Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 80 ~ Berhasil ~


__ADS_3

Begitu datang, Reana langsung dipersilahkan duduk oleh Tn. Malvin. Para pelayan pun menghidangkan sarapan pagi di hadapan Reana. Gadis itu mulai menyantap sarapan pagi itu tanpa bicara sedikit pun. Membuat suasana sarapan pagi itu terasa canggung. Bukan niat Reana untuk bersikap dingin tetapi semua karena pikirannya telah dipenuhi oleh permintaan pengawal itu yang ingin menjadi pengawal pribadinya.


Reana bingung bagaimana cara memulai pembicaraan yang berhubungan dengan pengawal itu. Reana hanya bisa menunggu Tn. Malvin membahas tentang pengawal yang baru saja terancam di pecat itu. Setelah diam dan merasa tak betah dengan suasana yang kikuk itu, Tn. Malvin akhirnya buka suara.


"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Malvin memulai pembicaraan.


"Aku sulit tidur. Bagaimana aku bisa tidur jika terus memikirkan dia?" tanya balik Reana.


"Kenapa begitu sulit bagimu untuk melupakannya? Apa yang dilakukannya padamu. Aku bisa lakukan apa pun yang dia lakukan, asal–"


"Tuan sudahlah! Tuan Malvin dan Kak Nico itu berbeda. Aku sudah terlanjur mencintainya dan aku bukan tipe gadis yang mudah berpindah ke lain hati. Apa pun yang Tuan lakukan tak akan bisa mengalihkan cintaku darinya," jawab Reana.


Tn. Malvin menatap Reana dengan tatapan sendu. Reana langsung menyesal mengucapkan kata-kata seperti. Gadis itu paling mudah merasa tak enak hati. Raut wajah marah dan geram lebih disukai Reana dari raut wajah sedih itu.


"Sepertinya sifat kita sama, tak mudah pindah ke lain hati. Seandainya aku yang lebih dulu bertemu denganmu, apa kamu bisa mencintaiku?" tanya Malvin.


"Mana mungkin aku tahu Tuan, hal itu tidak pernah terjadi. Mungkin saja, justru Tuan yang tidak tertarik padaku, siapa yang tahu itu?" tanya Reana.


Tatapan mata Tn. Malvin masih sayu. Itu membuat perasaan Reana tidak nyaman. Gadis itu akhirnya nekad mencari bahan pembicaraan yang lain.


"Pengawal itu … dia masih ingin bekerja pada Tuan, tapi bolehkah dia jadi pengawalku–"


"Apa? Kenapa dia harus jadi pengawalmu?" tanya Malvin terlihat risau bercampur cemburu.


"Lalu kenapa tadi malam dia menemaniku jalan di pantai jika dia bukan pengawalku?" ucap Reana balik bertanya.


"Karena aku sedang sibuk. Aku tidak bisa menemanimu karena itu aku suruh dia mengawalmu," jelas Malvin.

__ADS_1


"Ya kalau begitu, aku memang butuh pengawal saat Tuan sibuk bekerja ya 'kan?" tanya Reana.


"Aku akan carikan yang lain–"


"Aku mau yang itu–"


"Kenapa?" tanya Malvin dengan nada membentak.


"Aku suka aja–"


"Kamu suka padanya?" tanya Malvin lebih keras lagi bahkan meninggalkan meja makan.


"Tapi bukan suka yang seperti itu. Aku hanya suka dia sebagai pengawal. Saat dituduh dia hanya diam. Dia itu orangnya sabar," ucap Reana akhirnya menemukan alasan.


Langkah Tn. Malvin terhenti mendengar penjelasan Reana. Hanya saja emosinya masih belum turun hingga tak berniat membalikkan badan menatap ke arah Reana. Laki-laki itu hanya bicara tetapi enggan menatap Reana.


"Aku tidak suka padanya. Dia muda dan tampan. Dia juga berani mendekatimu," ucap Malvin.


"Apa kamu juga memilihku?" tanya Malvin. Kali ini menoleh ke arah Reana.


"Mungkin itu hanya berlaku untuk gadis yang masih single," ucap Reana memperbaiki ucapannya. Namun, mampu membuat Tn. Malvin tersenyum.


"Temui aku di kamar. Aku akan memberikan jawabannya di sana," ucap Malvin lalu melangkah meninggalkan ruang makan itu.


Kenapa harus ke kamarnya sih? Apa tak bisa dibicarakan di sini saja, huh dasar tuan ini semaunya saja, batin Reana kesal.


