
Reana menginap di kediaman keluarga Rayne hingga beberapa hari. Selama di situ Reana mencoba lebih mengenal kedua orang tua dari laki-laki yang dicintainya itu. Namun, Reana tetaplah Reana, gadis yang tak bisa berbasa-basi. Sangat sulit mendekati orang dan mudah canggung.
Di tambah lagi orang tua Nico, adalah orang tua dengan gaya hidup yang tak acuh. Membuat gadis itu sulit mendekat, beramah-tamah dengan kedua orang itu tak mungkin bisa dilakukan Reana. Saat keduanya menyapa barulah gadis itu membalas dengan sangat ramah.
Hal itu membuatnya sangat sedih, menyesal tak menjadi seorang yang berjiwa supel dan luwes. Hal itu menjadi kesedihannya setiap hari. Reana akhirnya menceritakan hal itu pada Nico saat laki-laki itu mendesaknya bicara.
"Jangan paksakan diri menjadi orang lain. Itu akan membuatmu merasa tertekan. Aku tahu seperti apa kamu dulu saat pertama kali ketemu. Begitu pemalu, selalu menunduk. Tak pernah mau menatap mata siapa pun, suaramu tak pernah terdengar. Dua tahun di kampus aku tak pernah melihatmu sama sekali. Itu … karena begitulah sifatmu. Jika kamu saat ini, kamu berubah. Biarkan itu karena keinginanmu sendiri karena rasa nyaman yang kamu rasakan hingga kamu bisa bersikap biasa pada siapa saja," jelas Nico.
"Tapi … Sekarang aku tidak tertutup lagi. Aku biasa bicara dengan siapa pun tapi kenapa sangat sulit bicara dengan Tuan dan Nyonya Rayne–"
"Apa katamu?"
"Apa?"
"Tuan dan Nyonya Rayne? Mereka itu calon mertuamu, masa panggil tuan dan nyonya? Apalagi mereka sudah memintamu untuk memanggil Daddy dan Mommy," ucap Nico keberatan.
"Tapi … kita belum menikah. Aku berencana memanggil mereka seperti itu jika kita benar-benar telah menikah. Segala sesuatu bisa terjadi apa pun bisa berubah, bagaimana kalau kita gagal meni–"
"CUKUP! Apa yang kamu pikirkan? Gagal menikah bagaimana? Kenapa bisa gagal?" tanya Nico kesal bahkan berdiri dari kursi di kamar itu dan melangkah menuju balkon.
Reana tertunduk, seingatnya belum pernah Nico membentaknya seperti itu. Tak tahu harus berbuat apa, gadis itu hanya diam tertunduk.
Anak ini! Bukannya membujuk malah duduk diam di situ. Rayu aku dikit napa? Gadis ini bener-bener, batin Nico.
Laki-laki itu berdiri di balkon menunggu, bertingkah seolah-olah sedang kesal. Sesekali melirik ke arah Reana. Saat Reana menoleh, dia segera membuang muka. Nico yang merasa tak betah menunggu akhirnya kembali mendekati gadis yang hanya duduk diam di kursi dalam kamar itu.
Nico berdiri di hadapan Reana yang menunduk. Gadis itu segera mengangkat wajahnya, saat tahu Nico berdiri dihadapannya. Nico tersenyum menatap wajah lugu itu menatapnya. Berencana pura-pura marah pun Nico tak bisa. Berlagak marah ujung-ujungnya Nico sendiri yang menghampiri.
__ADS_1
Saking gemasnya Nico mencubit pipi Reana. Gadis itu menjerit kesakitan mendapat cubitan gemas dari Nico. Laki-laki itu kaget dan panik sendiri.
"Sakit ya?" tanya Nico sambil mengusap lalu mengecup pipi Reana.
"Masih sakit?" tanya Nico lagi.
Reana menjawab dengan anggukan kuat dan wajah yang cemberut. Kembali Nico mengusap pipi itu lalu mengecupnya lagi hingga dua kali. Nico bertanya lagi tetapi Reana masih mengangguk.
"Masa masih sakit sih? Perasaan cubitnya tadi cuma pelan," ungkap Nico protes.
Reana tersenyum ditahan, akhirnya Nico sadar dirinya dikerjai. Gadis itu segera berlari, Nico langsung menyambar tubuh Reana. Laki-laki itu menghempaskan tubuh Reana di atas ranjang dan mengunci dalam kungkungannya.
"Kalau minta dicium bilang aja, pakai bilang sakit segala," ungkap Nico dan langsung mencium kedua pipi Reana bergantian.
Dalam posisi itu tak mungkin Nico melewati kesempatan untuk mencium bibir calon istrinya yang manis itu. Kembali menikmati permainan lidahnya di dalam rongga mulut beraroma mint vanilla itu. Semakin lama semakin gencar mencari-cari rasa manis itu hingga napas mereka menjadi tersengal-sengal.
