Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 150 ~ Menyusul ~


__ADS_3

Reana ingin beristirahat setelah menyiapkan bahan-bahan untuk jualan ibunya besok hari. Reana terkejut saat menutup tirai jendela kaca itu. Reana menatap sosok yang berdiri diam di depan halaman rumahnya. Terlihat Nico yang hanya berdiri mematung menatap ke dalam rumah itu


Merasa tak sanggup berpisah lebih lama. Setelah Rommy dan Rassya menyarankan untuk memaafkan Reana. Nico semakin rindu pada wanita yang dicintainya itu. Menatap apartemen yang kosong, hening tanpa suara manja yang memanggilnya, hati Nico terasa semakin hampa. 


Nico akhirnya melajukan mobilnya menuju kampung halaman Reana. Namun, saat melihat wanita yang terlihat sibuk itu, hati Nico kembali timbul rasa ragu. Kali ini, apakah Reana masih mau menerimanya? Setelah memblokir nomor Reana, meninggalkan dan mengabaikan wanita itu yang memanggilnya di basement apartemen. Nico mulai kehilangan rasa percaya diri, Reana masih mau menerimanya kembali.


Nico tahu sesuatu itu ada batasnya. Apa mungkin saat ini adalah batas kesabaran Reana. Dirinya sendiri merasa letih dengan masalah yang menimpa rumah tangga mereka. Merasa letih hingga ingin menghindar dari wanita itu. Namun, rasa rindu dan cintanya tak bisa terhapus. Semakin memikirkannya semakin merindukannya.


Reana, Reana, aku merindukanmu sayang, batin Nico menangis.


Tanpa disadarinya membelokkan arah mobilnya. Membayangkan pulang ke apartemen yang hampa membuat laki-laki itu takut terjerumus ke dunia malam. Dua kali dirinya menelpon Rommy, dua kali dirinya merepotkan Rassya. Nico tak ingin kembali ke apartemen yang ditinggalkan Reana hanya untuk mengganti pakaian lalu datang ke sebuah Club malam.


"Cinta itu memaafkan," ucap Rommy yang memberi saran agar Nico memaafkan Reana.


Lalu bagaimana dengan Reana, apa cintanya bisa memaafkan? Batin Nico.


Membuat langkah kaki laki-laki itu terhenti hanya sampai di depan halaman rumah Reana. Nico ragu Reana akan memaafkannya. Membuat kaki laki-laki itu tiba-tiba terasa berat melangkah.


Terkejut saat melihat Reana melalui jendela kaca. Melihat kesibukannya hilir mudik sambil tersenyum pada ibunya. Melihat senyum itu, Nico menjadi sadar, dirinya hanya membawa penderitaan bagi wanita itu.


Sejak mengenal Reana, sejak ciuman taruhan itu, Nico hanya membuat wanita itu menderita. Hanya membuatnya menangis. Hanya membuatnya bersedih. Dengan mata yang berkaca-kaca Nico memilih mundur untuk kembali ke mobilnya.


"Yang ini dibawa juga kan Ma?" Terdengar suara teriakan dari wanita yang dirindukannya itu. 


Membuat langkah Nico terhenti. Sontak menoleh ke arah wanita yang sedang meminta pendapat ibunya itu. Membuat langkah Nico langsung terhenti, membuat tubuh laki-laki itu langsung terpaku.


Reana, Reana, aku rindu padamu, aku rindu dengar suaramu. Bolehkah aku di sini untuk melihat wajahmu, mendengar suaramu. Aku ingin disisimu, tapi aku tak ingin terlihat olehmu, agar kamu tak bisa menolakku. Apa aku harus mati demi bisa tetap di sisimu? Apa yang harus aku lakukan Reana. Aku tak bisa jauh darimu, batin Nico dengan air mata yang mengalir.


Nico merasa ragu menemui Reana. Laki-laki itu kembali merasa takut istrinya tak mau lagi menerimanya. Hingga tanpa sengaja Reana menoleh ke luar jendela. Terperangah melihat sosok yang berdiri mematung di depan halaman rumahnya.

__ADS_1


Reana justru berlari masuk ke kamarnya. Tak siap menemui suaminya karena takut laki-laki itu datang hanya untuk menceraikannya. Bu Ridha Lia menyusul putrinya yang menangis di dalam kamar. Mengusap punggung putrinya yang tidak siap bertemu suaminya.


"Biarkan dia masuk, nak. Kasihan dia berdiri di luar sana," ucap Ridha Lia.


"Aku takut Ma. Aku takut bertemu dengannya. Kak Nico ingin menceraikan aku Ma," ucap Reana lalu memalingkan wajahnya dan menangis.


Bu Ridha Lia menjadi bingung menentukan langkah. Tak tega membiarkan menantunya berdiri sekian lama di depan rumah. Namun, memintanya untuk masuk pun Ridha Lia tak berani. Ibu itu takut Reana akan menyalahkannya.


Ibu itu menghela nafas panjang. Berdiri menatap Nico lalu kembali duduk dengan raut wajah risau di ruang tamu. Ibu itu tidak akan bisa tidur dalam keadaan seperti itu. Terdengar bunyi hujan yang  tiba-tiba turun. Bu Ridha Lia langsung mengintip keluar jendela.


Nico masih tetap berdiri di sana, masih menatap ke arah rumah mereka. Segera Bu Ridha Lia memberitahu putrinya kalau Nico masih berdiri di tengah-tengah hujan dan angin kencang. Mendengar itu Reana langsung melihat keluar jendela.


