Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 92 S2 ~ Pulang ke Apartemen ~


__ADS_3

Nico diizinkan masuk ke kamar Reana. Begitu melihat istrinya laki-laki itu langsung meneteskan air mata. Para mahasiswi itu tidak tahu dari mana Nico mendapat kabar tentang kepulangan Reana. Semua mengira kalau Nico kebetulan berada di depan rumah kost itu saat Reana telah pulang.


Mereka kagum pada firasat Nico yang merasakan kalau istrinya telah pulang dan kembali ke kamar kost-nya. Tanpa mereka ketahui kalau Nico sendirilah yang mengantar Reana hingga ke depan pagar rumah kost itu. Kini mereka hanya bisa pasrah berharap Nico bisa menghibur hati Reana.


Saat melihat istrinya yang hanya diam menatap kosong keluar jendela. Hati Nico sangat sedih. Laki-laki itu tak mengetahui kesedihan hati Reana justru berasal darinya. Tak ada yang lebih membuat Reana terguncang selain merasa tak diinginkan oleh suaminya sendiri. 


Hampir sebulan Reana terpenjara dan terkekang oleh rasa takut terhadap Tn. Malvin. Semua itu tak membuat Reana putus asa. Namun tak sampai hitungan jam di apartemen Nico, Reana merasakan kesedihan yang membuatnya hanya diam menatap kosong seperti seorang yang tak ingin hidup lagi.


Nico memeluk gadis itu dari belakang. Laki-laki menangis di bahu istrinya. Nico tak tega melihat Reana hidup seperti itu. Berpikir Reana akan lebih baik saat berada di kamar kost-nya ternyata adalah pemikiran yang salah. Nico menyesal mengantar gadis pulang ke kamar kost-nya.


"Kita pulang ya sayang. Di sini kamu hanya merepotkan mereka," ucap Nico agar istrinya bersedia diajak kembali ke apartemennya.


"Tapi aku tak minta bantuan mereka. Aku tak ingin merepotkan siapa-siapa," ucap Reana pelan.


"Tapi kamu selalu membuat mereka khawatir Reana," jawab Nico.


"Kalau begitu sebaiknya aku pulang ke kampung. Aku akan hidup berdua bersama ibu," ucap Reana akhirnya bangun dan mengambil travel bag-nya.


Gadis itu mengambil semua pakaian dan memasukkan semua dalam travel bag itu. Namun tak cukup muat untuk ukuran tas yang tak terlalu besar itu. Reana termangu. Niatnya untuk kembali ke kampung tanpa kembali lagi ke kamar kost itu membuatnya bingung karena tak semua pakaiannya bisa masuk ke dalam tasnya.


"Aku akan kembali untuk menjemputnya nanti," ucap pelan tanpa menoleh ke arah Nico.


Gadis itu keluar dari pintu kamar dan langsung pergi sambil membawa tasnya. Semua tercengang karena Reana yang pergi tanpa berkata apa-apa. Nico yang akhirnya berpamitan pada mereka.


Namun setelah mendekati mobilnya, Nico melihat Reana yang melangkah begitu saja melewati mobil itu. Melangkah tak tentu arah dengan tatapan yang kosong. Nico langsung menahan tangan gadis itu untuk melarangnya melangkah lebih jauh.


"Kamu mau ke mana?" tanya Nico heran.


"Pulang ke rumah ibu," jawab Reana dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kenapa pulang ke rumah ibu?" tanya Nico.


"Karena aku hanya merepotkan di sini. Aku tak diinginkan di mana pun di sini. Tapi ibu pasti mau menerimaku. Ibu tak akan mengusirku, ibu tak akan menganggap aku merepotkan," jawaban Reana tak lagi berkaca-kaca tetapi langsung menangis.


"Reana," ucap Nico tanpa bisa berkata apa-apa lagi.


Laki-laki itu langsung memeluk istrinya. Nico sama sekali tak merasa direpotkan ataupun mengusir Reana. Namun, entah mengapa, apa yang diucapkan Reana seperti juga tertuju padanya.