Nico beralih menciumi leher putih halus itu, Reana menggelinjang kegelian. Laki-laki itu pun tertawa. Kemudian Nico berbisik.
"Prosesi pernikahan yang paling penting? Apa itu?" tanya Reana penasaran.
"Malam pertama," bisik Nico yang langsung membuat kening Reana berkerut. "Kalau udah malam pertama prosesi yang lain boleh nyantai, bisa dilakukan kapan saja–"
"Enak aja!" seru Reana langsung mendorong tubuh Nico.
Laki-laki itu tertawa, lalu kembali memeluk Reana. Gadis itu mencubit pipi laki-laki itu hingga menjerit. Reana tertawa, gadis itu gantian mengusap dan mencium pipi Nico. Sama seperti Reana, laki-laki itu juga mengaku masih sakit. Mereka tertawa setelah Reana, mencium pipinya berkali-kali.
Mereka akhirnya memilih berdiri di balkon. Sambil memeluk Reana dari belakang memandangi taman yang luas dan asri milik keluarga Rayne itu.
__ADS_1
"Minggu depan aku sudah harus bekerja, tiga hari lagi kita siap-siap untuk antar kamu pulang. Biar aku bisa balik tetap waktu," jelas Nico.
"Bolak balik? Kenapa harus begitu? Itu bikin Kakak capek. Baiknya Kakak antar aku sampai ke bandara, nanti biar aku pulang sendiri," usul Reana.
"Begitu? Kamu nggak takut pulang sendiri?" tanya Nico.
"Nggak! Kalau cuma pulang, aku nggak takut. Kalau datang ke sini sendiri, itu baru aku takut," jawab Reana.
"Sungguh? Nggak perlu diantar pulang? Tapi kalau ketahuan Mama, nanti Mama marah. Aku jadi calon menantu yang tak bertanggung jawab. Setelah selesai urusan, anak gadisnya disuruh pulang sendiri," jelas Nico.
"Nggak akan, lagian Mama pasti juga setuju dengan usulku. Untuk apa menjadi beban Kakak kalau bisa pulang sendiri," ucap Reana.
"Sungguh sayang? Serius nih? Kalau emang bisa pulang sendiri. Minggu depan aja pulangnya, sehari sebelum aku masuk kerja, gimana?" tanya Nico yang dibalas dengan anggukan oleh Reana.
Melihat itu Nico bahagia sekali. Laki-laki itu bisa lebih lama bersama calon istrinya. Setelah Reana pulang nanti Nico akan sangat sibuk dengan rencana besar kepindahan kantor pusat perusahaannya ke Indonesia. Dan itu pasti memakan waktu yang cukup lama.
Mereka mengisi hari-hari di New York dengan berjalan-jalan. Nico membelikan apa pun yang menarik bagi Reana. Laki-laki itu begitu memanjakan calon istrinya hingga Reana sendiri kewalahan menolak barang-barang yang ingin dibelikan Nico.
Hari kepulangan Reana pun tiba. Setelah melewati hari-hari yang manis bersama Nico. Selama satu minggu lebih Reana semakin dekat dengan keluarga itu. Saat akan berangkat Tn. Alex Rayne memeluk Reana begitu juga dengan Ny. Cathrina yang semakin bisa menerima kenyataan Nico akhirnya memilih Reana.
Tiba di tanah air, Reana disambut oleh karyawan restoran. Gadis itu mulai masuk kerja setelah mengambil cutinya. Semua merayakan Reana yang telah di wisuda dan juga merayakan pertunangan Nico dan Reana.
Saat menikmati acara kebersamaan karyawan restoran itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Reana menatap kontak yang tertera di layar ponsel kemudian tertegun. Menatap kaku layar ponsel itu dengan tangan gemetar. Reana bingung memutuskan, akan menerima panggilan telepon itu atau mengabaikannya. Namun, merasa takut jika mengabaikan panggilan itu maka akan ada yang tersinggung.
Reana akhirnya memutuskan untuk menerima panggilan telepon itu. Mencoba berpikiran positif dengan apa yang akan terjadi nanti.
"Halo Reana sayang! Bagaimana kabarmu? Apa rindu padaku? Dalam waktu dekat kita akan bertemu. Aku harap kamu mau menyambut kepulanganku," ucap Malvin sambil tersenyum.
__ADS_1
Reana tertegun, tak tahu harus berkata apa. Panik, takut, sedih dan heran. Semua bergabung menjadi satu. Reana bahkan merasa ponselnya tiba-tiba terasa berat hingga menjatuhkannya.
...~ Bersambung ~...