tanya Nico langsung mengusap pipinya.


"Justru aku susah mencari noda di wajah Kakak. Terlalu bersih seperti kulit cewek, jangan-jangan Kakak ini cewek yang berpenampilan cowok--"

__ADS_1


"Enak aja, aku cowok tulen tahu! Mau bukti?" tanya Nico sambil berlagak melepas celananya.


Reana menjerit sambil menutup matanya.


"Nggak mau!" jerit Reana tertawa sambil berlari menghindar dari hadapan Nico.


Nico langsung mengejar. Dengan mudah Nico menangkap tubuh mungil itu. Reana terdiam saat Nico memeluknya dari belakang.


"Kok nggak mau sih?" tanya Nico sambil menempelkan dagunya di pundak Reana.


"Mau, tapi nanti! Jangan sekarang," jawab Reana pelan.


Nico tersenyum lalu mengecup pipi Reana. Laki-laki itu melepas pelukannya dan melangkah menuju kamar mandi. Laki-laki itu juga ingin membersihkan diri.


"Kakak mau mandi? Aku ambil t-shirt yang aku pakai tadi dulu biar aku cuci--"


"Nggak usah! Nanti biar sekalian dicuci bibi pengurus apartemen ini," ucap Nico.


"Oh, tapi aku jadi merepotkan, aku nggak enak hati," jawab Reana.


"Apanya sih yang nggak enak hati? Aku biarin kamu cuci pakaianmu karena ingin langsung dipakai lagi. Kalau nggak ngapain harus dicuci sekarang? Biarkan saja nanti dicuci sama si bibi," jelas Nico sambil menangkup wajah calon istrinya itu.


"Tapi aku bukan penduduk apartemen ini, baju itu aku yang pakai," sanggah Reana.


"Terus kenapa?" tanya Nico sambil mencubit hidung Reana. "Bibi itu tidak akan tahu kalau kamu yang pakai, baju itu 'kan bajuku," ucapnya tak melepas cubitan di hidung Reana bahkan menggerakkannya ke kiri dan ke kanan.


"Ya! Ya! Ya!" teriak gadis itu sambil melepas tangan Nico yang masih mencubit, membuat puncak hidung Reana memerah.


"Kayak badut!" teriak Nico lalu berlari ke kamar mandi.


Langkah Reana mengejar Nico terhenti karena laki-laki itu keburu masuk ke kamar mandi. Gadis itu ingin kembali ke ruang tengah. Namun, melihat ponsel Nico yang bergetar. Seseorang sedang meneleponnya.


Terlihat foto kontak seorang gadis bule cantik dengan bibir sensual yang sedikit terbuka sambil menggigit sebentuk hati. Reana mengamati benda yang di gigit wanita itu. Gadis itu sangat terkejut saat melihat bentuk hati itu adalah gantungan ponsel pasangan mereka. Senyum di wajahnya langsung menghilang. Reflek Reana periksa ponsel Nico.


"Sudah dilepas, Kakak telah melepasnya," ucap Reana dengan wajah gusar setelah melihat Nico tak lagi memasang gantungan hati di ponselnya.


Seketika mata gadis itu berkaca-kaca. Mengetahui Nico telah melepas tanda ikatan mereka selama ini dan yang lebih menyakiti hatinya, mainan berbentuk hati dengan pengait itu kini berada di tangan gadis lain dan gadis itu sangat cantik.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2