Tak tega melihat laki-laki yang dicintainya itu berdiri di tengah hujan. Reana langsung berlari untuk menemuinya. Berlari menembus hujan hingga berdiri di hadapan Nico.


"Kenapa Kakak kemari?" tanya Reana akhirnya dengan air mata yang terus mengalir.


"Aku rindu sama kamu," jawab Nico yang juga menangis.


"Aku takut kamu menolakku," jawab Nico menitikkan air mata.


"Aku takut temui kakak. Aku takut kakak akan ceraikan aku," ucap Reana lalu menangis terisak-isak ditengah derasnya suara hujan.


Nico langsung memeluk istrinya. Reana balas memeluk laki-laki yang dicintainya itu. Mereka berpelukan di tengah derasnya hujan. Dingin, tapi begitu hangat di hati mereka. Merasakan pelukan hangat dari seorang yang dirindukan.


"Maafkan aku Reana," ucap Nico, menyatukan kening mereka.


"Maafkan aku juga Kak," jawab Reana setelah mengangguk kencang.


Nico tersenyum lalu segera membenamkan bibirnya ke bibir wanita yang dicintainya itu. Reana membalasnya, membuat Nico semakin bernafsu. Mempererat pelukannya dan semakin membenamkan bibirnya.

__ADS_1


Rongga mulut Reana terasa hangat baginya, membuat laki-laki itu semakin ingin mencari kehangatan di situ. Terus dan terus, membuat nafasnya terengah-engah. Reana pun merasakan hal yang sama. Merasakan lidah Nico yang terus mencari-cari, menari-nari di rongga mulutnya. Terus menyesap kuat hingga membuat nafasnya pun tersengal-sengal.


Mereka terpaksa melepaskan ciuman itu saat rongga dada mereka terasa kekurangan udara. Mereka tersenyum dan saling menatap. Melihat kesempatan itu, Bu Ridha Lia langsung memanggil mereka.


Mereka seperti tak sadar lagi akan hujan yang menerpa tubuh mereka. Membuat tubuh mereka basah kuyup seluruhnya. Bu Ridha Lia menyadarkan mereka untuk masuk ke dalam rumah.


Reana langsung menarik tangan suaminya, mengajak laki-laki itu masuk ke dalam rumah. Bu Ridha Lia memberikan handuk agar wanita itu membantu mengeringkan tubuh suaminya. Di dalam kamar wanita itu melepaskan semua yang melekat di tubuh laki-laki itu. Lalu perlahan mengeringkannya.


Nico meraih pinggang wanita itu memintanya untuk berdiri diam. Laki-laki itu balas melepaskan pakaian basah Reana lalu ikut mengeringkannya. Perlahan kedua tubuh polos itu mendekat, merapat, kembali membagi kehangatan.


Nico kembali membenamkan bibirnya ke bibir manis istrinya. Kembali menikmati rasa indah yang tadi sempat terhenti. Tanpa di sadari, mereka telah terhempas di atas ranjang.


Nico dan Reana melepaskan hasrat mereka yang telah memuncak sejak tadi. Melupakan semua masalah dan hanya ingin saling memberikan kepuasan. Saling membagi kehangatan tubuh. Saling menunjukkan hasrat cinta yang menggebu-gebu tanpa suara, tanpa kata-kata. Hanya lenguhan dan ******* yang terdengar saling bersahutan. Seperti alunan indah diiringi suara hujan.


Nico membuktikan dirinya masih mencintai Reana. Begitu membutuhkan Reana. Menginginkan tubuh hangat itu, dan masih ingin merasakan manisnya permainan cinta hanya dengan wanita itu.


Reana pun merasakan hal yang sama. Masih bisa merasakan cinta yang dalam untuknya. Merasakan Nico yang masih ingin bersamanya dari pelukan Nico yang begitu ketat di tubuhnya hingga tak memberikan jarak sedikit pun.


Mengakhiri aksi bercinta mereka yang menggebu-gebu itu setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun, Nico tak mau melepaskan tubuh polos itu. Tetap ingin memeluknya meski aksi penyaluran cinta itu telah berakhir.


Saling menatap dan saling tersenyum. Sesekali memberi kecupan lalu kembali saling menatap. Tanpa kata-kata, tanpa suara, hanya saling menatap dan tersenyum. Nico mencium puncak rambut yang masih basah itu. Lalu turun ke kening istrinya, bibir itu perlahan menyusuri hidung lalu berakhir di bibir istrinya.


"Aku mencintaimu," bisik laki-laki itu setelah hening sekian lama.


Derasnya bunyi hujan tak mampu menghalangi suara bisikan itu. Reana tersenyum haru. Mendengar laki-laki itu memperbaharui ikrar cintanya yang tak cukup ditunjukkan dengan aksi bercinta saja.


Setitik bening mengalir dari pelupuk matanya. Nico membiarkan bening itu bergulir. Karena itu bukan bulir kesedihan tetapi bulir bening kebahagiaan. Nico ingin, dan sangat ingin bulir kebahagiaan itu lebih sering bergulir.


"Aku juga mencintaimu Kak Nico," bisik Reana membalas ucapan Nico.

__ADS_1


Juga ingin memperbarui ikrar cintanya. Meski sempat mengira kehilangan cinta itu, tetapi di hati mereka tetap menetap kuat tanpa mereka sadari. Mereka pun saling memeluk erat hingga hingga bangun menjelang pagi.


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2