Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 123 S2 ~ Terlambat ~


__ADS_3

Nico pulang dari kantor dan segera mencari Reana. Laki-laki itu tak sempat menghibur istrinya sebelum berangkat kerja tadi. Nico melihat istrinya begitu sedih karena tak dianggap Angelica. Sejak datang ke rumah itu, sedetik pun Angelica memandang wajah Reana.


Minta dikenalkan atau menyapa Reana. Gadis kaya itu seperti tak memandang sebelah mata pada istrinya. Saat Nico memperkenalkan Reana, gadis kaya itu melirik sekilas lalu memalingkan wajahnya. Nico tak suka hal itu. Baginya Angela bukanlah gadis seperti itu.


Angela bergaul tak memandang kasta. Semua bisa menjadi temannya, boleh menjadi sahabatnya. Hal itulah yang membuat Nico semakin jatuh cinta padanya.


Nico harus berangkat pagi untuk memenuhi janji meeting dengan perusahaan di mana Rommy bekerja. Setelah mendapat rekomendasi dari Rommy, Nico akhirnya setuju perusahaannya bekerja sama dengan perusahaan itu.


Namun, saat presentasi pikiran Nico lebih banyak melayang. Beruntung apa yang dijelaskan direktur bisnisnya itu, Nico sebuah benar-benar paham. Apa pun pernyataan ditujukan padanya dapat dijawab dengan sangat yakin. Hanya Rommy yang bisa melihat kalau sahabatnya itu sedang banyak pikiran.


Angela dan Angelica, meskipun wajah mereka sama tapi sifat mereka berbeda. Aku tidak suka Angelica apalagi sikapnya begitu sombong pada Reana. Apa yang dilakukannya di rumahku. Sampai berapa lama dia menginap di rumah kami. Jika bersikap seperti itu lagi pada Reana, sebaiknya kami kembali ke apartemen, batin Nico.


Begitu istirahat siang, Rommy langsung mendatangi sahabatnya. Menanyakan penyebab laki-laki itu seperti tidak konsentrasi pada presentasi. Meski perusahaan kerjasama tetap merasa puas dengan perencanaan yang diajukan perusahaan Nico.


"Ada apa Nic? Kenapa tidak seperti biasanya? Kamu sepertinya sedang ada masalah? Ada apa lagi?" tanya Rommy bertubi-tubi.


"Angelica–"


"Siapa Angelica?" tanya Rommy langsung.


"Dia adik dari pacar pertamaku dulu," jawab Nico.


"Oh ya? Lalu kenapa dengan Angelica itu?" tanya Rommy lagi.


"Dia tinggal di rumah kami," jawab Nico.


"Lalu?" tanya Rommy.


"Masalahnya … dia begitu mirip dengan Angela, kakaknya," sambung Nico.

__ADS_1


"Oh, jadi sekarang kamu jatuh cinta sama adiknya karena dia sangat mirip dengan kakaknya, cinta pertamamu itu?" tanya Rommy.


"Tidak ada sedikit pun aku punya perasaan padanya. Dia orang yang berbeda. Meski semuanya sama pun aku tak akan lagi menghidupkan perasaan yang sudah lama hilang. Aku cinta Reana, hingga detik ini, aku masih sangat mencintainya," ungkap Nico.


"Lalu apa masalahnya?" tanya Rommy.


"Dia tidak menghargai Reana, aku kesal melihatnya. Sementara Mommy sangat menyukainya. Aku khawatir dia mempengaruhi Mommy untuk semakin membenci Reana–"


"Jadi Mommy benci Reana?" tanya Rommy.


"Nggak sampai benci sih, tapi dari dulu aku merasa Mommy tidak menyukai Reana. Aku takut, Mommy berpikiran untuk menjodohkan aku dengan Angelica karena kami yang masih belum memiliki anak," ungkap Nico.


"Tapi Reana tidak bermasalah, kenapa harus dia yang menjadi korban. Kamu dikasih istri baru lagi sih enak, nah dia? Tekanan batin," ucap Rommy.


"Siapa yang enak? Aku juga tekanan batin. Apa pun yang membuat Reana sedih. Itu juga membuatku sedih. Apalagi jika kesedihannya itu berasal dari aku sendiri," ungkap Nico.


"Lalu apalagi masalahnya?" tanya Rommy.


"Ya, kalau bisa urusan di rumah jangan sampai pengaruhi urusan pekerjaan. Untung saja tadi berjalan dengan lancar," ucap Rommy.


