
Nico pasrah mengizinkan Reana bertemu dengan Rassya. Setelah meminta pengertian pada istrinya, setelah mendapat izin menerima Rebecca, kini giliran Nico yang diuji rasa percayanya terhadap Reana. Setelah Reana yang memukul-mukul keningnya sendiri demi menghilangkan pikiran buruk tentang suaminya yang satu kantor dengan wanita yang mengejar-ngejar sejak dulu.
Nico baru sadar. Kesepakatan mereka untuk saling percaya, jujur dan setia itu sangat sulit untuk dijalankan. Rasa cemburu, prasangka buruk selalu melintas di pikirannya. Semakin kuat rasa cinta semakin takut kehilangan. Kembali Nico menghubungi Rommy, kali ini mengajak sahabatnya makan siang di cafe kesukaan mereka saat masih kuliah.
"Kamu tidak khawatir kalau Reana bersama kami. Kenapa? Karena kamu mengenal kami, karena itu kenali semua teman-teman Reana. Jangan dianggap musuh tapi teman yang saling menghargai. Kamu percaya kalau aku tidak akan menggoda Reana dan kami pun menghargai kamu dengan tidak menggoda Reana. Jika kamu menganggap semua teman laki-laki Reana itu rival-mu maka hidupmu tidak akan tenang. Kenali mereka percayakan Reana pada mereka maka mereka juga nggak enak hati untuk merusak kepercayaanmu … kecuali kalau orangnya benar-benar jahat," jelas Rommy.
"Itulah masalahnya, aku tahu dari mana kalau orang itu tidak jahat?" tanya Nico.
"Reana itu orang yang baik. Tak mungkin orang yang baik, pergaulannya dengan orang-orang jahat. Dia pasti memilih orang yang baik untuk jadi temannya. Jika dia percaya pada orang itu, artinya orang itu sudah dinilai baik olehnya. Ini berlaku untuk orang yang tidak punya niat menipu. Kadang terlihat baik di depan tapi punya maksud di belakang. Kalau itu kita tidak tahu, jangankan kita, Reana sendiri pun tidak akan tahu kalau dirinya sedang ditipu," jelas Rommy.
"Iih loe ini ya nggak jelas betul, habis ngasih motivasi, pencerahan, habis itu matahin lagi. Bikin bingung," ucap Nico dengan gaya bicara yang tidak lagi formal.
Rommy malah tertawa, dan Nico pun ikut tertawa. Hal lain yang disukai Nico bertemu dengan teman-temannya adalah hal seperti itu. Meski tak mendapat solusi dari masalah yang dihadapinya setidaknya memiliki teman untuk meringankan beban pikirannya dan untuk berbagi tawa.
Saat pulang ke rumah, Nico melihat istrinya yang sedang berbincang di ponsel. Rasa penasaran langsung menyelimuti pikirannya. Ingin mendekati untuk mendengar pembicaraan wanita yang dicintainya itu.
Namun, langkahnya terhenti. Nico merasa perbuatannya salah. Menguping pembicaraan orang adalah hal yang tidak sopan. Memutuskan melepas jas di situ.
"Baiklah Rassya! Ya … sampai jumpa."
Rassya? Tak cukupkah bertemu di luar sana. Hingga sampai menelpon saat di rumah? Apa aku harus percaya kalau dia hanya menganggap teman? Batin Nico sambil melepas satu persatu kancing kemejanya.
Begitu Reana selesai menelpon Reana masuk ke dalam kamar. Wanita itu terkejut saat melihat suaminya telah berada di kamar sedang melepas kemeja kerjanya. Reana langsung menghampiri. Wanita itu bantu melepaskan kemeja putih itu. Namun, Nico menepis tangan Reana. Wanita itu kaget dan langsung merasa heran.
__ADS_1
"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, tidak perlu mengurusi ku," ucap Nico lalu masuk ke kamar mandi.
Reana tercenung. Sikap seperti itu bukanlah sikap Nico yang sebenarnya. Itu adalah sikap marah Nico. Wanita itu tertunduk menunggu suaminya keluar dari kamar mandi. Begitu keluar, Reana langsung menghampiri Nico untuk memberikan pakaian ganti.
Namun, Nico kembali mengabaikan Reana. Mengambil sendiri handuk untuk mengeringkan rambut dan mengganti pakaian. Tanpa mengeluarkan kata-kata apa pun.
Kenapa sikap Kakak seperti itu? Bukannya Kakak sendiri memberi izin bertemu. Tapi kenapa sekarang bersikap seperti itu. Jika tidak mengizinkan, katakan tidak izinkan. Kenapa mengizinkan setelah itu marah, batin Reana dengan mata yang berkaca-kaca.