__ADS_1


"Kita kembali ke apartemen sayang," ucap Nico dan langsung merebut tas yang sedang dijinjing Reana.


Gadis itu langsung menahan tangan Nico dengan kedua tangannya. Reana menggelengkan kepalanya. Tak ada niatnya sedikit pun kembali ke apartemen di mana Nico sudah tak menginginkannya lagi.


"Kenapa? Aku pikir dengan kembali ke rumah kost, kamu bisa menjadi lebih tenang. Aku hanya mengikuti keinginanmu. Aku tak pernah mengusirmu. Kamu juga tak merepotkan bagiku. Lalu kenapa harus ke tempat ibu," jawab Nico.


"Karena … karena … Kak Nico tak inginkan aku lagi," ucap Reana lalu menangis terisak-isak.


"Siapa yang bilang aku tak inginkan kamu?" tanya Nico heran.


Nico langsung memeluk istrinya yang menangis tertunduk. Laki-laki itu memeluk sambil mengusap lengan istrinya agar Reana bisa lebih tenang. Pemandangan itu menjadi adegan mengharukan bagi para mahasiswi yang melihat mereka dari kamar lantai atas.


Mereka menyaksikan bagaimana Nico yang merebut tas Reana dan gadis itu mencoba menahannya. Para mahasiswi itu saling memanggil saat melihat terjadi perdebatan antar suami istri itu. Mereka pun terharu saat Reana ditarik ke dalam pelukan Nico.


"Aku yakin Kak Reana merasa tak percaya diri bersama Kak Nico karena sudah ternoda," ucap seorang mahasiswi.


"Iya, tapi kayaknya Kak Nico tak peduli. Kak Nico masih ingin pertahankan Kak Reana," jawab yang lainnya.


"Semoga mereka bisa bersatu lagi. Semoga Kak Nico mau menerima kekurangan Kak Reana," ucap mahasiswi lain yang ikut mengintip.


"Iya, tapi kasihan juga mereka. Kak Reana tak bisa menyerahkan kehormatannya pada suaminya dan kasihan juga Kak Nico yang akhirnya dapat bekasnya Tn. Malvin–"


"Hush sudah, kamu bicara seperti itu membuat suasana hatiku jadi tak menentu. Ngasih solusi nggak, tapi menambah kesedihan aja," ucap yang lain.


"Lihatlah lihat, Kak Nico mencium kening Kak Reana. Kak Nico pasti berhasil membujuknya," ucap mahasiswi yang masih tetap sibuk mengamati.


"Kak Nico membujuk apa ya?" 


"Ke apartemennya lah yang pasti."


"Memangnya tadi rencananya nggak ke apartemennya?" tanya mahasiswi itu.


"Nggak! Kak Reana melewati mobil Kak Nico begitu saja. Sepertinya Kak Reana ingin pergi ke tempat lain tapi dilarang sama Kak Nico," jelas mahasiswi yang khusyuk mengamati.


"Oh begitu."


Mahasiswi itu benar, Nico berhasil membujuk Reana kembali ke apartemennya. Terlihat setelah mencium kening Reana, Nico memasukkan travel bag milik Reana ke bagasi mobilnya. Nico pun membukakan pintu mobil untuk istrinya. Mereka pun melaju ke apartemen Nico.

__ADS_1


"Kita cari sarapan dulu ya sayang. Kamu belum makan 'kan?" tanya Nico.


"Sudah, tadi aku sudah di …."


Ya ampun ternyata aku memang merepotkan mereka, batin Reana.


Gadis itu tertunduk, kembali teringat kalau tadi pagi Cut Anisah memaksanya makan sarapan pagi bahkan dengan menyuapinya. Kini Reana baru sadar, dia tak melakukan apa pun sejak kembali ke kamar kost-nya itu jika tak disuruh. Para mahasiswi bergantian menanyakan keadaannya dan melakukan tugas yang diperintahkan oleh Cut Anisah.