Tak lama kemudian Reana berdiri di depan pintu kamar Tn. Malvin. Begitu masuk Reana langsung didorong ke dinding. Tn. Malvin langsung membenamkan bibirnya ke bibir gadis itu. Reana mengelak dengan panik. Tn. Malvin tertegun lalu menangkup wajah Reana lalu menyatukan kening mereka.

__ADS_1


"Aku terlalu bahagia mendengar ucapanmu. Semua gadis di dunia memilihku. Meski rasanya tak mungkin tapi aku percaya setiap ucapanmu. Tapi kenapa satu gadis yang aku sukai tak kunjung menyukaiku," ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa yang harus aku lakukan Reana, aku menderita. Aku melepas semua gadis yang menempel padaku. Aku tak meniduri gadis mana pun sejak bertemu denganmu. Tapi kenapa Reana? Kenapa kamu tak mau berkorban untukku?" tanya Malvin frustasi.


Tn. Malvin menggendong paksa Reana dan menghempaskannya ke ranjang. Langsung menindih tubuh gadis itu dan menghujaninya dengan ciuman. Reana meronta, air matanya mengalir deras. Gadis itu panik, menangis sejadi-jadinya. Merasa kali ini tak bisa lepas lagi dari cengkeraman Tn. Malvin.


Hal yang paling ditakutkannya akhirnya tiba. Reana menyesal mencoba memenuhi permintaan pengawal itu. Demi janjinya yang bisa membawanya melarikan diri, Reana mencoba dan akhirnya menyesal.


"Jangan menangis Reana. Hanya sekali saja, aku mohon. Biarkan aku melakukannya sekali saja. Aku sudah lama tak menyentuh perempuan. Demi kamu, demi kesucian tubuhku untukmu, aku menahan diri. Kali ini biarkan aku melakukannya. Aku mohon ya sayang," ucap Malvin lalu memeluk dan menciumi leher Reana.


"Jangan Tuan! Jangan! Aku akan benci Tuan. Aku tak akan menyukai Tuan jika begini. Kak Nico menahan diri demi menjaga kehormatanku. Itulah yang namanya cinta. Tuan jangan bilang cinta padaku jika Tuan sendiri ingin merusakku," ucap Reana menangis.


"Aku akan bertanggung jawab sayang! Ini bukti cintaku," ucap Malvin.


"Ini bukan cinta, ini nafsu. Jangan bersembunyi di balik kata cinta padahal semua itu hanya nafsu," ucap Reana terus mendorong tubuh Malvin.


Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, Tn. Malvin kesal tetapi mengabaikannya. Kini ketukan itu berganti dengan gedoran pintu. Dilakukan dengan berulang-ulang hingga membuat Tn. Malvin kesal. Segera mendatangi pintu dan membukanya.


Begitu melihat siapa yang menggedor pintu, Tn. Malvin langsung melayangkan tamparan ke wajah orang itu. Dia adalah pengawal yang ingin menjadi pengawal pribadi Reana. Laki-laki itu berpura-pura tak mengerti kenapa dia di tampar.


"Maaf Tuan, apa Nona Reana ada di sini? Tadi Nona minta ditemani berjalan-jalan di pantai," ucap pengawal itu sambil tertunduk.


"Aku yang akan mengantarnya jalan-jalan. Dia tak butuh kamu untuk menemaninya," ucap Malvin.


Aku butuh dia, ya! Aku butuh dia. Aku yakin dia sengaja melakukan ini untuk menyelamatkan aku. Terima kasih, sudah mengganggu Tn. Malvin, batin Reana berdiri menatap pengawal itu di balik tubuh Tn. Malvin.


Reana berlari ke balkon. Gadis itu ingin bersiap-siap. Jika Tn. Malvin masih mencoba untuk menaklukkannya. Reana akan memilih melompat dari lantai dua itu. Namun, Reana patut bersyukur gejolak hasrat Tn. Malvin akhirnya menghilang. Tn. Malvin mendekati Reana tetapi gadis malah mundur menjauh.

__ADS_1


Melihat tubuh Reana yang gemetar melangkah mundur, akhirnya Tn. Malvin berjanji tidak akan memaksanya lagi. Reana tetap melangkah pelan untuk mundur sambil menangis. Melihat gadis itu seperti frustasi dan ingin bunuh diri. Tn. Malvin akhirnya berjanji mengijinkan pengawal itu menjadi pengawal pribadinya. Mendengar itu langkah mundur Reana terhenti dan Tn. Malvin segera memeluk tubuh gemetar itu.


...~~  Bersambung  ~...


__ADS_2