Reana kembali duduk di sofa di balkon menangis terisak-isak sendiri. Wanita itu duduk di sofa itu bahkan hingga saat makan malam. Tn. Alex Rayne menanyakan pada Nico, istrinya yang tak kunjung turun dari lantai atas.
Nico tahu semua itu pasti karena sikapnya tadi. Laki-laki itu hanya diam tak bergerak dari tempat duduknya. Tn. Alex Rayne tidak bisa memaksa Nico memanggil Reana. Tuan itu meminta pelayan untuk memanggil Reana untuk makan malam. Namun, saat kembali, pelayan itu hanya seorang diri. Tak terlihat Reana mengiringi.
"Nyonya bilang masih belum lapar Tuan," ucap pelayan setelah menanyakan pada Reana. Nico terdiam, laki-laki itu tahu kalau apa yang dilakukannya tadi membuat Reana bersedih.
Dia pasti sedang menangis sekarang. Salah sendiri, menyebalkan! Tak puas hanya bertemu di luar sana, sampai di rumah pun masih saja menghubungi, batin Nico.
"Nggak ada apa-apa Dad, mungkin memang belum lapar," jawab Nico dengan wajah tak peduli.
Melihat itu Tn. Alex tak bicara lagi. Ny. Cathrina hanya mengangkat alisnya. Tak ada untung dan tak ada rugi baginya mempertahankan Reana. Wanita itu tak memberikan keturunan bagi keluarganya meski telah dinyatakan kesehatan reproduksinya baik-baik saja.
Apakah Nico akan mempertahankan rumah tangganya dengan Reana atau memilih berpisah bagi nyonya itu sama saja. Jika berpisah maka dia punya langkah selanjutnya untuk putranya. Jika tidak berpisah maka masih tetap menunggu hadirnya darah daging mereka dari wanita itu.
Hingga tiga hari berlalu, Nico masih mengabaikan Reana. Wanita itu bahkan tak pernah di tatapnya sama sekali. Lalu lalang di kamar itu, berpapasan seperti tak melihat. Hanya Reana yang menangis setiap kali melihat Nico keluar dan tidur di kamar lain.
__ADS_1
Tn. Alex Rayne tak bisa tinggal diam melihat kondisi rumah tangga putranya. Saat berbincang di ruang tengah, Tn. Alex Rayne meminta pelayan memanggil Reana. Dengan langkah ragu-ragu dan bahkan bingung harus duduk di mana wanita itu berdiri di samping Tn. Alex Rayne yang memanggilnya.
"Daddy memanggilku?" tanya Reana dengan suara bergetar menahan perasaannya.
"Ya,sudah lama kita tidak berkumpul untuk bincang-bincang. Duduklah!" ucap Alex.
Reana bingung harus duduk di mana. Terlihat Nico duduk di bagian pinggir sofa panjang itu sambil mengutak-atik ponselnya. Sedikit pun tak menoleh ke arah Reana.
Dada Reana terasa sakit tetapi mencoba untuk bersikap wajar. Reana duduk di kursi panjang itu tetapi tak begitu dekat dengan suaminya. Melihat itu Tn. Alex sangat yakin kalau telah terjadi sesuatu dengan rumah tangga putranya.
Wajah mereka yang selalu terlihat murung. Suara mereka tak bersuara, saling diam, membisu. Kini mereka bahkan duduk berjauhan padahal biasanya, Nico tak akan melepaskan rangkulannya dari bahu istrinya.
"Bagaimana pekerjaanmu Reana?" tanya Alex berbasa-basi.
"Baik Daddy," jawab Reana seadanya.
Tn. Alex Rayne mencoba mencairkan suasana dengan bertanya banyak hal. Kadang bertanya pada Reana, kadang bertanya pada Nico. Kadang bertanya sesuatu tentang Nico pada Reana hingga membuat wanita itu bingung menjawabnya. Tiba-tiba terdengar bel berbunyi. Ny. Cathrina meminta pelayan melihat siapa yang datang.
"Sudah malam begini masih ada tamu? Siapa ya?" tanya Cathrina.
Tak lama kemudian pelayan datang diiringi seorang gadis cantik. Melihat tamu yang datang itu Ny. Cathrina terperangah bahkan seperti hampir pingsan. Beruntung Tn. Alex Rayne langsung memeganginya. Nico pun terlihat syok.
"Angela?" tanya Cathrina.
__ADS_1
Reana terkejut hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Wanita cantik itu memang sangat mirip dengan gadis yang berada di foto. Nico terpana menatap wajah wanita yang baru datang dengan koper yang di geretnya.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...