"Urusan rumah jangan pengaruhi urusan pekerjaan? Aku ini bekerja demi orang di rumah. Kalau bukan karena demi menikahi Reana aku nggak mau ambil tanggung jawab ini. Aku pilih kerja santai, pulang masih segar nggak kusut. Ketemu istri di rumah makin segar–"


"Mana ada karyawan seperti itu? Kalau sudah didesak atasan mana ada yang tidak kusut. Itu cuma khayalanmu saja. Ingin kerja santai, hidup bahagia, masa depan cerah," ucap Rommy sambil tertawa.


Nico pun tertawa, tapi dia benar-benar ingin membawa Reana kembali ke apartemen. Malam ini berencana bicara dengan kedua orang tuanya. Suka tidak suka, mau tidak mau, kedua orang tuanya harus setuju, mereka kembali hidup sendiri di apartemen.


Selain Reana tak bisa disalahkan karena tak kunjung hamil, Nico juga merasa tak betah ada org lain yang tinggal di rumahnya apalagi tak menghargai istrinya. Nico memang sedang kesal pada Reana tapi tak membuat cintanya pada istrinya itu berkurang.


Begitu sampai di rumah, Nico langsung mencari Reana. Selain ingin berbaikan, laki-laki itu ingin meminta pendapat Reana untuk kembali pindah ke apartemen. Namun, setelah di cari di kamar Reana tak terlihat, di kamar mandi pun tak terlihat.

__ADS_1


Entah kenapa jantung laki-laki itu berdebar-debar kencang. Karena tak biasanya wanita itu tidak berada di kamar. Jelas-jelas Nico melihat mobil Reana terparkir di garasi. Nico tersenyum menatap ponsel Reana yang ada di atas nakas.


Segera menuruni tangga dan melangkah ke beranda belakang. Mengira istrinya sedang berbincang-bincang bersama orang tuanya. Namun, kembali Nico terpaku. Tak ada siapa pun di beranda belakang.


"Bi, di mana istriku?" tanya Nico.


"Bibi belum lihat Nyonya Reana sejak tadi pagi, Tuan. Bukannya belum pulang dari kantor?" tanya Bibi pelayan itu.


"Nggak Bi, mobilnya ada di garasi, HP nya juga ada di kamar tapi di mana dia?" tanya Nico.


Bibi itu pun bertanya pada pelayan lain. Semua menjawab sama. Tak ada yang melihatnya sejak sarapan tadi pagi. Jantung Nico kembali berdebar kencang.


Apa mungkin di kamar Mommy dan Daddy? Nggak mungkin! Jika ingin bicara Mommy dan Daddy pasti mengajaknya bicara di ruang tengah. Apa mungkin di kamar Angelica? Apa yang dilakukannya di sana? Apa ini taktik Angelica untuk mulai mempengaruhinya? Nggak! Jangan mau dipengaruhi olehnya. Jangan mau dibujuknya, Batin Nico sambil berlari ke kamar tamu.


"Mana istriku?" tanya Nico begitu Angelica membukakan pintu.


"Siapa?" 


"Dia tidak ada di sini?" tanya Nico mulai panik.


Angelica menggelengkan kepalanya. Nico langsung berlari ke taman belakang tetapi tetap tak menemukan wanita yang dicintainya itu. Segera berlari ke taman depan rumah. Sesuatu hal yang tak mungkin mencari Reana di situ.


Namun, laki-laki itu lebih memilih mencari di tempat yang tak mungkin dibandingkan berpikir istrinya pergi dari rumah. Dengan mata yang berkaca-kaca laki-laki itu bertanya pada pengurus kebun yang sedang menyiram tanaman.


Jawabannya tetap sama. Laki-laki itu langsung menangis. Begitu lega karena masih melihat ponsel Reana. Merasa tenang karena melihat mobil Reana telah terparkir di garasi. Tanpa terpikirkan sedikit pun kalau kebiasaan Reana pergi tanpa membawa apa pun selain pakaian miliknya sendiri.


Di kamar, Nico tak lagi memeriksa ponsel itu. Tetapi membuka lemari untuk mencari travel bag milik wanita itu. Belum sempat menemukan travel bag itu. Mata Nico telah terpaku pada rak lemari yang telah kosong digantikan oleh selembar kertas berlipat tanpa amplop.


Dengan tangan yang gemetar laki-laki itu meraih surat dengan amplop putih itu. Lalu membukanya. Surat yang ditujukan bukan untuknya. Namun, membuat Nico terpukul hingga menggelengkan kepalanya kuat.

__ADS_1


Membaca surat pengunduran diri itu, hati Nico semakin terguncang. Surat itu menunjukkan keseriusan Reana untuk pergi jauh dari jangkauan Nico. Air mata Nico langsung bercucuran saat membuka surat yang ditulis tangan oleh istrinya. Laki-laki itu menangis terduduk, menyesali keterlambatannya menghibur hati Reana.


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2