"Ya ampun! Aku belum pamit," ucap Reana panik sambil tertunduk memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


"Aku sudah pamit, meski pun terburu-buru. Tapi nanti jika kamu mau, kita bisa berkunjung lagi, ya sayang," ucap Nico.


Reana menoleh ke arah Nico yang sedang mengemudi. Jika mendengar kata-kata Nico yang masih mesra terhadapnya, Reana tak akan merasa kalau Nico telah mencampakkannya. Reana merasa terharu mendengar ucapan Nico yang masih menggunakan kata sayang padanya.


Mungkin itu hanya kebiasaan. Mungkin dia sendiri tak bermaksud berkata seperti itu. Bagaimana dengan Shafira? Kak Nico berkata sayang sekali padanya, batin Reana bertanya-tanya.


Gadis kembali terlihat murung. Nico menoleh ke arah Reana yang menggigit bibirnya. Nico merasa ngilu melihat Reana melakukan itu mengingat bibirnya yang masih terluka.


Apa yang terjadi? Dari mana datangnya luka-luka itu. Apa Tn. Malvin benar-benar melakukan itu pada Reana? Apa Tn. Malvin tega menyakiti Reana? Apa dia pelaku **** menyimpang? Melakukan kekerasan sebelum melakukan itu? Ya ampun kasihan sekali Reana, batin Nico sedih memikirkan itu semua pertanyaan itu.


Saat tiba di apartemen Nico langsung memeluk Reana. Rasa kasihan terhadap gadis itu lebih terasa sekarang sejak melihat Reana yang hidup seperti tanpa harapan. Laki-laki itu menangkup wajah istrinya yang masih membayang biru itu.


Dulu dia yang merawat lukaku. Sekarang saat dia terluka, apa mungkin aku mengabaikannya? Batin Nico bertanya.


Laki-laki itu tersenyum, mengenang saat pertama kali mendapat luka memar di wajah terkena pukulan pengawal Tn. Malvin. Saat itu lah Nico pertama kali berhasil mencium Reana, dengan sengaja dan gadis itu ikhlas menerimanya. Mengingat itu Nico langsung membenamkan bibirnya ke bibir gadis cantik itu. Reana langsung merintih kesakitan tetapi Nico justru malah tertawa.


"Bagaimana rasanya berciuman dengan bibir yang terluka? Kamu tertawakan aku waktu itu," ucap Nico.


"Tapi waktu itu bukan aku yang minta, bibir Kak Nico yang terluka justru Kak Nico yang ingin mencium. Berbeda dengan keadaanku sekarang ini," protes Reana. Nico semakin tertawa melihat Reana yang sudah mulai memprotesnya.


"Kalau keadaanku nggak terluka saat itu, kamu pasti nggak mau menerima ciumanku. Justru karena aku terluka makanya kamu kasihan dan mau menerimanya kalau nggak? Aku pasti sudah ditolak mentah-mentah," jawab Nico mengenang masa lalu.


Kalau dipikir lagi olehnya. Reana sangat sulit ditaklukkan. Jika bukan karena kejadian penculikan Reana waktu itu, Nico tak akan terluka dan gadis itu tidak akan mengobatinya. Nico tak akan mendapat kesempatan mencium Reana untuk keduanya kalinya. Namun itu merupakan ciuman pertama kali yang mereka lakukan dengan sadar.


Mengenang itu Reana ikut tersenyum. Reana pasrah pada keputusan Nico. Melihat Nico yang masih mengingat kenangan lama mereka, rasanya tak mungkin menuduh laki-laki itu berpaling darinya. Terlihat Nico yang tak ingin kehilangan kenangan itu, begitu juga dengan Reana. Karena itu, mulai sekarang gadis itu pasrah, seperti yang pernah diucapkannya dulu. Reana akan pergi jika Nico yang menginginkannya untuk pergi.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2